Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Cerpen Lensa (Hitam Putih) - duniamanajemen.com Cerpen Lensa (Hitam Putih) - DUNIA MANAJEMEN

Cerpen Lensa (Hitam Putih)

lensa cerpen

Lensa (Hitam Putih)
Oleh: Uswatun Hasanah

Tuhan, kau ciptakann tirai-tirai cinta dalam qalbu insanMu. Tirai itu kian melebar Tuhan, aku tak bisa menutupnya untuk saat ini, izinkan aku merasakan tiap sinar yang menebus ke dalamnya Tuhan. Tuhan tahukah Kau??? Kau kirimkan pangeran itu untuk membuka tirai yang kian lama tertutup karena kelut-kelut hitam yang pernah hadir di dalamnya. Biarkan ku menari dalam keindahan malam ini Tuhan. Biarkan aku terbang bersama sayap yang telah dia ciptakan di lubuk jiwa ini. Ohhh,tuhan serasa mati nadiku merasakan itu semua. Hatiku berdegup kencang bagai rel kereta yang berlari begitu patasnya. Tuhan, tolong aku, jangan biarkan rasa ini mematikan pikiranku untuk mengenalnya lebih dalam.

Malam itu sekitar jam 20.00 WIB tepat di hari valentine. Tapi, maaf sobat aku tidak merayakan hari itu karena aku masih menghormati agama tercintaku. Agama yang dibawa oleh Sang Pelopor dunia dengan berbagai keajaiban yang Ia  hadirkan yakni Nabi Muhammad SAW. Smartphone ku berdering begitu kerasnya, aku kira ada apa dan dari siapa. Ternyata dari dia, iyaa dia yang telah membuka rantai rantai tajam dalam jiwaku. Setelah satu minggu kita dekat dan mengenal satu sama lain, akhirnya malam ini dia menyatakan cintanya. Tuhan, serasa aku terlahir kembali. Denyut nadi yang semula padam,kini hidup kembali untuk terus bergerilya mengintip diaryku. Oh nadi... serasa aku ingin berteriak layaknya aku menangis dulu di waktu pertama aku dilahirkan.

Perasaan bahwa aku tak layak dicintai, kini aku buang jauh dari hidupku. Ku hempaskan dalam tanah sedalam lautan atlantis.
“ kamu ingat tidak kapan kita jadian” isi pesannya.

Aku bingung seketika ditanya seperti itu ,padahal sebelumnya aku dan dia  hanya dekat dan dia tak menyatakan bahwa ingin memulai suatu hubungan denganku.
“maaf aku ak tahu, aku lupa” balasku dalam pesan
“jadi,kamu lupa hari jadian kita  “ ungkapnya begitu dalam pesan. Tuhan, aku benar benar tak tahu aku harus bagaimana, aku hanya berharap bahwa dia mengerti aku.

“maaf, tapi kan sebelumnya kamu belum bilang kalau ingin membangun hubungan denganku. Kamu hanya bilang kalau kamu suka aku”
“ciyeee,yang khawatir. Iyaa sayang, maaf yaaa. Yasudah mulai saat ini kita resmi jadian yaa” DEG..... hatiku berdegup kencang, darah ditubuhku bedesir begitu deraasnya. Serasa aku ada di atas awan. Serasa aku seorang putri yang kian dipinang oleh pangeran dari kerajaan sebelah. Tuhan, serasa aku merpati muda yang tengah memadu cinta di atas tangkai pohon kasih sayang. Sebagai seorang perempuan yang usiaku masih 19 tahun, mendengar kata cinta dari seorang lelaki, serasa darah mudaku kian memanas. Hatiku tak karuan,jiwaku melayang, batinku riang menari-nari di atas kahyang.

Oh iya sobat, dari saking senengnya, aku lupa memperkenalkan diri. I’m so sorry sobat,hehehe. Namaku Adonia Najma Orlin yang artinya perempuan cantik bak bintang yang berkilau, dan aku lebi akrab disapa Najma, karena nama itu lah aku sangat suka pada bintang. Bahkan aku memaknai bintang begitu dalam.

Teriamaksih kau yang telah menerangi jiwaku, membuka mataku untuk mengenal cinta begitu jauh. Dia, orang yang kini membuka hatiku, dia dikenal dengan nama Fathian Akbar yang akrab disapa Thian. 

Tuhan, ada apa ini. Benarkah Kau ciptakan dia untukku Tuhan???
Sebelum tanggal 14 februari, Thian sempat mengajakku untuk jalan berdua. Awalnya aku tak mau, karena aku ragu. Karena baru kali ini aku mengenal Thian begitu dekat. Walaupun dulu dia teman SMA ku namun hubungan kami sangat jauh dari kata akrab. Jangankan saling tegur sapa, bicara satu katapun aku tak pernah terlibat. Berkali kali Thian mengajakku, namun aku tetap dengan keputusanku bahwa aku tak mau.

Dan pada akhirnya, 15 Februari 2016 keesokan harinya setelah Thian menyatakan cintanya. Dia mengajakku untuk jalan lagi. Dengan senang hati aku menerima ajakan dia. Dia mengajakku ke sebuah taman, taman yang pertama kali aku kunjungi itupun bersama seorang Thian. Saat aku menjejakkan kakiku di taman itu, di sanalah aku penuh harapan. Pohon nyiur yang berjejeran di taman itu, menjadi saksi harapanku. Sinar matahri pun tak  mau kalah bersaing, sinarnya begitu panas menebus setiap pori-pori dalam tubuhku, memerangi sinar yang kian terang di hatiku mengalah sinarnya yang begitu terang terpapar tanpa naungan. Angin bersemilir dalam telingaku, mengaduk setiap isi jantungku yang kian tak menentu. Kicau burung hiasi hariku bersamanya. Tapak tapak kaki menjadi saksi akan sejuta cintaku padanya yang kian waktu melebur bak air mendidih bahkan lebih dari air. Ingin sekali aku menupahkan semuanya, namun jiwa ini menahannya. Karena tak pantas untuk ku berbuat semacam itu, sebagai seorang muslim, wanita itu terhormat. Matanya melirik mataku begitu dalam, seakan mejelajah lebih jauh tentang lautan yang terbentang di dalamnya dengan dihiasi oleh para sampan cantik tuk menyambut meriahnya petik laut dalam panirama yang kian sembu. Ohh Tuhan, jagalah rasa hormatku padaMu, jangan matikan nadiku karena rasa yang baru ini Tuhan.

Di taman kota itulah yang letaknya di sersan mesrul. Aku mengukir berlembar lembar harapan akan diary cuinta yang tengah Rabbku rahasiakan. Ku ukir sajak-sajak tak bertopeng untuk memulai sebuah rasa yang tulus karenaNya. Di depan Thian lah aku berikrar dalam qalbu, bahwa aku tak akan mengkhianati kesucian yang kini tlah ku genggam bersamanya.

Thian, ia dia adalah seorang photographer dan Mahasiswa di sebuah salah satu universitas di Malang. Di sebuah gubuk berwarna coklat, dengan anak tangga yang hanya tiga tangkai, aku bercengkrama dengannya. Aku ingin sekali menatap kerling suci dalam matanya lalu menembus jiwa yang tak iya ketahui. Namun, aku malu untuk melakukan hal itu, tak pantas untukku melakukan hal itu.
Thian, di gubuk cinta lah pertama kali dia mengambil gambarku. Namun, aku malu untuk berpose laykanya model, karena aku bukan model melainkan aku hanya ingin berpose untuk menjadi model dalam do’anya.

Thian tak henti hentinya mengambil gambarku. Sudah thian cukup, aku malu thian aku bukan model.
“ayoo najma, please 1 kali saja yaa. Senyum yang cantik...”
“halllaaaa thian, NO! I’m shy thian” dengan gaya ku yang tersipu malu. Namun tetap saja thian mengambilnya.

“halla thian... stop yaaa please.. aku malu diliatin orang orang. Aku malu thian”
“hemmm. Yasudahlah” ucapnya menrik nafas panjang.
Thian maafkan aku, aku harap kau tak kecewa denganku thian,lirihku dalam hati
Thian, kau sungguh membuatku menggila dengan sejuat rasa yang telah kau terbangkan di detiap malamku. Thian, tolong jangan buat aku semakin menggila dengan ini semua.
Malam demi malam, hari demi hari....

Sampai pada suatu hari, thian akan berangkat ke Malang. Thian, tahuklah kau waktu itu? Hatiku terkoyak. Aku ingin mengikatmu di sini, menahanmu agar kau tak pergi. Aku takut thian. Aku takut kamu menemukan orang lain di sana thian. Thian, pada saat itu hanya oasrah pada Sang Ilahi. Aku ingin menghujani tanah ini thian. Bunga-bunga itu baru bermekaran thian, kenapa kau akan tinggalkan di sini? Di kota yang orang orang sebut kota pendidkikan di Madura.

“yaa Allah yaa rahman yaa rahim. Engkaulah yang Maha Menentukan. Engkaulah yang tahu apa yang hamba butuhkan bukan apa yang hamba inginkan. Jika pertemuan hamba dengan thian adalah kehendakMu dan  hubungan ini adalah garis takdirMu, maka persatukanlah kami dalam kesucian. Dan jika Engkau tak merestui pisahkanlah kami dengan caraMu yaa Rabb tanpa kebencian dan keikhlasan”
Thian, tahukah kau? Setiap malam bait bait itu yang ada dalam do’aku.
Selamat jalan thian, sukses di sana...

Saat thian telah tiba, dia menunjukkan salah satu photo nya di sebuah tempat wisata di batu Museum Angkut, di sana dia duduk dengan tampannya di sebuah kursi opanjang dan di sekelilingnya dihiasi oleh bunga sakura, yang baru aku tahu bahwa itu adalah zona Jepang. Thian bawa aku ke situ,
“sayang, bagus banget suasananya Jepang. Aku ingin..” ucapku berkaca kaca dalam sebuah balcak berry messenger

“iya sayang, suatu saat nanti aku akan abwa kamu ke sini. Da kita akan photo pra-wedding di sini” kata kata iyu mengantarkanku pada lembar harapan yang kian jauh ku buka.
Beberapa  lama kemudian....

Thian, kini aku tengah bercengkrama ria bersama para ukhti cantik di kelas. Kamu lagi apa thian sayang??? bisikku pada hati kecilku.

Malamku pun kian dilanda kerinduan, tidak hanya itu bahkan kebimbangan kian menari dalam jiwaku. Di hari hari yang kian hampir satu bula awal minggu ke empat dari hubungan kita, thian jarang menghubungiku. Thian kamu kemana? Aku merindukannmu. Pikiranku kian kalut akan gambaran buruk yang kian gelap dalam ingatanku. Thian, jangan buat aku sakit karena rindu yang tak tertuntaskan. Ku coba membuka lembar demi lembar sebuah buku motivasi, namun pikiranku hanya tertuju pada Thian. Ku coba lagi tuk memutar lagu-lagu dalam smartphoneku, namun serasa lagu itu terdengar asing dalam pikiranku kalaupun hampir setiap hati telingaku mendengarnya. Aku kian bimbang, perasaan takut itu semakin menguasai pikiranku. Namun, pada waktu itu, aku membuka kembali gambar hasil capture ku. Dan di siru aku menemukan sebuah statusku yang dimana menggambarkan aku adalah wanita kuat. Dari motivasi diri ku sendirilah aku bangkit dan aku malu akan sikapku sendiri yang dengan mudahnya memotivasi orang lain namun tak kuasa tuk memotivasi diri sendiri. Saat itu lah aku pasrahkan semuanya pada Rabbku dan aku juga teringat kata kata kakakku yang telah lama aku kenal dan membimbingku menjadi perempuan yang tegar sebut saja namanya kak Syaf “ jika kamu baik bagi ku, maka ALLAH akan menjadikan aku milikmu. Biarlah ALLAh yang mengumpulkan yang berserak” begitulah sebuah kata bijak yang pernah dia kirim padaku. Aku membiasakan diri terbiasa hidup tanpa Thian. Aku tak tahu, aku berusaha untuk menetralkan persaanku. Dan entah ada pereasaan yang aneh dalam batinku. Aku tak mengerti mengapa. Batinku mulai berperang memutuskan untuk Maju atau Mundur. Aku terjebak dalam dua pilihan. Dan aku terjebak dalam pergulatan batin. Tuhan, kini lembar harapan itu satu persatu pupus bersama angin yang tak bermelodi Tuhan.

Dan, ini lah malam yang tak pernah aku harapkan hadir dalam hidupku. Malam itu sekitar jam 20.00 WIB, 11 Maret 2016. Dia menyatakan sebuah perasaan yang tak pernah aku inginkan untuk dia untaikan walaupun itu lewat sebingkai bait. Namun, aku tak mau mendengarnya. Terlalu sakit ketika akan mendengar rangkaian kalimat yang aku sebut dengan melodi dendang. Namun, pada akhirnya dia melantunkannya pada malam itu.
“kita putus yaa” ucapnya

“hah? Yasudah terserah kamu”jawabku
“beneran kita putus?” seolah dia membuatku bimbang
“kalau mau mu itu”
“aku bercanda lohh” ucapnya kembali. Namun, tetes pertama tlah terlanjur jatuh menghiasi pipiku.
“jangan bercanda, sakit tahu digitukan kalaupun itu hanya bercanda”
“aku ngak bercanda aku beneran ingin putus” ucapnya bak petir yang dengan sekilas menyambarku yang tanpa payung.

Perasaanku berkecamuk, berontak hebat dalam hatiku. Namun, disisi lain batinku tak lagi bergulat tak lagi bertarung hebat. Yaa Rabb perasaan ini?? Sebenarnya ada apa???
Sekian hari aku memikirkan semua jawaban dari semua peristiwa. Dan pada suatu hari yang begitu tenang, ku menghirup lagi udara segar tanpa seorang Thian. Di hari itu lah, aku menemukan semua jawaban. Aku sadar bahwa Allah t’lah menjawab do’aku. Yaa Allah...

Yaa Rabb terimakasih atas kado indah yang kau hadirkan dalam  diary ku. Kini aku bisa belajar, dari cerita ini lah aku memulai untuk menulis...
Kini, ku hirup lagi udara sedalam dalamnya. Ku bebas terbang menelaah lautan pena sejauh dan sedalam yang aku ingin.

Kini ku melayang bebas arungi tiap samudra yang mengantarkan ku pada sajak dan tarian kata yang indah berlenggak lenggok dalam imajinasiku. Tuhan, kini ku temukan lensa itu. Dan karena lensa itulah, ku mulai membuka lembar dalam diary ku yang baru. Ku tinggalkan diary usangku yang sempat membuatku menitikkan air mata dalam maya yang tak ku harapkan.

Aku adalah Najma yang akan tersenyum sepanjang waktu, meski duka mendatang dalam tiap menit. Namun, aku Najma yang tak akan melihat semua dari lensa hitam. Lensa hitam memang selalu ada. Namun, ketahuilah dibalik lensa itu, masih tersirat banyak keindahan yang akan lensa putih hadirkan. Karena semua adalah skenario yang tak dapat kita duga.

Thian, semoga kau bahagia di sana. Cintailah dia penggantiku karena Allah dan ketulusan. Aku ikhlas dalam melepasmu karena Rabbku. 
Salam manis dari ku Adonia Najma Orlin semoga kau bahagia bersamanya. Terbanglah! Bawalah dia mengarungi samudra indah dalam jiwamu lewat mimpi mimpi yang kau isyaratkan bersama para melodi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel