Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam - duniamanajemen.com Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam - DUNIA MANAJEMEN

Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam

A.    Pengertian Peserta Didik
Dalam pengertian tasawuf, peserta didik sering kali diartikan dengan “murid” atau thalib. Secara etimologi, murid berarti “orang yang menghendaki”.sedangkan menurut arti terminologi, murid adalah pencari hakikat di bawah bimbingan dan arahan seorang pembimbing spiritual (mursyid). Sedangkan thalib secara bahasa berarti “orang yang mencari”, sedang menurut istilah tasawuf adalah penempuh jalan spiritual, dimana ia berusaha keras menempuh dirinya untuk mencapai derajat sufi. Penyebutan murid ini juga dipakai untuk menyebut peserta didik pada sekolah tingkat dasar dan menengah, sementara untuk perguruan tinggi lazimnya disebut dengan mahasiswa (thalib).

Dalam tasawuf istilah thalib atau murid ini sesungguhnya memiliki kedalaman arti daripada penyebutan siswa. Artinya, dalam proses pendidikan itu terdapat individu yang secara sungguh-sungguh menghendaki dan mencari ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa istilah thalib atau murid menghendaki adanya keaktifan pada peserta didik (siswa) dalam proses belajar mengajar, bukan pada pendidik. Namun, dalam pepatah dinyatakan : “tiada tepuk sebelah tangan”. Dalam pepatah ini mengisyaratkan adanya sebuah active learning bagi para peserta didik dan juga active teaching bagi pendidik, sehingga kedua belah pihak menjadi gayung bersambung dalam proses pendidikan agar tercapai hasil secara maksimal.

Dalam pendidikan Islam peserta didik merupakan anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, maupun psikologis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan.

Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa peserta didik merupakan orang-orang yang sedang memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan, maupun arahan dari orang lain.

makalah Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam

 B.    Dimensi-Dimensi Peserta Didik yang Akan di Kembangkan
Ramayulis membagi manusia kepada tujuh dimensi pokok, yaitu:
1.    Dimensi Jasmani
Mendidik jasmani dalam islam mempunyai dua tujuan sekaligus, yaitu (a) membina tubuh sehingga mencapai pertumbuhan secara sempurna; (b) mengembangkan energy potensial yang dimiliki manusia, yaitu fisik sesuai dengan perkembangan fisik manusia. Dalam hadits Rasulullah SAW dijelaskan, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah.”  Juga hadits Rasulullah SAW yang lain, “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian renang, melempar lembing (tombak) dan menunggang kuda.”

2.    Dimensi Akal

Mendidik akal tidak lain adalah mengaktualkan potensi dasar peserta didik. Potensi dasar tersebut sudah ada sejak manusia lahir. Akan tetapi, masih berada dalam pilihan: berkembang menjadi akal yang baik atau sebaliknya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Dengan pendidikan yang baik, akal yang masih berupa potensi akhirnya menjadi akal yang siap dipergunakan. Sebaliknya, membiarkan potensi akal tanpa pengarahan yang positif, akibatnya bisa fatal. Karenanya, pendidikan akal mempunyai kedudukan yang penting. Setelah mengalami pendidikan yang dimaksud, akal seseorang diharapkan mencapai tingkat perkembangan yang optimal, sehingga mampu berperan sebagaimana yang diharapkan, yaitu untuk berpikir dan berzikir.

3.    Dimensi Agama

Dalam pandangan islam, sejak manusia lahir, manusia sudah mempunyai jiwa agama, yaitu jiwa yang mengakui adanya Zat Yang Maha Pencipta dan Mahamutlak, yaitu Allah Swt.

Menurut H. Ramayulis, islam memandang ada suatu kesamaan di anatara sekian perbedaan manusia, kesamaan itu tidak pernah akan berubah karena pengaruh ruang dan waktu, yaitu potensi dasar beriman (akidah tauhid) kepada Allah. Pandangan islam terhadap fitrah inilah yang membedakan kerangka nilai dasar pendidikan islam dengan dasar pendidikan umum. Kecuali itu, pendidikan islam bertujuan membentuk insan muttaqin yang memiliki keseimbangan dalam segala hal berdasarkan iman yang mantap untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

4.    Dimensi Akhlak

Menurut perspektif islam, seorang Muslim dapat dikatakan sempurna agamanya bila mempunyai akhlak yang mulia, demikian pula sebaliknya. Umumnya filsuf pendidikan islam sependepat bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan islam. Sebab, tujuan tertinggi pendidikan islam adalah pembinaan akhlaqul karimah. Pembinaan akhlaqul karimah, yang menjadi tujuan tertinggi pendidikan islam, dapat ditarik relevansinya dengan tujuan Rasulullah Saw.

Tujuan pendidikan akhlak Islam adalah untuk membentuk manusia yang bermoral baik,memiliki kemauan yang keras,sopa dn dalam bicara dan perbuatan,mulia dalam tingkah laku, bersifat bijaksana, beradab, ikhlas, dan jujur. Berdasarkan tujuan ini, maka setiap saat, keadaan, pelajaran, aktivitas, merupakan sarana pendidikan akhlak. Maka, pendidik harus membina akhlak peserta didiknya dan memperhatikan perkembangan akhlak peserta didiknya di atas segala-galanya.

5.    Dimensi Kejiwaan

Dimensi kejiwaan merupakan suatu dimensi yang sangat penting dan mempunyai pengaruh dalam mengendalikan keadaan manusia agar dapat hidup sehat, tentram, dan bahagia.

6.    Dimensi Seni

Dimensi seni merupakan bagian dari hidup manusia, karena Allah SWT. telah menganugerahkan kepada manusia potensi ruhani dan berbagai potensi indrawi. Dengan demikian, dimensi seni pada diri manusia tidak boleh diabaikan. Dimensi seni perlu ditumbuh kembangkan karena keindahan dapat menggerakkan dan menenangkan batin, meringankan beban hidup, dan merasakan keberadaan nilai-nilai.

7.    Dimensi Sosial

Setiap individu adalah bagian dari kelomok sosialnya. Kelompok social terkecil dalam masyarakat adalah keluarga. Oleh karena itu, proses perkembangan dimensi social telah dimulai semenjak lahir. Dalam perkembangan social, setiap individu menempatkan dirinya diantara banyak individu lainnya.

Agen sosialisasi pertama dan utama bagi seorang anak adalah Ibu dan Bapaknya. Dengan demikian, setiap orangtua perlu menyadari bahwa setiap interaksinya dengan anak merupakan kesempatan baik untuk menanamkan benih-benih penyesuaian social dan pembentukan watak anak. Sebelum anak menyadari dirinya sendiri dan dunia sekitarnya, stimulus social yang diberikan dalam kehidupan keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukan jiwa social selanjutnya.

C.    Etika Belajar Peserta Didik
Dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan islam, peserta didik (siswa) hendaknya menanamkan dan memiliki sifat-sifat yang baik, dalam diri dan kepribadiannya.

Imam Al-Ghazali, sebagaimana dikutip Fatahyah Hasan Sulaeman, merumuskan sifat-sifat yang patut dan harus dimiliki peserta didik kepada sepuluh macam sifat, yaitu:
  1. Belajar dengan niat ibadah ibadah kepada Allah.
  2. Mengurangi kecenderungan pada kehidupan duniawi kehidupan disbanding ukhrawi.
  3. Bersikap tawaddu’ (rendah hati).
  4. Menjaga fikiran dari berbagai pertentangan yang timbul dari berbagai aliran.
  5. Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik umum maupun agama.
  6. Belajar secara bertahap atau terjenjang dengn memulai pelajaran yang mudah (konkrit) menuju pelajaran yang sulit (abstrak).
  7. Mempelajari suatu ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya.
  8. Memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
  9. Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
  10. Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu pengetahuan yang dapat bermanfaat, membahagiakan, mensejahterakan, serta member keselamatan hidup dunia dan akhirat, baik untuk dirinya maupun manusia pada umumnya. 
D.    Syarat-Syarat Peserta Didik
Agar pelaksanaan proses pendidikan islam dapat tercapai tujuan yang diinginkan, maka setiap peserta didik hendaknya senantiasa menyadari tugas dan kewajinnya. Asma Hasan Fahmi mengemukakan apa saja tugas dan kewajiban yang perlu dipenuhi peserta didik adalah:
1.    Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan batinnya sebelum menuntut ilmu.
2.    Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai sifat keutamaan.
3.    Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu diberbagai tempat.
4.    Setiap peserta didik wajib menghormati peserta didiknya.
5.    Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.
 
Sumber Rujukan:
  • Arif, Arifuddin. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kultura (GP Press Group), 2008.
  • Mujib, Abdul. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2006.
  • Salim, Moh Haitami, Syamsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012.

0 Response to "Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel