Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Punya Gelar Sarjana Kok Jadi Ibu Rumah Tangga? Renungan Untuk Wanita - duniamanajemen.com Punya Gelar Sarjana Kok Jadi Ibu Rumah Tangga? Renungan Untuk Wanita - DUNIA MANAJEMEN

Punya Gelar Sarjana Kok Jadi Ibu Rumah Tangga? Renungan Untuk Wanita

Hidup itu memang tentang beberapa pilihan. Setiap perempuan berhak memilih dan mengambil pilihannya sendiri dalam kehidupannya. Meski terkadang membuat pilihan itu bukan perkara yang mudah, justru hidup akan lebih bermakna karenanya.

Dilansir dari fimela.com dimana seseorang menceritakan kisah hidupnya yang kebetulan mempunyai gelar sarjana.

Hidup itu memang selalu berkaitan dengan pilihan dan juga tantangan. Setiap pilihan dan tantangan mempunyai risikonya sendiri. Begitupun dengan diriku. Sejak awal aku memang sudah tau, bahwa memilih untuk menjadi ibu rumah tangga memang lah bukan pekerjaan yang mudah. Selain itu, menjadi ibu rumah tangga merupakan suatu pilihan yang bisa dibilang tidak populer untuk dikalangan perempuan pada saat ini. Teruntuk perempuan yang punya gelar sarjana. Banyak yang mengatakan sayang, sudah belajar bertahun-tahun, tapi ijazah sarjananya hanya disimpan di lemari.


ibu rumah tangga

Diriku merupakan seorang dengan bergelar sarjana ekonomi, aku pun mempunyai IPK yang sangat memuaskan. Bahkan aku pernah menjadi mahasiswa teladan. Setelah lulus, aku mulai bekerja di perusahaan swasta dan aku pun mulai meniti karir. Pada akhirnya aku memutuskan untuk menikah saat usiaku menginjak 30 tahun. Setelah menikah aku tetap bekerja di perusahaan tersebut.

Hingga 8 bulan setelah itu, aku positif hamil. Pada kehamilanku, aku mengalami morning sickness yang cukup parah sehingga harus keluar dari pekerjaan demi anak yang ada dalam kandunganku. Banyak sekali teman-teman yang menyayangkan keputusanyang aku buat untuk berhenti bekerja. Menurutnya, aku mempunyai prestasi yang sangat baik dan sangat berpeluang besar untuk punya jabatan tinggi. Tapi aku lebih memiliki keputusanku itu. Syukurlah, dengan istirahat yang panjang dan perawatan dari dokter, anakku lahir dalam kondisi yang sehat.

Masa transisi dari dua dunia yang berbeda sempat membuatku stres. Aku tertekan dan mudah sekali tersinggung. Tapi aku sangat beruntung karena suamiku sangat mengerti kondisiku. Dukungan dan pujiannya membuat hal-hal negatif yang ada dalam hati secara perlahan menguap. Aku menikmati kehidupan baruku sebagai ibu rumah tangga.

Menjadi seorang ibu bukan sebuah perkara yang mudah. Ternyata lebih sulit dari berkarir di kantor. Pekerjaan ini tidak mengenal jam kerja dan membutuhkan berbagai keahlian, pengetahuan dan keterampilan dalam hal mengatur. Harus berperan sebagai dokter, direktur, manajer, bendahara, koki, asisten rumah tangga, guru dan masih banyak lagi. Juga harus tegar dan mempunyai stok sabar yang tidak terbatas agar bisa menghadapi suami dan anak yang semua minta "dilayani". Sungguh hebat, bukan?

Setalah aku menjalani peras sebagai ibu rumah tangga, aku sangat bersyukur dan bahagia. Aku merasa beruntung sudah menikah dan dipercayai Tuhan untuk membesarkan dua putri yang cantik. Aku lebih punya banyak waktu untuk bermain dan kapan saja bisa bersama dengan anak-anakku. Bisa tidur siang bersama. Melihat anak-anakku berkembang yang hanya sekali seumur hidup dan tidak bisa terulang lagi. Bisa menyajikan makanan sehat untuk keluarga kecilku. Dan yang paling penting adalahaku dicintai oleh suamiku dan juga disayang sama anak-anakku. Itu sudah cukup bagiku. Karena itulah aku menjalani peranku sebagai ibu rumah tangga yang ikhlas.

Aku tidak setuju jika orang-orang beranggapan bahwa hidup seorang perempuan akan sia-sia karena tidak bekerja padahal punya gelar sarjana. aku sudah membuktikannya sendiri bahwa HIDUPKU LUAR BIASA INDAH dengan gelar seorang IBU RUMAH TANGGA.

Perlu diingat untuk teman-teman semua. Bahwa wanita tidak harus bekerja, akan tetapi dituntut untuk bisa menjadi madrasah terbaik untuk generasi penerusnya kelak. Maka dari itu, pendidikan tinggi bukanlah hanya untuk mencari pekerjaan atau berkarir tapi untuk mendidik anak.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel