Merancangkan Lingkungan Belajar yang Efektif

1.    Hal- hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan lingkungan belajar
Dalam mengelola proses pembelajaran tentu ada hal-hal yang harus diperhatikan agar tercipta lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan. Mengenai definisi lingkungan belajar, ini sebenarnya sudah diuraikan oleh pemakalah sebelummnya hanya saja penulis akan mengulang sekilas tentang lingkungan belajar. Secara sederhananya, lingkungan belajar adalah tempat di mana anak mendapatkan pendidikan atau tempat anak didik belajar.

Berhasil tidaknya proses pembelajaran tergantung pada bagaimana strategi   guru dalam menciptakan suasana belajar yang efektif. Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, yang baik. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola atau pun menciptakan lingkungan belajar yang efektif, yaitu:

1.    Memahami karakter siswa
Siswa yang satu dengan siswa yang lain memiliki karakter yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, guru harus memahami setiap karakter siswa tersebut. dengan adanya perbedaan-perbedaan antar siswa ini guru harus cakap menggunakan metode/ cara mengajar dalam proses pembelajaran.

Tingkah laku siswa bermacam-macam ada yang nakal, ada yang tidak. Dalam menghadapi siswa yang nakal ini guru harus sabar dan telaten kepada siswanya bukan malah seenaknya  marah-marah.

2.    Strategi dan metode dalam proses pembelajaran

Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sesuatu. Metode adalah cara yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Alangkah baiknya jika guru menggunakan banyak metode dalam proses belajar mengajar. Mengapa demikian? Karena siswa tidak menjadi bosan selama proses pembelajaran itu berlangsung.

Berdasarkan hasil observasi di SMP 3 PADEMAWU disana kami menanyakan pada bapak luthanafi Mpd. mengenai pengelolaan lingkungan belajar disana, Efektif tidaknya proses pembelajaran di kelas tergantung pada gurunya. Bagaimana strategi dan metode guru dalam menyampaikan materi. Bapak lutfi disini menggunakan metode dengan membagi-bagi siswa menjadi beberapa kelompok.

Sebelum memberikan tugas, bapak lutfi menjelaskan terlebih dahulu materinya, baru kalau siswa sudah paham materi tersebut kemudian beralih memberikan tugas secara berkelompok. Jika siswa sudah mengerjakan tugasnya, guru menyuruh menukar dengan kelompok lain untuk mengkoreksi. Dalam mengoreksi pun siswa itu ditanyakan oleh bapak lutfi di mana letak kesalahan milik temannya ini.

Bapak lutfi disini juga menggunakan metode mengajar diluar kelas dengan tujuan untuk menambah semangat belajar siswa dengan langsung mengenalkan jenis-jenis benda yang sesuai dengan yang dipelajari dalam LKS atau buku yang ada. Semisal pembelajaran biologi bapak lutfi membawa siswanya keluar kelas dengan menunjukkan tumbuhan-tumbuhan dan tanaman yang ada dilingkungan sekolah.

3.    Penataan/ pengaturan ruang kelas

Kenyamanan ruang kelas merupakan faktor pendukung kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang kelas merupakan salah satu tempat berlangsungnya pembelajaran, tempat di mana terjadi interaksi antar individu dan tempat di mana siswa mengalami perkembangan fisik, mental, intelektual, perasaan, dan keterampilan lainnya. Ruang kelas yang kesannya baik, tenang, aman, dan menyenangkan akan menimbulkan semangat belajar terhadap siswa. Di sini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata kelas antara lain:
  • Kerapian, kebersihan, kenyamanan, dan kelembapan di kelas tentu sangat berpengaruh. Kelas yang bersih, nyaman enak dipandang dan terlihat indah sehingga nyaman dalam belajar.
  • Cahaya matahari dan sinar lampu yang cukup terang. Cuaca yang mendung, tidak ada cahaya matahari yang masuk maka kemungkinan kondisi kelas agak gelap sehingga sedikit mengganggu terhadap proses pembelajaran. Sebab itu butuh sinar lampu yang terang. Jika tidak ada lampunya maka juga akan mengganggu terhadap proses pembelajaran di kelas.
  • Sirkulasi udara yang lancar. Jika di ruangan kelas udara itu tidak dapat masuk maka suasana kelas menjadi pengap dan kemungkinan besar siswa akan banyak yang keluar masuk kelas karena tidak betah di kelas. Hal ini juga dapat mengganggu proses pembelajaran, sehingga perlu diperhatikan tata ruangnya.
  • Jumlah perabot yang cukup dan terawat dengan baik. Susunan meja dan kursi tertata rapi dan dapat diubah-ubah sewaktu-waktu.
  • Media atau alat peraga yang dibutuhkan ada, cukup.
  • Susunan meja dan kursi memungkinkan siswa untuk dapat bergerak dengan tenang dan nyaman.
Berdasarkan hasil observasi di SMP 3 MAJUNGAN penataan mejanya dijadikan tiga bagian dan diurut dari sebelah utara tengah dan selatan. Dan didalam perkelas disediakan gambar-gambar pahlawan dan gambar benda-benda langit dan yang sesuai dengan yang dipelajari siswa. Fasilitas ini dapat mendorong atau pun menghambat kelancaran dan keefektifan proses pembelajaran.

Tersedianya fasilitas yang lengkap dapat menjadi pendorong. Sementara kurangnya fasilitas di sekolah juga merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat keefektifan pembelajaran. Oleh karena itu, maka perlu diperhatikan fasilitas-fasilitas ini. Fasilitas-fasilitas ini meliputi besar kelas, besar ruangan kelas dan ketersediaan alat belajar.

Kelas yang jumlah siswanya sangat besar sementara ruang kelasnya kecil tentu akan berpengaruh terhadap keefektifan belajar siswa di kelas. Begitu pula dengan kurangnya ruangan-ruangan khusus seperti ruangan laboratorium, ruangan UKS, dan sebagainya sehingga perlu diperhatikan demi keefektifan proses pembelajaran.

Di SMP 3 MAJUNGAN kelasnya belum begitu memadai masalah bangku dan meja perlu adanya perbaikan ulang dikarenakan kurang layak untuk siswa sehingga akan menyebabkan kurangnya minat belajar dan kurangnya semangat siswa sehingga dengan kelas yang tidak menarik peserta didik banyak yang tidur dan bisa menghambat proses pembelajaran dikelas.

Merancangkan Lingkungan Belajar yang Efektif

2. Problem-Problem Pengelolaan Kelas

Secara sederhana sebagaimana penjelasan sebelumnya, manajemen kelas adalah suatu proses atau cara mengelola kelas yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien juga agar terhindar dari kesulitan dan kegagalan belajar.

Dalam pengelolan kelas tentunya tak jarang menemukan masalah-masalah karena pada hakikatnya siswa itu beragam baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Masalah ini tidak dapat dihindari oleh kita sebagai zoon politicon  (membutuhkan bantuan orang lain) karena adanya kebutuhan dan kepentingan yang berbeda-beda antar manusia.

Masalah merupakan hal yang mudah hinggap pada diri seseorang. Penyebab masalah ini bisa berasal dari faktor fisik. Seperti, pusing, lelah, gatal, gerah, ngantuk dan sebagainya. Sedangkan penyebab masalah yang berupa faktor psikis, seperti rasa bosan, tertekan, benci, bingung, cemas, malu dan gugup, dan lain sebagainya.

Di sini ada beberapa permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kelas. Dalam bukunya Jamil Suprihatiningrum, berhasil tidaknya mengelola kelas bergantung pada dua faktor utama, yaitu guru dan siswa. Permasalahan yang muncul dari guru antara lain:
  • Bercampurnya urusan domestik (pribadi) dengan urusan pekerjaan. Terkadang guru itu ada yang membawa masalah dari rumah ke sekolah  sehingga dapat mengganggu proses pembelajaran di kelas.
  • Banyaknya pekerjaan administratif yang menyita banyak waktu yang harus dilakukan guru.
  • Penampilan fisik dan gaya mengajar yang kurang menarik. Jika penampilan dan gaya mengajar guru tidak menarik bagaimana mungkin siswa bisa tertarik untuk belajar. Suatu contoh guru yang suaranya kurang lantang dalam mengajar pada jam terakhir, maka kemungkinan siswa tidak akan mendengarkan penjelasan dari guru. Dengan demikian, guru itu harus berpenampilan yang baik, tidak terlihat seperti orang yang tidak semangat dan harus kreatif dalam mengajar di kelas supaya siswa itu tertarik untuk menyimak apa yang disampaikan oleh guru.
  • Pengendalian emosi yang kurang tepat, tidak sabar. Masalah yang keempat guru yang tidak sabar dan kurang mengendalikan emosi, kalau gurunya sering marah-marah, ngomel dan semacamnya, kemungkinan siswa menjadi tegang dalam pembelajaran di kelas sehingga kalau siswa sudah tegang apa yang disampaikan oleh guru sulit untuk ditangkap/ dipahami oleh mereka. Dengan demikian, hendaknya guru itu bersabar dan bisa mengendalikan emosi dalam menghadapi siswa yang nakal khususnya.
  • Keterampilan komunikasi yang kurang efektif kepada siswa. Cara penyampaian guru yang tidak bisa dipahami oleh siswa maka sebenarnya ini masalah. Sebab itu, guru harus memilih bahasa sesederhana mungkin bagaimana nantinya bahasa itu mudah dipahami oleh siswa. Bahasa yang baik adalah bahasa komunikatif, yaitu bahasa yang mudah dimengerti oleh lawan bicaranya.
Adapun permasalahan yang disebabkan oleh siswa antara lain:
  • Adanya persaingan yang tidak sehat antar siswa.
  • Adanya perbedaan jenis kelamin, suku, ras, dan agama sehingga memunculkan rasa tidak senang dengan siswa lain.
  • Reaksi yang muncul di kelas akibat suatu peristiwa kebanyakan negatif, seperti perilaku melawan dan mengancam guru.
  • Sebagian besar teman sekelas akan memberikan toleransi atas kesalahan yang dibuat oleh temannya, misalnya tidak mengerjakan PR.
  • Kesulitan siswa dalam beradaptasi dengan lingkungan kelas yang berubah/ baru.
Dalam bukunya Martinis Yamin yang berjudul Paradigma Baru Pembelajaran, masalah pengelolaan kelas ada empat yaitu:
  • Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain, misalnya membantu di kelas (aktif), atau dengan berbuat serba lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra (pasif).
  • Selalu mendekat atau kehilangan kendali dalam emosional, seperti marah-marah, menangis (aktif), atau selalu lupa pada aturan-aturan penting di kelas (pasif).
  • Dalam hal menyakiti orang lain, seperti mencaci-maki, memukul, menggigit dan sebagainya (kelompok ini kebanyakan dalam bentuk aktif/ pasif).
  • Peragaan ketidakmampuan.
Mulyadi menyatakan, masalah manajemen kelas ini dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar yaitu masalah perorangan dan masalah kelompok. Disadari atau tidak masalah perorangan/ individual dan masalah kelompok sering kali menyatu dan sukar dipisahkan satu dari lainnya. Namun demikian, mengetahui perbedaan antara kedua kategori masalah itu akan berguna, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada di dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya.

Dua kategori masalah manajemen kelas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Masalah Perorangan
Masalah perorangan ini muncul karena dalam individu ada kebutuhan ingin diterima oleh kelompok dan ingin mencapai harga diri. Apabila kebutuhan itu tidak dapat lagi dipenuhi melalui cara lazim yang dapat diterima masyarakat, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan cara lain. Dengan kata lain individu akan berbuat tidak baik.

Berdasarkan penjelasan di atas, adanya masalah-masalah dalam diri seseorang itu karena setiap orang memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika dia gagal dalam mencapai keinginannya, maka orang itu akan melakukan berbagai hal yang menyimpang supaya keinginannya tercapai.

Dalam konteks ini, menyatakan ada empat kelompok masalah manajemen kelas yang bersifat individual/ perorangan, yaitu:
  • Attention-getting behaviors (tingkah laku menarik perhatian orang lain)
  • Power-seeking behaviors (tingkah laku mencari kekuasaan)
  • Revenge-seeking behaviors (tingkah laku menuntut balas)
  • Peragaan ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apa pun karena yakin hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya).
Keempat tingkah laku yang menyimpang ini diurutkan makin lama makin berat. Seorang siswa yang gagal dalam menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya bertingkah laku mencari perhatian orang lain, baik secara aktif maupun pasif.

Secara sederhananya, tingkah laku siswa yang mencari perhatian orang lain ini ada dua yaitu yang aktif dan yang pasif. Adapun perilaku mencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, membantu di kelas, membuat onar dalam kelas, melawak, terus-menerus bertanya, memperlihatkan kenakalannya dan sebagainya. Sedangkan tingkah laku yang pasif dapat ditemukan pada anak-anak yang terus-menerus meminta bantuan orang lain atau anak-anak yang malas.

Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan tingkah laku pencari perhatian, tetapi lebih mendalam. Sama dengan tingkah laku siswa yang mencari perhatian, siswa yang mencari kekuasaan ada yang aktif dan ada yang pasif. Yang aktif misalnya suka berbohong, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain, menampilkan adanya pertentangan pendapat dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka/ terang-terangan.

Tingkah laku siswa yang menuntut balas maksudnya adalah siswa yang mengalami frustasi yang sangat mendalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti oraang lain. Seperti memukul, menggigit siswa, dan sebagainya. Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif dari pada secara pasif dan dia merasa sakit kalau dikalahkan.

Adapun siswa yang menunjukkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa sangat tidak mampu dalam mencapai keinginannya dan menyerah terhadap tantangan yang menghambatnya, bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada di depannya hanyalah kegagalan yang terus-menerus. Perasaan tanpa harapan ini lah yang biasanya diikuti tingkah laku mengundurkan diri.

Untuk mengenali adanya masalah-masalah perorangan sebagaimana yang telah diuraikan di atas ada empat tehnik.
  • Jika guru merasa terganggu oleh perbuatan siswa, maka kemungkinan siswa itu ada pada kategori attention getting behaviors (tingkah laku ingin menarik perhatian orang lain).
  • Jika guru merasa dikalahkan atau terancam, maka kemungkinan siswa ini ada pada kategori mencari kekuasaan.
  • Jika guru merasa tersinggung atau luka hati, maka kemungkinan siswa ada pada kategori menuntut balas.
  • Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal ini merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan.
2.    Masalah Kelompok
Dalam manajemen kelas ada tujuh kategori masalah kelompok. Masalah-masalah yang dimaksud adalah:
  • Kelas kurang kohesif (kompak) disebabkan perbedaan jenis kelamin, suku, dan agama.
  • Penyebalan terhadap norma-norma tingkah laku yang disepakati sebelumnya (siswa kurang mampu untuk patuh terhadap norma kelas yang telah ditetapkan). Misalnya, berbicara keras atau mengganggu siswa yang lain padahal semua siswa diminta untuk tidak ramai.
  • Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara, menyanyi dengan suara sumbang.
  • Membimbing anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya mendorong anggota kelompok membuat gambar-gambar lucu tentang gurunya dan sebagainya.
  • Rendahnya semangat kerja siswa atau melakukan semacam aksi protes kepada guru karena menganggap yang diberikan kurang fair. Misalnya, siswa menolak melakukan kegiatan tertentu karena menganggap gurunya tidak adil.
  • Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, seperti gangguan jadwal, guru kelas terpaksa diganti guru lain untuk sementara waktu.
Sebagaimana yang tercantum dalam bukunya Bustami, keterampilan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal.  Maka di sini ada hal-hal yang harus dihindari oleh guru agar tidak menimbulkan masalah-masalah, yaitu:
  • Jangan mencampuri kegiatan siswa secara berlebihan, terlalu banyak perintah dan mendikte siswa.
  • Kesenyapan, yaitu berhentinya penjelasan/ kegiatan yang seharusnya masih berlangsung. Misalnya, guru kehabisan kata-kata sehingga siswa harus menunggu. Dengan demikian, guru harus tahu bagaimana cara penyampaian materi pelajaran kepada siswa dan mengatur sendiri lah bagaimana ketika menjelaskan materi tidak kehabisan kata-kata. Kegiatan pembelajaran di kelas melalui penyampaian materi yang baik dapat dilakukan oleh seorang guru dengan mengelola proses pembelajaran sehingga siswa dapat belajar dalam suasana kondusif dan menyenangkan.
  • Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan yang menyebabkan kegiatan berlangsung kurang tuntas. Misalnya, ketika memulai pelajaran guru langsung masuk pada materi.
  • Penyimpangann yang berlarut-larut dari pokok pembahasan. Misalnya, guru bercerita sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan materi pelajaran.
  • Bertele-tele mengulang-ulangi hal-hal tertentu sehingga siswa menjadi bosan.
  • Menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif. Jaga kontak mata dengan siswa (perhatikan setiap siswa melalui pandangan secara terus menerus) agar siswa tersebut merasa bahwa dirinya diperhatikan.
Dari pemaparan di atas, ada beberapa masalah yang sering ditemukan dalam mengelola kelas di SMP 3 MAJUNGAN, ada siswa yang main-main dan ramai di kelas, ada yang jalan-jalan atau mondar-mandir di kelas setelah guru selesai menjelaskan materi. Dalam mengatasi masalah ini, bapak luthanafi menegur dengan baik dan halus  misalnya, tolong duduk nak!. Dan terkadang memberikan ancama jika suasana kelas sudah tidak bisa dikendalikan lagi misalnya, taruh mainannya dulu jika tidak, akan saya ambil.

Selain yang telah disebutkan di atas, masalah yang ditemukan di kelas ada siswa yang tiduran. Dalam menyikapi masalah ini bapak lut itu tidak langsung marah-marah tetapi siswa itu ditanya kenapa kok tiduran? Karena tidak biasanya seperti itu. Dan ternyata siswa yang tiduran tadi karena tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Selain itu permasalahan gender atau jenis kelamin disana juga manjadi prolem dalam pengelolaan kelas selain tu masalah jabatan antara anak pejabat dan peserta didik biasanya juga berpengaruh.

Sumber Rujukan:
  • Kosim, Moh. Pengantar Ilmu Pendidikan. Pamekasan : Stain Pamekasan Press,  2006.
  • Majid, Abdul. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013.
  • Mukhtar. Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Gaung Persada, 2011.
  • Mulyadi. Classroom management Mewujudkan Suasana Kelas yang Menyenangkan bagi Siswa. Malang: UIN-malang Press, 2009.
  • Rohman, Arif. Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Surabaya : LaksBang Mediatama,  2009.
  • Said, Bustami. Prinsip-Prinsip Pengeolaan Pembelajaran. Pamekasan: Stain Pamekasan Press, 2006.
  • Soejono. Pendahuluan Ilmu Pendidikan Umum. Bandung : CV. ILMU, 1912.
  • Suprihatiningrum, Jamil. Strategi Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.
  • Yamin, Martinis. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2011.

0 Response to "Merancangkan Lingkungan Belajar yang Efektif "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel