Epistemologi Pendidikan Islam

Epistemologi pendidikan Islam memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga kehormatan umat Islam. Pertama, membangkitkan umat Islam untuk segera mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban, mengingat epistemologi tersebut merupakan media atau alat untuk menggali, menemukan, dan mengembangkan pengetahuan. Kedua, untuk meluruskan para ilmuan muslim agar tidak lagi terjebak dalam kesesatan akibat hanya mengikuti epistemologi Barat yang sekuler.

makalah Epistemologi Pendidikan Islam

A. Sasaran Epistemologi Pendidikan Islam
Dalam suatu cabang filsafat, epistemologi sangat penting untuk diperhatikan, karena ia membahas sumber, proses, syarat, batas, validitas dan hakikat pengetahuan. Bromeld sebagaimana dikuti Noor Syam mendifinisikan epistemologi dengan “it is epistemology that gives the teacher the assurance that he is conveying the truth to his student” (Epistemologi memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran pada murid-muridnya).

Epistemologi pendidikan Islam lebih diarahkan pada metode atau pendekatan yang dapat dipakai membangun ilmu pendidikan Islam, daripada komponen-komponen lainnya, karena komponen metode tersebut paling dekat dengan upaya mengembangkan pendidikan Islam. Epistemologi pendidikan Islam akan membahas seluruh aspek yang terkait dengan pengetahuan pendidikan Islam, sehingga memiliki cakupan yang luas sekali.

Pemahaman aspek epistemologi pendidikan Islam berfungsi sebagai landasan dasar pengembangan epistemologi yang dimiliki manusia sudah barang tentu turut mempengaruhi konsep dan sekaligus strategi pendidikan.

B.    Hakikat pengetahuan dalam Islam

Beberapa istilah yang dipakai untuk menyebutkan ilmu pengetahuan, seperti istilah ilmu, pengetahuan, al-‘ilm dan sains. Dalam konteks Islam, sains tidak menghasilkan kebenaran absolut. Istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-‘ilm karena mempunyai dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu atau al-Qur’an yang mengandung kebenaran absolut. Kedua, bahwasanya metode mempelajari pengetahuan yang koheren dan sistematis semuanya itu sama-sama valid. Semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas bagian yang sanhgat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Al-‘ilm memiliki akar sandaran yang lebih kuat dibanding sains dalam versi Barat. Akar sandaran al-‘ilm justru berasal dari yang Maha Berilmu, Tuhan yang secara teologis diyakini sebagai Sang Penguasa segala-galanya.

Islam memandang, bahwa sumber utama ilmu adalah Allah. Allah memberikan kekuatan-kekuatan kepada manusia. Secara rinci, Islam mengakui, bahwa sumber atau saluran ilmu lebih banyak dari sekedar yang diakui oleh ilmuwan Barat. Al-Syaibani mengatakan bahwa pengalaman langsung, pemerhatian dan pengamatan indera hanya sebagian dari sumber-sumber tersebut. Banyak lagi sumber lain dan barangkali yang paling penting dan paling menonjol adalah percobaan-percobaan ilmiah yang halus dan teratur, renungan pikiran dan pemikiran akal, bacaan dan telaah terhadap pengalaman orang terdahulu, perasaan, rasa hati, limpahan dan celik akal serta bimbingan ilahi. A. Yusuf Ali meringkas sumber pengetahuan menjadi tiga, yakni wahyu, rasio dan indera. Menurut pola al-Qur’an, pengetahuan diperoleh melalui wahyu atau penobatan secara ketuhanan, pengetahuan yang absolut (haqq al-yaqin), rasionalisme atau kesimpulan yang didasari pada keputusan dan penilaian/ pengaharapan fakta-fakta (al-‘ilm al-yaqin), dan melalui empirisme dan persepsi, yaitu dengan menggunakan observasi, eksperimen, laporan sejarah, deskripsi pengalaman-pengalaman kehidupan dan semacamnya (‘ain al-yaqin). Ketiga sumber ini memiliki bobot kebenaran yang berbeda secara bertingkat, yaitu haqq al-yaqin lebih tinggi daripada al-‘ilm al-yaqin, sedang al-‘ilm al-yaqin lebih tinggi daripada ‘ain al-yaqin.

Ilmu pengetahuan dibangun ada kalanya atas kerja sama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan penalaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Akal membutuhkan yang namanya intuisi, dan begitu juga sebaliknya, bahwa intuisi membutuhkan akal.

C.    Upaya Membangun Epistemologi Pendidikan Islam
Kekokohan bangunan epistemologi pendidikan Islam melahirkan ketahanan pendidikan Islam menghadapi pengaruh apapun, termasuk arus budaya barat, dan mampu memberi jaminan terhadap kemajuan pendidikan Islam serta bersaing dengan pendidikan-pendidikan lainnya. Epistemologi dapat mengangkat martabat pendidikan Islam. Dengan epistemologi akan mampu menghantarkan pendidikan Islam memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri dalam menyusun dasar-dasar kurikulum pendidikan Islam dan tujuan pendidikan yang hendak dicapainya.

Berbeda dengan Barat, epistemologi pendidikan Islam memiliki landasan dan tujuan yang jelas. Sebab epistemologi pendidikan Islam berangkat dari suatu pedoman bahwa sumber ilmu adalah Allah sendiri, sedangkan ilmuwan hanyalah peramu butiran-butiran ilmu dalam tataran sistematik yang disebut manusia. Orientasi akhir epistemologi pendidikan Islam adalah menuntut semangat untuk mengarahkan peserta didik agar mengetahui bahwa ilmu apapun bentuknya itu adalah untuk mencapai ketakwaan atau pendekatan diri kepada Allah.

Analisis
Menurut Ziaudin Sardar epistemologi merupakan penentu terhadap eksistensi pengetahuan dan berimbas pada kehidupan masyarakat. Sebagai ilustrasi asar-dasar pengembangan epistemologis yang dipakai oleh para filosof dan ilmuwan Islam. Ilmu dalam pandangan mereka, obyek ilmu sama halnya dengan rangkaian wujud (eksistensi), baik yang ghaib (metafisika) maupun yang lahir (fisik). Karena itu, ilmuwan-ilmuwan besar, seperti Ibnu Sina dan al-Biruni, mempunyai pandangan dunia yang melukiskan susunan wujud dari yang tertinggi (Tuhan) kemudian turun melalui akal atau etentitas rohani (malaikat), serta jiwa dan benda angkasa, hingga yang terendah alam dunia, atau apa yang disebut sebagai dunia dibawah Bulan.  Ilmu adalah segala sesuatu yang diketahui oleh manusia, yang hakikatnya berasal dari Allah dan diperoleh manusia melalui usahanya sendiri berdasarkan kekuatan rekayasanya (basyariyah), ataupun anugerah yang langsung diberikan oleh Allah (mukasyafah). Ibn Taimiyyah dalam al-fatawa fi ilmi al-Tasawuf mendeskripsikan bahwa untuk mencapai ilmu pengetahuan manusia bisa melalui yang sering diistilahkan dengan “ilmu ladunni”, termasuk didalamnya adalah ilham dan mimpi yang benar (ru’yah al-syadiqah).

Ilmu basyariyah yang disebut dengan ‘ilm kasbi, merupakan ilmu yang didapatkan karena usaha manusia yang melakukan pelacakan terhadap konstruksi ilmu itu sendiri. Dalam memperoleh ilmu, tentu ada cara dan sarana yang digunakan. Setidaknya ada empat sarana yang dapat digunakan untuk memperoleh ilmu, yakni: (1) pendengaran (telinga), (2) penglihatan (mata), (3) akal dan (4) hati.
Objek material epistemologi adalah pengetahuan sedangkan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan. Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada didalam pikiran manusia, tanpa pikiran pengetahuan tak akan eksis. Oleh karena itu keterkaitan antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati.

Menurut Junjun S. Suriasumantri pada dasarnya, ditinjau dari sejarah berpikir manusia ada dua pola cara memperoleh pengetahuan atau metode keilmuan yaitu berpikir secara rasional (rasionalisme) yang memandang sumber pengetahuan itu pada akal-budi tidak melalui pengalaman. Cara berpikir menurut paham rasionalisme melahirkan metode deduktif diartikan metode penyimpulan yang diolah dari pernyataan yang runut, logis yang menggambarkan argumen-argumen umum ditarik suatu kesimpulan khusus. Sedangkan cara berpikir menurut paham emperisme yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan tidak ada secara a priori didalam benak kita atau pikiran tetapi harus diperoleh dari pengalaman yang dapat ditangkap secara inderawi.  Empirisme identik dengan teori korespondensi tentang kebenaran, dan rasionalisme identik dengan teori koherensi. Dengan kata lain, epistemologi merupakan suatu bidang filsafat nilai yang mempersoalkan tentang hakikat kebenaran, karena semua pengetahuan mempersoalkan tentang kebenaran.

Pengetahuan itu ada yang diperoleh secara langsung melalui sumber kemampuan indra, dan juga diperoleh secara tak langsung melalui penyimpulan akal pikiran. Tingkat kepastian kebenaran yang diperoleh tentu berbeda-beda. Perbedaannya adalah: pertama, ditentukan oleh kemampuan penginderaan setiap orang. Sedangkan kemampuan penginderaan setiap orang dipengaruhi oleh posisi dan kepentingan masing-masing terhadap objek. Kedua, perbedaan kebenaran juga bisa ditentukan oleh kemampuan akal pikiran yang berbeda-beda bagi setiap subjek. Secara internal, bakat kecerdasan setiap subjek berbeda-beda, sedangkan secara eksternal  pengaruh lingkungan terhadap subjek juga berbeda-beda kualitas dan kuantitasnya.

Daftar Rujukan:
  • Baharuddin, dkk. Dikotomi Pendidikan Islam. Bandung: Pt Rosdakarya, 2011
  • Munir, Misnal & Muntasyir, Rizal. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003
  • Sudarsono, dkk. Filsafat Ilmu. Malang: Wisma Kalimetro, 2014
  • Suhartono, Suparlan. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008
  • Ma’arif, Syamsul. Revitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007

Karya: Hozaima

0 Response to "Epistemologi Pendidikan Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel