Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Peradaban Islam Masa Daulah Fatimiyah - duniamanajemen.com Peradaban Islam Masa Daulah Fatimiyah - DUNIA MANAJEMEN

Peradaban Islam Masa Daulah Fatimiyah

A.    Pembentukan dan Perkembangan Dinasti Fatimiyah
Dinasti Fatimiyah berdiri pada tahun 297-567/909-1171 semula di Afrika Utara, kemudian di Mesir dan Syiria. Pada abad ke-10 ketika kekuasaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad mulai melemah dan daerah kekuasaannya yang luas tidak lagi terkoordinasikan. Hal inilah yang menjadi peluang dalam kemunculan Dinasti-Dinasti kecil di daerah-daerah, terutama yang gubernur dan sultannya memiliki tentara sendiri. Diantara Dinasti yang kecil yang memisahkan itu adalah Dinasti Fatimiyah. Dinasti Fatimiyah sendiri mengambil nama dari Fatimah Az-Zahra, putri dari Rasulullah SAW, oleh karenanya para khalifah Fatimiyah mengemabalikan asal-usul mereka kepada Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad Rasulullah. Dinasti Fatimiyah ini muncul di Afrika Utara pada akhir abad ke-3 H, seperti yang sudah di jelaskan diatas, di bawah pimpinan gerakan ini Ubaidillah Al-Mahdi yang memiliki mazdhab Syi’ah Ismailiah. Mereka mengakui sebagai keturunan Nabi melalui Ali dan Fatimah melalui garis Ismail putra Ja’far al-Sadiq.

Pada tahun 909 M kelompok Syi’ah Ismailiah di Afrika Utara ini dapat mengonsolidasikan geraknya, sehingga pemimpin gerakan ini (Ubaidillah al-Mahdi) mengumumkan berdirinya dinasti fatimiyah yang terlepas dari kekuasaan dinasti Abbasiyah. Ia mengonsolidasikan dan memperkuat khalifahnya di Tunisia dengan bantuan dari “Abdullah al-Syi’ii” seorang Da’i Ismailiyah yang memiliki peran besar terhadap berdirinya Dinasti Fatimiyah tersebut.

Pekerjaan Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan umat islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah SAW. Tugas selanjutnya di perankan oleh Muidz yang mempunyai seorang jendral bernama “Jauhar Sicily” yang di kirim untuk menguasai Mesir sebagai pusat dunia islam zaman itu. Berkat perjuangannya jendral Jauhar, Mesir dapat di rebut dalam masa yang pendek. Tugas utamanya adalah:
  • Mendirikan ibu kota baru yaitu Kairo
  • Membina suatu Universitas Islam yaitu Al-Azhar (pusat pengkajian islam dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan).
  • Memperluas ideologi Fatimiyah, berupa Syi’ah, ke Syiria, Palestina, dan Hijaz.
Pada tahun 362 H/973 M, Khalifah Muidz Lidinillah memindahkan ibu kota   Dinasti dari Kairawan di Tunisia ke Al-Qahirah di Mesir. Di Mesir sendiri era Fatimiyah berlangsung selama sedikit lebih dari II abad dan merupakan zaman kemakmuran. Mesir tidak mengalami kerusuhan yang merongrong kehidupan sehari-hari seperti di Irak dan Suriah. Perdagangan berkembang dan di dorong oleh pemerintah, dan perdagangan itu ke segala arah, ke India melalui Laut Merah, ke Italia dan Laut Tengah Barat, dan kadang-kadang ke kerajaan Byzantium. Karena sikap rejim yang toleran, maka zaman itu adalah zaman vitalitas intelektual yang tinggi.

 Toleransi terlihat antara lain, dalam kenyataan bahwa di antara wazir-wazir yang banyak itu terdapat yang beragama Kristen, satu atau dua bekas pemeluk Judaisme dan bahkan seorang Imamiyah, sementara orang-orang Yahudi memegang jabatan-jabatan tinggi. Pernyataan diatas masih berlaku walau pernah ada pemerintahan al-Hakim yang lain dari biasanya, sejak dia menduduki tahta tahun 996 pada usia sebelas sampai lenyapnya beliau dengan misterius dalam tahun 1021. Dia memang kejam dan eksentrik dan barang kali kurang waras, tetapi jikapun laporan-laporan mengenai kesulitan-kesulitan yang di kenakannya pada orang-orang Yahudi dan Kristen itu benar  terjadi dan bukannya fitnah, hal-hal tersebut merupakan perkecualian dalam zaman Fatimiyah.

Makalah Peradaban Islam Masa Daulah Fatimiyah


B.    Khalifah-Khalifah Pada Masa Dinasti Fatimiyah
Adapun para penguasa Dinasti Fatimiyah adalah sebagai berikut:
1.    Al-Mahdi (909-934 M)
Al-Mahdi merupakan penguasa Fatimiyah yang cakap. Dua tahun semenjak penobatannya, ia menghukum mati pimpinan propagandanya yakni Abu Abdullah Al-Husain karena terbukti bersekongkol dengan saudaranya yang bernama Abul Abbas untuk melancarkan perebutan jabatan khalifah. Kemudian Al-Mahdi melancarkan gerakan perluasan wilayah kekuasaan ke seluruh Afrika yang terbentang dari Mesir sampai dengan wilayah fes di Maroko. Pada tahun 914 M, ia menduduki Alexandria. Kota-kota lainnya seperti Malta, Syiria, Sardinia, Corsica, dan sejumlah kota lain jatuh dalam kekuasaannya.  Pada tahun 902 H, Khalifah Al-Mahdi mendirikan kota baru di pantai Tunisia dan menjadikannya sebagai Ibu Kota Fatimiyah. Kota ini di namakan kota Madhiniyah.
Al-Mahdi ingin menaklukan Spanyol dari kekuasaan Umayyah. Oleh karena itu, ia menerima hubungan persahabatan dan kerja sama dengan Muhammad bin Hafsun, pimpinan pergerakan pemberontakan di Spanyol. Namun ambisinya ini belum berhasil sampai ia meninggal dunia pada tahun 943 M.

2.     Al-Qa’im (934-949 M)
Al-Mahdi di gantikan oleh putranya yang tertua yang bernama Abul Qasim dan bergelar Al-Qa’im. Ia meneruskan gerakan ekspansi yang telah di mulai oleh ayahnya. Pada tahun 934 M, ia mengerahkan  pasukan dalam jumlah besar ke daerah selatan pantai Prancis. Pasukan ini berhasil menduduki Genoa dan wilayah sepanjang pantai Calabria. Mereka melancarkan pembunuhan, penyiksaan, pembakaran kapal-kapal, dan merampas budak-budak. Pada saat yang sama ia juga mengerahkan pasukannya ke Mesir, namun pasukan ini berhasil di kalahkan oleh Dinasti Ihsidiyah sehingga mereka terusir dari Alexandria. Di tengah kesuksesannya dalam ekspansi, Al-Qa’im mendapat perlawanan dari kalangan khawarij yang melancarkan pemberontakan di bawah pimpinan Abu Yazid Makad. Berkali-kali gerakan pemberontak ini mampu menahan serangan pasukan Fatimiyah dalam peperangan yang berlangsung hampir tujuh tahun.

Al-Qa’im merupakan prajurit pemberani, hampir setiap ekspedisi militer di pimpinnya secara langsung. Ia merupakan khalifah Fatimiyah pertama yang menguasai lautan tengah. Al-Qa’im meninggal pada tahun 946 M, ketika itu sedang terjadi pemberontakan di Susa’ yang di pimpin oleh Abu Yazid. Al-Qa’im di gantikan oleh putranya yang bernama Al-Manshur.

Al-Manshur adalah pemuda yang sangat lincah. Ia berhasil menghancurkan kekuatan Abu Yazid. Meskipun putra Abu Yazid dan sejumlah pengikut setianya senantiasa menimbulkan keributan, namun seluruh wilayah di Afrika pada masa ini tunduk kepada kekhalifahan Dinasti Fatimiyah. Al-Manshur membangun sebuah kota yang sangat megah di wilayah perbatasan Susa’ yang di beri nama kota Al-Manshuriyah.

3.    Muidzh Lidinillah(965-975 M)
Ketika Al-Manshur meninggal, putranya yang bernama Abu Tamim Ma’ad menggantikan kedudukannya sebagai khalifah dengan bergelar “Muidzh Lidinillah”. Penobatan muidz sebagai khalifah keempat menandai era baru Dinasti Fatimiyah. Banyak keberhasilan yang di capainya. Pertama kali ia menetapkan untuk mengadakan peninjauan keseluruh penjuru wilayah kekuasaannya untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya, muizd menetapkan langkah-langkah yang harus di tempuh demi terciptanya keadilan dan kemakmuran. Ia menghadapi gerakan pemberontakan secara tuntas hingga mereka bersedia tunduk kedalam kekuasaan muizd. Muizd menempuh kebijakan damai terhadap para pimpinan dan gubernur dengan menjanjikan penghargaan kepada mereka yang menunjukkan loyalitasnya. Oleh karena itu, dalam waktu singkat, masyarakat seluruh negeri mengenyam kehidupan damai dan makmur.

Setelah berhasil dalam program konsolidasi, muizd mengerahkan perhatiannya pada program ekspansi kekuasaan. Ketika itu di Spanyol sedang terjadi permusuhan antara Abdur Rahman III dan penguasa Franka, maka muizd memanfaatkan kesempatan ini dengan mengerahkan ekspansi militer ke Maroko dengan pimpinan Jauhar. Gubernur Umayyah gagal mempertahankan wilayah ini sehingga Maroko di duduki pasukan muizd.

Penaklukan atas Maroko ini menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan antara dua pemerintahan muslim, yaitu Dinasti Umayyah Spanyol dengan Dinasti Fatimiyah. Beberapa tahun kemudian Maroko dapat di rebut kembali oleh pasukan Abdur Rahman. Pihak Fatimiyah kemudian melancarkan serangan ke wilayah pantai Spanyol di bawah pimpinan Hasan bin Ali. Abdur Rahman membalas serangan ini dengan mengepung dan menghancurkan wilayah perbatasan Susa’, pihak Romawi memanfaatkan kondisi ini dengan menyerbu Creta dan berhasil mendudukinya pada tahun 967 M. Oleh karena itu, semenjak tahun ini Creta yang di duduki umat islam semenjak khalifah Al-Makmun menjadi lepas.

Setelah Creta lepas, pasukan islam berusaha membalas dengan menghancurkan kekuatan Byzantium di Sicilia. Panglima perang Ahmad bin Hasan berhasil menaklukannya, dan menjadikan seluruh wilayah Sicilia sebagai wilayah kekuasaan Fatimiyah. Sebuah Universitas kedokteran di dirikan di kota Palemo, Sicilia. Universitas ini menandingi Universitas Baghdad dan Cordova.

Penaklukan Mesir merupakan cita-cita terbesar gerakan ekspansi muizd. Muizd telah lama menanti datangnya kesempatan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Maka ketika Mesir di landa kerusuhan serius pada tahun 968 M. muizd segera memerintahkan Jauhar untuk mengerahkan menaklukan Mesir. Pada tahun 969 M, Jauhar berhasil menduduki Fustat tanpa suatu perlawanan. Hal ini menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Ikhsidiyah di Mesir. Dan Mesir memasuki era baru di bawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah. Jauhar segera mendirikan kota Fustat menjadi kota baru yang diberi nama “Qahirah (Kairo)”. Semenjak tahun 973 M kota ini di jadikan sebagai ibu kota pemerintahan dinasti Fatimiyah. Selanjutnya Muizd mendirikan masjid Al-Azhar. Masjid ini oleh khalifah Al-Aziz dijadikan pendidikan tinggi Al-Azhar. Universitas Al-Azhar yang berkembang di masa sekarang ini bermula dari pendidikan tinggi ini.

Khalifah Muizd meninggal pada tahun 975 M, setelah memerintah selama 23 tahun. Ia merupakan khalifah yang terbesar. Ia adalah pendiri dinasti Fatimiyah. Menurut Said Amir Ali, ketenaran Muizd dalam bidang pendidikan dan pengetahuan sebanding dengan khalifah Al-Makmun, yang berhasil membawa kemakmuran dan kemajuan Afrika Utara. Muizd bukan saja orang yang berpendidikan tinggi tetapi pandai di bidang Syair dan kesusastraan Arab, ia juga menguasai beberapa bahasa dan fasih berpidato.

4.    Al-Aziz (975-996 M)

Al-aziz menggantikan kedudukan ayahnya, Muizd. Ia termasuk khalifah Fatimiyah yang paling bijaksan dan pemurah. Kedamaian yang berlangsung pada masanya ini di tandai dengan kesejahteraan seluruh warga, baik muslim maupun nonmuslim. Kemajuan imperium Fatimiyah mencapai puncaknya pada masa pemerintahan ini. Luas kekuasaan imperium membentang dari wilayah Eufrat sampai dengan Atlantik. Imperium ini mengungguli kebesaran Abbasiyah di Baghdad yang sedang dalam kemundurannya di bawah kekuasaan Buhairiyah. Antara khalifah Al-aziz dan Amir Buhairiyah, Aziz Ad-daulat, terjalin hubungan persahabatan dengan saling mengirim duta masing-masing.

Pembangunan dan seni arsitektur merupakan lambang kemajuan pada masa kini. Bangunan megah banyak didirikan di kota kairo seperti The Golden Palace, The Pear Pavillion, dan masjid karafa. Ia adalah seorang penyair dan tokoh pendidikan. Masjid Al-Azhar di resmikan oleh khalifah Al-Aziz sebagai lembaga pendidikan. Al-Aziz meninggal pada tahun 996 M dan bersamaan dengan ini berahirlah kejayaan dinasti Fatimiyah.

5.    Al-Hakim (996-1021 M)

Sepeninggalan Al-Aziz, Khalifah Fathimiyah dijabat oleh anaknya yang bernama Abu Al-Mansur Al-Hakim. Ketika naik tahta ia berusia sebelas tahun. Selama tahun-tahun pertama Al-Hakim berada di bawah pengaruh seorang gubernur yang bernama Barjawan. Barjawan terlibat konflik dengan panglima militer Ibnu Ammar. Setelah berhasil menyingkirkan panglima, Barjawan menjadi pelaku utama pemerintahan Al-Hakim. Di kemudian hari Al-Hakim mengambil tindakan menghukum bunuh terhadap Barjawan lantaran penyalahgunaan kekuasaan Negara.

Pemerintahan Al-Hakim ditandai dengan sejumlah kekejaman. Ia menghukum mati pejabat-pejabat yang cakap tanpa alasan yang jelas. Dalam sepuluh tahun pada masa pemerintahannya, kaum yahudi dan nasrani merasa kehilangan hak-haknya sebagai warga Negara sehingga merekapun mengadakan perlawanan. Al-Hakim segera mengeluarkan maklumat umum untuk menghancurkan seluruh gereja Kristen di mesir dan menyita tanah dan harta kekayaan mereka. Ibnu Abdun seorang Menteri Secretariat Negara yang beragama Kristen dipaksa menandatangani maklumat tersebut. Kalangan Kristen dipaksa memilih tiga alternatif, yaitu menjadi muslim, atau meninggalkan tanah air, atau berkalung dengan salip raksasa sebagai symbol kehancuran mereka.

Al-Hakim adalah pribadi muslim yang taat. Ia merupakan pendiri dari sebuah tempat pemujaan suku aliran Druz di negara Lebanon, yang sampai sekarang masih ada. Al-Hakim mendirikan sejumlah masjid, perguruan, dan pusat observatori di Syiria di antara masjid yang di bangunnya terdapat sebuah masjid yang menjadi lambang kemajuan arsitektur yang indah. Pada tahun 1306 M, ia menyelesaikan pembangunan Darul hikmah (gedung pusat ilmu pengetahuan) sebagai sarana penyebaran teologi Syi’ah, sekaligus untuk kemajuan kegiatan pengajaran.

Darul hikmah di lengkapi dengan sebuah perpustakaan besar dan berada di dekat istana kerajaan. Gedung ini terbuka untuk umum. Tamu Negara selalu menyempatakan diri mengunjungi gedung ini. Di tempat inilah para penulis dan pemikir dan berkumpul.

6.    Az-Zahir (1021-1036 M)

Al-Hakim di gantikan oleh putranya yang bernama Abu Hasyim Ali dengan gelar Az-Zahir. Ia naik tahta pada usia 16 tahun, sehingga pusat kekuasaan di pegang oleh bibinya yang bernama Sitt Al-Mulk. Setelah bibinya meninggal Az-Zahir menjadi raja boneka di tangan menterinya. Pada masa pemerintahan ini rakyat menderita kekurangan bahan makanan dan harga barang tidak dapat terjangkau. Kondisi ini di sebabkan terjadinya musibah banjir terus-menerus.

Peristiwa yang paling terkenang pada masa ini adalah penyelesaian persengketaan keagamaan pada tahun 1025 dimana tokoh-tokoh mazdhab Malikiyah diusir dari Mesir. Sekalipun demikian, secara umum Az-Zahir cukup toleran terhadap kelompok sunni. Ia bersedia membuat perjanjian dengan kaisar Romawi, yakni Kaisar Constantine yang roboh akibat kerusuhan yang terjadi disana. Ia meninggal pada 1036 M, setelah memerintah selama 16 tahun.

7.    Al-Mustansir (1036-1095 M)

Az-Zahir di gantikan oleh anaknya yang bernama Abu Tamim Ma’ad yang bergelar Al-Mustansir, pemerintahannya selama 61 tahun merupakan masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah islam. Masa awal pemerintahannya berada sepenuhnya di tangan ibunya, lantaran ketika di nobatkan sebagai khalifah ia baru berusia tujuh tahun. Pada masa ini kekuasaan fatimiyah mengalami kemunduran secara drastic. Beberapa kali perebutan jabatan perdana menteri turut memperlemah ketahanan imperium ini, di samping terjadinya sejumlah pemberontakan dan peperangan selama pemerintahan ini.

Raja muda Zarida di Afrika yang bernama Muiz bin Badis melemparkan penghinaan kepada Dinasti Fatimiyah dengan tidak menyebut nama khalifah Fatimiyah dalam khutbah jum’atnya, melainkan ia menggantikan dengan menyebut nama khalifah Abbasiyah.  Namun Al-Mustansir tidak tertarik untuk memerangi Muiz bin Badis di Afrika. Sang khalifah lebih tertarik dengan pemberontakan Al-Bassasiri terhadap pemerintahan Abbasiyah, dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk menegakkan kembali kekuasaanya di Asia Barat setelah Turghil menegakkan kekuasaan Abbasiyah di wilayah ini.

Mesir di landa permusuhan antara militer Negro dengan militer Turki. Permusuhan ini semakin kritis sehingga berkobarlah peperangan. Pihak militer Turki dengan panglima Nasir berhasil menduduki kota Kairo pada tahun 1068 M dengan menghancurkan istana kekhalifahan. Sungguh peperangan terus-menerus antara kedua kubu militer ini sangat membahayakan imperium Dinasti Fatimiyah. Selanjutnya musibah krisis berlangsung sedikitnya tujuh tahun sehingga menghabiskan cadangan perekoniomian Negara. Sedemikian parah musibah krisis ini sehingga kesulitan pangan benar-benar terjadi dimana-mana. Setelah masa krisis ini berakhir, Mesir di serang wabah penyakit. Gadis-gadis kalangan atas terpaksa menjual perhiasan dan pakaian mereka untuk di belikan makanan sehingga mereka turun ke jalan tanpa perhiasan dan pakaian seadanya. Untuk mengatasi musibah ini, khalifah Al-Mustansir meminta bantuan gubernur Acre yang bernama Badr Al-Jamal. Gubernur berkenan memberikan bantuan sehingga wabah ini dapat teratasi.

Sepeninggal Al-Mustansir pada tahun 1095 M, imperium fatimiyah di landa konflik dan permusuhan. Tidak seorang pun khalifah sesudah Al-Mustansir mampu mengendalikan kemerosotan imperium ini.

8.    Al-Musta’li(1095-1101 M)

Putra termuda Al-Mustansir yang bergelar Al-Musta’li menduduki tahta kekhalifahan sepeninggal san ayah Al-Mustansir. Nizar, putra Al-Mustansir yang tertua, menentang penobatan adiknya. Ia segera bangkit di Alexandria setelah memecat gubernur wilayah ini, namun satu tahun kemudian ia dapat di paksa menyerah.

Setelah Al-Musta’li meninggal, anaknya yang masih muda bernama Al-Amir Manshur dengan gelar Al-Amir di nobatkan sebagai khalifah oleh Al-Afzal. Al-Afzal merupakan perdana menteri yang berkuasa secara absolute selama 20 tahun masa pemerintahan Al-Amir. Berkat keluasan dan keadilannya, mesir menjadi cukup damai dan makmur.

Setelah Al-Amir menjadi korban pembunuhan politik, kemenakannya Al-Hafiz ini di warnai dengan perpecahan antar unsure kemiliteran. Anaknya Abu Manshur Ismail, dengan gelar Az-Zafir, menggantikan kedudukannya setelah wafatnya Al-Hafiz. Ia adalah pemuda 17 tahun yang tampan yang tidak peduli dengan urusan politik pemerintahan. Az-Zafir meninggal pada tahun 1154 M, terbunuh oleh Nasir Ibnu Abbas.

Anak Az-Zafir yang masih kecil menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Al-Faiz. Ia meninggal dunia sebelum dewasa dan di gantikan kemenakannya Al-Azid. Sewaktu naik tahta, sang khalifah berusia 9 tahun. Ia merupakan khalifah dinasti fatimiyah yang ke-14 mengakhiri masa pemerintahan fatimiyah selama lebih kurang dua setengah abad. Al-Azid berjuang keras untuk menegakkan kedudukannya dari serangan raja Yerusalem yang pada waktu itu telah berada di gerbang kota Kairo. Dalam keadaan yang kacau, datang Sultan Salhuddin Al-Ayyubi, pejuang dalam perang salib. Sultan Salahuddin menurunkan Al-Azid dari khalifah fatimiyah terakhir ini pada tahun 1171 M. dengan demikian, Dinasti Fatimiyah yang didirikan oleh Ubaidillah Al-Mahdi ini berakhir sudah.

C.    Kemajuan Peradaban Pada Masa Dinasti Fatimiyah

a.    Bidang Administrasi
Dalam sistem administrasi masa pemerintahan dinasti fatimiyah secara garis besar tidak berbeda jauh dengan sistem administrasi Dinasti Abbasiyah. Meskipun pada masa ini muncul beberapa jabatan yang tentunya berbeda. Khalifah menjabat sebagai kepala Negara baik dalam urusan spiritual ataupun keduniaan. Khalifah berwenang mengangkat dan sekaligus menghentikan jabatan-jabatan di bawahnya.

Kementerian Negara terbagi menjadi dua kelompok; pertama merupaka para ahli pedagang dan kedua merupakan para ahli pena. Kelompok pertama menduduki urusan keamanan dan militer serta pengawal pribadi sang khalifah. Sedangkan kelompok kedua menduduki beberapa jabatan kementerian sebagai berikut: (1) Hakim, (2) Pejabat pendidikan sekaligus sebagai pengelola lembaga ilmu pengetahuan atau Darul hikmah, (3) inspektur pasar yang bertugas menertibkan pasar dan jalan, (4) pejabat keuangan yang menangani segala urusan keuangan Negara, (5) regu pembantu istana, (6) petugas pembaca Al-Quran. Tingkat terendah kelompok “ahli pena” terdiri atas kelompok pegawai negeri, yaitu petugas penjaga dan juru tulis dalam berbagai departemen.

b.    Kondisi Sosial
Mayoritas khalifah fatimiyah bersikap moderat dan penuh perhatian kepada urusan agama nonmuslim. Selama masa ini pemeluk Kristen Mesir di perlakukan secara bijaksana, hanya khalifah Al-Hakim yang bersikap agak keras terhadap mereka. Pada masa Al-Aziz bahkan mereka di tunjuk menduduki jabatan-jabatan tinggi di istana. Mereka hidup penuh kedamaian dan kemakmuran. Mayoritas khalifah fatimiyah berpola hidup mewah dan santai, menurut sebuah informasi, Al-Mustansir mendirikan semacam paviliun di istananya sebagai tempat memuaskan kegemaran berfoya-foya bersama sejumlah penari rupawan.

c.    Kemajuan Ilmu Pengetahuan

1)    Bahasa dan Sastra
Abu Tohir Annahwi, Abu Ya’qub Yusuf bin Ya’qub, Abu Hasan Ali bin Ibrahim merupakan orang-orang yang telah mengarang beberapa buku sastra dan juga belum sempat untuk di terjemahkan oleh Ibn Khalikan. Ia memiliki perpustakaan yang yang sangat luas berisi karya-karya Maimonides, Galen, Hippocrates, dan Acerroes yang mana terjual dalam suatu lelang.

2)    Kedokteran
 Dinasti ini menempatkan posisi dokter di tempat yang tinggi dengan memberikan penghargaan berupa uang dan kedudukan yang terhormat. Para dokter ini menguasai beberapa keilmuan, yaitu ilmu filsafat, serta bahasa asing khususnya bahasa suryani dan yunani selain penguasaannya terhadap ilmu kedokteran. Diantara dokter itu adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Said An-Namimi, Musa bin al-azzar, Abu Hasan Ali Al-Ridwan.

3)    Syair
Para penyair pada masa ini melakukan pujian-pujian terhadap khalifah dengan menghina syair-syair ahli sunnah, salah satunya Ibnu Hani’. Para penyair ini bersama khalifah mencoba menyebarkan doktrin syi’ah ismailiyah melalui pantun dan syair. Para penyair juga menyenandungkan pujian akan kehebatan mazdhab syi’ah dan kebesaran serta kejayaan kepemimpinan khalifah mereka.

4)    Filsafat
Tokoh filsafat yang terkenal pada masa Dinast Fatimiyah adalah yang di sebut dengan Ikhwan al-Shafa, Abu hatim Al-Razi yang menjadi tokoh pada masa khalifah Ubaidillah A-Mahdi merupakan orang yang dalam bidang sastra, filsafat. Ia merupakan tokoh propagandis di wilayah Rayy. Pengaruh propagandanya sangat besar yang di lakukannya di madrasah-madrasah yang di bangun oleh Ubaidillah al-Mahdi di Afrika Utara.

Daftar Rujukan:
  • Sunanto, Musyrifah. 2003. Sejarah Islam Klasik. Jakarta Timur: PRENADA MEDIA.
  • Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
  • Suwito. 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media.
  • Mufrodi, Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
  • Hadikusumo,Hartono. 1990. Kejayaan Islam Kajian Kritis dari tokoh orientalis. Yogyakarta: pt. Tiara wacana yogya.

0 Response to "Peradaban Islam Masa Daulah Fatimiyah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel