Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Strategi Mengatasi Konflik - duniamanajemen.com Strategi Mengatasi Konflik - DUNIA MANAJEMEN

Strategi Mengatasi Konflik

A.    Pengertian Strategi Mengatasi Konflik
Kita masuk kepada pembahasan yang inti dari makalah ini maka patut kiralah kita mengetahui mengenai pengertian dari masing-masing suku kata yang dalam dalam kalimat tersebut maka disini penulis memulai dari pengertian strategi terlebih dahulu.

Dalam buku karangan Irmayanti yang berjudul Manajemen Operasional Persfektif Alternatif yang mengutip dari Heizer dan Render menyatakan bahwa strategi adalah rencana tindakan organisasi untuk mencapai misinya. Setiap wilayah fungsional, memiliki sejumlah strategi untuk mencapai misinya dan membantu organisasi mencapai misi keseluruhan atau tujuan.

Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa kata mengatasi itu adalah kata yang sudah diberi imbuhan meng-i  yang bersal dari kata atas yang mana kata mengatasi itu mempunyai arti menguasai keadaan yang sedang tejadi pada saat itu atau suatu kejadian semisal konflik. Adapun kata mengatasi ini juga artikan sebagai seseorang yang bisa mengalahkan sesuatu permasalahn atau lain sebagainya.

Adapun kata yang terakhir yakni kata konflik. Didalam buku karangan Moh. Pabunda Tika yang berjudul Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan yang mengutip dari berbagai tokoh/ ahli antara lain:
1)    S.P. Robbins mengemukakan bahwa konflik adalah sebagai sebuah proses yang ditandai dengan adanya satu pihak merasakan bahwa ada pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang diperhatikan oleh pihak pertama.

2)    Adam Ibrahim Indrawijaya mendefinisikan konflik:
  • Segala macam bentuk hubungan antarmanusia yang bersifat berlawanan.
  • Segala macam bentuk pertikaian yang terjadi dalam organisasi, baik antaseseorang dengan seorang lainnya, seseorang dengan kelompokmaupun antara kelompok dengan organisasi atau mungkin pula antara perorangan dengan organisasi secara keseluruhan.

3)    Pandji Anoraga dan Sri Suyati, Konflik adalah segala macam interaksi pertentangan atau antagonistic antara dua atau lebih pihak.

4)    Gareth R. Jones yang mengutip lagi dari buku Teori organisasi dan pengorganisasian yang dikarang oleh J. Winandi yang mendefinisikan konflik sebagai berikut: konflik organisasi adalah pertentangan yang terjadi sewaktu tujuan yang berpengaruh terhadap tingkah laku suatu kelompok dirintangi atau dihalangi oleh tujuan kelompok lainnya.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa strategi mengatasi konflik adalah sebuah rancangan operasional tentang sewaktu-waktu atau juga bisa didefinisikan sebagai pengaktualisasian terhadap suatu cara yang mana hal tesebut digunakan untuk menguasai sesuatu yang sedang tejadi pertentangan-pertentangan yang terjadi sewaktu-waktu dipengaruhi oleh suatu kelompok atau perorangan.

Adapun kesimpulan yang kedua mengenai strategi mengatasi konflik itu bisa diartikan sebagai proses menentukan tujuan seseorang untuk terlibat dalam penguasaan suatu konflik dan juga menjadi sebuah pola interaksi konflik yang digunakan untuk mencapai keluaran dalam pengatasan konflik yang diharapkan.

Strategi Mengatasi Konflik

B.    Pentingnya Adanya Strategi Mengatasi Konflik
Penulis telah  menganalisis mengenai pentingnya keberadaan strategi mengatasi konflik. Memang harus kita akui bersama bahwa konflik harus dikelola yang salah satunya itu dari strategi mengatasi konflik. Agar segala konflik yang terjadi dalam sebuah organisasi, lembaga atau dimapun itu terjadi dapat teratasi dan berubah menjadi sebuah kekuatan untuk sebuah organisasi atau instansi tersebut.
Kadang kala bila konflik tersebut tidak diatasi maka konflik bisa berkembang menjadi konflik destruktif , dimana masing-masing pihak yang berkonflik akan akan memfokuskan perhatian, tenaga, dan fikiran serta sumber-sember organisasi yang bukan untuk mengembangkan produktivitas, tetapi untuk merusak dan menghancurkan lawan konfliknya. Hal ini dapat merusak potensi produktivitas sistem sosial. 

Adapun tujuan dari dari adanya strategi mengatasi konflik adalah:
  1. Mencegah gangguan kepada anggota organisasi untuk memfokuskan diri pada visi, misi dan tujuan organisasi.
  2. Memahami orang lain dan memahami keberagaman.
  3. Meningkatkan kreativitas.
  4. Meningkatkan keputusan melalui pertimbangan berdasarkan pemikiran berbagai informasi dan sudut pandang.
  5. Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan melalui peran serta, pemahaman bersama, dan kerja sama.
  6. Menciptakan prosedur dan mekanisme penyelesaian konflik.
  7. Menimbulkan iklim organisasi konflik dan lingkungan kerja yang tidak menyenangkan: takut, moral rendah dan sikap saling curiga.
  8. Meningkatkan terjadinya pemogokan.
  9. Mengarah pada sabotase bagi pihak yang kalah dalam konflik.
  10. Mengurangi loyalitas dan komitmen organisasi.
  11. Terganggunya proses produksi dan operasi.
  12. Meningkatkan kinerja pengadilan karena tuntutan karyawan yang mengajukan konfliknya ke pengadilan.
C.    Kecenderungan Strategi dalam Mengatasi Konflik
Ada kecenderungan tertentu dalam mengatasi suatu konflik. Owens memaparkan empat kecenderungan strategi dalam mengatasi konflik, yaitu sebagai berikut:
  1. Kolaborasi, yaitu proses ketika orang –orang bekerja sama untuk menegaskan problem mereka, kemudian mengikutsertakan dalam pemecahan problem bersama.
  2. Kompromi, merupakan pemecahan perbedaanyang memiliki elemen bersama. Kompromi paling efektif jika persoalanyang dihadapi kompleks atau berimbang.
  3. Penghindaran, yakni penarikan diri atau hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan.
  4. Perjuangan kekuasaan  atau kompetisi, kecenderungan ini terjadi bila pihak yang terlibat konflik sulit untuk bekerja sama.
Selain keempat kecenderunag diatas, apabila kecenderunagn tersebut dikaitkan dengan interaksi antara dimensi kerjasama dan kegigihan dari pihak-pihak yang terlibat, maka terdapat tambahan kecenderungan yakni penyesuaian diri yang terjadi bila kemauan bekerja sama diantara mereka sangat baik, hal yang terpenting disini adalah menjaga hubungan antar individu.

Menurut Nader and Todd dalam salah satu bukunya “The Disputing Process Law In Ten Societies” salah asatu mengatasi konflik adalah bersabar (lumping).  Bersabar merupakan suatu tindakan yang merujuk pada sikap yang mengabaikan konflik, dia lebih memilih menahan dirinya dengan tetap positf thinking pada kebenaran. Dalam al-quran banyak disebutkan keterangan  mengenai kesabaran, salah satunya dalam Surah Al-‘Ashr ayat ketiga yang bermakna” kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”.  Untuk menghindari kerugian manusia harus meyadari keterbatasan dan kelemahan dirinya. Pada hakikatnya tidak ada manusia yang tidak bersalah. Oleh karenanya anjuran untuk tetap saling measehati dalam kebenaran dan kesabaran dianjurkan.

D.    Taktik Konflik dan Resolusi Konflik 
Taktik konflik dan resolusi konflik merupakan bagian dari cara atau Strategi mengatasi konflik. Dalam merealisasikan strategi konfliknya, pihak yang terlibat konflik menggunakan taktik konflik yang akan dijadikan alat atau metode dalam penyelesaian atau mengatasi konflik. Taktik konflik itu sendiri adalah teknik yang mempengaruuhi lawan konflik untuk menghasilkan keluaran konflikyang diharapkan. 

1.    Taktik Konflik
Taktik konflik merupakan cara mengatasi konflik melalui sikap atau tindakan individual dari orang yang engalami konflik, ketika seseorang menghadapi suatu konflik maka dengan tekadnya dia berusaha mengatasinya dengan taktik yang dipergunakan. .  Berikut adalah gambaran mengenai taktik-taktik konflik:

a. Taktik Legitimasi
Dipergunakan oleh pejabat yang memiliki posisi tertentu secara sah. Jika menghadapi situasi konflik pejabat tersebut menunjukkan apa yang dilakukannya sesuai dengan jabatannya serta ia mempunyai hak untuk menyusun dan melaksanakan suatu kebijakan tertentu.

b. Taktik Persuasif Rasional
Digunakan untuk memengaruhi lawan konflik dengan mengemukakan data, fakta, informasi, hokum (Undang-Undang atau peraturan) untuk mengubah pendapat lawan konfliknya.

c. Taktik berbohong
Berbohong dengan mengemukakan informasi yang tidak benar.

d. Taktik mengulur waktu

Yakni menunda untuk melakukan sesuatu atau menolak untuk merespon lawan konflik.

e. Taktik mencari teman atau koalisi

Tujuan taktik ini adalah mencari teman untuk memperbesar kekuaaan atau memeperkuat posisinya dalam menghadapi lawan konfliknya.

f. Taktik mengancam

Taktik ini biasanya dilakukan oleh atasan terhadap bawahan dengan ancaman pemecatan

g. Taktik menangis dan menghimbau

Tujuan dari taktik ini adalah meminta belas kasihan kepada lawan konfliknya untuk menarik simpati

h. Taktik permintaan inspirasional 
Hal ini dilakukan untuk pentingnya persatuan dalam mencapai tujuan organisasi. Sehingga para anggota organisasi dapat tmeredakan emosinya dan membangkitkan motivasi.

Dari beberapa taktik diatas, maka akan menghasilkan solusi ataupun jalan tertentu dalam mengatasi konflik.taktik konflik biasa dilakukan pada tingkat konflik yang mendasar,atau tahap awal respon seseorang yang mengalami konflik. Taktik konflik bisa dilakukan sesuai dengan keadaan tertentu dan sifatnya berubah-ubah, artinya ketika seseorang menghadapi suatu konflik dengan menggunakan taktik tertentu tidak terselesaikan, maka dia akan menggunakan taktik lainnya dalam upaya atau strategi menghadapi masalah.

2.    Resolusi Konflik
Proses untuk mencapai keluaran konflik dapat menggunakan metode resolusi konflik. Resolusi konflik merupakan sebuah proses manajemen konflik yang digunakan untuk menghasilkan keluaran / solusi konflik.  Dalam metode resolusi konflik tenrdapat dua pilihan yakni melalui pengaturan sendiri oleh yang bersangkutan atau terlibat konflik maupun dengan cara bantuan pihak ketiga.

a.    Pengaturan sendiri
Pihak yang terlibat konflik menyusun strategi konflik dan mnggunkan taktik konflik untuk mncapai tujuan yang terlibat konfliknya. Pihak yang terlibat saling melakukan pendekatan dan negoisasi. Pola interksi konflik tergantung pada keluaran konflik yang diharapkan. Ada  3 interaksi konflik dalam pola pengturan ini:
1)    Interaksi konflik dengan keluaran mengharapkan mengalahkan lawan konflik
Dengan alasan dia merasa mmpunyai kekuasaan lebih besar dari lawan konfliknya. Dan menganggap objek konflik sangat penting bagi kehidupan dan harga dirinnya. Ia merasa bisa mengalahkan lawan konfliknya.

Caranya adalah: A.menggunakan gaya manajemen konflik kompetisi, dengan taktik menggertak dan mngancam , ia akan menyerang jika lawan konflik lemah  dan mengulur waktu jika terdesak. B. negoisasi dengan lawan hanya dilakukan jika hasilnya menguntungkan C. memperbesar kekuasaaan dengan mencari kawan dan mnggunakan kekuasaan untuk menekankan lawan konflik. D.menyalahkan yaitu pernyataan mengkritik perbuatan lawan konflik yang imoral, melanggar hukum, etika dan kelayakan masyarakat. E. pertanyaann memojokkan.

3.    Interaksi konflik dengan tujuan menciptakan kolaborasi atau kompromi
Caranya: A. melakukan pendekatan kepada lawan konflik agar mawu bernegoisaasi. B. menghadapi lawan konflik dengan ramah. C. mnggunakann gaya manajemen kolaborasi atau kompromi. D. mengemukakan data, fakta, informasi atau kejadian yang ada hubungannya dengan konflik secara apa adanya tanpa mnyudutkan atau menyalahkan. E. mengemukakan persamaan dan kebersamaaan dengan menjauhkan perbedaaan.

4.    Interaksi konflik menghindar

Caranya adalah: A. tdak melayani pihak lawan konflik. B. menarik diri dari situasi lawan konflik. C menunggu waktu untuk mlakukan reaksi. D. tidak mengakui bahwa  konflik telah terjadi.

Resolusi  konflik melalui mengatur  sendiri  dapat menggunakan dua pola. Dengan tanpa kekerasan dan dengan kekerasan.  Tanpa kekerasan artinya tidak  mnggunakann kekerasan fisik, verbal dan non verbal. Hal ini sangat bermanfaat jika pihak yang terlibat konflik saling memerlukan satu sama lain untuk mncapai tujuannya. Salah satu pihak bisaa memaksaa lawan konflikya untuk memberikan konsensi dengan diam, tidak melakukan sesuatu yang dilakukan lawan konfliknya. Sebaliknya dengan kekerasan yakni melakukan tindakan dengan emosi yang diekpresikan dengan tindakan fisik baik verbal maupun non verbal.

b.    Cara Bantuan Pihak Ketiga
Diantara cara bantuan pihak ketiga adalah:   
  1. Konsiliasi, yaitu tindakan untuk membawa semua yang terlibat konflik kemeja perundingan.
  2. Mediasi, yakni menyangkut pihak ketiga yang ikut menangani atau membantu menyelesaikan konflik agar tercapai persetujuan. Pihak ketiga bisa dipilih oleh pihak yang berkonflik atau perwakilan dari luar.
  3. Arbitrasi, yakni kedua belah pihak yang berkonflik setuju pada keterlibatan pihak ketiga yang memiliki otoritas hukum dan mereka sebelumnya harus setuju untuk menerima keputusannya.
  4. Adjudication atau peradilan, yakni merujuk pada intervensi pihak ketiga yang berwenang untuk campur tangan dalam penyelesaian konflik.
Sumber Rujukan:
  • Effendi, Djohan. Pesan-pesan Al-quran. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2012.
  • Hasan, Iermayanti. Operasional Perspektif Integratif. Malang:UIN-Maliki Press,2011.
  • Maris, Masri. Kiat Menangani Konflik. Jakarta:Erlangga,2001.
  • Qomar , Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta: Erlangga,2007.
  • Rivai, Veithzal dan Deddy Mulyadi. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Jakarta: Raja Grafindo Persada,2012.
  • Tika, Pabundu. Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan. Jakarta: PT Bumi Aksara,2008.
  • Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik. Jakarta: Salemba Humanika,2010.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline.

0 Response to "Strategi Mengatasi Konflik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel