Sejarah Munculnya Aliran Al-Jabariyah

Makalah Sejarah Munculnya Aliran Al-Jabariyah

A.    Sejarah Munculnya Aliran Jabariyah
Pada zaman Bani Umayyah ada seorang yang bernama Jaham bin Safwan, berasal dari Khurasan. Mulanya ia menjadi Jurutulis dari seorang pemimpin bernama Harits bin Sureih yang memberontak terhadap kerajaan Bani Umayyah di Khurasan. Setelah kejadian itu nama Jaham bin Safwan menjadi sangat terkenal dikarenakan ia merupakan seorang yang sangat sungguh dan rajin bertabligh, menyeru manusia kepada jalan Allah dan berbakti kepadaNya.

Tetapi ada satu fatwanya yang keliru, yang bertentangan dengan ulama-ulama islam yang lain, yaitu fatwa yang mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai daya dan upaya, tidak ada ikhtiar dan tidak ada kasab. Sekalian perbuatan manusia itu hanya majbur (terpaksa) di luar kemauannya, sebagai keadaan bulu ayam yang di terbangkan angin di udara atau sebagai sepotong kayu di tengah lautan yang dihempaskan ombak kesana kemari.

Madzhabnya ini dinamai madzhab Jabariyah, yakni madzhab orang-orang yang berpaham tidak ada ikhtiar bagi manusia.

I’tiqadnya pada mulanya hampir sama dengan I’tiqad kaum Aswaja, yakni berpendapat bahwa sekalian yang terjadi dalam alam ini pada hakikatnya semua dijadikan Tuhan, tetapi kaum jabariyah yang dikepalai oleh Jaham bin Safwan ini sangat radikal, sangat keterlaluan, sehingga sampai kepada I’tiqad bahwa kalau kita meninggalkan sembahyang atau berbuat kejahatan maka semuanya tidak apa-apa, karena hal itu dijadikan oleh Tuhan.

Fatwa ini biasa ditariknya jauh-jauh, umpamanya dikatakan bahwa manusia tidak apa-apa kalau mencuri, berzina, membunuh orang karena yang menjadikan semuanya itu adalah Allah, kata mereka.

Madzhab ini dinamai madzhab jabariyah, karena beri’tiqad bahwa sekalian gerak manusia dipaksa adanya oleh Tuhan.

Kadang-kadang dalam kitab Usuluddin dinamai juga madzhab jahmiyah, karena Jaham inilah yang mula-mula menyiarkannya. Fatwa Jaham ini dalam banyak hal sama dengan Mu’tazilah, umpamanya ia memfatwakan bahwa sifat Tuhan tidak ada, bahwa syurga dan neraka tidak kekal, Tuhan tak dapat dilihat dalam syurga, Qur’an itu mahluk, dan lain-lain.

Jaham bin Safwan pada akhirnya mati terbunuh dalam sebuah pertempuran dengan tentara khalifah bani Umayyah pada tahun 131 H. tetapi kemudian kaum jabariyah ini terpecah menjadi 3 firqah, yaitu:
  1. Bernama Jahmiyah yang dikepalai oleh Jaham bin Safwan
  2. Najjariyah yang dikepalai oleh Husein bin Muhammad an Najjar
  3. Dlirariyah yang dikepalai oleh Dlirar bin Umar.
Ketiga aliran Jabariyah berkembang sekitar akhir abad ke II dan separuh yang pertama abad ke III H.
Baik juga diketahui bahwa Jaham bin Safwan, Imam kaum Jabariyah ini adalah murid Ja’ad bin Dirham, yaitu pelopor fatwa yang mengatakan bahwa Qur’an itu mahluk dan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat.

Ja’ad bin Dirham ini dihukum mati oleh penguasa pada tahun 124 H. sebab fatwa-fatwanya yang sangat ilhad dan zendiq.

Jabariyah berasal dari sebuah kata Jabara yang memiliki makna memaksa. Dalam kaitan ini, Syahristany member makna kepada Jabari dengan penafian perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT.

Dari penjelasan singkat di atas dapatlah dipahami bahwa nama Jabariyah disangkut pautkan pada pengertian manusia dalam perbuatannya tidak mempunyai inisiatif sedikitpun. Dengan kata lain manusia dalam paham ini terikat bukan pada kehendak dan kemauan serta inisiatifnya sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Oleh sebab itu, aliran Jabariyah ini menganut paham bahwa setiap manusia tidak memiliki kemerdekaan dalam menentukan perbuatan dan kehendaknya.
Jabariyah menganut paham bahwa manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa, yang memang sejalan dengan makna kata Jabara di atas. Dalam istilah Inggris paham ini disebut predestination atau fatalism. Aliran Jabariyah dengan paham fatalisnya agaknya dapat dengan mudah ditelusuri.

Agaknya tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa paham Jabariyah ini sebenarnya sudah muncul di kalangan bangsa Arab sebelum agama islam datang. Secara sangat indah, Ahmad Amin menggambarkan kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir Sahara yang justru memberikan pengaruh besar kedalam cara hidup mereka. Di tengah bumi yang diterikkan oleh matahari dengan air yang sangat sedikit, udara kering yang tidak member kesempatan tumbuhnya tetumbuhan dan suburnya tanaman. Disana sini hanya tumbuh rumput keras, dan beberapa macam pohon yang cukup kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. Di hadapan alam yang begitu ganas, alam yang indah tapi kejam, jiwa dekat kepada dzat yang bersifat pengasih dan penyayang, dekat pula kepada dzat Pembina, pemberi, bentuk, kepada dzat pemelihara dan pelindung. Pada hakikatnya kesunyian Sahara ini dapat mengisi rasa keagungan kepada jiwa yang bersih dan lebih bersih lagi. Tak ada benda satupun yang terjadi karena tangan manusia, semua adalah ciptaan Tuhan.

Dari kutipan yang agak panjang di atas dapat disimpulkan bahwa ketergantungan kepada alam Sahara yang ganas telah mencuatkan sikap penyerahan diri terhadap alam. Mereka tidak banyak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Inilah yang menyebabkan timbulnya kesadaran dalam diri mereka bahwa mereka sebenarnya adalah orang lemah dan tak berkuasa menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan suasana padang pasir.

Paham Jabariyah ini sama sekali meniadakan pilihan bebas dan tanggung jawab manusia, karena mereka berpandangan bahwa segala tindakan dan nasib manusia, “disini dan sekarang” maupun “disana dan nanti” telah di tentukan oleh Tuhan. Jadi, apapun perbuatan yang kita lakukan sekarang, itu semata-mata karena kita menjalani takdir Tuhan yang tidak mungkin untuk diubah. Selain itu, paham ini juga menghilangkan sifat keadilan Tuhan dengan mengatakan bahawa perbuatan baik belum tentu dib alas dengan kebahagiaan di syurga dan perbuatan jahat belum tentu dib alas dengan siksaan neraka. Semuanya bergantung pada kehendak dan kekuasaan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki, Dia bisa saja memasukkan seorang yang beriman ke dalam neraka dan memasukkan seorang kafir ke dalam syurga.

B.    Pandangan Dan Implikasi dari Aliran Jabariyah
Menolak adanya kekuasaan pada diri manusia. Manusia itu dipaksa tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan, tidak memiliki kemauan sendiri, tidak mempunyai pilihan atas sesuatu aktifitas. Menurutnya bahwa Allah lah yang menjadikan aktifitas manusia sebagaimana benda mati seperti air mengalir, hawa bergerak, batu jatuh begitu juga tindakan manusia itu sendiri. Allah saja yang memiliki kekuasaan dan kemampuan sedang manusia seperti barang mati. Apabila pohon berbuah, air mengalir, matahari terbit maka hal itu sama dengan Ali menulis, Ahmad melempar, Ani melahirkan dan sebagainya. Manusia dan batu adalah sama. Manusia dan batu hanya simbolis pahala dan siksa adalah paksaan. Allah mentakdirkan Si A mengerjakan kebaikan dan di takdirkan mendapatkan pahala dan lainnya di takdirkan mengerjakan keburukan dan mendapat siksa.
Faham Jabariyah merupakan faham Determins Teologi yang beranggapan bahwa perbuatan mereka telah ditentukan oleh Tuhan sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima tekdir yang ditentukan tanpa harus ikhtiar lagi. 

Daftar Rujukan:
  • Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam. Jakarta: UI-Press.
  • Nurdin, M.Amin. 2014. Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta: AMZAH.
  • Abbas, Siradjuddin. 2008. I’tiqad Ahlussunnah Wal-Jamaah, Jakarta Selatan: Pustaka Tarbiyah Baru.
  • Anwar, Rosihon. 2009. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia

0 Response to "Sejarah Munculnya Aliran Al-Jabariyah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel