Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Ahli Waris ‘Ashabah Dan Maula Mu’tiq - duniamanajemen.com Ahli Waris ‘Ashabah Dan Maula Mu’tiq - DUNIA MANAJEMEN

Ahli Waris ‘Ashabah Dan Maula Mu’tiq

A.    Pengertian Ahli Waris Ashabah
Kata ashabah dalam bahasa Arab berarti keluarga laki-laki dari pihak ayah. Disebut ashabah karena mereka merupakan satu golongan yang saling membantu dan saling melindungi diantara mereka.

Adapun pengertian ashabah menurut istilah para fuqaha adalah ahli waris yang tidak disebutkan jumlah ketetapan bagiannya di dalam Al-Quran dan As-Sunnah dengan tegas. Sebagai contoh, seorang anak laki-laki, cucu laki-laki dari keturunan seorang anak laki-laki, saudara kandung laki-laki dan juga saudara laki-laki seayah, dan paman atau saudara kandung ayah. Kekerabatan mereka sangat kuat karena berasal dari pihak ayah.

Pengertian ashabah yang sangat masyhur dikalangan ulama adalah orang yang menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Selain itu, ia juga menrima seluruh sisa harta warisan setelah ashab al-furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing. Singkatnya, ashabah adalah orang yang menerima sisa harta warisan.

Landasan normatif yang dijadikan pedoman bagi ahli waris penerima bagian sisa adalah bersumber dari Al-Quran surah An-nisa’ ayat 11:

"Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan."

makalah Ahli Waris ‘Ashabah Dan Maula Mu’tiq

B.    Macam-Macam Ashabah

Ahli waris ashabah dibagi menjadi tiga, yaitu ashabah binafsihi, ashabah bil-ghairi dan ashabah ma’al-ghairi.

Ashabah binafsihi adalah ahli waris ashabah karena dirinya sendiri, bukan karena bersama ahli waris lainnya. Ahli waris ashabah binafsihi ini adalah anak laki-laki, bapak, kakek, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki sebapak, paman kandung, paman sebapak, anak laki-laki paman kandung, dan anak laki-laki paman sebapak.

Ashabah bil-ghairi adalah ahli waris ashabah karena bersama ahli waris lainnya. Dengan perkataan lain, yang dimaksud dengan ashabah bil-ghairi adalah seorang wanita yang menjadi ashabah karena ditarik oleh orang laki-laki. Yang termasuk ashabah ini adalah:
  1. Anak perempuan yang mewaris bersama dengan anak laki-laki;
  2. Cucu perempuan yang mewaris bersama dengan cucu laki-laki, dengan ketentuan semua cucu tersebut lewat anak laki-laki;
  3. Saudara perempuan kandung yang mewaris bersama dengan saudara laki-laki kandung; dan
  4. Saudara perempuan sebapak yang mewaris bersama dengan saudara laki-laki sebapak.
Ashabah ma’al-ghairi adalah saudara perempuan kandung atau sebapak yang menjadi ashabah karena mewaris bersama dengan keturunan perempuan. Yang termasuk ashabah ma’al-ghairi adalah:
  1. Saudara perempuan kandung yang mewaris bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak lak-laki;
  2. Saudara perempuan sebapak yang mewaris bersama dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki. 
Jika ketiga jenis ashabah tersebut diteliti, akan jelas kelihatan bahwa hanya orang laki-laki atau orang perempuan dari garis laki-laki saja yang dapat menjadi ashabah. Cucu perempuan dari anak perempuan menurut ajaran kewarisan patrilineal hanya dipandang sebagai ahli waris dzul arham.
Ada tiga kemungkinan apabila ahli waris ashabah ini mewaris, yaitu:
  1. Ahli waris ashabah mewaris tanpa didampingi oleh ahli waris dzul faraid;
  2. Ahli waris ashabah mewaris didampingi oleh ahli waris dzul faraid, dan ia (ahli waris ashabah) menerima sisa bagian warisan setelah ahli waris dzul faraid mengambil bagian warisannya;
  3. Ahli waris ashabah mewaris didampingi oleh ahli waris dzul faraid, dan ia (ahli waris ashabah) tidak menerima warisan, sebab seluruh warisan telah habis dibagikan kepada ahli waris dzul faraid. 
Karena seringnya ahli waris ashabah memperoleh sisa bagian warisan setelah ahli waris dzul faraid mengambil bagiannya, maka ahli waris ashabah ini lazim pula disebut sebagai ahli waris yang menerima sisa bagian.

C.    Pengertian Ahli Waris Maulal Mu’tiq
Yang dimaksud dengan ahli waris maulal mu’tiq ialah seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang menjadi ahli waris dari seseorang bekas hamba karena ia yang memerdekakannya.

Dasar hukum bagi ahli waris maulal mu’tiq dinyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA:
“Hak wala’ itu hanya untuk orang yang memerdekakannya”.
Prof. Dr. TM Hasbi Ash Shiddieqy menerangkan bahwa wala’ yaitu hak menerima pusaka lantaran memerdekakan.

Seorang maulal mu’tiq mewarisi harta peninggalan bekas hamba yang dimerdekakannya, apabila bekas hamba itu meninggal dunia tidak meninggalkan ahli waris baik ashabul furudh, ashabah atau dzawil arham. Maulal mu’tiq mewarisi harta peninggalan bekas hamba tersebut dengan cara ashabah, yaitu ia mewarisi semua harta peninggalannya. Jika maulal mu’tiq meninggal dunia lebih dahulu daripada bekas hamba yang ia merdekakan dan bekas hamba itu tidak mempunyai ahli waris ashabul furudh, ashabah atau dzawil arham, maka ahli waris ashabah binafsihi maulal mu’tiq yang mewarisi.
Dalam hal ini juga berlaku ketentuan-ketentuan tentang pewarisan ashabah binafsihi, sebagaiamana yang telah disebutkan di depan.

Ahli waris perempuan maulal mu’tiq tidak dapat mewarisi harta peninggalan bekas hamba yang telah dimerdekakannya itu. Dengan demikian, maka dalam hal ini ahli waris ashabah bil-ghairi atau ahli waris ashabah ma’al ghairi dari maulal mu’tiq tidak dapat mewarisi harta peninggalan bekas hamba yang telah dimerdekakan itu. Sebagai contoh apabila seseorang maulal mu’tiq meninggal dunia dan meninggalkan anak laki-laki dan anak perempuan, maka yang mewarisi harta peninggalan bekas hamba yang dimerdekakan oleh ayahnya itu ialah anak laki-laki saja, dan anak perempuan tidak dapat mewarisinya. Hal ini didasarkan kepada hadits:
“orang perempuan tidak mempunyai hak wala’ kecuali dari orang yang telah mereka memerdekakan atau dari orang yang dimerdekakan oleh orang yang telah mereka merdekakan atau dari orang yang telah mereka kitabahkan  atau dari orang yang dikitabahkan oleh orang yang telah mereka tadbirkan atau dari orang yang telah mereka merdekakan yang telah menarik wala’.

Menurut jumhur ulama bekas hamba yang dimerdekakan tidak dapat mewarisi harta peninggalan orang yang memerdekakan (maulal mu’tiqnya).

Sumber Rujukan:
  • A. Rahman, Asymuni A. Toelhah Mansoer. dkk. Ilmu Fiqh. 1986.
  • Ahmad Saebani, Beni. Fiqh Mawaris. Bandung: CV Pustaka Setia, 2009.
  • Budiono, A. Rachmad. Dasar Pembaruan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1999.
  • Nawawi, Maimun. Pengantar Hukum Kewarisan Islam. Surabaya: Salsabila Putra Pratama, 2016.

0 Response to "Ahli Waris ‘Ashabah Dan Maula Mu’tiq"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel