Teori Kepribadian Sigmund Freud

Struktur Kepribadian Sigmund Freud
Psikologi kepribadian (psychology of personallty), termasuk kajian klasik dalam bidang psikologi.  Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri dari tiga aspek atau sistem yang merupakan aspek penting dalam menentukan kualitas proses kejiwaan manusia. Tiga macam aspek yang dimaksud, yaitu proses-proses kesadaran, proses-proses prasadar, dan proses-proses tidak disadari. Proses kesadaran hungan dengan gejala-gejala dari luar yang sungguh-sungguh disadari. Proses prasadar merupakan kumpulan atau tumpukan pengalaman-pengalaman yang dapat atau sanggup kita sadari jika kita inginkan, sedangkan proses tidak sadar merupakan fenomena yang tidak kita sadari dan tidak dapat ditembus kecuali dengan kondisi tertentu, misalnya dengan teknik hpnosis.

Struktur jiwa dan perkembangan libidal pada manusia menurut Freud dijelaskan dalam psikoanalis. Menurut psikoanalisis, struktur kejiwaan manusia dapat dibilang sangat unik, yaitu terdiri atas the Id (Das Es), yaitu aspek biologis, the Ego (das ich), yaitu aspek psikologis, dan the super ego (das uber ich), yaitu aspek sosiologis.

Sigmund Freud menjelaskan bahwa struktur kepribadian terdiri dari:
1.    Aspek biologis (Das Es/The Id)
Das Es atau dalam bahsa Inggris the Id disebut juga oleh Freud system der unbewussten. Aspek ini adalah aspek biologis dan merupakan sistem yang orisinal di dalam kepribadian, dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh.

Freud menyebutkan juga realitas psykhis yang sebenar-benarnya, oleh karena das e situ merupakan dunia batin atau dunia subyektif. Das es serisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instink-instink. Das es merupakan “reservoir” enersi psykhis yang menggerakkan dash ich dan dash uber ich.  Das es/the id adalah sumber dari segala sumber enersi, yakni impuls-impuls yang berasal dari kebutuhan biologis individu. Das es merupakan aspek biologis dari kepribadian. Prinsip kerjanya adalah prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu mencari keenakan dan menghindari ketidak enakan.  Enersi psykis di dalam das es itu dapat meningkat oleh karena perangsang, baik perangsang dari luar maupun perangsang dari dalam. Jika enersi itu meningkat, maka bisa menimbulkan tegangan, dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak menyenangkan) yang oleh das es tidak dapat dibiarkan, karena itu apabila enersi meningkat, tang berarti ada tegangan, segeralah das es mereduksikan enersi itu untuk menghilangkan rasa tidak enak itu. Jadi yang menjadi pedoman dalam berfungsinya das es ialah menghilangkan diri dari ketidak enakan dan mengejar keenakan, pedoman ini disebut Freud prinsip kenikmanatan atau prinsip keenakan.
perkembangan kepribadian sigmund freud


Untuk menghilangkan ketidak enakan dan mencapai kenikmatan itu das es mempunyai dua cara atau (alat proses), yaitu:
  • Refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti misalnya bersin, berkedip, dan sebagainya.
  • Proses primer (primair vorgang), seperti misalnya orang lapar membayangkan makanan (wishfullfillment, wensvervulling). 
Akan tetapi jelas bahwa cara ada yang demikian itu tidak memenuhi kebutuhan, orang yang lapar tidak akan menjadi kenyang dengan membayangkan makanan. Karena itu maka perlulah (merupakan keharusan kodrati) adanya sistem yang mengubungkan pribadi dengan dunia obyektif, sistem yang demikian itu ialah dan ich.

2.    Aspek psikologis (Das Ich/the ego)

Das ich atau dalam bahasa Inggris the ego disebut juga system der-Bewussten Verbewussten. Aspek ini adalah aspek psichologis dari pada kepribadian dan timbu karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas).

Yang dimaksud the ego adalah aspek kepribadian yang bersifat dinamis, yang berisi sikap, nilai, keyakinan dan tujuan yang menjadikan individu dekat dan dihargai di dalam kehidupannya. Prinsip kerja the ego adalah memperoleh keenakan dan menghindari ketidak enakan, tetapi dalam bentuk dan cara yang sesuai dengan kondisi dunia riil, sesuai apa yang ada. Prinsip kerja the ego telah menggunakan dasar proses berpikir dari individu yang bersangkutan. Jadi the ego telah menggunakan logika yakni menerapkan proses persepsi dan proses kognisi.

Orang yang lapar mesti memrlukan makan untuk menghilangkan tentang yang ada dalam dirinya, ini berarti bahwa organism harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan. Disinilah letak perbedaan yang pokok antara das es dan das ich, yaitu kalau das e situ hanya mengenal dunia subyektif (dunia batin) maka das ich dapat membedakan sesuatu yang hanya ada dalam batin dan sesuatu yang ada di dunia luar (dunia objektif, dunia realitas).

Di dalam berfungsinya das ich berpegang pada prinsip kenyataan dan prinsip realitas (realitastsprinzip, the reality principle) dan beraksi dengan proses sekunder (sakundar vorgang, secondary process). Tujuan realitastsprinzip itu adaah mencari obyek yang tepat (serasi) untuk mereduksi tegangan yang timbul dalam organisme. Proses sekunder itu adalah proses berpikir realistis, dengan mempergunakan proses sekunder das ich merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya atau men testnya (biasanya dengan suatu tindakan) untuk mengetahui apakah rencana itu berhasil atau tidak. Misalnya : orang lapar merencanakan di mana dia dapat makan, lalu pergi ke tempat tersebut untuk mengetahui apakah rencana tersebut berhasil (cocok dengan realitas) atau tidak. Perbuatan ini secara teknis disebut reality testing.

Dalam hal ini Das ich dapat juga dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, oleh karena itu, das ich ini untuk mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih obyek-obyek yang dapat memenuhi kebutuhan, serta memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya di dalam menjalankan fungsi ini sering kali das ich harus mempersatukan pertentangan-pertentangan antara das es dan das ueber ich dan dunia luar. Namun haruslah selalu diingat, bahwa das ich ueber ich dan dunia luar. Namun haruslah selalu diingat, bahwa das ich adalah derivat dari das es dan bukan untuk merintanginya, peran utamanya adalah menjadi perantara antara kebutuhan-kebutuhan instinktif dengan keadaan lingkungan, demi kepentingan adanya organisme.

3.    Aspeksosiologis (Das Uber Ich/the superego)
Bagian dari sosiologis kepribadian adalah Das Uber Ich,  hal ini merupakan perwakilan dari sebuah nilai tradisional beserta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang dimasukkan (diajarkan) dengan berbagai perintah dan larangan. Das ueber ich merupakan sempurnaan dari kesenangan, karena itu das ueber ich dapat pula dianggat sebagai aspek moral dari pada kepribadian.

Dalam hal ini Das ueber ich di-internalisasikan kedalam perkembangan anak sebagai responden terhadap hukuman atau hadiah yang diberikan oleh orang tua (pendidik-pendidik yang lain). Dengan bertujuan agar dapat menghindari hukuman, dalam hal ini anak mengatur tingkahlakunya sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang tuanya dan juga untuk mendapatkan hadiah. Apapun juga yang dikatakannya tidak baik dan bersifat menghukum akan cenderung untuk menjadi zon scientia anak, apapun jua yang disetujui dan membawa hadiah cenderung untuk menjadi ich ideal anak.

Mekanisme yang menyatukan sistem tersebut kepada pribadi tersebut introveksi. Jadi das ueber ich itu berisikan dua hal, ialah conscientia dan ich ideal. Conscientia menghukum orang dengan memberikan rasa dosa, sedangkan ich ideal menghadiahi orang dengan rasa bangga akan dirinya.

Dengan terbentuknya das ueber ich ini maka kontrol terhadap tingkah laku yang dulunya dilakukan oleh orang tuanya (atau wakilnya) menjadi dilakukan oleh pribadi diri sendiri, moral yang dulunya heteronom lalu menjadi otonom.

Adapun fungsi pokok das ueber ich itu dapat kita lihat dalam hubungan dengan ketiga aspek dari kepribadian itu yaitu:
  • Merintangi impuls-impuls das es, terutama impuls-impuls sexual dan agresif yang pernyataannya sangat ditentang oleh masyarakat.
  • Mendorong das ich untuk lebih mengejar hal-hal dan irealistis dari pada yang realistis.
  • Mengejar kesempurnaan.
Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa das ueber ich itu lebih cenderung menentang baik das ich maupun das es dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal.

Demikianlah struktur kepribadian menurut Freud, terdiri dari tiga aspek dalam pada itu harus selalu diingat, bahwa aspek-aspek tersebut hanya nama-nama untuk berbagai proses psikologis yang berlangsung dengan prinsip-prinsip yang berbeda satu sama lain. Dalam keadaan biasa ketiga sistem itu bekerja sama dengan diatur oleh das ich, kepribadian berfungsi sebagai kesatuan.

B.    Dinamika Kepribadian Sigmund Freud
Freud sangat terpengaruh oleh filsafat determinisme dan positivism abad XIX dan menganggap organism manusia sebagai suatu kompleks sistem energy, yang memperoleh energinya dari makanan serta mempergunakannya untuk bermacam-macam hal: sirkulasi, pernafasan, gerakan otot-otot, mengamati, mengingat, berpikir dan sebagainya. Sebagaimana ahli ilmu alam pada abad XIX yang mengemukakan tentang energy berdasarkan lapangan kerjanya, maka Freud menamakan energy itu kedalam bidang psike ini energy psikis (psychic energy). Menurut hukum penyimpangan tenaga (conservation of energy) maka energy dapat berpindah dari satu tempat ke lain tempat, tetapi tak dapat hilang. Berdasar pada pemikiran itu Freud berpendapat, bahwa energy psikis dapat dipindahkan ke energy fisiologis dan sebaliknya. Jembatan antara energy tubuh dengan kepribadian ialah es dengan instink-instinknya.

1.    Instink

Ada 3 istilah yang memiliki banyak persamaan, yaitu instink, keinginan (wish) dan kebutuhan (need). Instink adalah sember perangsang somatic dalam yang dibawa sejak lahir, keinginan adalah perangsang psikologis, sedangkan kebutuhan adalah perangsang jasmani. Jadi, lapar misalnya, dapat digambarkan secara fisiologis sebagai keinginan akan makanan. Keinginan itu menjadi sebuah alasan (motif) tingkah laku: misalnya orang lagi lapar mencari makanan.

Di dalam sebuah instink adalah sejumlah energy psikis, kumpulan dari semua instink-instink merupakan keseluruhan dari pada energy psikis yang dipergunakan oleh kepribadian. Sebagaimana telah disebutkan di muka das es adalah reservoir energy ini, serta merupakan tempat kedudukan instink-instink pula. Dan es dapat dimisalkan sebagai dynamo yang memberikan tenaga penggerak kepada kepribadian, tenaga itu diasalkan dari proses metabolism di dalam tubuh. Suatu instink itu mempunyai empat macam sifat, yaitu:
a.    Sumber instink
Kondisi jasmaniah merupakan sumber dari insting, yang akhirnya menjadi kebutuhan.
b.    Tujuan instink
Adapun tujuan isntink ialah menghilangkan rangsangan kejasmanian, sehingga ketidakenakan yang timbul karena adanya tegangan yang disebabkan oleh meningkatnya energy dapat ditiadakan. Misalnya: tujuan instink haus (minum) ialah menghilangkan keadaan kekurangan air, dengan cara minum.
c.    Obyek instink
Obyek instink ialah segala aktivitas yang mengantarai keinginan dan terpenuhinya keinginan itu. Jadi tidak hanya terbatas pada bendanya saja, tetapi termasuk pula cara-cara memenuhi kebutuhan yang timbul karena instink itu.
d.    Pendorong atau penggerak instink

Pendorong atau penggerak instink adalah kekuatan instink itu, yang tergantung kepada intensitas (besar kecilnya) penggerak instink makannya makin besar.

Sumber dan tujuan instink itu sendiri adalah tetap selama hidup, sedangkan obyek beserta cara-cara yang dipakai orang untuk memenuhi kebutuhannya selalu berubah-ubah. Hal ini disebabkan karena energy psikis itu dapat dipindah-pindahkan, dapat digunakan dalam berbagai jalan, akibatnya apabila suatu obyek tidak dapat dipergunakan maka lalu dicari obyek yang lain, dan apabila obyek yang kedua ini juga tak dapat dipergunakan, dicari lagi obyek yang lain, begitu seterusnya sampai diketemukan obyek yang cocok.

2.    Distribusi dan penggunaan energi psikis

Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energy psikis itu didistribusikan serta digunakan oleh das es, dan das ich dan das ueber ich. Oleh karena jumlah atau banyaknya energy itu terbatas, maka akan terjadi semacam persaingan di antara ketiga aspek itu dalam pergunakan energy (jadi menjadi kuat), maka kedua aspek yang lain harus (dengan sendirinya) menjadi lemah.

3.    Kecemasan dan ketakutan

Dinamika kepribadian untuk sebagian besar dikuasai oleh keharusan untuk memuaskan kebutuhan dengan cara berhubungan dengan obyek-obyek di luar dunia. Lingkungan menyediakan makanan bagi orang yang lapar dan minuman bagi orang yang haus, disamping itu lingkungan juga berisikan daerah-daerah yang berbahaya dan tidak aman. Jadi lingkungan dapat memberikan kepuasan maupun mengancam, atau dengan kata lain, lingkungan mempunyai kekuatan untuk memberikan kepuasan dan mereduksikan tegangan maupun menimbulkan sakit dan meningkatkan tegangan, dapat menyenangkan dan mengganggu.

Biasanya reaksi individu terhadap ancaman ketidak senangan dan pengerusakan yang belum dihadapinya ialah menjadi cemas atau takut. Orang yang merasa terancam umumnya adalah orang yang penakut. Kalau das ich mengontrol soal ini, maka orang lalu akan dikejar oleh kecemasan atau ketakutan.

Freud mengemukakan adanya tiga macam kecemasan, yaitu:
a.    Kecemasan realistis
Dari ketiga macam kecemasan itu yang paling pokok adalah kecemasan atau ketakutan yang realistis, atau takut akan bahaya-bahaya di dunia luar, kedua kecemasan lain diasalkan dari kecemasan yang realistis ini.

b.    Kecemasan neurotis

Kecemasan neurotis adalah kecemasan kalau-kalau instink-instink tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum. Kecemasan ini sebenarnya mempunyai dasar di dalam realitas, karena dunia sebagaimana di wakili oleh orang tua dan lain-lain orang yang memegang kekuasaan itu menghukum anak yang melakukan tindakan impulsive.

c.    Kecemasan moral adalah kecemasan kata hati

Orang yang memiliki perkembangan baik pada das ueber ichnya, gampang untuk merasa resah apabila dia melakukan atau bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang melanggar dengan norma-norma berlaku atau dengan norma-norma moral. Pada kecemasan moral ini juga memiliki sebuah dasar dalam realitas, karena di masa yang lampau orang telah mendapatkan hukuman sebagai akibat dari perbuatan yang melanggar kode moral, dan mungkin akan mendapatkan hukuman lagi.

Adapun fungsi kecemasan atau ketakutan itu ialah untuk memperingatkan orang akan datangnya bahaya sebagai isyarat bagi das ich, bahwa apabila tidak dilakukan tindakan-tindakan yang tepat bahaya itu akan meningkat sampai das ich dikalahkan (Jawa: kuwalahan). Kecemasan merupakan sebuah pendorong seperti halnya ketika lapar dan seks, bedanya: kalau lapar dan seks itu adalah keadaan dari dalam, maka kecemasan itu berasal dari luar. Jika kecemasan itu timbul, maka itu akan segera memotivasi seseorang untuk dapat melakukan sesuatu agar tegangan dapat direduksikan atau dapat dihilangkan, mungkin dia akan lari dari daerah atau tempat yang menimbulkan kecemasan atau ketakutan itu, atau , mencegah impuls-impuls yang berbahaya, atau menuruti kata hati.

C.    Perkembangan Kepribadian Sigmund Freud
Freud dipandang sebagai teoritisi psikologi pertama yang memfokuskan perhatiaannya kepada perkembangan kepribadian. Dia mengemukakan bahwa pada masa anak dari usia 0-5 tahun mempunyai peranan yang amat dominan dalam membentuk kepribadian atau karakter seseorang. karena sangat menentukannya masa ini, dia berpendapat bahwa the child is the father of man (anak adalah ayah manusia). Berdasarkan hal ini, maka hampir semua masalah kejiwaan pada usia selanjutnya (khususnya usia dewasa), faktor penyebabnya dapat ditelusuri pada usia regenital ini.
Perkembangan kepribadian menurut Freud adalah belajar tentang cara-cara baru untuk mereduksi ketegangan tention reduction dan memperoleh kepuasan. Ketegangan itu terjadi bersumber pada empat aspek, yaitu sebagai berikut.

Arti dari perkembangan kepribadian menurut Sigmund Freud disini adalah bagaimanakita belajar tentang cara-cara baru untuk mereduksi ketegangan tention reduction dan memperoleh kepuasan. Ketegangan itu terjadi bersumber pada empat aspek, yaitu sebagai berikut.
  1. Pertumbuhan fisik. Seperti halnya dalam sebuah peristiwa mimpi pertama dan juga menstruasi dapat menimbulkan perubahan aspek psikologis dan juga ada tuntutan baru dari lingkungan (seperti dalam berpakaian dan bertingkah laku).
  2. Frustrasi. Orang yang tidak pernah frustrasi tidak akan berkembang. Jika seorang anak di manja over protection maka yang akan terjadi mereka tidak akan berkembang rasa tanggung jawab dan kemandiriannya.
  3. Konflik. Ini terjadi antara id, ego dan superego. Apabila individu dapat mengatasi setiap konflik yang terjadi di antara ketiga komponen kepribadian tersebut, maka dia akan mengalami perkembangan yang sehat.
  4. Ancaman. Lingkungan disamping dapat memberikan kepuasan kepada kebutuhan atau dorongan instink individu, juga merupakan sumber ancaman baginya yang sapat menimbulkan ketegangan. apabia individu dapat mengatasi ancaman yang dihadapinya, maka dia akan mengalami perkembangan yang diharapkan.
 Sebagai akibat dari meningkatnya tegangan karena keempat sumber ini, maka orang terpaksa harus belajar cara-cara yang baru untuk mereduksikan tegangan. Belajar mempergunakan cara-cara baru dalam mereduksikan tegangan inilah yang disebut perkembangan kepribadian.

Identifikasi dan pemindahan obyek adalah cara-cara atau metode-metode yang dipergunakan oleh individu untuk mengatasi frustasi-srustasi, konflik-konflik serta kecemasan-kecemasannya.
1.    Identifikasi
Pengertian ini di depan sudah dibicarakan, yaitu dalam hubungan dengan pembentukan das ich dan das ueber ich. Di sini identifikasi itu dapat diberi definidi sebagai metode yang dipergunakan orang dalam menghadapi orang lain dan membuatnya menjadi bagian dari pada kepribadiannya. Dia belajar mereduksikan tegangannya dengan cara bertingkah laku seperti tingkah laku orang lain. Untuk hal yang demikian itu Freud mempergunakan istilah identifikasi dan bukan imitasi, sebab menurut dia istilah imitasi mengandung arti meniru yang  dangkal, sedangkan dalam identifikasi apa yang ditiru itu lalu menjadi bagian dari pada kepribadiaannya. Anak mengidentiofikasikan diri dengan orang tuanya, karena baik anak mereka itu adalah omnipotent, setidak-tidaknya selama mereka masih sangat kecil, setelah anak lebih besar dia menemukan orang-orang lain tempat dia
mengidentifikasikan diri, oleh karena ternyata orang-orang lain itu lebih cocok dengan kebutuhannya.

Dapat juga orang mengidentifikasikan diri karena takut. Anak mengidentifikasikan diri dengan larangan-larangan orang tua untuk menghindarkan diri dari hukuman. Identifikasi yang seperti ini adalah dasar dari pembentukan das ueber ich.

2.    Pemindahan obyek

Apabila sebuah obyek pilihan sesuatu instink yang asli tidak dapat dicapai karena rintangan atau anti-cathexis, baik rintangan dari luar maupun dari dalam , maka akan terbentuk sebuah cathexis yang baru, kecuali jika terjadi sebuah penekanan yang sangat kuat. Jika cathexis yang baru ini juga titak bida dipenuhi, makan akan terjadi sebuah cathexis yang lain pula. Dengan demikian selanjutnya sampai ada obyek yang dapat digunakan untuk mereduksikan tegangan, obyek ini akan dipakai terus-menerus sampai saat habis kemampuannya untuk mereduksikan tegangan. Selama proses pemindahan itu tujuan dan sumber instink tetap, hanya berupa obyeknya saja yang tidak tetap/berubah-ubah. Dalam hal ini sangat jarang sekali obyek pengganti itu bisa memberi pemuasan sebesar obyek itu dari sebuah obyek asli, dengan adanya hal itu maka makin sedikitlah tegangan yang dapat direduksikan. Sebagai akibat dari pemindahan obyek yang bermacam-macam itu, maka yang akan terjadi adalah penumpukan tegangan, yang kemudian bertindak sebagai alasan yang tetap atau kekuatan pendorong yang tetap bagi tingkah laku.

3.    Mekanisme pertahanan das ich

Karena tekanan kecemasan ataupun ketakutan yang berlebih-lebihan, maka das ich kadang-kadang terpaksa mengambil cara yang ekstrim untuk menghilangkan atau mereduksikan tegangan. Cara-cara yang demikian itu disebut mekanisme pertahanan. Bentuk-bentuk pokok mekanisme pertahan itu adalah:
  • Penekanan atau represi
  • Proyeksi
  • Pembentuk reaksi
  • Fiksasi
  • Regresi
Semua mekanisme pertahanan itu mempunyai kesamaan sifat-sifat yaitu:
  • Kesemuanya itu menolak, memalsukan atau mengganggu kenyataan.
  • Kesemuanya itu bekerja dengan tidak disadari, sehingga orang-orangnya yang bersangkutan tak tau (tak menginsafi) apa yang sedang terjadi.
4.    Fase-fase perkembangan
Freud bependapat anak sampai kira-kira umur lima tahun melewati fase-fase yang terdiferensiasikan secara dinamis secara dinamis, kemudian sampai berumur duabelas atau tiga belas tahun mengalami fase latent, yaitu dinamika menjadi lebih stabil. Dengan datangnya masa remaja maka dinamika itu meletus lagi, dan selanjutnya makin tenang kalau orang makin dewasa. Bagi Freud, masa sampai umur dua puluh tahun adaah masa yang menentukan bagi pembentukan kepribadian. Tiap fase (terutama dari lahir sampai kira-kira umur lima tahun) ditentukan atas dasar-dasar reaksi bagian tubuh tertentu. Adapun fase-fase tersebut ialah:
  • Fase oral 0:0 sampai kira-kira 1:0. Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamis.
  • Fase anal: kira-kira 1:0 sampai kira-kira 3:0. Pada fase ini cathexis dan anti cathexis berpusat pada fungsi eliminative (pembuangan kotoran).
  • Fase falis: kira-kira 3:0 sampai 5:0. Pada fase ini alat kelamin adalah daerah erogen yang sangat penting.
  • Fase latent: 5:0 sampai 12:0 atau 13:0. Pada fase ini impuls cenderung untuk ada dalam keadaan tekanan.
  • Fase pubertas: kira-kira 12:0 atau 13:0 sampai 20:0. Pada masa ini impuls-impuls menonjol kembali. Jika hal ini dapat dipindahkan dan disublimasikan oleh das ich dengan berhasil, maka sampailah orang kepada fase kematangan terakhir, yaitu:
  • Fase genital, Cathexis pada fase genital mula (fase falis) mempunyai sifat narcistis, artinya individu mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri dan orang-orang lain diinginkan hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan dari kenikmatan jasmaniah itu.
Sumber Rujukan:
  • Prawira, Purma Atmaja. Psikologi Kepribadian dengan Perspektif Baru. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
  • Purwanto, Yadi. Psikologi Kepribadian. Bandung : PT Refika Aditama. 2011.
  • Santoso, Slamet. Teori-teori Psikologi Sosial. Bandung : Refika Aditama. 2010.
  • Sujanto, Agus. dkk. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Bumi Aksara. 2014.
  • Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kepribadian. Jakarta : RajaGrafindo Persada. 2012.
  • Yusuf, Syamsu dan Nurihsan, A. Juntika. Teori Kepribadian. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2011.

0 Response to "Teori Kepribadian Sigmund Freud"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel