Makalah Pengembangan Manajemen Mutu Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

Konsep mutu (kualitas) telah menjadi suatu kenyataan dan fenomena dalam seluruh aspek dan dinamika masyarakat global memasuki persaingan pasar bebas dewasa ini. Jika sebelumnya kualitas produk dan jasa hanya menjadi target dari dunia bisnis dan industry yang bergantung pada kepuasan pelanggan atau konsumen, maka kini dunia pendidikan mulai tertantang untuk menerapkan hal yang sama dalam menghasilkan kualitas lulusan yang mampu menjawab kebutuhan pasar kerja. Bahwa organisasi pendidikan formal (sekolah dasar  sampai perguruan tinggi) sebagai institusi yang bergerak di bidang pendidikan dan pengajaran kini mulai merasakan bahwa factor mutu menjadi sangat menentukan tingkat partisipasi dan kepercayaan masyarakat terhadap suatu lembaga pendidikan.
Peserta didik,  orang tua dan masyarakat adalah pelanggan yang bebas menentukan pilihan yang tepat terhadap institusi mana yang layak memberikan jaminan terhdap masa depan anak-anaknya. Artinya, kualitas layanan baik dalam bentuk sarana prasarana, birokrasi, kurikulum, kecakapan tenaga pengarjar, kompetensi pimpinan dan karyawan sekolah, budaya serta lingkungan sekolah yang mendukung, akan memungkinkan suatu lembaga pendidikan dipercaya dan menjadi pilihan masyarakat. Tulisan ini mencoba untuk menjawab hal ini, selain untuk memenuhi tuntutan akedemis.
 Dalam tulisan ini, penulis akan menguraikan bagaimana manajemen mutu diperlukan untuk perbaikan mutu pendidikan, khususnya dalam menciptakan pelayanan yang prima. 

B.    Rumusan Masalah

1.    Apa itu mutu pendidikan?
2.    Apa itu konsep peningkatan manajemen mutu pendidikan sekolah/madrasah?
3.    Apa saja tujuan peningkatan manajemen mutu pendidikan?
4.    Seperti apa rencana pengembangan sekolah/madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan?
5.    Seperti apa pemberdayaan guru dalam konteks manajemen peningkatan mutu sekolah/madrasah?

pengembangan mutu pendidikan

C.    Tujuan Pembahasan

1.    Untuk mengetahui apa itu mutu pendidikan
2.    Untuk mengetahui apa itu konsep peningkatan manajemen mutu pendidikan sekolah/madrasah
3.    Untuk mengetahui apa saja tujuan peningkatan manajemen mutu pendidikan
4.    Untuk mengetahui seperti apa rencana pengembangan sekolah/madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan
5.    Untuk mengetahui seperti apa pemberdayaan guru dalam konteks manajemen peningkatan mutu sekolah/madrasah


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Mutu Pendidikan

Dalam kontek pendidikan, pengertian mutu mengacu pada masukan, proses, luaran, dan dampaknya. Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, guru, laboran, staf tata usaha, dan siswa. Kedua, memenuhi atau tidaknya criteria masukan material berupa alat peraga, buku-buku kurikulum, prasarana, sarana sekolah, dan lain-lain. Ketiga, memenuhi atau tidaknya masukan yang berupa perangkat lunak, seperti peraturan, struktur organisasi, deskribsi kerja, dan sebagainya. Keempat, mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, misi, motivasi, ketekunan, dan cita-cita.

Mutu proses pembelajaran mengandung makna bahwa kemampuan sumber daya sekolah menstransformasikan multijenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Hal-hal yang termasuk dalam kerangka mutu proses pendidikan ini adalah derajat kesehatan, keamanan, kedisiplinan, keakraban, saling menghormati, kepuasan, dan lain-lain dari subjek selama memberikan dan menerima jasa layanan.

Hasil pendidikan dipandang bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu. Keunggulan akademik di nyatankan dengan nilai yang di capai oleh peserta didik. Keunggulan ekstrakurikuler dinyatakan dengan aneka jenis keterampilan yang diperoleh siswa selama mengikuti program ekstrakurikuler. Di luar kerangka itu, mutu luaran juga dapat dilihat dari nilai-nilai hidup yang dianut, moralitas, dorongan untuk maju, dan lain-lain yang diperoleh anak didik selama menjalani pendidikan.

Mutu sebuah sekolah dapat dilihat juga dari tertib administrasinya.sebab salah satu bentuk administrasi adalah adanya mekanisme kerja yang efektif dan efisien, baik secara vertical Maupun horizontal.

B.    Konsep Peningkatan Manajemen Mutu Pendidikan Sekolah/Madrasah

Manajemen peningkatan mutu madrasah atau sekolah merupakan paradigm baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat madrasah dalam kerangkakebijakan pendidikan nasional. Otonomi diberkan agar madrasah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap dengan kebutuhan setempat pelibatan masyarakat dimaksudkan agar mereka lebih memahami, membantu, dan mengontrol pengelolaan pendidikan.

Manajemen penngkatan mutu madrasah atau sekolah merupakan saah satu wujud dari reformasi pendidikan. Sistemnya ialah menawarkan sekolah atau madrasah untuk menyediakan pendidikan yang kebih baik dan memadai bagi peserta didik. Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi madrasah untuk menngkatkan kinerja guru, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok terkait, dan menignkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.

Manajemen peingkatan mutu madrasah merupakan suatu strategi untuk memperbaiki mutu pendidikan melalui pengalihan otoritas pengambilan keputusan dari pemerinth pusat ke daerah dan ke masing-masing madrasah/sekolah. Dengan demikian., kepala madrasah/sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua mempunyai control yang lebh besar terhadap proses pendidikan, dan mempunyai tanggung jawab untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan pembiayaan, personal, dan kurikulum sekolah.

Manajemen peningkatan mutu madrasah pada hakikatnya adalah suatu srtategi untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan jalan pemberian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada kepala sekoah/madrasah dengan melibatkan partisipasi ndividual, baik personel madrasah maupun anggota masyarakat. Oleh karena itu, dengan diterapkannya manajemen peningkatan mutu berbaisis madrasah akan membawa perubahan terhadap pola manajemen penidikan darisistem sentralisasi ke desentralisasi. Dalamsistem desentralisasi, fungsi-fungsi manajemen sekolah yang semula dikerjakan oleh pemerintah pusat/dinas pendidikan provinsi/ dinas pendidikan kota/ kabupaten, sehingga dari fungsi itu dapat dilakukan oleh sekolah atau madrasah secara professional.
Dampak perubahan pola manajemen terhadap sekolah sebagai berikut:
1.    Sekolah/madrasah bersifat otonomi dan berkedudukan sebagai unit utama (selama ini sekolah ditempatkan sbagai subordinasi birokrasi semata dan kedudukan sekolah bersifat marginal).
2.    Personel sekolah/madrasah dan anggota masyarakat dapatmeninggalkan perilaku rutnitas dengan menunjukkan perilaku mandiri, kreatif, proaktif sinergis, koordinatif, integrative, sinkronistis, kooperatif, luwea, dan professional.
3.    Peran sekolah/madrasah seama ini diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrasi) disesuaikan menjadi sekolah/madrasah yang bermotvasi-diri tinggi.

C.    Tujuan Peningkatan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan

Manajemen peningkatan mutu madrasah perlu diterapkan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan daya saing madrasah melalui pemberian kewenangan dalam mengelola madrasah sesuai dengan core value  yng dikembangkan oleh madrasah dan mendorong partisipasi warga madrasah dan masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikannya. Implementasi MPMBM ini secara khusus mempunyai tujuan sebagai berikut:
1.    Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibilitas, dan inisiatif, keterbukaan, kerja sama, akuntabilitas, sustainabilitas,  dan inisiatif madrasah dalam mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2.    Meningkatkan kepedulian warga madrasah dan masyarakat daam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
3.    Meningkatkan tanggung jawab madrasah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah untuk meningkatkan mutu madrasah.
4.    Meningkatkan kompetisi yang sehat antar-madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

D.    Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

a.    Forecasting (peramalan), perencanaan harus dapat meramalkan memperkirakan waktu yang akan datangtentang keadaan pasar, perkembangan situasi konsumen, kemajuan ilmu pengetahuandan teknologi, kebijakan pemerintah, dan lain sebagainya.
b.    Establising objective (penetapan tujuan) kepala madrasah/sekolah, rector, atau pimpinan lembaga pendidikan harus menentukan dengan tegas hasil akhir yang diinginkan.
c.    Programming (pemrograman), perencanaan dalam meningkatkan mutu pendidikan harusmenetapkanprosedur kegiatan-kegiatan dan pembiayaan yang diperlukan untuk setiap kegiatan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
d.    Scheduling (penjadwalan), pimpinan lembaga pendidikan sebagai manajer harus dapat menentukan waktu yang tepat daam merencanakan dan melaksanakan program-program pendidikanyang strategis.
e.    Budgeting (penganggaran), penyusunan anggaran belanja harus dilakukan oleh perencana dalam mengalokasikan sumber-sumber dana yang ada serta penetapan besarnya anggaran untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan.
f.    Developing procedure (pengembangan prosedur), untuk penghematan, efektivitas, dan kemudahan dalam pelaksanaan program-program kegiatan dalam meningkatkan mutu pendidikan di madrasah, diperlukan adanya standar operasional prosedur dalam menjalankan seluruh program kegiatan yang telah direncanakan sehingga membentuk suatu sistem yang mudah dijalankan dalam mencapai mutu pendidikan.
g.    Establishing and interpreting policies (penetapan dan penafsiran kebijakan), untuk menjamin keseragaman dan keselarasan tindakan dalam menguasai masalah-masalah dalam melaksanakan kebijakan perlu adanya kesamaan persepsi dan tindakan untuk melaksanakan kebijakan yang ada di madrasah.

E.    Pemberdayaan Guru Dalam Konteks Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah/Madrasah

Guru sebagai unjung tombak dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas memegang peranan yang sangat menentukan  keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Guru yang efektif akan mampu mengefktifkan proses pembelajaran dengan baik. Oleh sebab itu, kepala sekolah/madrasah harusmampu menggerakkan dan memberdayakan guru agar mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara professional. Guru yang professional akan memiliki komitmen yang tinggi dan disertai dengan kemampuan sesuai dengan bidang keahliannya. Oleh karena itu, profesionalitas adalah tuntutan yang harus dipenuhi oleh setiap guru. Guru yang professional dan efektif merupakan kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran dikelas.

F.    Hasil Pengamatan Tentang Mutu Pembelajaran Di Mtsn 2 Pamekasan

1.    Standard Lulusan
Standardnya itu pertama SKL Permendikbud, harus ada silabus dan RPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Siswa memiliki perilaku yang mencerminkan sikap beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, sesuai dengan perkembangan siswa yang diperoleh dari pengalaman pembelajaran melalui pembiasaan: (1) integrasi pengembangan sikap beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dalam kegiatan pembelajaran, (2) berdoa setiap memulai dan mengakhiri kegiatan, (3) santun dalam berbicara dan berperilaku, (4) berpakaian sopan sesuai aturan sekolah/madrasah, (5) mengucapkan salam saat masuk kelas, (6) melaksanakan kegiatan ibadah, (7) mensyukuri setiap nikmat yang diperoleh, (8) menumbuhkan sikap saling menolong/ berempati, (9) menghormati perbedaan, (10) antre saat bergantian memakai fasilitas sekolah/madrasah.Siswa memiliki perilaku yang mencerminkan sikap pembelajar sejati sepanjang hayat sesuai dengan perkembangan anak, yang diperoleh dari pengalaman pembelajaran dan pembiasaan melalui gerakan literasi sekolah/madrasah, meliputi: (1) perencanaan dan penilaian program literasi, (2) waktu yang cukup untuk kegiatan literasi, (3) membaca buku, (4) lomba terkait literasi, (5) memajang karya tulis, (6) Penghargaan berkala untuk siswa, (7) Pelatihan literasi.

2.    Standard Isi
Menurut Waka Kurikulum di MTsN 2 Pamekasan Bapak Eddy Soesanto, S.Pd, standard isi harus meliputi:
1.    Rumusan kompetensi sikap spiritual yaitu menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Kompetensi tersebut dapat dicapai melalui pembelajaran langsung dan tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah/madrasah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa. Contoh berdoa sebelum memulai kegiatan pembelajaran, dan mengucapkan salam ketika mau masuk kelas.
2.    Rumusan kompetensi sikap sosial, yaitu menghayati dan mengamalkan perilaku: (a) jujur; (b) disiplin; (c) santun; (d) peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai); (e) bertanggung jawab; (f) responsif; dan (g)  Proaktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional yang dapat dicapai melalui pembelajaran langsung dan tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah/madrasah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa.
3.    Kompetensi Inti pengetahuan yang harus dimiliki siswa MTs adalah memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detail, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang: (a) ilmu pengetahuan, (b) teknologi, (c) seni, (d) budaya, dan (e) humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4.    Kompetensi Inti Keterampilan pada pendidikan menengah adalah menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara: (a) efektif,  (b) kreatif, (c) produktif, (d) kritis, (e) mandiri, (f) kolaboratif, (g) komunikatif, dan (h) solutif dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan. Dan hal yang ke 4 standard ini wajib hukumnya untuk dilaksanakan.

3.    Standar Proses
Dalam standard proses harus ada RPP dan silabus. Silabus dikembangkan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Dan guru tinggal mengembangkan dengan alokasi waktu tertentu.

RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran siswa dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).
Komponen RPP yang lengkap terdiri atas:
1)  Identitas sekolah/madrasah.
2)  Tema/subtema.
3)  Kelas/semester.
4)  Materi pokok.
5)  Alokasi waktu.
6)  Tujuan pembelajaran.
7)  Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi.
8)  Materi pembelajaran. 
9)  Metode pembelajaran. 
10) Media pembelajaran. 
11) Sumber belajar. 
12) Langkah-langkah pembelajaran.
13) Penilaian hasil pembelajaran.

Jumlah siswa MTs dalam setiap rombongan belajar maksimum 32 orang. Jumlah tersebut bukan merupakan hasil perhitungan jumlah siswa di sekolah/madrasah dibagi dengan jumlah rombongan belajar.

Supervisi proses pembelajaran dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran yang ditindaklanjuti dengan cara: pemberian contoh, diskusi, konsultasi, atau pelatihan. Dan supervise ini dilakukan 2 kali selama satu semester.

Guru memulai pembelajaran dengan 5 langkah pendahuluan berikut: (1) menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti pembelajaran, (2) memberi motivasi belajar siswa, (3) mengajukan pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, (4) menjelaskan tujuan pembelajaran, (5) menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. Guru menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran. Guru menggunakan metode pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran. Guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran. Guru menggunakan sumber belajar yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran. Guru menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa dan mata pelajaran. Guru bersama siswa mengakhiri pembelajaran dengan langkah penutup berikut: (1) mengevaluasi seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran, (2) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, (3) melakukan kegiatan tindak lanjut, (4) menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran berikutnya.

4.    Standar Pendidik Dan Tenaga Kependidikan
Guru MTs memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D4) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, diperoleh dari lembaga dan program studi terakreditasi.

Guru mata pelajaran memiliki kompetensi pedagogik, meliputi:  (1) mengintegrasikan karakteristik siswa, (2) pembelajaran yang  sesuai dengan karakteristik siswa, (3) merancang  kegiatan pembelajaran siswa berdasarkan kurikulum, (4) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, (5) menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, (6) mengembangkan potensi siswa, (7) berkomunikasi secara efektif, empati, dan santun, (8) melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar, (9) menggunakan hasil penilaian proses dan hasil belajar, (10) melakukan tindakan reflektif.
Guru memiliki kompetensi profesional, meliputi: (1) menguasai materi, struktur,  konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, (2) menguasai kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu, (3) mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif, (4) mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Guru memiliki kompetensi kepribadian, meliputi: (1) bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan, (2) menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan, (3) menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, (4) menunjukkan etos kerja, tanggung jawab, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri, (5) menjunjung tinggi kode etik profesi.

Guru memiliki kompetensi sosial yang ditunjukkan melalui komunikasi yang efektif dan santun dengan: (1) sesama guru, (2) tenaga kependidikan, (3) siswa, (4) orangtua siswa, (5) masyarakat.
Guru Bimbingan Konseling (BK) memiliki kompetensi profesional yangmeliputi: (1) penguasaan konsep dan praksis asesmen,(2) penguasaan kerangka teoretis dan praksis, (3) perencanaan program, (4) pelaksanaan program, (5) penilaian proses dan hasil kegiatan, (6) komitmen terhadap etika profesional, (7) penguasaan konsep dan praksis penelitian.

Kepala sekolah/madrasah memenuhi persyaratan, meliputi: (1) memiliki kualifikasi akademik paling rendah sarjana S1 atau D4, (2) berusia maksimal 56  tahun, (3) sehat jasmani dan rohani, (4) tidak pernah  dikenakan hukuman  disiplin, (5) memiliki sertifikat pendidik, (6) memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah, (7) berpengalaman mengajar minimal 5 tahun, (8) golongan minimal III/c bagi PNS dan bagi non-PNS disetarakan, (9) nilai baik untuk penilaian kinerja dalam 2 tahun terakhir.
Kepala sekolah/madrasah memiliki kompetensi manajerial yang meliputi:(1) menyusun perencanaan, (2) mengembangkan organisasi, (3) memimpin penyelenggaraan sekolah/madrasah, (4) mengelola perubahan dan pengembangan, (5) menciptakan budaya kondusif dan inovatif, (6) mengelola guru dan tenaga administrasi, (7) mengelola sarana dan prasarana, (8) mengelola hubungan dengan masyarakat, (9) mengelola seleksi siswa, (10) mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran, (11) mengelola keuangan, (12) mengelola ketatausahaan, (13) mengelola unit layanan khusus, (14) mengelola sistem informasi, (15) memanfaatkan TIK, (16) melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan.

Kepala sekolah/madrasah memiliki kemampuan kewirausahaan yang meliputi: (1) melakukan inovasi, (2) bekerja keras, (3) memiliki motivasi, (4) pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik, (5) memiliki naluri kewirausahaan.

Kepala perpustakaan memenuhi syarat sebagai berikut: (1) bagi jalurpendidik minimal S1/D4, memiliki sertifikat kompetensi, dan masa kerja 3tahun, (2) bagi jalur tenaga kependidikan minimal D2, memiliki sertifikatkompetensi pengelolaan perpustakaan serta berpengalaman 4 tahun.

Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah. Dan Minimal harus bisa mengoprasionalkan komputer.

Mengenai tenaga kependidikan, minimal untuk kepala TU (S1), untuk anggota tata usaha minimal mempunyai SMA. Untuk kepala perpustakaan (S1), untuk tenaga perpustakaan minimal SMA dengan syarat mempunyai sertifikat sebagai bukti jika yang bersangkutan punya kompetensi/keahlian. Dan untuk petugas kebersihan itu minimal SMA.

5.    Standard Sarana Dan Prasarana
Dikatakan mencapai standard pertamaharus melihat berapa kelas, contohnya di MTsN 2 Pamekasan ada 16 kelas maka luas bangunan minimal 8064 meter persegi itu untuk lantai 2, sedangkan untuk lantai 2 4320 persegi, dan untuk lantai 3 2822 meter persegi. Ini standard minimal jika lebih akn lebih bagus.

Lahan sekolah/madrasah memenuhi ketentuan: (1) terhindar dari potensibahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa, (2) memilikiakses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat, (3) terhindar daripencemaran air, (4) terhindar dari kebisingan, (5) terhindar daripencemaran udara.
Bangunan sekolah/madrasah memenuhi persyaratan keselamatan,meliputi: (1) konstruksi yang stabil, (2) konstruksi yang kukuh, (3)sistem pencegahan bahaya kebakaran, (4), fasilitas ramah anak, (5)penangkal petir.

Bangunan sekolah/madrasah memenuhi persyaratan kesehatan yang meliputi: (1) ventilasi udara, (2) pencahayaan, (3) sanitasi, (4) tempat sampah, (5) bahan bangunan yang aman.

Sekolah/madrasah memiliki ruang perpustakaan dengan luas dan sarana sesuai dengan ketentuan dan pendayagunaannya secara maksimal, kondisinya terawat dengan baik, bersih serta nyaman.

6.    Standard Pengelolaan
Sekolah/madrasah merumuskan, menetapkan dan mengembangkan visi, misi, dan tujuan lembaga dengan ketentuan, meliputi:
1.    Dirumuskan berdasarkan masukan dari warga sekolah/madrasah, komite sekolah/madrasah, dan pihak-pihak pemangku kepentingan, serta selaras dengan tujuan pendidikan nasional.
2.    Diputuskan dalam rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah.
3.    Ditetapkan oleh kepala sekolah/madrasah dan disosialisasikan kepada semua warga sekolah/madrasah dan pihak-pihak pemangku kepentingan. 

4.    Ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan perkembangan pendidikan.
Visi sekolah/madrasah dijadikan sebagai cita-cita bersama warga sekolah/madrasah dan segenap pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang.

Misi sekolah/madrasah memberikan arah dalam mewujudkan visi sekolah/madrasah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Tujuan sekolah/madrasah menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka menengah (empat tahunan).

7.    Standard Pembiayaan
Punya rencana kerja tahunan, dan yang membuat ini adalah tim khusus, yang bertugas komite sekolah, bendahara, beberapa guru, dan kepala sekolah. Dan mengenai sumber dana di MTsN 2 Pamekasan yakni di peroleh dari APBN.

Sekolah/madrasah memiliki Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 3 tahun terakhir yang memuat alokasi anggaran untuk investasi yang meliputi: (1) pengembangan sarana dan prasarana, (2) pengembangan pendidik, (3) pengembangan tenaga kependidikan, (4) modal kerja.

Sekolah/madrasah memiliki Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 3 tahun terakhir yang memuat alokasi anggaran untuk biaya operasi nonpersonalia yang mencakup 9 komponen, meliputi: (1) alat tulis sekolah (ATS), (2) bahan dan alat habis pakai (BAHP), (3) pemeliharaan dan perbaikan ringan, (4) daya dan jasa, (5) transportasi/perjalanan dinas, (6) konsumsi, (7) asuransi, (8) pembinaan siswa/ekstrakurikuler, (9) pelaporan.

8.    Standard Penilaian
Untuk siswa penilian itu berupa ulangan. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian Kompetensi Siswa secara berkelanjutan dalam proses  pembelajaran untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar Siswa.

Untuk penilaian guru penilaiannya dilakukan satu kali persemester. Dan untuk minimal guru itu harus 81. Jika ada yang kurang dari nilai itu, maka salah satunya tindak lanjutnya adalah tidak memperoleh sertifikasi.

Guru melaksanakan penilaian hasil belajar siswa berdasarkan 6 prinsip penilaian: (1) sahih, (2) objektif, (3) adil, (4) terbuka, (5) holistik, (6) akuntabel.

Sekolah/madrasah menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) seluruh mata pelajaran dengan mempertimbangkan: (1) karakteristik siswa, (2) karakteristik mata pelajaran, (3) kondisi satuan pendidikan, (4) analisis hasil penilaian.

Guru melaksanakan penilaian hasil belajar dalam bentuk: (1) ulangan, (2) pengamatan, (3) penugasan, dan/atau (4) bentuk lain yang diperlukan.

Guru menggunakan hasil penilaian kompetensi pengetahuan yang dilakukan untuk: (1)  memperbaiki proses pembelajaran, (2) mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi siswa, (3) menyusun laporan kemajuan hasil belajar harian, tengah semester, akhir semester, akhir tahun dan/atau kenaikan kelas.

Guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar dengan 8 langkah:  (1) menetapkan tujuan penilaian; (2) menyusun kisi-kisi ujian, (3) mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian, (4) melakukan analisis kualitas instrument, (5) melaksanakan penilaian, (6) mengolah dan menentukan kelulusan siswa, (7) melaporkan, (8) memanfaatkan hasil penilaian.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpuan

Dalam kontek pendidikan, pengertian mutu mengacu pada masukan, proses, luaran, dan dampaknya. Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, guru, laboran, staf tata usaha, dan siswa. Kedua, memenuhi atau tidaknya criteria masukan material berupa alat peraga, buku-buku kurikulum, prasarana, sarana sekolah, dan lain-lain. Ketiga, memenuhi atau tidaknya masukan yang berupa perangkat lunak, seperti peraturan, struktur organisasi, deskribsi kerja, dan sebagainya. Keempat, mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, misi, motivasi, ketekunan, dan cita-cita.

B.    Saran

Diharapkan kepada kita sebagai mahasiswa atau generasi muda agar nantinya bisa melakukan peningkatan manajemen mutu pendidikan agar pendidikanyang ada di Indonesia ini menjadi lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. Visi Baru Manajemen Sekolah, (Jakarta: Bumi Kasara, 2012
Mutohar, Prim Masroka. Manajemen Mutu Sekolah. Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2013

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel