Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Ciri-Ciri Konflik Dan Faktor Penyebab Konflik - duniamanajemen.com Ciri-Ciri Konflik Dan Faktor Penyebab Konflik - DUNIA MANAJEMEN

Ciri-Ciri Konflik Dan Faktor Penyebab Konflik

A.    Pengertian Konflik
Istilah konflik akan membawa suatu kesan dalam pemikiran seseorang bahwa dalam hal tertentu terdapat suatu pemikiran, pertentangan antara beberapa orang atau kelompok orang-orang, tidak adanya kerja sama, perjuangan satu pihak untuk melawan pihak lainnya, atau suatu proses yang berlawanan.

Konflik dalam kesan yang seperti ini, walaupun kenyataannya ada dan bisa terjadi dalam administrasi negara kita, tampaknya membuat banyak orang menghindarinya. Sebagian karena hal tersebut tidak sesuai dengan cita-cita adanya keselarasan, keseimbangan dan keserasian. Sebagian lainnya, banyak orang tidak mau berkonflik dengan orang lain, karena konflik menimbulkan banyak musuh tetapi bagaimana jika suatu ketika konflik itu timbul dalam kantor, organisasi, atau departemen termpat kita kerja? Disinilah relevansinya fungsi seorang pemimpin untuk bisa mengatasi konflik yang tidak disenangi tetapi bisa timbul sewaktu-wajtu.

Sebagaimana disadari bersama bahwa dalam diri seseorang biasanya terdapat hal-hal berikut ini:
  • Sejumlah kebutuhan dan peranan yang bersaing.
  • Beraneka macam cara yang berbeda yang mendorong peranan-peranan dan kebutuhan-kebutuhan itu terlahirkan.
  • Banyaknya bentuk halangan-halangan yang bisa terjadi diantara dorongan dan tujuan.
  • Terdapatnya baik aspek-aspek yang positif dan negatif yang menghalangi tujuan-tujuan yang diinginkan.
Konflik merupakan suatu peristiwa atau aktivitas yang sudah dikenal sejak permulaan sejarah manusia. Kiranya dapat diramalkan bahwa selama manusia ada di dunia ini, konflik masih akan dialami. Konflik dapat terjadi antara individu dengan individu, antara kelompok dengan individu, antara kelompok dengan kelompok. Konflik dapat terjadi dilingkungan rumah tangga, ia dapat pula terjadi dalam lingkungan organisasi-organisasi, baik organisasi yang mengejar laba maupun organisasi nirlaba, dan konflik dapat pula terjadi dalam lingkungan pemerintahan.

Didalam sebuah organisasi, konflik dapat dilihat dari 3 sudut pandang, yaitu Pertama, pandangan tradisional mengemukakan bahwasanya konflik adalah suatu yang tak diinginkan dan berbahaya bagi kehidupan organisasi. Kedua, pandangan perilaku berpendapat bahwa konflik merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang biasa terjadi dalam kehidpan organisasi, yang biasa bermanfaat (konflik fungsional) dan pula bisa merugikan organisasi (konflik disfungsional). Ketiga, pandangan interaksi bahwa konflik merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat terhindarkan dan sangat diperlukan bagi pemimpin organisasi.

makalah ciri-ciri konflik dan faktor penyebab konflik

B.    Ciri-ciri Konflik
Menurut Wijono ciri-ciri konflik adalah sebagai berikut:
  1. Setidaknya ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompokyang terlibat dalam suatu interaksi yang saling bertentangan.
  2. Setidaknya ada sebuah pertentangan antara dua belah pihak baik itu perorangan ataupun sebuah kelompok dalam hal memainkan peran mencapai tujuan, dan ambigius atau adanya sebuah nilai atau pun norma yang saling berlawanan.
  3. Adanya sebuah interaksi yang sering ditandai dengan gejala perilaku yang telah direncanakan terlebih dahulu, yang tujuannya untuk saling mengurangi, meniadakan, dan menekan terhadap pihak lain agar mendapatkan memperoleh keuntungan seperti: jabatan, status, pemenuhan berbagai macam kebutuhan fisik, dan tanggung jawab dan lain sebagainya.
  4. Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan sebagai akibat pertentangan yang berlarut-larut.
  5. Munculnya ketidak seimbangan akibat dari usaha masing-masing pihak yang terkait dengan kedudukan, status sosial, pangkat, golongan, kewibawaan, kekuasaan, harga diri, prestise dan sebagainya. 
C.    Faktor Penyebab Konflik
Konflik sering kali merupakan salah satu strategi para pemimpin untuk melakukan perubahan. Apabila tidak dapat dilakukan dengan damai, maka perubahan diupayakan dengan menciptakan konflik. Pemimpin menggunakan factor-faktor yang dapat menimbulkan konflik untuk menggerakkan perubahan. Akan tetapi, konflik bisa terjadi secara alami dikarenakan adanya sebuah kondisi objektif yang bisa menimbulkan terjadinya konflik. Berikut adalah kondisi objektif yang bisa menimbulkan konflik.

1.    Keterbatasan Sumber
Manusia selalu mengalami keterbatasan sumber-sumber yang diperlukannya untuk mendukung kehidupannya. Keterbatasan itu menimbulkan terjadinya kompetisi di antara manusia untuk mendapatkan sumber yang diperlukannya dan hal ini sering kali menimbulkan konflik.

2.    Tujuan yang Berbeda
Seperti yang dikemukakan oleh Hocker dan Wilmot, konflik terjadi karena pihak-pihak yang terlibat konflik mempunyai tujuan yang berbeda. Sebagai contoh. Konflik hubungan industrial dan perusahaan. Pengusaha bertujuan memproduksi barang atau memberikan jasa pelayanan dengan biaya serendah mungkin. Hal ini berarti bahwa perusahaan akan memberikan upah buruh serendah mungkin. Sebaliknya, para buruh menginginkan bekerja seminimal mungkin dengan upah dan jaminan sosial sebaik mungkin. Perbedaan tujuan ini sering menimbulkan konflik dalam bentuk pemogokan buruh. konflik juga terjadi karena tujuan pihak yang terlibat konflik sama, tetapi cara mencapainya yang berbeda. Hal seperti ini banyak terjadi dalam dunia polotik dan bisnis. Sebagai contoh, dalam suatu partai politik terjadi konflik antara faksi radikal dan faksi moderat mrngenai cara mencapai tujuan partai. Faksi radikan menginginkan bahwa tujuan dicapai melalui revolusi, sedangkan faksi moderat menginginkan bahwa tujuan dicapai melalui perubahan gradual (bertahap) atau evolusi.

3.    Komunikasi yang Tidak Baik
Komunikasi yang tidak baik sering kali menimbulkan konflik dalam organisasi. Faktor komunikasi yang menyebabkan konflik, misalnya distorsi, informasi yang tidak tersedia dengan bebas, dan penggunaan bahasa yang tidak di mengerti oleh pihak-pihak yang melakukan komunikasi. Demikian juga, perilaku komunikasi yang berbeda sering kali menyinggung orang lain, baik di sengaja maupun tidak di sengaja dan bisa menjadi penyebab timbulnya konflik.

4.    Beragam Karakteristik Sistem Sosial
Di Indonesia, konflik dalam masyarakat sering kali terjadi karena anggotanya mempunyai karakteristik yang beragam seperti suku, agama, dan ideologi. Karakteristik ini sering diikuti dengan pola hidup yang eksklusif satu sama lain yang sering menimbulkan konflik.

5.    Pribadi Orang
Ada orang yang memiliki sifat kepribadian yang mudah menimbulkan konflik, seperti selalu curiga dan berfikiran negatif kepada orang lain, egois, sombong, merasa benar sendiri, kurang dapat mengendalikan emosinya, dan ingin menang sendiri. Sifat-sifat seperti ini mudah untuk menyulut konflik jika berinteraksi dengan orang lain. Ada orang yang tidak dapat membedakan pisisinya sebagai pejabat dalam organisasi dengan posisinya sebagai individu atau pribadi.

6.    Kebutuhan
Orang memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain atau mempunyai kebutuhan yang sama mengenai sesuatu yang terbatas jumlahnya. Kebutuhan merupakan pendorong terjadinya perilaku manusia. Jika kebutuhan orang diabaikan atau terlambat, maka bisa memicu terjadinya konflik.

7.    Perasaan dan Emosi

Orang juga mempunyai perasaan dan emosional yang berbeda. Sebagian orang mengikuti perasaan danemosinya saat berhubungan dengan sesuatu atau orang lain. Orang yang sangat dipengaruhi oleh perasaan dan emosinya menjadi tidak rasional saat berinteraksi dengan orang lain. Perasaan dan emosi tersebut bisa menimbulkan konflik dan menentukan perilakunya saat terlibat konflik.

8.    Budaya Konflik dan Kekerasan

Bangsa dan negara Indonesia semenjak kemerdekaannya sampai memasuki abad ke-21 mengalami konflik politik, ekonomi, dan sosial secara terus menerus. Perubahan pola pikir dari pola pikir kebersamaa ke pola pikir individualistis, primordialisme, memudarnya rasa nasionalisme, kehidupan politik dan ekonomi liberal, terkikisnya nilai-nilai tradisi, dan politisasi agama telah berkontribusi mengembagkan budaya konflik di Indonesia. Lemahnya penegak hukum dan merosotnya moral para penegak hukum, serta menurunnya kepercayaan masyarakat kepada mereka menyebabkan orang berusaha mencapai jalan pintas untuk mencapai tujuannya dengan menggunakan kekerasan dan main hakim sendiri.

Budaya konflik juga terjadi di Indonesia mengalami krisis kepemimpinan dari tingkat pusat dan daerah, serta pada sebagian sektor kehidupan. Indonesia tidak mempunya pemimpin yang kuat, mempunyai karisma tinggi, dan bisa menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia. Sebagian pemimpin Indonesia bersifat feodalistis setelah menduduki jabatan mereka lupa akan konstituennya. Bahkan, ada profesor dan ulama berprilaku yang bertentangan dengan predikatnya.

D.    Pengaruh Konflik
1.    Dampak Positif
Konflik mempunyai pengaruh positif terhadap kehidupan umat manusia. Berikut adalah beberapa gambaran pengaruh yang positif dari konflik.
a.    Menciptakan Perubahan
Konflik berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Konflik dapat mengubah dan mengembangkan kehidupan umat manusia, konflik antara penjajah dan bangsa yang di jajah menghasilkan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah. Sepanjang aba ke-20, konflik antara penjajah dan bangsa-bangsa yang terjajah menghasilkan kemerdekaan dan menciptakan negara-negara merdeka baru. Menurut Soekarno, kemerdekaan merupakan jembatan emas untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

b.    Membawa Objek ke Permukaan
Tanpa terjadinya konflik, objek konflik-pokok masalah yang terpendam di antara pihak-pihak yang terlibat konflik tidak akan muncul ke permukaan. Tanpa munculnya objek konflik, masalah tersebut tidaak mungkin diselesaikan.

c.    Memahami Orang Lebih Baik Lagi

Konflik membuat orang memahami adanya orang lain-lawan konflik-yang berbeda pendapat, berbeda pola pikir, dan berbeda karakter. Perbedaan tersebut perlu manajerial dengan hati-hati agar menghasilkan solusi yang menguntungkan dirinya atau kedua belah pihak.  Karena berbeda pendapat itu bukanlah perkara yang jelek, bahkan ada ungkapan yang populer di kalangan umat Islam “Perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat”.

d.    Menstumulus Cara Berpikir yang Kritis dan Meningkatkan Kreativitas

Konflik akan mestimulus orang untuk berfikir kritis terhadap posisi lawan konfliknya dan posisi dirinya. Orang harus memahami mengapa lawan konfliknya mempunyai pendapat yang berbeda dan mempertahankan pendapatnya. Kreativitasnya meningkat yang digunakan dalam menyusun strategi dan taktik untuk menghadapi konflik tersebut.

e.    Manajemen Konflik Dalam Menciptakan Solusi Terbaik

Jika di manajemeni dengan baik, konflik dapat menghasilkan solusi yang memuaskan kedua belah pihak yang terlibat konflik. Solusi yang memuaskan kedua belah pihak akan menghilangkan perbedaan mengenai objek konflik. Hilangnya sebuah perbedaan dapat membawa keduanya atau mereka kembali dalam interaksi sosial yang harmonis.

2.    Dampak Negatif
a.    Merusak Sistem Organisasi
Organisasi merupakan sistem sosial yang unit-unit kerjanya dan para anggotanya saling berhubungan, saling membantu, dan saling bergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan organisasi. Sistem organisasi yang harmonis menciptakan sinergi yang positif. Jika konflik muncul, semua itu akan goyah.

b.    Kehilangan Waktu Kerja
Jika konflik berkembang menjadi destruktif, 10-30% waktu manajer dan bawahan digunakan untuk menyelesaikan konflik. Hal itu mengurangi waktu untuk berproduksi dan menurunkan produktivitas organisasi.

c.    Sikap dan Perilaku Negatif
Konflik antara manajer dan para pegawai akan menurunkan motivasi kerja, komitmen berorganisasi, absentisme, kepuasan kerja, rasa saling percaya, serta sabotase dan pencurian.

d.    Kesehatan
Konflik menyebabkan pihak yang terlibat konflik marah, stres, kecewa, emosional, dan irasional. Keadaan ini kemungkinan meningkatkan orang terkanan darahnya meningkat, terkena struk, dan serangan jantung. Selanjutnya, keadaan tersebut akan menyebabkan seseorang sakit dan meninggal dunia. Bagi perusahaan, keadaan ini meningkatkan biaya kesehatan bagi para karyawannya.

Sumber Rujukan:
  • Jurnal-sdm.blogspot.com/2010/ manajemen-konflik-ciri-sumber.html
  • Mangkunegara, Anwar Prabu. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011
  • Qomar,Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta:Erlangga, 2015
  • Thoha, Miftah. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2012
  • Winardi. Manajemen Perubahan. Jakarta: Kencana, 2013
  • Wirawan. Konflik dan Manajemen Konflik. Jakarta: Salemba Humanika, 2010

0 Response to "Ciri-Ciri Konflik Dan Faktor Penyebab Konflik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel