Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Latar Belakang Sejarah Pemikiran Moderen Dalam Islam - duniamanajemen.com Latar Belakang Sejarah Pemikiran Moderen Dalam Islam - DUNIA MANAJEMEN

Latar Belakang Sejarah Pemikiran Moderen Dalam Islam

A.    Faktor-Faktor  Lahirnya Pemikiran Moderen Dalam Islam
Perlu diketahui sebelumnya, bahwa kata modern secara etiologis dapat disimpulkan mempunyai dua penafsiran, yaitu dalam arti “baru” yang berlawanan dengan kata “lama atau kuno”, artinya yang dikatakan baru adalah sesuatu yang belum ada sebelumnya dalam arti “yang selalu dianggap baru, tidak pernah dianggap usang sehingga berlaku sepanjang masa”. Dengan demikian “modern juga berarti dinamis.

Pada abad 19 Masehi, munculah berbagai pemikiran modern dalam dunia Islam muncul di semua kalangan para pemikir atau ilmuan Islam serta menaruh perhatian dalam kebangkitan kembali terhadap Islam setelah mengalami masa kemunduran dalam segala bidang ,terutama sejak setelah jatuhnya dinasti bani Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1258 M dikarenakan adanya serangan Hulagu yang meluluh lantahkan bangunan peradaban Islam yang sebelumnya merupakan mercusuar peradaban dunia.

Pada kelahiran Islam yang moderen ini dilatarbelakangi oleh 2 (dua) faktor, yaitu sebuah faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi  kontak dunia Islam dengan dunia Barat dan Imperialisme Barat. Sedangkan faktor internal meliputi bercampurnya unsur non Islam kedalam Islam dan kemunduran pemikiran Islam.
1.    Faktor Eksternal
a.    Imperialisme Barat

Imperialisme dan kolonialisme Barat terjadi akibat disintegrasi atau perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam yang terjadi jauh sebelum kehancuran peradaban Islam pada pertengahan abad ke-13 M., yaitu ketika munculnya dinasti-dinasti kecil yang melepaskan diri dari pemerintahan pusat pada masa kekhilafahan bani Abbasiyah.

Setelah runtuhnya bangunan peradaban Islam, perpecahan yang terjadi di tubuh umat Islam bertambah parah dengan maraknya pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintahan pusat Islam yang mengakibatkan pudarnya kekuatan politik Islam dan lepasnya daerah-daerah yang sebelumnya menjadi bagian dari kekuasaan Islam. Karena lemahnya politik Islam disertai dengan motivasi pencarian daerah baru sebagai pasar bagi perdagangan di dunia Timur yang sebagian besar penduduknya adalah umat Islam, Barat, sejak abad ke-16 M. menduduki daerah-daerah yang disinggahinya untuk dijadikan daerah penjajahan. Spanyol akhirnya menjajah Filipina, Belanda menjajah Indonesia selama ratusan tahun hingga memasuki abad 20 M. Inggris menjajah India, Malaysia dan sebagian negara-negara di Afrika dan Perancis menjajah banyak negeri di Afrika.
Berkat imperialisme, maka lahirlah para pemikir Islam yang berjibaku untuk membangunkan umat Islam dan mengajak mereka untuk bangkit kembali dan menentang penjajahan, seperti Jamaluddin Al Afghani dengan ide Pan Islamismenya di India dan juga Khairuddin Pasya at-Tunisi yang memiliki konsep negaranya di Tunisia.

Menurut Afghani, perjuangan yang di hadapi oleh modernisme islam merupakan kebutuhan untuk menciptakan pengertian solidarias kelompok dalam rangka memperkuat konstitusi kaum muslimin. Diperkuat oleh solidaritas kelompok ini, kaum muslimin bisa secara objektif mengahdapi tantangan kolonial dan mampu memenangakan tantangan itu dengan kekuatan.

b.    Kontak dengan modernisme di  Barat
Sejak abad 16 M. Barat mengalami suatu babak sejarahnya yang baru, yaitu masa moderen dengan lahirnya para pemikir moderen yang menyuarakan kemajuan ilmu pengetahuan dan berhasil menumbangkan kekuasaan gereja (agama). Karena keberhasilannya inilah dicapai peradaban Barat yang hingga kini masih mendominasi dunia. Revolusi industri  yang menjadikan Eropansebagi pusat kekuatan duni, memperkuat keunggulan militer bangsa Eropa atas kekuatan turki usmani dengan cara menyediakn tekhnologi baru. Kekalahan militer yang terus menerus itu mendorong turki usmani untuk mengadopsi sistem persenjataan, pelatihan, dan strategi bangsa Eropa.

Pada saat itu, dunia Islam berada dalam kemundurannya, karena interaksinya dengan modernisme di Barat mulai menyadari pentingnya kemajuan dan mengilhami mereka untuk memikirkan bagaimana kembali memajukan Islam sebagaimana yang telah mereka capai pada masa sebelum itu, sehingga melahirkan para pemikir Islam seperti Muhammad Ali Pasya di Turki, At Thahthawi dan Muhammad Abduh di Mesir, Khairuddin At Tunisi di Tunisia dan Sayyid Ahmad Khan di India.

2.    Faktor Internal
a.    Kemunduran Pemikiran Islam

Kemunduran pemikiran Islam terjadi pada saat setelah ditutupnya pintu ijtihad karena ada berbagai pertikaian yang terjadi antara sesama umat Islam sendiri dalam masalah khilafiyah dengan pembatasan madzhab fikih pada imam yang empat saja, yaitu madzhab Maliki, madzhab Syafi’i, madzhab Hanafi dan madzhab Hambali. Sementara itu, bidang teologi didominasi oleh pemikiran Asy’ariah dan bidang tasawwuf didominasi oleh pemikiran imam Al-Ghazali.

Pada penutupan pintu ijtihad ini telah menimbulkan efek negatif yang sangat luar biasa, di mana umat Islam tak lagi memiliki etos keilmuan yang tinggi dan akal tidak diberdayakan dengan maksimal sehingga yang dihasilkan oleh umat Islam hanya sekadar pengulangan-pengulangan tulisan yang telah ada sebelumnya tanpa inovasi-inovasi yang diperlukan sesuai dengan kemajuan jaman. Berkenaan dengan kemunduran pemikiran Islam ini, para pemikir Islam di jaman moderen dengan ide-ide pembaharuannya, menyuarakan pentingnya dibuka kembali pintu ijtihad.

Selain itu munculnya pola pikir moderen adalah sebagi bentuk kritik atau sekurang-kuranya respon terhadap faham asing yang bercampur agar dapat dilakukan upaya pemurnian ajaran dan akidah islam dari faham asing.  Al-Ghazali, juga bisa dijadikan sebagai penguatan contoh atas faktor ini, karena beliau mengintrodusir  tasawwuf setelah mengkritik falsafah.

b.    Bercampurnya ajaran Islam dengan unsur-unsur di luarnya.

Yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran moderen dalam Islam adalah dengan bercampurnya agama Islam dengan unsur-unsur di luarnya.

Pada masa sebelum abad ke-19 M., umat Islam banyak yang tidak mengenal agamanya dengan baik sehingga banyak unsur di luar Islam dianggap sebagai agama. Maka tercampurlah agama Islam dengan unsur-unsur asing yang terwujud dalam khurafat, bid’ah, dan takhayul.

Muhammad Abduh yang dilanjutkan dengan muridnya Muhammad Rasyid Ridha dan KH. Ahmad Dahlan di Indonesia adalah para pemikir pembaharuan Islam yang penuh perhatian terhadap pemberantasan takhayul, bid’ah dan khurafat di kalangan umat Islam.

Satu hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa faktor eksternal adalah yang paling utama, sedangkan faktor internal, telah ada sebelum masa moderen Islam yang telah lebih dahulu melatarbelakangi lahirnya pemikiran-pemikiran pembaharuan yang terjadi dalam Islam, dikarena pemikiran moderen dalam Islam tidak lain dan tidak bukan adalah kelanjutan pemikiran pembaharuan yang telah ada sebelumnya atau pemikiran pembaharuan pada masa klasik.

Pada abad 20, gerakan pembaruan pemikiran di dunia Islam terjadi secara besar-besaran dengan berbagai munculnya tokoh-tokoh Muslim ataupun organisasi terkemuka di berbagai negara, seperti Mesir, Iran, Pakistan, India, dan Indonesia. Gagasan pembaruan tersebut dimunculkan melalui istilah dan aksentuasi yang berbeda, antara lain tajdid (renewal, pembaruan) dan ishlah (reform, reformasi), baik yang bertendensi puritanistik dari segi ajaran maupun revivalistik dari segi politik.

Ide-ide pembaharuan Islam telah ikut mewarnai arus pemikiran dan juga pada gerakan Islam di Indonesia. Melihat latar belakang kehidupan sebagian tokoh-tokohnya, seperti misalnya Hasyim Asy’ari Nahdatul ulama (NU) Zamzam (Persis), Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), yang ketiganya sempat menimba ilmu di Mekkah dan mempunyai kesempatan untuk dapat berinteraksi dengan arus pemikiran Islam yang berasal dari benua timur tengah (Mesir).

Dengan begitu besarnya gerakan pembaharuan Islam di Indonesia yang ada di tengah-tengah masyarakat, secara umum pada awal abad ke-20 M tersebut, corak gerakan keagamaan Islam di Indonesia dapat dipetakan dengan meminjam istilah Achmad Jainuri sebagai berikut:
  1. Tradisionalis-konservatis, yakni mereka yang menolak kecenderungan westernisasi (pembaratan) dengan mengatasnamakan Islam yang secara pemahaman dan pengamalan melestarikan tradisi-tradisi yang bercorak lokal. Pendukung kelompok ini rata-rata dari kalangan ulama, tarekat dan penduduk pedesaan.
  2. Reformis-modernis, yakni mereka menegaskan relevansi Islam untuk semua lapangan kehidupan baik privat maupun publik. Islam dalam hal ini disebutkan memiliki karakter fleksibilitas dalam berinteraksi dengan yang namanya perkembangan zaman.
  3. Radikal-puritan, seraya sepakat dengan klaim fleksibilitas Islam di tengah arus zaman, mereka enggan memakai kecenderungan kaum modernis dalam memanfaatkan ide-ide Barat. Mereka lebih percaya pada penafsiran yang disebutnya sebagai murni Islami. Kelompok ini juga mengkritik pemikiran dan cara-cara implementatif kaum tradisionalis.
makalah Latar Belakang Sejarah Pemikiran Moderen Dalam Islam

B.    Revitalisasi Pemikiran Moderen Oleh Pemikir Modern Islam Untuk Islam
Nabi pernah memberitahukan bahwa pada setiap pembaharu (Mujiddid) akan mengembalikan pemikiran islam pada relnya yang benar. Pernyataan ini memberi isyarat, pemikiran islam mengalami proses perubahan dan perkembangan dan kadangkala bisa bergeser dari jalan yang lurus. Perjalanan sejarah islam sampai kini telah melampaui kurun waktu 14 abad dan dipeluk oleh sekitar 1 miliar orang serta berada dimana-mana.

Maka dari itu jika pemikiran islam diibaratkan sebuah sungai ia adalah sungai yang besar dan panjang. Lumrah jika sumber mata airnya yang semula bening dan jernih serta mengalir pada alur sempit dan deras dalam perjalanannya menuju muara kian melebar berliku-liku, dan bercabang-cabang. Airnya kian pekat karna mengangkut pula lumpur dan sampah. Geraknyapun menjadi lamban, untuk membuat airnya menjadi bersih kembali dan mengalir deras, Allah menciptakan riam-riam disepanjang sungai itu. Riam-riam itu berfungsi juga sebagai sumber energi riam-riam inilah yang dimisalkan sebagai mujaddid. Yang bukan saja berperan membersihkan kembali pemahaman islam, tetapi juga menyuntikkan semangat dan kekutan baru yang berangkat dari sepirit ajaran islam.
Islam dalam sepanjang perjalanan sejarahnya tidak selalu berperan ideal dan determinan bagi pemeluknya. Dalam rangka menghadapi realita sosial dan kultural yang penuh problematika, islam tidak selalu mampu memberikan jawaban yang di harapakan para pemeluknya secara definitif.  Kenyataan ini banyak terkait dengan sifat ilahiah dan transendensi islam yang berupa ketetuan-ketentua normartif secara umum.

Dalam hal ini jika dicermati secara seksama, maka akan telihat adanya semacam “pertarungan teologi”antara keharusan memegang doktrin yang yng bersifat normatif denga keinginan yang memberikan pemaknaan yang relatif. Pertarungan ini pada gilirannya memunculkan konflik teologis, intelektual,moral dan sosial di kalangan kaum muslimin secara luas. Kenyataan inilah yang diataranya memicu lahirnya gerakan modernisasi dalam islam.

Terlepas dari perbedaan pendapat dikalangan cendikiawan mislim tentang konsep dan defini modernisasi. Gagasan modernisasi islam muncul sebagai upaya interpretasi kaum muslimin terhadap sumber-sumber ajaran islam dalam rangka menghadpi berbagai perubahan sosial-kultural yang terjadi dalam setiap waktu dan tempat masing-masing. Dengan demikian, modernisasi islam sesungguhnya memiiki landasan normatif-teologis yang berasal dari sumber-sumber ajaran islam yaitu Alquran dan Assunnah. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam ahmad, Nabi pun bersabda:
“Perbaharuilah iman kalian !”kemudian ditanyakan kepada Roulullah” Ya Rosulullah, bagaimana cara memperbaharui iman kami?” Rosulullah
menjawab,”perbanyaklah mengucapakan lailahaillah .(HR Ahmad).

Banyak sekali para pemikir moderen dalam islam  bermuncula di antaranya adalah Afgani dan Mohammad Abduh. Usaha-usaha Afgani mengaktifkan kembali islam sebagai ideologi yang mampu memobilisir untuk mengatasi kemunduran timur telah gagal karena tidak seuanya bisa dikatakan berhasil. Kendatipun demikian upaya yang sama tengah diulang dalam kerangka repolitisasi islam saat ini, sehingga Oevre Afgani sekarang ini bisa melahirkan klain bagi suatu relefansi yang diperbaharui, tanpa mengenal tulian-tulisan orisinal Afgani atau bahkan sumber kedua yang paling baru, Mechail wolffsohn mengatakan bahwa “bagi Afgani islam berarti suatu alat untuk tujuan politik,” suatu tesis yang tidak bisa dipertahankan dalam studi yang serius tentang Afgani.  Sebab bagi Afgani, kultur tinggi islam adalah identik dengan islam itu sendiri.

 Umat islam mundur karena mereka tidak mempunyai pemahaman yang memadai tentang islam “ penindasan terhadap orang-orang islam oleh kekuatan hegemoni Eropa, menurut pembaharu, merupakan akibat dari orientasi. “Afgani yakin bahwa orientasi nilai yang benar, yakni islam cukup untuk menimbulkan perubahan. Dalam Alqur’an dikatakan :
“Tuhan tidak akan mengubah manusia kecuali mereka mengubah apa yang ada dalam hati mereka sendiri. “(13:11). Ayat alqur’an yang dikutip oleh moderni islam secara tidak kenal lelah,ini yang dikatakan berarti bahwa umat islam sendirilah yang bertanggung jawab atas kesengsaraan mereka. Bukanlah kondisi-kondisi struktural tetapi penyimpangan dari sistem norma yang benar, penyebab kemiskinan orang Islam.” Kita orang Islam”, kata Afgani .

Selain pembaharu pemikiran islam modern Afgani juga dapat dilihat dari munculnya corak pemikiran yang dilakukan oleh Muhammad Abduh. Bagi Abduh sendiri tujuan pendidikan formal adalah menghapus dualisme yang tanpak dengan adanya institusi. Untuk itu ia bertolak dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya sebagai berikut: “ tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seorang mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat”.

Sistem pendidikan yang bersifat dua dualisme pada abad ke-20, tipe pertama adalah sekolah-sekolah agama dengan al-Azhar sebagai lembaga pendidikan tertinggi, tipe kedua adalah sekolah modern baik yang dibangun oleh pemerintah mesir maupun yang didirikan oleh bangsa asing. Sekolah-sekolah agama berjalan diatas garis tradisional baik dalam kurikulum maupun metode pelajaran yang diterapkan. Semisal Fiqih yang terbatas pada masalah ibadah dengan hukum-hukum yang diberikan tanpa pengertian dan pemahaman dengan terhadap apa yang diterima.

Menurut Muhammad Abduh Alqur’an memberi perintah kepada umatnya untuk menggunakan akal sehat mereka serta melarangnya mengukuti pendapat terdahulu tanpa mengetahui secara pasti hujah-hujah yang menguatkan pendapat tersebut. Abduh menetapkan tiga hal yang menjadi kriteria perbuatan taklit adalah sebagai berikut.

Muhammad Abduh sebagai pelaku modernis telah menyikapi perdebatan barat modern dengan slektif dan kritis. Dia senantiasa menggunakan prinsip ijtihad sebagi metode pertama untuk meretas kebutuhan pemikiran kaum muslim. Nilai-nilai dan gagasan tertentu yang lahir dari peradaban barat, seperti demokarasi, pinsip kebersamaan, dan kemerdekaaan, serta konsep negara–bangsa di terima Mohammad Abduh dengan bingkai islam secara kritis. Sebagai seorang modernis, Mohammad Abduh mengahadapi tatangan yang datang dari barat dan tuntutan dunia modren dengan menggunakan pendekatan identifikatif, selain juga menggunakan pendekatan apologetik .

Kedua pendekatan inilah yang membuat Abduh senantiasa mengacu kepada barat dalam hal intelektualitas-modernitas dan berkiblat pada Alquran dan Al-Ssunah dalam hal moralitas. Pendekatan identifikatif Mohammah Anduh lebih identik dengan pendektan bagi gerakan pembaharuan islam yang orientasi ideologisnya modernis-sekuler. Dengan pendekatan ini  kebangkitan islam hanya dapat dilakukan dega cara identifikasi hal-hal yang datang dari barat.

Dengan sikap adoptif rasionanya, Abduh berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan relias yang penuh dengan dinamika perubahan dan permasalahan-permasalahan yang terus bermunculan. Kaum muslim kiranya berkewajiban mencarkan pemecahan bagi masalah-masalah baru melalui ijtihad berdasarkan sumber Alquran da Al-hadist.

Sumber Rujukan:
  • Assegaf ,Abd Rachmad, Aliran Pemikiran Pendidikan  Islam  Hadharah Keilmuan Tokoh Klasik Sampai Modern. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2013.
  • Iskandar Engku,Siti Zubaidah,Sejarah Pendidikan Islami. Bandung:PT Remaja Rosda Karya,2014)hlm.198.
  • Tibi , Bassam, Krisis Peradaban Islam Modern.Yogyakarta: PT. Wacana Yogya,1994.

0 Response to "Latar Belakang Sejarah Pemikiran Moderen Dalam Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel