Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Konsep Pendidikan dalam Perspektif Ibn Miskawaih - duniamanajemen.com Konsep Pendidikan dalam Perspektif Ibn Miskawaih - DUNIA MANAJEMEN

Konsep Pendidikan dalam Perspektif Ibn Miskawaih

makalah pendidikan menurut ibn miskawaih

A. Kajian singkat tentang konsep pendidikan dalam perspektif Ibn Miskawaih
1. Biografi Ibn Miskawaih

Nama lengkap dari Ibn Miskawaih adalah Abu Ali ahmad bin Muhammad bin Ya’kub bin Maskawaih. Ia lahir pada tahun 320 H./932 M. Di rayy dan meninggal di Isfahan.
Ibn Maskawaih terkenal sebagai pemikir muslim yang produktif ia telah menghasilkan banyak karya tulis, seperti : al-Fauz al-akbar, al-faus al-Ashghar, Tajarib al-Umam, Uns al-Farid, Tartib al-Sa’adah, al-Musthafa, jawidan Khairad, Tahdzib al Akhlak dan sebagainya.

2. Pemikiran tentang Pendidikan.Pemikirannya tentang pendidikan menurut Ibn Miskawaih lebih berorientasi pada pentingnya pendidikan Akhlak. Hal ini tercermin dari karya momentalnya tahzib al Akhlak. Melalui karyanya tersebut Ibn Maskawaih telah berbicara tentang manusia. Menurunya manusia memiliki tiga daya rohaniyah, yaitu daya berdafsu (al nafs al bahimiyah),daya berani (al nafs al-siba’iyah), dan daya berfikir (al nafs al natiqhah). Ketiga daya ini merupakan unsur utama manusia yang asal kejadiannya berbeda.

Selain itu Ibn Miskawaih, juga berbicara tentang akhlak yang berdasar pada teori jalan tengah dengan prinsip keseimbangan, mudarat, harmoni, utama, atau posisi tengah antara dua estrim. Dengan teori jalan tengah ini Ibn Miskawaih berpendapat bahwa posisi tengah  al-nafs Bahiniyah adalah iffah yaitu sikap bersikap menahan diri dari nafsu yang tidak baik. Melalui jalan teori jalan tengah ini Ibn Miskaih menyimpulkan tentang adanya empat keutamaan Akhlak, yaitu ‘iffah, al-syaja’ah, al-hikmah, dan al adalah.

Berdasarkan pandangannya tentang manusia ini, Ibn Miskawaih merumuskan tujuan pendidikan, materi pendidikan, pendidik dan anak didik, lingkungan pendidikan dan metodologi pendidikan. Menurutnya, tujuan pendidikan akhlak adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorng secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik.

Dalam membahas pendidikan akhlak Ibn Miskawaih cenderung bersikap konvergensi, yang disatu sisi dia mengatakan bahwa jiwa seorang anak adalah bersih dan siap menerima pengaruh apa saja yang diberikan orang tuanya.

Oleh karena itu pembinaan Akhlak perlu diusahakan dan perubahan akhlak perlu dilakukan secara bertahap.

Ada beberapa pedoman pendidikan akhlak yang harus diberikan kepada anak, misalnya:
  • Seorang anak harus dididik memiliki kehidupan sederhana.
  • Seorang anak harus tumbuh di antara orang-orang bijak,
  • Pendidikan anak harus dimulai dengan memberikan perhatian terhadap aturan ketika makan
  • Seorang laki-laki harus dibiasakan tidak banyak tidur dan diberikan fasilitas yang terlalu mewah dan jangan diajarkan untuk mencintai emas.
Agar pendidikan mampu mengantarkan peserta didik pada tujuan pendidikan dimaksud, maka materi pendidikan yang ditawarkan harus mampu menyentuh hal-hal yang wajib bagi tumbuhnya potensi jasmani dan rohani peserta didik, seerta persoalan-persoalan kemanusiaan. Keriga bentuk materi itu bisa diperoleh melalui dua bentuk ilmu pengetahuan,yaitu: pertama, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemikiran (rasional). Kedua, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan panca indera.

Dengan mengacu pada pola ini, maka peserta didik (manusia) akan mampu memperteguh keimanannya dan berbuat sesuai dengan nilai-nilai yang diridhai Allah. Kepribadian yang demikian akan tercermin dalam peserta didik dengan bentuk akhlak karimah dan al-sa’adat (kebahagiaan yang sempurna). Untuk memperoleh kepribadian yang demikian, maka Miskawaih menganjurkan agar peserta didik senantiasa mempelajari buku yang membicarakan tentang keutamaan Akhlak, agar ia termotivasi untuk hidup mulia dan beradab.

Berdasarkan pemikiran diatas, Ibn Miskawaih tampaknya lebih memilih madzhab rasionalis-idealis dengan mengikuti Aristoteles-lebih dominan- dan plato terutama pada persoalan etika. Namun demikian, ia juga seorang moralis. Ini tampak dalam hampir seluruh konsep pendidikan Miskawaih berpangkal dan berujung pada al-sa’adat (kebahagiaan).

Kebahagiaanya sejati bisa tercapai jika dalam diri manusia terdapat empat keutamaan (al-fadla’il arba’ah) di atas, yaitu iffah, al-syaja’ah, al-hikmah dan al-adalah yang masing-masing keutamaan ini merupakan jalan tengah (al-wasath) dari dua ektrimitas yang melekat pada jiwa manusia.

Proses aktualisasi dari ide Miskawaih diatas akan terwujud apabila didukung oleh kondisi sistem sosial dimana pendidikan itu dilaksanakan. Sedangkan untuk membentuk polarisasi sistem sosial sangat tergantung pada kebijakan politik pemerintah.

Manusia ideal dimaksud adalah tercapainya pribadi yang smpurna (insan kamil), yaitu manusia yang memiliki pengetahuan yang menyeluruh (kulliyah), bukan pada makna partikular (juz’iyyat).

B. Analisis tentang konsep pendidikan dalam perspektif Ibn Miskawaih
Membahas tentang Konsep pendidikan dalam perspektif Ibn Miskawaih, penulis sependapat dengan buku karangan Bapak Siswanto, M. Pd. I yang berjudul “Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam” dikarenakan ketika penulis menganalisa dengan Buku lain tidak ada perbedaan yang signifikan, akan tetapi ada juga sedikit perbedaan antara buku bapak Siswanto dengan buku lainnya.

Berdasarkan buku yang ditulis oleh Bapak Siswanto, M. Pd. I yang berjudul “Filsafat dan pemikiran Pendidikan islam”  bahwa karya tulis yang dihasilkan oleh Ibn Miskawaih hanya disebutkan saja sedangkan didalam buku  Ahmad Barizi  yang berjudul “Pendidikan Integratif” karya Ibn Miskawaih di jelaskan lebih rinci dan lebih jelas di antaranya yaitu: tahzhib al-akhlak wa Tathhir al-a’raq, sebuah kitab yang mendeskripsikan etika dan filsafat sosial masyarakat terdahulu, Kitab al-sa’adah, sebuah kitab filsafat etika yang menjadi orientasi semua manusia. Kitab al-faws al-kabir, sebuah kitab pegangan untuk memperoleh “keuntungan” yang besar dalam sekolah kehidupan, kitab al-fawz al-Shaghir, sebuah kitab pegangan untuk kehidupan sehari-hari.

Meskipun Buku yang ditulis oleh Bapak Siswanto dengan judul Pendidikan Islam dalam perspektif filosofis tidak sama namun materi didalamnya pembahasan tentang Ibn Miskawaih sama tentang biografi dan pemikiran pendidikan Ibn Miskawaih dalam membahas pendidikan Akhlak, Ibn Miskawaih cenderung bersifat konvergensi, yang disatu sisi dia mengatakan bahwa jiwa seorang anak adalah bersih dan siap menerima pengaruh apa saja yang diberikan oleh orang Tua.

Dan juga di dalamnya menjelasan dimana setiap orang sangat dibutuhkan bahkan diwajibkan untuk meneliti akhlak, etika dan moral. Manusia merupakan objek dari pembentukan akhlak etika dan moral karena manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia sebagai mana dijelaskan dalam al-qur’an Surat At-Tin (95):4, kemuliannya dan akhlak (etika dan moral).

Dan didalam buku Hasan Basri  Ibn Miskawaih memandang bahwa pendidikan akhlak harus ditanamkan sejak anak usia dini karena perkembangan mental anak berevolusi, berkembang menuju kesempurnaan menyimpan pesan-pesan masa lalu dan merasuk kedalam  jiwa berpikir. Oleh sebab itu, pendidikan bukan semata-mata memperdalam ilmu pengetahuan berpikir, lebih jauh dari itu, dikaji secara mendalam tentang pengaruh ilmu pengetahuan terhadap etika dan akhlak masyarakat.

Daftar Rujukan:
  • Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. RajaGrafindo, 2013.
  • Basri, Hasan. Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009.
  • Siswanto, Pendidikan Islam dalam perspektif filosofis, Pamekasan: Stain Pamekasan Press,2009
Karya: Nila Fransiska (Mahasiswi IAIN Madura)

0 Response to "Konsep Pendidikan dalam Perspektif Ibn Miskawaih"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel