Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Cerpen Malaikat Bergelang Tasbih - duniamanajemen.com Cerpen Malaikat Bergelang Tasbih - DUNIA MANAJEMEN

Cerpen Malaikat Bergelang Tasbih

cerpen malaikat bergelang tasbih


Malaikat Bergelang Tasbih
Oleh : Uswatun Hasanah
 
Pertemuan itu...
Ku hentikan langkahku di suatu trotoar jalan. Hari yang panas menurutku, ku hempaskan kepala di sebuah tiang besar yang ada di dekat jalan. Hemmm ku hembuskan nafas sejenak, yaa sangat lelah. Ku rasakan seperti ada yang mengawasiku. Ahh sudahlah mungkin hanya perasaanku saja. Tetapi ku lihat seorang perempuan berbaju lebar dan kerudung panjang yang warnanya selaras dari atas sampai bawah sedang memegang sebuah buku bercover warna pink di depan supermarket tengah menghadap ke arahku. Apakah dia yang memperhatikanku? Ahh, tidak tidak terlalu GR diriku.
Panas matahari benar-benar membakar tubuhku. Tuhan mengapa hidupku seperti ini? Tukasku dalam hati menceloteh sendiri di tengah ramainya kendaraan yang berlalu lalang saling bersebrangan satu sama lain. Tuhan bawalah aku ke tempat yang tenang, tukasku kembali. Ahh aku begitu banyak mengeluh pada Tuhan. Maaf yaa Tuhan..

Ku teruskan langkahku, ku temukan sebuah masjid besar di seberang jalan. Ku putuskan behenti di sana untuk sholat dzuhur sekalian istirahat. Saat memasuki halaman masjid dan hendak memasukinya, ku hentikan langkah karena sebuah suara yang membuat hatiku marah.

“ Mbak, mau sholat yaa? “ tanya seorang laki-laki yang sedang duduk di teras masjid tersebut. Tanpa merasa bersalah dia lontarkan pertanyaan itu, tanpa memikirkan betapa tersinggungnya hatiku karena pertanyaannya yang pelan namun nyelkit di hati. Aku hanya menatap laki-laki itu, dia semakin nyengir kurang ajar. Ahh sial kenapa aku harus berhenti. Sudahlah, ku biarkan saja dia.  Kemudian ku teruskan langkahku untuk memasuki masjid dan menuju tempat wudhu perempuan. Lagi-lagi sial, aku harus mengantri dan menunggu antrian panjang. Ku lihat jam di lenganku waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. Hemm kembali ku tarik nafas dalam-dalam, orang-orang yang ada di kamar mandi satu persatu melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada apa dengan diriku? Apa karena aku tak pakai kerudung seperti mereka? Memang orang yang tak berkerudung tak boleh sholat? Yaa seperti itulah pertanyaan yang muncul dalam benakku.

Saat ku kembali dari tempat wudhu, ku buka tasku hendak mengambil mukenah. Dan taraa... aku tak membawanya lagi. Ku lihat di lemari mukenah berharap ada satu di sana. Dan zonk kembali ku dapatkan. Ku lihat kanan kiriku tak ada yang  bisa ku pinjam. Jangankan meminjam, melihat wajah mereka saja terlalu sinis melihatku. Ku tatap jam tanganku menunjukkan jam 13.50 dan aku belum sholat. Lantas bagaimana aku sholat sedangkan aku memakai celana selutut dan baju seperempat lengan tanpa kerudung pula. Ku hempaskan tubuhku pada dinding belakang masjid. Aku lelah Tuhan.. celutukku dalam hati. Ku tertunduk lemas di sana. Tiba-tiba, seseorang menyodorkan mukenah di hadapanku. Saat ku lihat wajahnya, dia tersenyum begitu manis dan tak seperti yang lainnya. Ku balas senyumnya dan segera ku laksanakan sholatku.

Saat ku hendak mengembalikan mukenah itu, aku baru sadar. Bukankah dia perempuan yang di supermarket tadi? Iyaa dia perempuan itu.
“Mbak, terimakasih mukenahnya” aku tertunduk malu untuk menatap wajahnya. Begitu bercahaya dan sangat teduh. Dia begitu tertutup dan begitu menjaga dirinya dari pandangan sinis orang lain. Aku betul-betul malu, hingga ku tak mampu untuk menatap matanya begitu dalam. Saat ku bangun dari dudukku, dia menarik tanganku.
“Duduklah di sini sebentar, temani saya” ucapnya dengan suara yang sangat santun halus dan lembut. “Oh iya saya Azmya” lanjutnya
“Saya Azka” kataku lirih berusaha mengikuti lembut suaranya.
“Azka, kenapa nunduk?” tanya nya padaku, mungkin dari tadi dia mendapatiku selalu menundukkan kepala.
Aku hanya tersenyum untuk membalas pertanyaannya kemudian berkata begitu lirihnya agar tak didengar oleh orang lain “Saya malu”.
“Malu kenapa Azka?” tanya nya kembali.

Aku hanya terdiam mendengar pertanyaanya yang terakhir dan semakin dalam ku tundukkan kepalaku. Aku tak  bisa berkata apa apa lagi, aku ingin memangis bahkan mataku sudah berkaca-kaca dan astaga air mataku sempat terjatuh membasahi sajadah yang aku duduki. Azmya menyadari itu kemudian dia lontarkan pertanyaan yang semakin membuatku larut dalam tangisanku “Azka kenapa menangis?”. Aku ingin bercerita padanya tetapi mulutku terbungkam. Sepatah katapun tak mampu untuk aku lontarkan. Kemudian dia memelukku begitu dalam mungkin dia paham mengapa aku menangis tanpa aku jelaskan. Dan dia pun membisikkan sesuatu kepadaku “ Azka, menagislah jika kamu mau. Menangis di sini di bahuku. Tuangkan semua air matamu di sini”. Kemudian dia memasangkan mukenahnya padaku. Dan dia tersenyum sambil menghapus air mataku dengan tangannya.

“Saya ingin berubah, saya malu” ucapku mengangkat kepalaku pelan.
“Azka, sesungguhnya wanita itu diciptakan begitu indah. Sehingga laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita. Namun, dibalik keindahan itu Allah menyuruh kita untuk menjaganya, menyimpannya dan bahkan menghijabinya. Kau tahu Azka? Wanita itu seperti mutiara sangat mahal nilainya dan bahkan lebih mahal dari permata. Islam sangat sayang pada ummatnya. Allah dan Nabinya sangat sayang kepada kita Azka, hingga di dalam al-Qur’an Dia atur kami para muslimah untuk berpakai untuk menjaga kemuliaan kita. Di dalam Q.S Al-Ahzab: 59 Allah memerintahkan Nabi untuk memberitahukan kepada istrinya anak perempuannya dan kaum muslimin untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuhnya karena itu akan menjaganya dari keburukan, di surat yang lain Q.S an-Nur: 31 al ayat bahwa Allah memerintahkan muslimah untuk mengulurkan khimar (kerudung)nya hingga batas dada dan yang boleh terlihat darinya hanya ini dan ini. Di dalam sebuah hadist shohih Nabi mengatakan bahwa yang boleh tampak dari aurat wanita adalah muka dan telapak tangannya. Islam sangatlah mulia Azka, pantas jika tadi saat kamu hendak memasuki masjid seorang laki-laki menanyakanmu apakah kamu mau sholat, cobalah lihat pakaianmu. Apakah mencerminkan seorang muslim?”. Aku semakin menangis, Allah kau telah tunjukkan jalanMu lewat dia.
“Mengapa kamu begitu dekat memelukku seolah aku saudaramu padahal kita baru bertemu?”tanyaku padanya.
“Allah yang menggerakkan hatiku untuk mendekatimu Azka” jawabnya kembali dengan senyuman yang sangat lembut. “Azka mukenah ini untukmu, untuk kau pakai saat kau keluar dari masjid ini agar mereka tak lagi memandangmu sinis dan laki-laki di luar sana tidak melihat liar tubuhmu. Dan pakailah kaos kaki ini Azka.” Dia menyodorkan sebuah kaos kaki berwarna sepadan dengan warna kulitku yang sawo matang. Aku pun memeluknya erat dan kuutarakan terimakasihku di dekat telinganya. Ku rasakan punggungku basah karena air matanya.

“Azmya kau menangis?” tanyaku
“Azka kau begitu cantik saat kau menutup auratmu. Istiqomah yaa ukhti. Aku mencintaimu karena Allah. Karena Allah yang menggerakkan hatiku untuk mengenalmu.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Aku bahagia yaa Allah dan aku tak tahu harus aku ekspresikan dengan apa rasa bahagiaku. Semua terjadi atas kehendakMu, dan Kau adalah sutradara terhebat dalam hidupku yaa Rabb. Kau buka mata hatiku memalui seorang Azmya yang baru pertama ku kenal. Tetapi, aku merasakan dia seperti sosok saudara dalam hatiku.
Yaa Rabb, begitu besar hidayahMu. Baru beberapa jam yang lalu ku proteskan hidupku padaMu. Namun. Hanya beberapa menit Kau ketuk pintu hatiku untuk mengenalMu bahkan mengenal agamaku begitu dalam.

Aku pun pamit pulang pada Azmiya, karena ku rasa sudah terlalu lama berbicara dengannya hingga ku tak sadar waktu sudah menunjukkan jam 16.00. sebelum itu, Azmya mengajakku untuk sholat ashar denganya. Ku lihat betapa khusu’nya dia sholat seolah Allah menilai sholatnya dan hadir di hadapannya. Saat selesai sholat dia memelukku lagi, mengambil tangaku dan menaruh sebuah tasbih di atasnya.

“Azka, tasbih ini untukmu. Istiqomah yaa.. “
Aku hanya tersenyum dan pamit untuk pulang. Terimakasih yaa Rabb atas malaikat yang Kau kirimkan kepadaku. Dia begitu anggun Kau mengirimkan sahabat yang tepat untukku yaa Rabb.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel