Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Kausalitas Dalam Logika - duniamanajemen.com Kausalitas Dalam Logika - DUNIA MANAJEMEN

Kausalitas Dalam Logika

A.    Pengertian Kausalitas
Causal menurut kamus logika adalah batasan yang menyatakan bagaimana sesuatu  hal terjadi atau diciptakan. Misalnya awan adalah uap air yang terkumpul di udara karena penyinaran laut oleh matahari.  Causalitas berarti hubungan sebab akibat.

Keyakinan manusia terhadap hukum kausalitas sudah ada sejak dahulu. Bahwa tidak ada satu pun peristiwa terjadi secara kebetulan, melainkan semuanya mempunyai sebab yang mendahuluinya, dapat kita telusuri sejak peradaban manusia tercatat dalam sejarah. Bukti itu dapat kita temui pada abad kelima sebelum Masehi, yaitu pada ucapan seorang filosof Yunani Leocipos: Nihil fit sine causa (tidak ada satu pun peristiwa yang tidak mempunyai sebab). Akan tetapi, tidak berarti jauh sebelumnya manusia tidak mengenal yang namanya peristiwa sebab akibat. Dokter-dokter zaman Firaun tidak mungkin dapat mengobati penyakit kecuali mereka memiliki pengetahuan sebab akibat. 

Sebab sebagai sesuatu yang melahirkan akibat mempunyai banyak pengertian. Kita mengenal ada sebab yang mesti (necessary causa) dan sebab yang menjadikan (sufficient causa).

Sebab yang mesti adalah suatu keadaan bila tidak ada maka akibatnya tidak akan terjadi. Dengan kata lain sebab yang menjadikan adalah sesuatu yang ada atau tidaknya menentukan ada dan tidaknya akibat.

B.    Pola Hubungan Kausal
Hubungan kausal mengikuti tiga pola sebagai berikut:
  1. Dari sebab ke akibat
  2. Dari akibat ke sebab
  3. Dari akibat ke akibat
Contoh-contoh mengenai pola tersebut agaknya akan mempermudah untuk dikenali. Tetapi hendaknya jangan ada dugaan bahwa cara pemikiran seperti ini adalah sederhana. Pikirkan sebentar, misalnya apakah yang menyebabkan perang atau perselisihan. Hal ini tidak mudah, tetapi paling sedikit dari refleksi tersebut satu hal yang dapat anda peroleh, yakni rasa rendah hati yang sehat. Sebab tidak jarang ‘sebab’ perang atau perselisihan adalah rasa harga diri yang salah, kecongkakkan, mudah tersinggung, dan sebagainya.

Pemikiran dari sebab ke akibat berangkat dari suatu sebab yang diketahui penyimpulan yang merupakan akibat. Misalnya, hujan lebat sekali; kemudian membuat pemikiran: karena lupa menutup pintu empangnya, maka empangnya pasti meluap dan ikan piaraannya pasti kabur. Sebab yang diketahui: hujan lebat sekali; akibatnya yang disimpulkan dengan pemikiran: empang yang meluap dan ikannya pada kabur.

Pemikiran dari akibat ke sebab adalah pemikiran yang berangkat dari suatu akibat yang diketahui ke sebab yang mungkin menghasilkan akibat tersebut. Seorang pasien pergi kepada seorang dokter karena secara mendadak suhu badannya meningkat. Gejala ini menunjukkan akibat. Sekarang tugas dokter memastikan apa yang menjadi sebabnya. Dokter sudah memeriksa, kemudian menentukan bahwa sebab meningkatnya suhu yang mendadak itu karena tonsil. Pemikiran bertolak dari suatu akibat yang diketahui ke suatu yang diperkirakan menjadi sebabnya.

Pemikiran dari akibat ke akibat berangkat langsung dari suatu akibat ke akibat lain tanpa menyebutkan hal yang menjadi sebab yang menghasilkan keduanya. Misalnya: sungainya meluap; kemudian kita berpikir: maka empang kita juga pasti meluap. Keduanya berasal dari suatu sebab yang tidak disebutkan, yakni: hujan yang lebat sekali.

Besar sekali manfaatnya mengenali masing-masing hubungan kausal ini karena sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Apapun pendapat mengenai “sebab” pada pembahasan ini dikhususkan pada sebab yang menjadikan (sufficien causa), yaitu ada dan tidaknya sebab ini akan menentukan ada dan tidaknya akibat. Indikasi yang mendasarkan kepada aksioma sebab bila dirumuskan berbunyi:
  1. Tidak ada yang namanya suatu akibat bila ia tidak dijumpai pada saat akibat terjadi.
  2. Tidak ada sesuatu itu disebut sebab bagi suatu akibat bila ia dijumpai pada saat akibat tidak terjadi.

makalah Kausalitas Dalam Logika
C.    Metode Induksi Mill
Dua aksioma kausalitas yang ada di atas adalah dasar bagi John Stuart Mill seorang filosof dari Inggris untuk merumuskan empat metode indikasi yang kemudian dikenal dengan nama sebutan Metode Penyimpulan Induktif Mill. Empat metode tersebut adalah, metode: persetujuan, perbedaan, persamaan variasi, sisasisihan. Kemudian orang yang datang setelah Mill menambah satu metode lagi yaitu berupa metode gabungan persetujuan dan juga metode perbedaan.

1.    Metode persetujuan
Maksud metode ini adalah: “Apabila ada dua macam peristiwa atau lebih pada gejala yang diselidiki dan masing-masing peristiwa itu mempunyai faktor yang sama, maka faktor itu merupakan satu-satunya sebab bagi gejala yang diselidiki”.

2.    Metode perbedaan

“jika sebuah peristiwa mengandung gejala yang diselidiki dan sebuah peristiwa lain yang tidak mengandungnya, namun faktornya sama kecuali satu, dan hanya satu itu terdapat pada peristiwa pertama maka faktor satu-satunya yang menyebabkan peristiwanya berbeda itu adalah faktor yang tidak bisa dilepaskan dari sebab terjadinya gejala” adalah maksud dari metode perbedaan.

3.    Metode persamaan variasi

“Apabila suatu gejala yang dengan sesuatu cara berubah ketika gejala lain berubah dengan cara tertentu, maka gejala itu adalah sebab atau akibat dari gejala lain, atau berhubungan secara sebab akibat” adalah maksud dari metode persamaan variasi.

4.    Metode sisasisihan

“jika ada peristiwa dalam keadaan tertentu dan keadaan tertentu ini merupakan akibat dari faktor yang mendahuluinya, maka sisa akibat yang terdapat pada peristiwa itu pasti disebabkan oleh faktor lain” adalah maksud dari metode sisasisihan.

5.    Metode gabungan persetujuan dan perbedaan

Metode ini merupakan variasi dari metode persetujuan dan metode perbedaan. Maksudnya ialah:
Jika ada sekumpulan  peristiwa dalam gejala tertentu hanya memiliki sebuah faktor yang bersamaan, sedangkan dalam beberapa peristiwa dimana gejala itu tidak terjadi, di jumpai faktor-faktor lainnya yang juga dijumpai pada saat gejala itu terjadi kecuali sebuah faktor yang bersamaan, maka  faktor ini merupakan faktor yang mempunyai hubungan kausal dengan gejala itu.

D.    Kekeliruan dalam Penalaran Kausalitas

Kekeliruan yang sangat sering terjadi pada kalangan orang yang kurang cermat dalam berpikir adalah Post Hoc Propter Hoc yang artinya suatu penalaran yang menyatakan bahwa ini terjadi sesudah itu terjadi maka ini merupakan akibat dari itu. Dengan kata lain, sebuah kekeliruan dikarenakan mengakui sesuatu yang terjadi berurutan, maka peristiwa yang kedua merupakan akibat dari peristiwa pertama. Kita telah mengetahui bahwasanya untuk membuktikan suatu hubungan sebab akibat peristiwa tentu tidak sekedar menyimpulkan bahwa peristiwa kedua adalah akibat dari peristiwa pertama.

Kita memang banyak menjumpai beberapa orang yang bernalar bernalar Post Hoc Propter Hoc. Contoh klasik cara bernalar ini dapat kita jumpai pada kisah John Stuart Mill, yang menceritakan bagaimana sekelompok penduduk menyatakan bahwa pasir apung yang terbentuk di pantai disebabkan oleh menara gereja yang didirikan disitu, mereka berkata:
“Sebelum menara Gereja Tenterton ini di bangun, tidak ada pasir apung di pantai. Tetapi segera sesudah menara itu di bangun, pasir apung itu muncul”.

Kekeliruan bernalar serupa, tidak saja melanda orang yang tak terdidik, tetapi dapat juga kita temukan di antara orang-orang yang mengecap pendidikan cukup. Ditanyakan pada sekelompok orang, mengapa kebudayaan Romawi-Yunani musnah. Sering benar mengherankan bahwa jawaban yang diberikan bukanlah atas pertimbangan hukum kausalitas yang cukup, melainkan dengan jawaban sementara karena kekaisaran Romawi runtuh. Bahwa kemusnahan kebudayaan Romawi-Yunani terjadi sesudah kekaisaran Romawi hancur memang benar, tetapi bila disimpulkan bahwa kebudayaan Romawi-Yunani hancur karena runtuhnya kekaisaran Romawi ini adalah cara bernalar Post Hoc Propter Hoc.

Kekeliruan serupa dapat kita jumpai dalam keyakinan yang tersebar secara luas bahwa bencana-bencana yang melanda dunia sejak tahun 1918 disebabkan oleh perang dunia. Di Inggris, dahulu orang berkeyakinan bahwa meningkatnya kemakmuran merupakan kejadian yang mengikuti kebijakan Bea Perlindungan.

Jelas, kekeliruan ini terjadi karena melihat peristiwa yang ada secara sepintas. Untuk menentukan bahwa suatu peristiwa itu merupakan sebab bagi peristiwa lainnya tidaklah sekedar menunjuk bahwa peristiwa pertama adalah sebab dari peristiwa kedua. Kita harus bisa menjelaskan secermat mungkin bahwa kedua peristiwa itu memang punya hubungan yang pasti atau necessary connection. Apabila peristiwa kedua tidak mempunyai hubungan relevan dan pasti dengan peristiwa pertama, maka bertentangan dengan hukum-hukum yang telah kita ketahui.

Sumber Rujukan:
  • Mundiri. 2010. Logika. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Poespoprodjo.1999. Logika Scientifika Pengantar Dialektika dan Ilmu. Bandung: Pustaka Grafika.
  • Gie, The Liang. 1998. Kamus Logika. Yogyakarta: Liberty.

0 Response to "Kausalitas Dalam Logika"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel