Filsafat Pendidikan Esensialisme

A. Filsafat Esensialisme dalam Pengertian dan Sejarah
Istilah “esensi “ oleh para esensialis diartikan sebagai ciri tetap yang ada pada setiap sesuatu yang ada. Ia adalah sesuatu yang bersifat konstan, tidak bisa berubah, kekal, dan akan selalu abadi. Pandangan ini banyak mendapat kritik dari para eksistensialis. Meski kita lacak, embrio dasar pemikiran Aristoteles memaknai esensi sebagai kata yang memiliki kedekatan makna dengan morphe yang berarti bentuk. Ada pula yang menyamakan dengan kata hyle atau model, rencana, dan ide dasar. Sementara Karl Popper mengartikan esensi sebagai lawan dari kata nominal. Maka dari itu, Untuknya esensialisme Merupakan sisi lain dari nominalisme. Sehingga Karl Popper tidak setuju jika esensialisme dianggap sebagai lawan dari realism. Menurutnya, realism merupakan sisi lain idealism. Selain itu, esensialisme dalam arti yang cukup luas selalu menjadi filsafat yang mengakui keunggulan zat. Sehingga menjadikan pandangan ini berbeda dengan eksistensialisme yang mengemukakan “menjadi (to be)” sebagai realitas yang mendasar.

Filsafat esensialisme merupakan filsafat pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.  Esensialisme adalah falsafah pendidikan tradisional yang melihat bahwa nilai-nilai pendidikan hendaknya bertumpu pada nilai-nilai yang jelas dan tahan lama sehingga dapat menimbulkan kestabilan dan juga arah yang jelas. Nilai-nilai humanism yang dipegangi oleh esensealisme dijadikan sebagai tumpuan hidup untuk menentang kehidupan yang materialistik, sekuler dan saintifik yang gersang dari nilai-nilai kemanusiaan.

Esensialisme merupakan perpaduan antara ide-ide filsafat idealism dan realism. Filsafat tersebut akan tampak lebih mantap dan kaya dengan ide-ide, jika hanya mengambil salah satu dari filsafat atau posisi sepihak. Pertemuan dua filsafat itu bersifat elektik, yakni keduanya sebagai pendukung, tidak melebur menjadi satu atau tidak melepaskan identitas dan ciri masing-masing filsafat. Filsafat idealism subjektif berpendapat bahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit, sedangkan segala sesuatu yang ada selalu nyata dalam makna spiritual. Hal ini bertentangan dengan realism yang justru berpendapat bahwa kualitas nilai selalu dietntukan pada apa dan bagaimana keadaannya, termasuk apa, siapa, dan bagaiman kualitas subjek yang mengalaminya.

makalah filsafat pendidikan esensialisme

Esensialisme secara formal memang tidak dapat dihubungkan dengan berbagai tradisi filsafat, tetapi compatible dengan berbagai pemikiran filsafat. Pada tahap pertama sebuah perkembangan esensialisme dapat dilihat dari zaman renaissance. Hal ini mengingat filsafat ini menempatkan cirinya pada alam pemikiran mausia. Pada zaman ini telah muncul upaya-upaya untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan seni kebudayaan purbakala, terutama di zaman Yunani dan Romawi.

Esensialisme untuk pertama kalinya muncul sebagai reaksi atas simbolisme mutlak dan dogmatism abad pertengahan. Filsafat ini beranggapan, bahwa manusia perlu kembali kepada kebudayaan lama, yaitu kebudayaan yang telah ada semenjak peradaban manusia yang pertama. Hal ini mengingat kebudayaan lama itu telah banyak membuktikan kebaikan-kebaikannya untuk manusia.

Tokoh-tokoh yang tercatat sepanjang sejarahnya, antara lain: Desiderius Erasmus, Johann Amos Comenius, John Locke, Johann Hendrich Pestalozzi, John Fredrich Froebel, Immanuel Kant, Schopenhauer, Libneiz, Hegel, Kandel, dan lain-lain. Athur K. Ellis dan kawan-kawan menyebutkan bahwa esensialisme yang dikaitkan dengan pendidikan diformulasikan oleh Prof. William C. Bagley, namun, George F. Kneller menambahkan dengan nama-nama seperti Thomas Briggs, Fredrick Breed, dan Isaac L. Kandel.

Menurut Kneller, mereka ini tercatat sebagai orang-orang yang telah membentuk komite esensialis guna untuk meningkatkan pendidikan di Amerika. Tradisi ini dilanjutkan pula dengan adanya tulisan-tulisan William Brickman, editor buku School and Society. Sejumlah nama lain yang tercatat sebagai penyokong filsafat ini adalah Arthur Bheston dan Mortimer Smith. Kendatipun dua nama terakhir ini dikatakan sangat skeptic terhadap nilai studi pendidikan formal melalui pemikiran-pemikiran pendidikan yang dikembangkan oleh filsafat esensialisme ini, namun kenyataannya mereka berpendapat bahwa pendidikan mesti dibangun di atas nilai-nilai yang tetap.

Para esensialis memandang bahwa seseorang mungkin telah bisa lahir sebagai individu yang sepenuhnya memiliki karakteristik yang berbeda dengan individu lainnya sehingga ia menjadi diri yang terpisah. Akan tetapi, hal itu tidak membuat mereka menjadi bukan bagian dari social, karena esensinya setiap individu selalu menjadi mahluk social. Esensialisme melihat/memandang bahwa dunia dan kehidupan ini selalu berlangsung dalam kesempurnaan.

B. Landasan Filosofis Filsafat Esensealisme
Esensialisme memandang bahwa manusia sebagai bagian dari alam semesta yang bersifat mekanis dan tuduk pada hukum-hukumnya yang objektif-kausalitas, maka ia pun secara nyata terlibat dan tunduk pula pada hukum-hukum alam. Dengan demikian, manusia selalu bergerak dan berkembang sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum natural yang bersifat universal. Hukum universallah yang mengatur keseluruhan makrokosmos yang meliputi aturan benda-benda, energy, ruang dan waktu bahkan juga pikiran manusia. Tuhan dalam hal ini mengatur eksistensi segala realitas yang ada termasuk diri manusia dari “atas”. Semua hukum dari ilmu pengetahuan tidak lain adalah perwujudan validitas dan keharmonisasian aktivitas Tuhan.

Berdasarkan tesisnya ini pulalah, maka para esensialis melihat hakikat ilmu pengetahuan tidak saja bersifat fisikis-naturalis yang bercorak empiris-realistis, tetapi juga bersifat metafisikis-supranaturalis yang bercorak idealis-rasioanalis. Para esensialis memandang bahwa ilmu pengetahuan mulai dari upaya manusia dalam memandang realitas melalui bantuan alat panca indranya. Atas dasar penggunaan alat indranya, manusia kemudian akan dapat memahami dan mengerti apa yang ia lihat sehingga melahirkan ide dengan cara membuat relasi antar fakta dan realitas tidak lain adalah melalui kesadaran jiwa dalam memandang fakta tersebut. Oleh karena itu adalah sesuatu hal mustahil ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang jika semata-mata berdasarkan pada hal-hal yang bersifat indrawi saja tanpa mengikut sertakan fungsi akal manusia.

Filsafat ini berpendapat, bahwa sumber segala pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. Dalam bidang aksiologi, nilai bagi filsafat ini, seperti kebenaran, berakar dalam dan berasal dari sumber objektif. Watak sumber merupakan perpaduan pandangan idealism dan realism. Di sebuah sisi, lesensialisme mengakui bahwa hukum-hukum etika merupakan hukum kosmos, dan karenanya, seseorang dikatakan baik jika ia secara aktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. Di sisi lain, pemahaman objektif atas fakta dan peristiwa dalam kehidupan juga menjadi pertimbangan proporsional dalam ekspansi keinginan, rasa suka, kagum, tidak suka, dan penolakan yang akhirnya melahirkan predikat baik dan buruk terhadap sesuatu.

Immanuel Kant seorang tokoh idealism modern mengemukakan bahwa asas dasar tindakan moral adalah apa yang disebutnya sebagai categorical-imperative, yaitu rasa kewajiban atas tugas tanpa syarat dan prediktif seperti taat atau loyal terhadap suatu norma. Dalam hukum moral, setiap manusia harus melakukan sesuatu yang oleh semua orang wajib melakukannya di mana dan kapan pun, sebab kebaikan senantiasa bersifat universal.

C. Ciri-Ciri Filsafat Esensialisme
Esensialisme yang berkembang di zaman Renaissance memiliki tinjauan yang tidak sama dengan progresivisme, yaitu mengenai pendidikan dan kebudayaan. Jika  progresivisme mengannggap pendidikan yang penuh fleksibilitas, serba terbuka untuk perubahan, tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu, toleran dan nilai-nilai dapat berubah dan berkembang, maka filsafat esensialisme ini memandang bahwa pendidikan yang berdasar pada fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang dapat berubah, mudah goyah, kurang terarah, dan tidak menentu serta kurang stabil. Karena itu, pendidikan harus pijakan di atas nilai yang dapat mendatangkan kestabilan, telah teruji oleh waktu, tahan lama, dan nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan terseleksi.

Tidak sama dengan perenealisme yang menolak progresivisme dalam keseluruhan aspek yang telah menjadi karakteristiknya, esensialisme hanya memberikan penolakan dalam beberapa aspek khusus saja, seperti pemberian konsentrasi aktivitas pembelajaran semata-mata berpusat pada anak didik saja sehingga terlihat kesan pengabaian fungsionalitas pendidik sebagai orang yang mengatur dan mengarahkan proses pembelajaran itu sendiri. Kalangan esensialis menilai praktik proresivisme di dalam menjadikan pendidikan sebagai usaha belajar tanpa penderitaan. Hal itu membuat manusia menjadi makin tumpul dan dangkal. Meski para esensialis juga kurang sependapat dengan perenealisme yang dipandang cenderung aristokratis dan anti demokrasi. Esensialis juga berpendapat bahwa betul-betul ada hal-hal yang esensial dari pengalaman anak yang memiliki nilai esensial dan perlu dibimbing. Semua manusia dapat mengenal yang esensial tersebut apabila manusia berpendidikan. Hal tersebut bentuk protes esensialisme terhadap progresivisme.

D.    Pendidikan Menurut Filsafat Esensialisme
Gerakan Back to Basics
Gerakan Back to Basics yang dimulai di pertengahan tahun 1970-an adalah dorongan skala besar yang mutakhir untuk menerapkan program-program esensialis di sekolah-sekolah. Yang terpenting lainnya, yang dikemukakan kaum esensialis, bahwa sekolah-sekolah harus mealatih/mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis. Keterampilan-keterampilan inti dalam kurikulum haruslah berupa membaca, menulis, berbicara, dan berhitung, serta sekolah memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan apakah semua siswa menguasai keterampilan-keterampilan tersebut.
Ahli pendidikan esensialis tidak memandang anak sebagai orang yang jahat, dan tidak pula memandang anak sebagai orang yang secara alamiah baik. Anak-anak tersebut tidak akan menjadi anggota masyarakat yang berguna, kecuali kalau anak-anak secara aktif dan penuh semangat diajarkan nilai disiplin, kerja keras, dan rasa hormat pada pihak berwenang/punya otoritas. Kemudian, para guru adalah membentuk siswa menangani insting-insting alamiah dan non produktif mereka (seperti agresi, kepuasan indera tanpa nalar, dll.) dibawah pengawasan sampai pendidikan mereka selesai.

Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah haruslah mempunyai sifat praktis dan memberikan anak-anak pengajaran yang logis yang dapat mempersiapkan mereka untuk hidup, sekolah tidak boleh mencoba mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan social. Walaupun demikian kritik-kritik terhadap esensialisme mendakwa bahwa orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah akan mengindoktrinasi siswa dan mengesampingkan kemungkinan perubahan. Kaum esensialis menjawab bahwa dengan tanpa suatu pendekatan esensialis, para siswa akan terindoktrinasi pada kurikulum humanistic dan/atau behavioral yang menjalankan perlawanan pada standar-standar dan kebutuhan yang diperlukan masyarakat untuk ditata.

Para pemikir esensialisme pada umumnya tidak mempunyai kesatuan garis dikarenakan mereka berpandangan pada filsafat yang berbeda. Namun, diantara mereka ada kesepakatan tentang prinsip dasar filsafat esensialisme yang berkaitan dengan pendidikan.

Tujuan PendidikanTujuan pendidikan adalah untuk dapat meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah dengan pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang cukup lama, serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dan dikenal oleh semua orang. Pengetahuan tersebut bersama dengan skill, sikap, dan nilai-nilai yang memadai akan mewujudkan elemen-elemen pendidikan yang esensial. Tugas siswa adalah untuk menjadikan milik pribadi elemen-elemen tersebut 

Selain merupakan warisan budaya, tujuan pendidikan dari sebuah esensialisme adalah mempersiapkan manusia untuk hidup. Namun, hidup tersebut sangat kompleks dan luas, sehingga kebutuhan-kebutuhan untuk hidup tersebut berada di luar wewenang sekolah. Hal ini tidak berarti bahwa sekolah tidak dapat memberikan kontribusi untuk mempersiapkan hidup tersebut. Kontribusi sekolah terutama bagaimana merancang sasaran mata pelajaran sedemikian rupa, terutama tujuan pelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan, yang pada akhirnya memadai untuk mempersiapkan manusia hidup.

KurikulumKurikulum dipusatkan pada penguasaan materi pelajaran (subject-centered), dan karenanya focus pendidikan selama masa sekolah dasar adalah keterampilan membaca, menulis, dan berhitung; sementara sekolah menengah hal tersebut diperluas dengan memasukkan pelajaran matematika, sains, humaniora, bahasa dan sastra. Penguasaan terhadap materi kurikulum ini dianggap sebagai fondasi yang esensial bagi keutuhan pendidikan secara umum untuk memenuhi kebutuhan hidup. Asumsinya adalah bahwa dengan pendidikan yang ketat terhadap disiplin ilmu ini akan dapat membantu mengembangkan intelek siswa dan pada saat yang sama akan menjadikannya sadar terhadap lingkungan dunia fisiknya. Menguasai dasar konsep dan fakta dari disiplin ilmu yang esensial merupakan suatu keharusan.

Peranan Sekolah dan Guru

Peranan sekolah adalah memelihara dan menyampaikan warisan budaya dan sejarah pada generasi pelajar dewasa ini, melalui hikmat dan pengalaman yang terakumulasi dari displin tradisional. Di sekolah tiap siswa belajar pengetahuan, skill, dan sikap, serta nilai yang diperlukan untuk menjadi manusia sebagai anggota masyarakat.

Belajar efektif di sekolah adalah proses belajar yang keras dalam penanaman fakta-fakta dengan penggunaan waktu secara relatif singkat, tidak ada tempat bagi pelajaran pilihan. Kurikulum dan lingkungan kelas di susun oleh guru. Waktu, tenaga, dan dana semuanya ditujukan untuk belajar yang esensial.

Selanjutnya mengenai peranan guru banyak persamaannya dengan perenealisme. Dalah hal ini guru dianggap sebagai seseorang yang dapat menguasai sebuah lapangan subjek khusus, dan merupakan model contoh yang sangat baik untuk ditiru dan digugu. Guru merupakan orang yang menguasai pengetahuan, dan kelas berada di bawah pengaruh dan pengawasan guru.

Prinsip-Prinsip PendidikanPrinsip-prinsip pendidikan esensialisme dapat kita kemukakan sebagai berikut:
  1. Pendidikan harus dilakukan melalui usaha keras, tidak begitu saja timbul dari dalam diri siswa.
  2. Inisiatif dalam sebuah pendidikan ditekankan kepada guru, bukan kepada siswa. Peranan guru merupakan untuk menjembatani antara dunia orang dewasa dengan dunia anak. Guru disiapkan secara khusus untuk melaksanakan tugas di atas, sehingga guru lebih berhak untuk membimbing pertumbuhan siswa-siswanya.
  3. Inti dari sebuah proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan. Kurikulum diorganisasi dan direncanakan dengan pasti oleh orang dewasa. Pandangan ini sesuai dengan filsafat realism bahwa secara luas lingkungan material dan social adalah manusia yang menetukan bagaimana seharusnya ia hidup. Esensialisme mengakui bahwa pendidikan akan mendorong individu merealisasikan potensialitasnya. Namun, realisasinya harus berlangsung dalam dunia yang bebas dari perorangan. Oleh karena itu, sekolah yang baik adalah sekolah yang berpusat kepada masyarakat “society centered school” sebab kebutuhan dan minat social diutamakan. Minat individu dihargai, namun diarahkan agar siswa tidak menjadi orang yang mementingkan dirinya sendiri.
  4. Sekolah harus mempertahankan metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental. Esensialisme mengakui bahwa metode pemecahan masalah (problem solving) ada faedahnya, namun bukan suatu prosedur untuk dilaksanakan bagi seluruh proses belajar. Pendapat tersebut didasari oleh pandangan bahwa kebanyakan pengetahuan adalah abstrak dan tidak dapat dipecahkan ked dalam masalah-masalah yang konkrit.
  5. Tujuan akhir pendidikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umum merupakan tuntutan demokrasi yang nyata.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita bandingkan antara esensialisme dengan perenealisme dengan persamaan sebagai berikut:
  • Keduanya memiliki tujuan umum dan tujuan akhir pendidikan.
  • Kurikulum ditentukan oleh orang dewasa.
  • Mengakui adanya suatu keharusan disiplin yang keras dari orang dewasa dalam membawa anak didik untuk mencapai tujuan akhir.
Selain persamaan-persamaan di atas, terdapat juga perbedaan, yaitu:
  • Esensialisme kurang sekali dalam menunjukkan sebuah pendidikan intelektual, sedangkan perenealisme memandang bahwa sebuah pendidikan intelektual merupakan sebuah inti dari proses pendidikan.
  • Esensealisme banyak menyerap sumbangan positif dari pragmatisme yang menghasilkan metode-metode pendidikan, sedangkan perenealisme menolaknya.
  • Perenealisme mencari hasil karya yang besar dari masa lampau, sedangkan esensialisme menggunakan karya besar tersebut sebagai sumber pengetahuan yang berhubungan dengan masalah-masalah dewasa ini.
Power mengemukakan beberapa implikasi filsafat pendidikan esensialisme:
1)    Tujuan pendidikan
Transmisi kebudayaan untuk menentukan solidaritas social dan kesejahteraan umum.
2)    Kurikulum
Di pendidikan dasar berupa membaca, menulis, dan berhitung. Keterampilan berkomunikasi adalah esensial untuk mencapai prestasi skolastik dan hidup social yang layak. Kurikulum sekolah berisikan apa yang harus diajarkan.
3)    Kedudukan siswa
Sekolah bertanggung jawab atas pemberian pengajaran yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa. Siswa pergi ke sekolah untuk belajar, bukan untuk mengatur pelajaran.
4)    Metode
Metode tradisional, menekankan pada inisiatif guru.
5)    Peranan guru
Guru harus terdidik. Secara moral guru adalah orang yang dapat dipercaya, dan secara teknis harus memiliki kemahiran dalam mengarahkan proses belajar.

Sumber Rujukan:
Anwar, Muhammad. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group, 2015.
Assegaf, Abd Rachman. Filsafat Pemikiran Pendidikan Islam Hadharah Keilmuan Tokoh Klasik Sampai Modern. Jakarta: Rajawali Pers, 2013.
--------------------------. Filsafat Pendidikan Islam Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonektif. Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
Gandhi HW, Teguh Wangsa. Filsafat Pendidikan Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2013.
Jalaluddin. Abdullah idi. Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
Muhmidayeli. Filsafat Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama, 2013.
Sadulloh, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2015.

0 Response to "Filsafat Pendidikan Esensialisme"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel