Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Mutu Layanan Pendidikan - duniamanajemen.com Mutu Layanan Pendidikan - DUNIA MANAJEMEN

Mutu Layanan Pendidikan

 1.    Pengertian Layanan Pendidikan
Layanan merupakan persoalan yang serius bagi para manajer, termasuk manajer pendidikan Islam. Ini Terutama ketika mereka menghendaki peningkatan di segala bidang sebagai modal dasar dalam memajukan lembaga pendidikan yang dikendalikannya. Terlebih lagi bagi manajer yang merencanakan lembaganya bisa mengungguli lembaga lain, tentunya pelayanan menjadi salah satu komponen pengelolaan pendidikan yang harus mendapat perhatian khusus.
Dalam surah al-Hasyr [59]: 9 Allah Berfirman:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”.

Ada beberapa konsekuensi dari ayat tersebut, yaitu 1. Adanya usaha untuk menghormati atau melayani orang lain; 2. Kaum Anshar rela dengan apa yang diberikan kaum Muhajirin; 3. Kaum Anshar mengutamakan penghormatan kepada kaum Muhajirin; dan 4. Kaum Anshar rela mengalahkan kepentingannya sendiri.

layanan pendidikan

Ayat tersebut dapat mengilhami sikap atau perilaku para manajer pendidikan Islam. Mereka dapat meneladani sikap kaum Anshar dalam berinteraksi dengan kaum Muhajirin yang mencerminkan nilai-nilai pengorbanan. Dalam konteks Manajemen Pendidikan Islam, nilai-nilai pengorbanan itu bisa berupa hal-hal berikut ini:
1.    Kesadaran untuk mengendalikan kepentingan diri sendiri.
2.    Kesadaran untuk mengutamakan kepentingan orang lain.
3.    Kesadaran untuk memuaskan orang lain.
4.    Kesadaran untuk menghindarkan kekecewaan orang lain sejauh mungkin.
5.    Kesadaran untuk membangkitkan perasaan orang lain agar mencintai lembaga pendidikan Islam.

Oleh karena itu, paradigma yang perlu dijadikan pegangan bagi manajer lembaga pendidikan Islam, baik kapasitasnya sebagai kepala madrasah, kepala sekolah, pengasuh atau Kyai Pesantren, ketua jurusan, dekan, maupun Rektor adalah sebagai pelayan umat. Yang berarti mereka harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada orang lain baik jajaran pimpinan, para guru, staf dosen, siswa/ santri/mahasiswa, para karyawan, para wali santri/siswa, para pengguna lulusan, para tamu lembaga, para duta atau utusan lembaga lain, dan masyarakat secara luas.

Pelayanan dalam pendidikan Islam mencangkup berbagai hal, seperti pelayanan pembelajaran yang merasakan manfaat pelayanan ini adalah para siswa/santri/mahasiswa, pelayanan bimbingan dan konseling bagi siswa/santri/mahasiswa maupun guru/ustadz/dosen, pelayanan kepegawaian, pelayanan keuangan, dan pelayanan kesejahteraan.

Jadi, layanan pendidikan adalah sebuah layanan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

2.    Mutu Layanan
Mutu layanan dapat dilihat dengan cara membandingkan persepsi yang nyata diterima dan diharapkan. Jika layanan yang diterima (perceived service) sesuai dengan harapan, maka suatu mutu layanan pendidikan dipersepsikan baik dan memuaskan. Sedangkan jika yang diterima melampaui harapan, maka mutu layanan dipersepsikan sangat baik. Sebaliknya jika mutu layanan diterima lebih rendah dari apa yang di harapkan, maka layanan dipersepsikan buruk.

Berdasarkan pendapat diatas, maka mutu layanan pendidikan dapat diartikan sebagai upaya untuk memenuhi keinginan dan ketepatan penyampaian dalam mengimbangi harapan pengguna. Menurut Moenir layanan adalah serangkaian kegiatan atau proses. Sebagai suatu proses, layanan berlangsung secara rutin atau berkesinambungan yang meluputi seluruh kehidupan masyarakat. Menurut Parasuraman dimensi mutu layanan meliputi kehandalah (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), Empati (emphaty), dan produk fisik (tangible).
  • Kehandalan (reliability), yaitu kemampuan utnuk memberikan layanan yang dijanjikan dengan cepat (accurately) dan kemampuan terpercaya (dependably), terutama dalam memberikan layanan dengan tepat waktu (ontime) sesuai jadwal tanpa ada kesalahan.
  • Daya tanggap (responsiveness), yaitu kemauan atau keinginan para pegawai untuk membantu dan memberikan jasa atau layanan yang dibutuhkan oleh pelanggan.
  • Jaminan (Assurance), yaitu pengetahuan, kemampuan, keramahan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya dari kontak personel untuk menghilangkan sifat keragu-raguan kepada pelanggan agar merasa terbebas dari bahaya dan risiko.
  • Empati (emphaty), yaitu suatu sikap kontrak personel maupun organisasi untuk memahami kebutuhan maupun kesulitan pelanggan dengan komunikasi yang baik dan mudah.
  • Produk-produk fisik (tangible), yaitu tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan atau sarana dan prasarana komunikasi dalam proses layanan. 

Jadi, mutu layanan adalah bagaimana pihak sekolah melakukan proses pelayanan terhadap terhadap warga sekolah dan juga masyarakat untuk mencapai kepuasan pelanggan.

3.    Kepuasan Pelanggan
Kepuasan merupakan perasaan seorang pelanggan atau pemakai setelah membandingkan harapan dengan kinerja aktual.

Pengertian kepuasan menurut para ahli:
  • Menurut Engel, J.F., Roger, D.B., dan Paul, W.M, kepuasan didefinisikan sebagai evaluasi pasca konsumsi bahwa alternatif yang dipilih setidaknya memenuhi atau melebihi harapan.
  • Menurut Kotler P, kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan perfoman atau kinerja dengan harapannya.

Kepuasan pengguna pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam Total Quality Management (TQM), karena kepuasan pelanggan merupakan fungsi dari kesan performa dan harapan pelanggan. Pelanggan dalam pendidikan adalah pelanggan primer, sekunder, dan tersier. Pelanggan primer adalah pihak yang langsung menerima jasa pendidikan atau peserta didi. Pelanggan sekunder adalah pihak-pihak yang mendukung pendidikan atau orang tua dan pemerintah. Pelanggan tersier adalah pihak-pihak yang secara tidak langsung memiliki andil, tetapi memiliki peran penting dalam pendidikan atau selaku pemegang kebijakan atau pegawai, pemerintah, dan masyarakat. Pelanggan pendidikan dibedakan menjadi pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Pelanggan internal meliputi peserta didik, pendidik, dan karyawan yang terlibat dalam organisasi pendidikan. Sedangkan pelanggan eksternal meliputi masyarakat, alumni, dan penyandang dana.

Jadi, Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan konsumen setelah membandingkan antara apa yang dia terima dan harapannya

0 Response to "Mutu Layanan Pendidikan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel