Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Metode Istinbath Hukum Madzhab Hanafi - duniamanajemen.com Metode Istinbath Hukum Madzhab Hanafi - DUNIA MANAJEMEN

Metode Istinbath Hukum Madzhab Hanafi

A.    Metode Istinbath Hukum Madzhab Hanafi
Dikalangan madzhab ushul dalam melakukan istinbath hukum mereka telah menyusun macam-macam sumber dalil secara sistematik. Dan di dalam kenyataannya, macam-macam sumber dalil tersebut ada yang disepakati dan tidak disepakati. Dengan kata lain, dalil-dalil yang menjadi sumber penetapan hukum, di kalangan ulama ushul tersebut disatu pihak terdapat persamaan dan di pihak lain terdapat perbedaan. 

Perbedaan ini, kadang-kadang bukan saja dari segi intensitas dan otoritas penggunaan suatu dalil, bahkan perbedaan tersebut menyangkut keberadaan suatu dalil, dimana sebagian kalangan madzhab memandangnya sebagai dalil sementara yang lainnya tidak menjadikannya sebagai dalil. Akibatnya –bila perbedaan-terhadap keragaman sumber dalil dan perbedaan sistematika dalam istinbath hukum di kalangan ulama ushul.

Sebetulnya, disamping terdapat keragaman sumber dalil dan sistematika, dalam istinbath hukum di kalangan madzhab ushul, juga terdapat kesamaan dan kesepakatan di kalangan mereka. Maka berikut ini akan diuraikan metode istinbath hukum menurut salah satu ulama ushul yakni, Madzhab Hanafi.
Dari beberapa sumber ditemukan bahwa yang menjadi dasar istinbath (ushul al-istinbath) dan sistematika madzhab hanafi, sebagai dijelaskan oleh Hasan Abu Talib adalah sebagai berikut:
1.    Al-Kitab
2.    As-Sunnah
3.    Al-Asar
4.    Al-Ijma’
5.    Al-Qiyas
6.    Al-Istihsan
7.    Al-‘Urf

Tentang dasar istinbath ini, dijelaskan oleh Hasan Abu Talib lebih lanjut berdasarkan pernyataan Abu Hanifah sendiri.
makalah Metode Istinbath Hukum Madzhab Hanafi

Saya berpegang kepada kitab Allah (Al-Qur’an) apabila menemukannya, jika saya tidak menemukannya saya berpegang kepada Sunnah dan Asar. Jika saya tidak temukan dalam kitab dan sunnah, saya berpegang kepada para sahabat dan mengambil mana yang saya sukai dan meninggalkan yang lainnya. Maka jika persoalan sampai kepada Ibrahim al-Sya’bi, al-Hasan, Ibn Sirin, Said Ibn al-Musayab, maka saya harus berijtihad sebagaimana mereka telah berijtihad.

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Abu Hanifah dalam melakukan istinbath hukum berpegang kepada sumber dalil yang sistematika atau tertib urutannya seperti apa yang ia ucapkan tersebut. Dari ucapan tersebut Nampak bahwa Abu Hanifah menempatkan al-Kitab atau Al-Qur’an pada urutan pertama, kemudian al-Sunnah pada urutan kedua dan seterusnya secara berurutan qaul sahabi, al-ijma’, al-qiyas, al-istihsan, dan terakhir adalah al-‘urf. Dalam hal terjadinya penentangan qiyas dengan istihsan, sementara qiyas tidak dapat dilakukan, maka Abu Hanifah meninggalkan qiyas dan berpegang kepada istihsan karena adanya pertimbanga maslahat. Dengan kata lain penggunaan qiyas sepanjang dapat diterapkan jika memenuhi persyaratan. Jika qiyas tidak mungkin terhadap kasus-kasus yang dihadapi maka pilihan alternative menggunakan istihsan dengan alasan maslahat.
Atas dasar seperti inilah Abu Hanifah melakukan istinbath hukum dan cara ini menjadi dasar pegangan atau ushul madzhab Hanafi dalam menetapkan dan membina hukum islam.

B.    Kedudukan Dasar-Dasar Pegangan Mdzhab Hanafi

1.    Al-Kitab (Al-Qur’an)
Ulama madzhab hanafi berpandangan bahwa pesan Al-Qur’an tidak semuanya qath’i dalalah. Ada beberapa hal yang memerlukan interpretasi terhadap hukum yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an tersebut, terutama ayat-ayat yang menerangkan muamalah umum antar manusia.

Dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan muamalah tersebut, porsi penggunaan akal dalam mencari hukum suatu maslahah lebih besar. Hal itu telah dibuktikan, baik oleh Imam Hanafi maupun oleh murid-muridnya.

2.    As-Sunnah

Dasar kedua yang digunakan oleh madzhab hanafi adalah As-Sunnah. Martabat As-Sunnah terletak di bawah Al-Qur’an. Imam Abu Yusuf berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih alim tentang menafsirkan hadis daripada Abu Hanifah. Ia adalah seorang yang mengerti tentang penyakit-penyakit hadis dan men-ta’dil dan men-tarjih hadis.”

Tentang dasar yang kedua ini, madzhab hanafi sepakat mengamalkan As-Sunnah yang mutawatir, mashur, dan shahih. Hanya saja Imam Hanafi sebagaimana ulama Hanafiyah, agak ketat menetapkan syarat-syarat yang dipergunakan untuk menerima hadis ahad.

3.    Fatwa Sahabi

Imam Abu Hanifah sangat menghargai pendapat para sahabat. Dia menerima, mengambil, serta mengharuskan umat islam mengikutinya. Jika ada pada suatu masalah beberapa pendapat sahabat, maka ia mengambil salah satunya. Dan jika tidak ada pendapat-pendapat sahabat pada suatu masalah, ia berijtihad dan tidak mengikuti pendapat tabiin. Menurut Abu Hanifah, Ijma’ sahabat ialah: “Kesepakatan para mujtahidin dari umat islam di suatu masa sesudah Nabi SAW. atas suatu urusan.” Ulama Hanafiyah menetapkan bahwa ijma’ itu dijadikan sebagai hujjah. Mereka menetapkan bahwa tidak boleh ada hukum baru terhadap suatau urusan yang telah disepakati oleh para ulama, karena membuat hukum baru adalah menyalahi ijma’.

4.    Qiyas

Qiyas adalah penjelasan dan penetapan suatu hukum tertentu yang tidak ada nashnya dengan melihat masalah lain yang jelas hukumnya dalam kitab Allah atau As-Sunnah atau Ijma’ karena kesamaan illatnya”. Yang menjadi pokok pegangan dalam menjalankan qiyas adalah bahwa segalanya hukum syara’ ditetapkan untuk menghasilkan kemaslahatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Hukum-hukum itu mengandung pengertian-pengertian dan hikmah-hikmah yang menghasilkan kemaslahatan, baik yang diperintahkan maupun yang dilarang, atau yang dibolehkan maupun yang dimakruhkan. Semuanya demi kemaslahatan umat.

5.    Istihsan

Dalam hal ini istihsan merupakan sebuah tindakan untuk meninggalkan satu hukum kepada hukum lainnya, hal ini dilakukan dikarenakan ada suatu dalil syara` yang mengharuskan/mewajibkan untuk meninggalkannya.

Istihsan diartikan sebagai “konstruksi yang menguntungkan”, atau juga sering dikatakan sebagai plihan hukum dijadikan hujjah oleh fuqaha’ madzhab hanafi.

6.    Al-‘Urf

‘urf (adat kebiasaan), dalam batas-batas tertentu diterima sebagai sumber syariah oleh madzhab hanafi. Menurut  madzhab hanafi, ‘urf dapat melampaui qiyas, namun tidak dapat melampaui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sahal ibn Muzahim berkata, “Pendirian Abu Hanifah adalah mengambil yang terpercaya dan lari dari keburukan serta memerhatikan muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Ia melakukan segala urusan atas qiyas. Apabila tidak baik dilakukan qiyas, ia melakukan atas istihsan selama dapat dilakukannya. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan, kembalilah ia kepada ‘urf manusia”.

C.    Tokoh-Tokoh yang mendukung Abu Hanifah

Pendapat-pendapat Abu Hanifah dinukilkan kepada kita dengan perantara riwayat atau tulisan-tulisan yang ditulis oleh murid-murid beliau.
1.    Abu Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim Al-Anshari Al-Kufi (113 H-182H),
2.    Muhammad ibn Al Hasan Asy Syaibani (132 H-189 H),
3.    Zufaz ibn Hudzail ibn Qais Al Kufi (110 H-158 H),
4.    Al HAsan ibn Ziyad Al-Lu’lu-I (204 H).

Sumber Rujukan:
  • Ash Shiddieqy, Hasbi. Pengantar Ilmu Fiqh. Jakarta: PT Bulan Bintang, 1967.
  • SA, Romli. Muqaranah Mazahib Fil Ushul. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.
  • Supriyadi, Dedi. Perbandingan Mazhab dengan Pendekatan Baru. Bandung: CV Pustaka Setia, 2008.

0 Response to "Metode Istinbath Hukum Madzhab Hanafi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel