Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Aliran-Aliran Dalam Pendidikan - duniamanajemen.com Aliran-Aliran Dalam Pendidikan - DUNIA MANAJEMEN

Aliran-Aliran Dalam Pendidikan

A.    Pengertian Aliran-Aliran dalam Pendidikan
1.    Aliran Empirisme
Kata empirisme berasal dari bahasa latin empiricus yang artinya pengalaman. Empirisme adalah paham yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang sangat bergantung kepada pengaruh lingkungan atau kepada pengalaman-pengalaman yang di peroleh dari hidupnya. Menurut aliran ini, pendidikan merupakan salah satu pengalaman yang sangat menentukan terhadap perkembangan anak. Mau di bentuk menjadi apa anak tersebut, sangat di pengaruhi oleh pengalaman pendidikan yang diterima anak. Memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman anak.

Pelopor aliran ini adalah John Locke, seorang filosof kebangsaan Inggris yang lahir pada tahun 1632 M. John Locke sebagai pelopor aliran ini terkenal dengan teori “tabularasa” (meja dilapis lilin yang digunakan untuk menulis oleh bangsa yunani kuno). Menurut teori tabularasa ini, anak yang baru lahir diumpamakan sebagai kertas putih bersih tak bernoda (a sheet of white paper avoid pf all characters). Untuk mengisinya tergantung pada pendidikan yang di terima anak. Oleh karena itu, John Locke berpendapat, mendidik adalah membentuk seseorang menurut kehendak pendidik.  Immanuel Kant(1724-1804), pendukung aliran ini juga berpendapat bahwa manusia dapat menjadi manusia karena pendidikan.

Aliran empirisme di pandang berat sebelah dikarenakan yang hanya lebih mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Sedangkan kemampuan dasar yang di bawa anak sejak lahir di anggap suatu hal yang tidak menentukan, menurut kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Keberhasilan ini di sebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri yang berupa kecerdasan atau kemauan keras, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kemampuan yang telah ada dalam dirinya. Meskipun demikian, penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai mahluk yang pasif dan dapat di manipulasi, seumpama melalui kodifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific psychology dari B.F. Skinner ataupun pandangan behavioral (behaviorisme) lainnya. Behaviorisme itu menjadikan perilaku manusia yang tampak keluar sebagai sasaran kajiannya, dengan tetap menekankan bahwa perilaku itu terutama sebagai hasil belajar semata-mata. Meskipun demikan, pandangan behavioral ini juga masih bervariasi dalam menentukan faktor apakah yang paling utama dalam proses belajar itu.

2.    Aliran Nativisme
Nativisme berasal dari bahasa latin nativus, artinya terlahir. Nativisme berarti suatu paham yang berpendapat bahwa seseorang akan berkembang berdasarkan pembawaan (hereditas) sejak lahir.

Pembawaan adalah kecenderungan untuk bertumbuh dan berkembang bagi manusia menurut pola-pola, ciri-ciri dan sifat-sifat tertentu, yang timbul saat konsepsi dan berlaku sepanjangan hidup seseorang.

Istilah bertumbuh dalam definisi diatas mengacu pada aspek fisik sedangkan istilah berkembang mengarah pada aspek psikis. Tentang pola-pola, ciri-ciri dan sifat-sifat tertentu pada pengertian diatas sebenarnya telah ada pada saat konsepsi (fertilization), yaitu saat di mulainya pertemuan sel-sel benih dari pihak ayah (sperma). Sel-sel benih yang telah menyatu mengandung pembawaan (hereditas), dan dalam sel-sel sifat pembawaan.

Peranan pendidikan menurut paham ini, pendidikan tidak memiliki peran apa-apa terhadap perkembangan anak. Perkembangan anak sangat di dominasi oleh pembawaan yang sejak lahir. Oleh karena itu, pendidikan tidak di butuhkan.

Pelopor aliran ini adalah Schopenhauer, seorang filosof kebangsaan jerman yang hidup pada tahun 1788-1880 M. Dalam salah satu pendapatnya, ia mengatakan: “Mendidik ialah membiarkan seseorang bertumbuh berdasarkan pembawaannya”.

Aliran nativisme juga di dukung oleh aliran naturalisme. Naturalisme berasal dari bahasa latin, nature artinya alam, tabi’at, dan pembawaan. Naturalisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa usaha pendidikan oleh manusia terhadap anak didik tidak akan ada artinya, malahan usaha-usaha tersebut justru dapat merusak perkembangan anak secara wajar.

Menurut Naturalisme, anak pada dasarnya di lahirkan dengan pembawaan yang baik. Oleh karena itu, biarkanlah dia berkembang secara alami dengan baik, sebab apabila di paksa di didik oleh manusia justru akan merusak pembawaan yang sudah baik tersebut.

Pelopor aliran ini (naturalisme) adalah J.J. Rosseau seorang filosof kebangsaan Perancis yang hidup pada tahun 1712-1778 M. Dalam bukunya yang berjudul Emile, J.J. Rosseau menulis: “everiting is good as it come from the hand of nature, everiting is degenerates in the of man”.  Segala sesuatu akan menjadi baik jika di biarkan berkembang secara alami, dan akan menjadi rusak apabila di campuri oleh tangan-tangan manusia. Lebih lanjut J.J. Rosseau mengatakan bahwa pendidikan merupakan persoalan laizzes faire, yakni persoalan membiarkan atau membebaskan pertumbuhan anak secara kodrati. Pendidikan bersifat negatif, karena hanya sekedar bertugas untuk mengatakan dan menghindarkan masuknya pengaruh-pengaruh buruk terhadap perkembangan potensi jiwa yang secara kodrat sudah baik.

Makalah Aliran-Aliran Dalam Pendidikan

3.    Aliran Konvergensi
Konvergensi berasal dari bahasa inggris konvergency artinya pertemuan pada satu titik. Maksudnya teori ini mempertemukan dua aliran yang saling bertentangan yakni nativisme dan empirisme. Pelopor teori ini adalah William Strem, seorang ahli pendidikan berkebangsaan Jerman yang hidup pada tahun 1971-1937 M. William Strem berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan.

Aliran nativisme menganggap bahwa perkembangan manusia semata-mata ditentukan oleh pembawaan atau bakat serta kemampuan dasar yang di bawa sejak lahir akibatnya pandangan ini sulit di pertanggung jawabkan. Apabila melihat kenyataan hidup yang di sadari atau tidak, juga di bentuk oleh lingkungan dimana dia hidup. Oleh karena itu aliran ini sangat tidak populer di dunia pendidikan, karena bertentangan dengan kenyataan. Demikian pula aliran empirisme yang menyatakan perkembangan anak di pengaruhi faktor pengalaman, juga sulit di terima akal sehat karena menafikan peran pembawaan.

Teori konvergensi yang datang kemudian, tidak mengingkari peranan pembawaan, tapi juga tidak memungkiri peran pengalaman terhadap perkembangan manusia. Dengan kata lain, teori konvergensi berpendapat bahwa perkembangan seseorang di pengaruhi oleh faktor pembawaan dan pengalaman. Oleh karena itu, teori konvergensi yang menggabungkan dua kekuatan diatas (pembawaan dan pengalaman) lebih bisa di terima.

Diakui manusia sejak lahir telah membawa seperangkat potensi yang masih memerlukan rangsangan dari luar untuk tumbuh dan berkembang. Disinilah faktor pengalaman atau lingkungan (khususnya pendidikan) memiliki peran penting untuk mempengaruhi dan mengarahkan potensi yang di bawa anak agar berkembang ke arah kemajuan tertentu dalam batas-batasnya sesuai dengan kodrat yang di bawa sejak lahir.

Islam dalam memandang ketiga aliran diatas lebih berpihak pada teori konvergensi, kendati tidak sama. Ketiga aliran di atas menggunakan pendekatan antroposentrisme yang menjadikan manusia sebagai pusat. Sedangkan islam bersifat teosentris yang menjadikan Tuhan sebagai pusat segala yang ada. Dengan demikian, islam mengakui peran pembawaan dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, sebagaimana terlihat dalam dalil naqli berikut:
تزوجوا فى الحجر الصا لح فان العرق دسا   
Artinya: kawinilah wanita dalam lingkungan yang baik, karena sesungguhnya asal-usul itu berpengaruh.

Tapi di luar faktor pembawaan dan lingkungan, islam mengakui adanya peran penentu dari yang Maha Kuasa (Allah SWT).

Daftar Rujukan:
  • Kosim, Moh. 2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Pamekasan: Stain Pamekasan Press.
  • Tirtarahardja, Umar. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

0 Response to "Aliran-Aliran Dalam Pendidikan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel