Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Pengawasan Dalam Manajemen Pendidikan Islam - duniamanajemen.com Pengawasan Dalam Manajemen Pendidikan Islam - DUNIA MANAJEMEN

Pengawasan Dalam Manajemen Pendidikan Islam

A.    Pengertian Pengawasan
Pengawasan adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan kepastian tentang pelaksanaan program atau pekerjaan/kegiatan yang sedang atau telah dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Kegiatan pengawasan pada dasarnya untuk membandingkan kondisi yang ada dengan yang seharusnya terjadi.

Pengawasan juga bisa disebut dengan control manajerial (controlling) adalah merupakan salah satu fungsi manajemen dalam organisasi. Fungsi tersebut mutlak harus dilakukan dalam setiap organisasi karena ketidak mampuan atau kelalaian untuk melakukan fungsi tersebut akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi.

Kegiatan pengawasan konteks manajemen dilakukan oleh seorang manajer dengan tujuan untuk mengendalikan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengawasan (controlling) yang telah di format dalam suatu program. Dari pengawasan ini, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan penilaian dan pemantauan program serta perumusan langkah pencapaian tujuan yang akan dicapai. Begitu juga dalam pelaksanaan anggaran sekolah harus dikontrol oleh kepala sekolah sebagai manajer sekolah. Hal ini dilaksanakan agar supaya tidak ada penyelewengan atau penyimpangan dalam penggunaan anggaran sekolah, sehingga dapat mencapai tujuan dan dapat dipertanggung jawabkan.

Menurut Handoko, ada tiga tipe dasar pengawasan, yaitu: (1) pengawasan pendahuluan, (2) pengawasan concurrent,dan (3) pengawasan umpan balik. Pengawasan pendahuluan (feed forward control), atau sering disebut steering controls, dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan dari standar atau tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan.

Jadi, pada pendekatan pengawasan ini lebih agresif dan juga aktif, dengan mendeteksi masalah-masalah dan mengambil tindakan yang diperlukan sebelum suatu masalah terjadi.
Concurrent control sering disebut pengawasan “ya-tidak”, atau juga disebut screening control atau “berhenti terus”, dilakukan selama suatu kegiatan berlangsung. Tipe pengawasan ini adalah sebuah proses dimana aspek-aspek tertentu dari suatu prosedur haruslah disetujui terlebih dahulu, atau syarat tertentu harus terpenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan bisa dilanjutkan, atau menjadi semacam peralatan “double-check” yang lebih menjamin ketepatan pelaksanaan suatu kegiatan.

Pengawasan umpan balik (feedback control) adalah mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Pengawasan ini mempunyai sifat historis, pengukuran dilakukan setelah kegiatan terjadi. Di dalam sebuah proses pengawasan, maka aspek evaluasi diperlukan sebagai umpan balik dalam rangka memperbaiki dan atau mencegah hal-hal yang dipandang menghambat penyelenggaraan program-program organisasi.

makalah Pengawasan Dalam Manajemen Pendidikan Islam

B.    Tujuan Pengawasan
Adapun tujuan pengawasan yang harus dipenuhi ialah:
  1. Meniadakan kesalahan atau menghentikan sebuah kesalahan , penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidakadilan;
  2. Mencegah terulangnya kembali kesalahan, penyelewengan, penyimpangan, hambatan, pemborosan, dan ketidakadilan;
  3. Mendapatkan cara-cara yang lebih baik atau membina yang telah baik;
  4. Menciptakan suasana keterbukaan, kejujuran, partisipasi, dan akuntabilitas organisasi;
  5. Meningkatkan kelancaran operasi organisasi;
  6. Meningkatkan kinerja organisasi;
  7. Memberikan opini atas kinerja organisasi;
  8. Mengarahkan manajemen untuk melakukan koreksi atas masalah-masalah pencapaian kinerja yang ada;
  9. Menciptakan terwujudnya organisasi yang bersih.
C.    Bentuk-Bentuk Pengawasan
a.    Pengawasan melekat
Pengawasan melekat ialah serangkaian kegiatan yang bersifat pengendalian yang terus-menerus, dilakukan langsung terhadap bawahanya secara preventif (pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangan) dan represif (pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah kegiatan itu dilakukan) agar pelaksanaan tugas bawahan dapat berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan.

b.    Pengawasan Fungsional
Pengawasan fungsional memiliki arti pada setiap pengawasan dilakukan untuk melakukan audit dan pemantauan secara bebas terhadap objek yang diawasinya. Pengawasan fungsional mempunyai peran penting untuk membantu manajemen puncak melakukan pengendalian organisasi dalam mencapai tujuannya. Pada pengawasan fungsional ini dilakukan oleh manajemen puncak atau satuan pengawas internal dengan dibantu teknologi informasi yang canggih sebagai kegiatan pemantauan. Jadi, fungsi pengawasan ini tidak dapat dilakukan oleh seorang auditor eksternal dan hanya dapat dilakukan oleh manajemen atau aparat internal yang berwenang. Pengawasan fungsional ini terdiri atas pengawasan eksternal dan internal.
  • Pengawasan internal; ialah suatu penilaian yang objektif dan sistematis oleh pengawas internal atas pelaksanaan dan pengendalian organisasi. Pengawasan yang macam ini bisa dilakukan dengan sebuah cara, pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat (built in control) atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh inspektorat jenderal pada setiap kementerian dan inspektorat wilayah untuk setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri.
  • Pengawasan Eksternal; pengawasan yang dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas keberhasilan dan kemajuan organisasi. Pelaksana pengawasan eksternal dilakukan dengan prinsip kemitraan (partnership) antara pengawas dan yang diawasi.
D.    Kriteria Yang Harus Diperhatikan Dalam Pengawasan
Agar pengawasan yang dilaksanakan bisa berjalan secara efektif ada beberapa kriteria yang diperhatian, yaitu: (1) berkaitan erat dengan hasil yang diinginkan, (2) obyektif, (3) lengkap, (4) tepat pada waktunya, dan (5) dapat diterima.
Adapun menurut Likert suatu pengawasan akan berfungsi secara efektif, jika perhatiannya ditekankan pada beberpa hal sebagai berikut:
  1. Pada sebuah pengawasan manajer dan para pegawainya merencanakan dan mengukur prestasi kerjanya sehingga keputusannya dapat dijadikan sebagai dasar pengetahuan dan perkiraan yang dapat diinformasikan.
  2. Suatu pengawasan harus memungkinkan para manajer mendeteksi deviasi dari standar yang ada pada waktu mengerjakan control tersebut.
  3. Pengawasan harus memungkinkan sebagai alat untuk menetapkan penghargaan, penyeleksian, dan kompensasi berdasarkan suatu prestasi kerja yang sebenarnya, daripada berdasarkan perkiraan tentang perilaku bawahannya.
  4. Pengawasan harus dapat menjadi motifasi yang merangsang untuk mencapai prestasi yang lebih baik, sehingga pengawasan tersebut mampu menjelaskan sampai sejauh mana orang-orang akan diukur dan diberi suatu kesempatan untuk mengukur efektivitas yang mereka miliki.
  5. Pengawasan mampu sebagai media komunikasi yang mencakup konsep-konsep umum untuk membicarakan kemajuan organisasi.
Sumber Rujukan:
  • Amtu, Onisimus. Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah Konsep,Strategi, dan Implementasi. Bandung: Alfabeta, 2011.
  • Kurniadin, Didin. Imam Machali.  Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.
  • Sulistyorini. Manajemen Pendidikan Islam Konsep,Strategi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Teras, 2009.

0 Response to "Pengawasan Dalam Manajemen Pendidikan Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel