Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Pengertian Jenis-Jenis Konflik - duniamanajemen.com Pengertian Jenis-Jenis Konflik - DUNIA MANAJEMEN

Pengertian Jenis-Jenis Konflik

A.    Jenis-Jenis Konflik
Pada bab pendahuluan di atas sudah kami jelaskan tentang pengertian konflik dan apa saja yang biasa menjadi penyebab timbulnya konflik dalam lembaga maupun dalam organisasi. Nah, pada bab kedua ini kami akan menjelaskan mengenai pembagian-pembagian konflik kepada jenis-jenisnya. Pembagian konflik ini berdasarkan pada penyebab dan siapa saja yang terlibat dalam konflik tersebut, sehingga nanti memudahkan kita mengenali bahwa konflik tersebut termasuk dalam konflik yang mana beserta apa saja penyebabnya.

Sebagaimana menurut Wirawan, konflik itu banyak jenisnya yang dapat dikelompokkan berdasarkan berbagai kriteria. Sebagai contoh, konflik dapat dikelompokkan berdasarkan altar terjadinya konflik, pihak yang terlibat dalam konflik, dan subtansi konflik tersebut.  Jadi hampir sama yang sudah kami sampaikan bahwa, konflik itu dapat dikelompokkan berdasarkan sebab, siapa saja yang terlibat, dan dimana konflik itu terjadi.

Secara umum konflik oleh para ahli dibagi menjadi dua, yaitu konflik personal dan konflik interpersonal. Selain itu, ada juga para ahli yang membagikan konflik dilihat dari aspek sifatnya, seperti yang dilakukan oleh Marwansyah. Dia mengatakan bahwa ditinjau dari sifatnya konflik dibagi menjadi konflik realistik dan konflik non realistik . Sementara itu di dalam bukunya Pickerin menjelaskan bahwa jenis-jenis konfglik itu tidak hanya dibagi menjadi dua saja melainkan tiga jenis. yaitu, konflik diri (personal), konflik antar individu, dan konflik antarkelompok (interpersonal). 

Akan tetapi, agar pembahasannya tidak terlalu meluas maka kami akan memfokuskan pada jenis-jenis konflik menurut Pickerin, Karena  ketiga konflik ini dalam makalah ini nantinya akan kami bahas dengan sub-sub masing-masing agar pembahasannya lebih mengena dan mudah dipahami oleh kita semua.

jenis-jenis konflik

B.    Konflik Personal
Konflik dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah orang yang terlibat komflik, yaitu konflik personal dan konflik personal. Sebelum kita membahas apa itu konflik personal mungkin ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dinamakan dengan konflik personal.

Konflik personal adalah konflik yang terjadi dalam diri seorang individu karena harus memilih dari sejumlah akternatif pilihan yang ada atau karena mempunyai kepribadian ganda. Menurut Wirawan konflik ini terdiri atas, antara lain sebagai berikut  :
  1. Konflik pendekatan ke pendekatan (approach to approach comflict). Konflik yang terjadi karena harus memilih dua alternatif yang berbeda, tetapi sama-sama menarik atau sama-sama baik kualitasnya. Sebagai contoh, seorang lulusan SMA yang akan melanjutkan sekolah harus memilih dua universitas negeri yang sama kualitasnya.
  2. Konflik menghindar ke menghindar (evoidance to avoidance comflict). Konflik yang terjadi karena harus memilih alternatif yang sama-sama harus dihindari. Sebagai contoh, seseorang harus memilih apakah harus menjual mobil atau melanjutkan sekolah atau tidak menjual mobil, tetapi tidak bisa melanjutkan sekolah.
  3. Konflik pendekatan ke menghindar (approach to avoidance comflict). Konflik yang terjadi karena seorang yang mempunyai perasaan yang positif dan negatif terhadap sesuatu yang sama. Sebagai contoh, Slamet mengambil telepon/HP untuk mengungkapkan cintanya kepada Sitti. Akan tetapi, ia takut cintanya ditolak. Oleh karena itu, ia tutup kembali teleponnya.
Konflik personal juga identik dengan seseorang yang memiliki kepribadian ganda. Kepribadian ganda yang dimaksud bukanlah seseorang yang memiliki dua jenis kelamin sekaligus atau seseorang yang memiliki kelainan seksual. Melainkan, ia adalah orang yang munafik yang perkataannya sering kali tidak sesuai dengan perbuatannya. Contoh ; seorang pemimpin yang mengampanyekan demikratisasi dalam semua bidang kehidupan dan mendirikan organisasi forum demokrasi. Namun, dalam memimpin partai yang dipimpinnya, ia bertindak dengan cata otokratis, tidak dengan cara demokratis yang telah ia ajarkan.

Sedangkan menurut Pickering yang dinamakan konflik personal adalah gangguan emosi yang terjadi dalam diri seseorang karena dituntut menyelesaikan suatu pekerjaan atau memenuhi suatu harapan, sementara pengalaman, minat, tujuan, dan tata nilai pribadinya bertentangan satu sama lain. Konflik diri mencerminkan perbedaan antara apa yang dikatakan, inginkan, dan apa yang dilakukan untuk mewujudkan keinginan itu. Secara sederhana, konflik personal menurut Pickering terjadi antara diri seseorang dengan dirinya sendiri, antara keinginan dan kemampuan dirinya sendiri.

Konflik personal dapat menghambat kehidupan sehari-hari dan bahkan dapat  mengakibatkan orang kehilangan akal sehingga terkadang seorang tidak tau harus mengerjakan apa dan harus bagaiamana. Akibatnya, seringkali seseorang yang menghadapi konflik internal mengalami depresi dan kegilaan.
Pada tahap paling ringah, konflik diri dapat menimbulkan pusing kepala dan nyeri punggung. Konflik diri dapat di atasi dengan teknik mengatasi stres  yang dikenal sangat ampuh untuk mengatasi konflik jenis ini. Konflik diri tahap kedua ditandai oleh stres yang sudah “parah”. Kalau orang mempunyai pikiran lebih baik mati daripada hidup, ia sudah berada pada konflik diri tingkat ketiga.

C.    Konflik antar Individu
Menurut Pickerin yang dimaksud dengan konflik antarindividu adalah konflik antara dua individu. Setiap orang mempunyai empat kebutuhan dasar psikologis yang bisa mencetuskan konflik bila tidak terpenuhi.Keempat kebutuhan dasar psikologis ini adalah keinginan untuk dihargai dan diperlakukan sebagai manusia, keinginan untuk memegang kendali, keinginan untuk memiliki harga diri yang tinggi, dan keinginan untuk konsisten.
  1. Keinginan untuk dihargai dan diperlakukan sebagai manusia. Kita semua pasti menginginkan orang lain mengakui martabat kita, serta menghargai kita dan jerih payah yang telah kita berikan. Itulah sebabnya penghargaan merupakan alat motivasi yang ampuh. Kita senang sekali ketika kita dipuji setelah selesai melakukan sebuah pekerjaan dengan baik, dan dihargai atas sumbangan pikiran yang kita berikan. Bila kita merasa kita tidak dihargai atau dianggap dapat diperlakukan sekehendak hati orang lain, ini berarti keinginan kita untuk dihargai telah dilanggar. Pelanggaran itu memicu reaksi kita, berupa rasa takut atau marah.
  2. Keinginan untuk memegang kendali. Memegang kendali adalah keingin semua orang dan pada beberapa orang keinginan ini bisa besar sekali. Orang yang memiliki keinginan yang sangat berlebihan untuk memegang kendali pada dasarnya tidak punya rasa percaya diri. Semakin besar rasa percaya diri anda, semakin kecil keinginan anda untuk mengendalikan orang lain. Ingatlah hal ini selalu bila di masa datang anda berhadapan dengan orang yang selalu ingin mengendalikan segala sesuatu,
  3. Keinginan untuk memiliki harga diri. Rasa harga diri yang tinggi adalah landasan yang kokoh untuk menghadapi berbagai jenis situasi. Harga diri adalah kunci bagi kemampuan kita untuk memberikan jawaban, bukan untuk bereaksi. Menjawab suatu persoalan adalah pendekatan psositif, terkendali, dan berorientasi memecahkan masalah. Reaksi adalah langkah negetaif, dan seringkali tidak tepat, penuh emosi, dan tanpa pikir panjang. Misalnya pasien yang mengikuti perintah dokter vs pasien yang selalu rewel ketika disuruh minum obat.
  4. Keinginan untuk konsisten. Bila anda sudah mengambil sikap tegas mengenai suatu masalah dan tidak mengubah pendirian anda lagi, akan sulit bagi anda untuk mengubah sikap dan mengakui anda salah. Keinginan untuk konsisten bersama dengan keinginan untuk benar demi menyelamatkan muka, menjadi faktor penting dalam setiap konflik.
D.    Konflik Interpersonal
Konflik Interpersonal adalah konflik yang terjadi dalam sebuah organisasi atau konflik di tempat kerja. Pickerin mengatakan bahwa konflik dalam kelompok (interpersonal) adalah konflik yang terjadi antara individu dalam suatu kelompok (tim, departemen, perusahaan, dsb.), sedangakan konflik antarkelompok melibatkan lebih dari satu kelompok (beberapa tim, departemen, organisasi, dsb.). Konflik jenis ini merupakan jenis konflik yang paling rumit karena melibatkan kelompok-kelompok yang tentunya terdiri dari banyak individu di dalamnya. Konflik antarkelompok sering kali berjalan sendiri dan persoalan akan semakin besar karena politik, desas-desus, dan hasutan. Persoalan yang bertambah banyak ini menciptakan lapisan kerumitan baru bagi setiap konflik.   Konflik yang terjadi kepada mereka yang bekerja kepada sebuah organisasi profit atau nonprofit. Konflik interpersonal adalah konflik pada suatu organisasi diantara pihak-pihak yang terlibat konflik dan saling tergantung  dalam melaksanakan tugas pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi.
Konflik interpersonal dapat terjadi dalam tujuh macam bentuk. Berikut adalah ketujuh bentuk tersebut ;
  1. Konflik antar menajer. Bentuk konflik di antara manajer atau birokrat organisasi dalam rangka melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin organisasi. Sebagai contoh, setiap tahun terjadi konflik di antara manajer unit kerja mengenai anggaran organisasi. Anggaran organisasi terbatas, sedangkan setiap manajer unit kerja menginginkan tambahan anggaran untuk melaksanakan tugasnya.
  2. Konflik antar pegawai dengan manajernya. Konflik ini terjadi antara manajer unit kerja dan karyawan dibawahnya. Objek yang menjadi konflik sangat bervariasi tergantung dari aktifitas organisasinya. Sebagai contoh, mengenai manajemen kinerja yang dilakukan oleh manajer terhadap anak buahnya. Dalam melaksanakan manajemen kerja, setiap tahun, manajer harus melaksanakan evaluasi kinerja. Apabila karyawan merasakan bahwa selama melakukan evaluasi kinerja manajer tidak objektif, tidak adil, dan penuh dengan kesalahana, maka karyawan akan merasa dirugikan dan tidak bisa menerima evaluasi kinerjanya. Ia kemudian akan meminta naik banding ke atasan manajernya.
  3. Konflik hubungan industrial. Konflik yang terjadi antara organisasi atau perusahaan dan para karyawannya atau dengan serikat pekerja; atau konflik antar serikat pekerja.
  4. Konflik antar kelompok kerja. Dalam organisasi, terdapat sejumlah kelompok kerja yang melaksanakan tugas yang berbeda untuk mencapai tujuan organisasi yang sama. Masing-masing kelompok harus saling memberikan kontribusi, kelompok-kelompok kerja tersebut saling memiliki ketergantungan. Sebagai contoh, dalam proyek pasar baru di suatu daerah, kelompok penjualan priduk tergantung  pada kelompok distribusi produk. Output kelompok pengiriman produk menjadi masukan bagi kelompok penjualan produk. Kinerja kelompok penualan produk tergantung pada apa yang dilakukan oleh kelompok pengiriman produk. Keterlambatan pengiriman produk bisa menimbulkan kekecewaan dan kemarahan kelompok pengiriman produk.
  5. Konflik antara anggota kelompok kerja dan kelompok kerjanya. Suatu kelompok kerja mempunyai anggota yang memiliki keragaman pendidikan, agama, latar belakang budaya, pengalaman dan kepribadian. Semua perbedaan ini bisa menimbulkan konflik dalam melaksanakan tugas dan fungsi tim kerjanya.
  6. Konflik interest (conflict of interest). Konflik yang bersifat individual dan interpersonal. Konflik jenis ini terjadi pada diri seorang pegawai yang terlibat konflik, yaitu keharusan melaksanakan ketertarikan organisasi dan ketertarikan individunya.
  7. Konflik antara organisasi dan pihak luar organisasi. Konflik yang terjadi antara suatu perusahaan atau organisasi dan pemerintah; perusahaan dan perusahaan yang lainnya; perusahaan dan pelanggan; perusahaan dan lembaga swadaya masyarakat; serta perusahaan dan masyarakat.
Sumber Rujukan:

  • Peg pickering. Kiat Menangani Konflik. (Jakarta: Erlangga. 2010).
  • Wirawan. Konflik dan Manajemen Konflik (Jakarta: Salemba Humatika. 2010).
  • Marwansyah. Manajemen Sumber Daya Manusia  (Bandung: Alfabeta. 2012.

0 Response to "Pengertian Jenis-Jenis Konflik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel