Makalah Pendidikan Islam di Sekolah

Written by
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam kehidupan ini, kita dituntut dengan kewajiban-kewajiban agama yang selalu mengikat kita untuk mengerjakan kewajiban tersebut, untuk melakukan kewajiban tersebut tentu kita harus mempelajarinya dahulu sebelum mengerjakan hal tersebut, kita harus memulainya sejak di bangku sekolah.

Untuk meningkatkan kualitas agama dan kualitas moral yang baik tentu seorang peserta didik harus ditunjang dengan pendidikan agama islam yang luas dan mendalam. Karena dalam kenyataan yang kita hadapi sekarang, pendidikan agama justru mengalami kemerosotan di dalam dunia pendidikan, sehingga banyak muncul peserta didik yang akhlaknya kurang baik dan bahkan kurang bermoral. Hal tersebut didasari karena kurangnya pengetehuan peserta didik tentang larangan-larangan agama dan hukum-hukum agama.

Untuk mengurangi dampak negatif dari hal tersebut, tentu sarana pendidikan harus dapat meningkatkan kualiatas agama dan lebih menekankan pendidikan agama terhadap peserta didik.
Dengan demikian, pembelajaran pendidikan agama sangatlah penting mengingat bahwa pembelajaran agama sejatinya untuk membentuk perilaku keagamaan atau moralitas peserta didik sehingga akhirnya terbentuk masyarakat beradab yang islami.



B.    Rumusan Masalah

1.    Pengertian pendidikan Islam di sekolah ?
2.    Bagaimana permasalahan pendidikan Islam di sekolah ?
3.    Bagaimana penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah ?

C.    Tujuan Penulisan

1.    Mendeskripsikan tentang pengertian pendidikan Islam di sekolah.
2.    Mendeskripsikan tentang permasalahan pendidikan Islam di sekolah.
3.    Mendeskripsikan tentang bagaimana penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan Islam di Sekolah

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, didampingi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

Munculnya anggapan-anggapan yang kurang menyenagkan tentang pendidikan agama seperti Islam diajarkan lebih pada hafalan (padahal Islam penuh dengan nilai-nilai) yang harus dipraktekan. Pendidikan agama lebih ditekankan pada hubungan formalitas antara hamba dengan Tuhannya, penghayatan nilai-nilai agama kurang mendapat penekanan dan masih terdapat sederet respons kritis terhadap pendidikan agama. Hal ini disebabkan penilaian kelulusan siswa dalam pelajaran agama diukur dengan berapa banyak hafalan dan mengerjakan ujian tertulis dikelas yang dapat didemonstrasikan oleh siswa.

Memang pola pembelajaran tersebut bukanlah khas pola pendidikan agama. Pendidikan secara umum pun diakui oleh para ahli dan pelaku pendidikan negara kita yang juga mengidap masalah yang sama. Masalah besar dalam pendidikan selama ini adalah kuatnya dominasi pusat dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga yang muncul uniform-sentralistik kurikulum, model hafalan dan menolong, materi ajar yang banyak, serta kurang menekankan pada penbentukan karakter bangsa.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu secara keseluruhannya dalam lingkup Al-Qur’an dan Al-Hadist, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselerasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainya maupun lingkungannya (hablun minallah wa hablun minannas).

Jadi pelaksanaan pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran  agama Islam melalui kegiatan bimbingan yang ditetapkan.

B.    Permasalahan Pendidikan Islam di Sekolah

Dalam kenyataan pendidikan agama Islam di sekolah masih banyak hal yang belum memenuhi harapan. Misalnya jika guru memberikan pendidikan agama Islam kepada peserta didik, maka tentu yang kita inginkan adalah peserta didik bukan hanya mengerti tetapi juga dapat melaksanakan praktek-praktek ajaran Islam baik yang bersifat pokok untuk dirinya maupun yang bersifat kemasyarakatan. Karena di dalam pendidikan agama Islam bukan hanya memperhatikan aspek kognitif saja, tetapi juga sikap dan keterampilan peserta didik. Peserta didik yang mendapatkan nilai kognitifnya bagus belum bisa dikatakan telah berhasil jika nikai sikap dan ketrampilannya kurang. Begitu pula sebaliknya, jika sikap dan/atau keterampilannya bagus tetapi kognitifnya kurang, belum bisa dikatakan pendidikan agama Islam itu berhasil. Inilah yang belum memenuhi harapan dan keinginan kita.

Penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah penuh tantangan, karena secara formal penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah hanya dua jam pelajaran per minggu. Jadi apa yang bisa mereka peroleh dalam pendidikan yang hanya dua jam pelajaran. Jika sebatas hanya memberikan pengajaran agama Islam yang lebih menekankan aspek kognitif, mungkin guru bisa melakukannya, tetapi kalau memberikan pendidikan yang meliputi tidak hanya kognitif tetapi juga sikap dan keterampilan, guru akan mengalami kesulitan.

Cara yang bisa ditempuh guru dalam menambah pembelajaran pendidikan agama Islam melalui pembelajaran ekstra kurikuler dan tidak hanya pembelajaran formal di sekolah. Pembelajaran dilakukan bisa di sekolah, yaitu di kelas atau di mushala. Bisa pula di rumah atau tempat yang disetujui. Waktu belajarnya tentu diluar jam pelajaran formal. Cara ini memang membutuhkan tambahan fasilitas, waktu, dan tenaga guru, tapi itulah tantangan guru yang tidak hanya mengajar tetapi memiliki semangat dakwah untuk menyebarkan ilmu di mana pun dan kapan pun. Untuk itu diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik antara guru dengan orang tua.

Gambaran umum tentang mutu pendidikan agama Islam di sekolah belum memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualitas pendidikan agama Islam di sekolah yang menjadi agama sebagai benteng moral bangsa. Kondisi ini dipengaruhi sekurang-kurangnya oleh tiga faktor, yaitu pertama, sumber daya guru, kedua, pelaksanaan pendidikan agama Islam, dan ketiga, terkait dengan kegiatan evaluasi dan pengujian tentang pendidikan agama Islam di sekolah.

1.    Sumber daya manusia berupa guru
Pendidikan mutu guru sebagai pendidik dan tenaga kependikan dilaksanakan dengan mengacu pada standar pendidik dan tenaga kependidikan mata pelajaran dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP). Untuk itu dilakukan kegiatan-kegiatan penyediaan guru pendidikan agama Islam untuk satuan pendidikan peserta didik usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi pada jalur formal dan non formal, serta informal. Dilakukan pula pendidikan dan pelatihan metode pembelajaran pendidikan agama Islam, pemberian bea peserta didik Strata 1 (S1) untuk guru pendidikan agama Islam, dan juga melakukan sertifikasi guru pendidikan agama Islam.

Ada dua jalur/cara dalam rangka peningkatan kualitas kemampuan guru, pertama adanya jalur resmi untuk mengikuti pendidikan S1, kedua yang rutin mengikuti kegiatan-kegiatan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Dari kedua jalur ini, diharapkan guru pendidikan agama Islam di sekolah tidak berjalan begitu saja dan kemampuannya juga tidak meningkat.

Sebagai orang Islam kita berpegang kepada suatu kaidah yang menyatakan bahwa kalau hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka celaka. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin, maka rugi, dan kalau hari ini lebih bagus dari hari kemarin, maka beruntung. Maka harus ada upaya-upaya untuk terus menerus belajar minal mahdi ilallahdi. Dalam salah satu hadits dinyatakan bahwa jadilah kalian orang yang mengajar, atau jadilah orang-orang belajar atau kalau tidak kedua-duanya sekurang-kurangnya mendengarkan. Janganlah jadi yang keempat yaitu tidak mengajar, tidak belajar, dan tidak mendengar. Untuk itulah guru yang harus selalu meningkatkan kualitas dirinya.

2.    Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
Pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan agama Islam berorientasi pada penerapan Standar Nasional Pendidikan. Untuk itu dilakukan kegiatan-kegiatan seperti pengembangan metode pmbelajaran pendidikan agama Islam, pengembangan kultur budaya Islami dalam proses pembelajaran, dan pengembangan kegiatan-kegiatan kerokhanian Islam dan ekstrakurikuler.

Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah masih menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Banyak faktor yang menyebabkan keprihatinan itu, antara lain pertama, dari segi jam pelajaran yang disediakan oleh sekolah secara formal, peserta didik dikalkulasikan waktunya hanya dua jam pelajaran per minggu untuk mendidik agama. Coba bandingkan dengan mata pelajaran lainnya yang bisa mencapai 4 – 6 jam per minggu. Implikasinya bagi peserta didik adalah hasil belajar yang diperolehnya sangat terbatas. Sedangkan implikasi bagi guru itu sendiri adalah guru dituntut untuk melaksanakan kewajiban menyelenggarakan proses pembelajaran sebanyak 24 jam per minggu. Yang jadi persoalan adalah kalau seorang guru agama ditugasi mengajar di sekolah, misalnya di sekolah dasar (SD) ada 6 kelas kemudian di satu kelas guru mengajar 3 jam pelajaran, sehingga maksimal pembelajaran yang dilaksanakan guru adalah 18 jam pelajaran. Berarti guru tidak memenuhi kewajiban sesuai dengan tugas yang diberikan oleh pemerintah. Implikasinya adalah guru tersebut tidak berhak memperoleh tunjangan-tunjangan sebagai guru karena kewajiban mengajarnya belum memenuhi syarat yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Tuntutan itu harus benar-benar diperhitungkan karena pemerintah memberikan dan menaikkan tunjangan-tunjangan bukan hanya gaji kepada guru yang melaksanakan tugas kewajibannya sesuai dengan jumlah jam pelajaran yang sudah ditentukan.

Pelaksanaan pendidikan agama Islam tidak hanya disampaikan secara formal dalam suatu proses pembelajaran oleh guru agama, namun dapat pula dilakukan di luar proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Guru bisa memberikan pendidikan agama ketika menghadapi sikap atau perilaku peserta didik. Pendidikan agama merupakan tugas dan tanggung jawab bersama semua guru. Artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru agama saja melainkan juga guru-guru bidang studi lainnya. Guru-guru bidang studi itu bisa menyisipkan pendidikan agama ketika memberikan pelajaran bidang studi. Dari hasil pendidikan agama yang dilakukan secara bersama-sama ini, dapat membentuk pengetahuan, sikap, perilaku, dan pengalaman keagamaan yang baik dan benar. Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia, perilaku jujur, disiplin, dan semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya.

3.    Melakukan Evaluasi.
Mengenai evaluasi pendidikan agama Islam ini terkadang terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Misalnya ada peserta didik yang jarang sekolah, malas dan merasa terpaksa mengikuti pelajaran agama, tetapi ketika dievaluasi dia mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang rajin belajar agama. Artinya yang salah itu adalah evaluasinya karena yang dilakukan hanyalah mengukur unsur kognitifnya saja. Oleh karena itu evaluasi pendidikan agama Islam jangan hanya mengandalkan evaluasi kemampuan kognitif saja, tetapi harus dievaluasi juga sikap, prakteknya atau keterampilan (psikomotor) dan sikapya (afektif).

Guru melakukan pengamatan terhadap perilaku sehari-hari peserta didik tersebut apakah peserta didik itu shalat? Kalau dilaksanakan apakah shalatnya benar sesuai tata caranya? Evaluasi ini sebetulnya menentukan status peserta didik tentang hasil belajarnya itu apakah sudah mencapai tujuan yang ingin dicapai atau tidak. Kalau tujuan agama itu adalah supaya peserta didik bisa menjalankan agama Islam dengan baik maka evaluasinya harus sesuai, dan evaluasinya itu bukan hanya hafal tentang kaidah-kaidah tentang kemampuan kognitif saja tetapi juga yang bersifat praktikal.

Berkaitan dengan evaluasi pendidikan agama Islam, ada usulan yang kuat dari berbagai kalangan agar pendidikan agama Islam sebaiknya masuk pada ujian nasional, sehingga menjadi bahan untuk dipertimbangkan peserta didik lulus atau tidak lulus di suatu lembaga pendidikan. Ujiannya jangan sekedar mengukur kemampuan kognitif melainkan juga kemampuan yang bersifat psikomotor, praktek dan perilaku, serta sikap peserta didik sebagai orang yang menganut ajaran agama Islam.

Namun, dalam pelaksanaan program pedidikan agama diberbagai sekolah di Indonesia, belum berjalan seperti yang diharapkan, karena berbagai kendala dalam bidang kemampuan pelaksanaan metode, sarana fisik dan nonfisik, disamping suasana lingkungan pendidikan yang kurang menunjang suksesnya pendidikan mental-spiritual dan moral. Adapun juga beberapa faktor yang menghambat pendidikan agama yaitu:
1.    Faktor-faktor eksternal
a.    Timbulnya sikap orang tua dibeberapa lingkungan sekitar yang kurang menyadari tentang pentingnya pendidikan agama, tidak mengacuhkan akan pentingnya pemantapan pendidikan agama di sekolah yang berlanjut di rumah. Orang tua yang bersikap demikian disebabkan oleh dampak kebutuhan ekonomisnya yang mendorong bekerja 20 jam di luar rumah, sehingga mereka menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah untuk mendidik anaknya 2 jam per minggu.
b.    Situasi lingkungan sekitar sekolah di pengaruhi godaan-godaan setan dalam berbagai raga bentuknya, seperti judi, minum-minuman terlarang dan maksiat-maksiat lainnya. Situasi yang demikian dapat melemahkan daya konsentrasi berfikir dan berakhlaq mulia, serta mengurangi gaya belajar, bahkan mengurangi daya saing dalam meraih kemajuan.
c.    Adanya gagasan baru dari para ilmuan untuk mencari terobosan baru terhadap berbagai problema pembangunan dan kehidupan remaja, menyebabkan para pelajar secara latah mempraktekan makna yang keliru atats kata-kata yang terobosan menjadi mengambil jalan pintas dalam mengejar cita-citanya tanpa melihat cara-cara yang halal dan haram, seprti mencontek, membeli soal-soal ujian akhir, perolehan nilai secara aspal, bahkan ada yang menghalalkan cara apapun seprti doktrin komunisme.
d.    Timbulnya sikap frustasi dikalangan orang tua yang beranggapan bahwa tingginya tingkat pendidikan, tidak akan menjamin anaknya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sebab perluasan lapangan kerja tidak dapat mengimbangi banyaknya pencari kerja.
e.    Serbuan dampak kemajuan ilmu dan teknologi dari luar negri semakin melenturkan perasan religius dan meleberkan kesenjangan antara nilai tradisional dengan nilai rasional teknologis, menjadi sumber transisi nilai yang belum menentukan arah dan pemukiman yang baru.

2.    Faktor-faktor internal
a.    Guru kurang kompeten utnuk menjadi tenaga profesional pendidikan atau jabatan guru yang disandangnya hanya merupakan pekerjaan alternatif terakhir, tanpa menekuni tugas sebenarnya selaku guru yang berkualitas atau tanpa ada rasa dedikasi sesuai tuntutan pendidikan.
b.    Penyalah gunaan menejemen penempatan yang mengalih tugaskan guru agama ke bagian administrasi, seperti perpustakaan, atau pekerjaan non guru.
c.    Pendekatan metologi guru masih terpaku kepada orientasi tradisionali, sehingga tidak mampu menarik minat murid pada pelajaran agama.
d.    Kurangnya rasa solidaritas antra guru agama dengan guru - guru bidang studi umum, sehingga timbul sikap memencilkan guru agama, yang mengakibatkan pelaksanaan pendidikan agama tersendat-sendat dan kurang terpadu.
e.    Kurangnya waktu persiapan guru agama dalam mengajar karena disibukan oleh usaha nonguru untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari atau mengajar di sekolah-sekolah suasta.
f.    Hubungan guru agama dengan murid hanya bersifat formal, tanpa berkelanjutan dalam situasi informal di luar kelas.
g.    Belum mantapnya landasan perundangan yang menjadi dasar terpijaknya pengolahan pendikan agama dalam sistem pendidikan nasional, termasuk pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan islam.

C.    Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Sekolah

Dua jam pelajaran di kelas memang tidaklah akan cukup untuk menyampaikan informasi keagamaan yang begitu komplek. Kalaulah kita tidak pandai mensiasatinya maka informasi yang diterima peserta didik khawatir hanya akan menyentuh aspek kognitif saja sementara aspek efektif dan psikomotor tidak dapat tersentuh. Dalam masalah ahlak, munkin saja ketika dilakukan evaluasi tertulis (ulangan) para pelajar dapat menjawab dengan tepat bahkan bisa menyebutkan dalil naqlinya bahwa etika makan dan minum dalam islam diantaranya tidak boleh sambil berdiri.

Dalam masalah ibadah para peserta didik mungkin saja ketika dilakukan evaluasi tertulis bahwa sholat lima waktu itu hukumnya wajib bila ditinggalkan berdosa dan bila dilaksanakan akan mendapatkan pahala, tapi dalam kehidupan sehari-hari peserta didik tersebut masih enggan melakukan sholat. Hal ini tentu tidak kita harapkan karna apa yang dilakukan para peserta didik tidak sesuia dengan apa yang diketahuinya, diakui atau tidak kenyataan itu membuktikan bahwa pendidikan agama Islam masih belum berhasil.

Upaya untuk mensiasati keterbatasan jam pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, di antaranya:
1.    Menyelenggarakan bina rohani islam (rohis) Kegiatan bina Rohani Islam, dapat dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik yang beragama Islam. Untuk mewujudkan kegiatan ini perlu dibuat program kerja yang matang sehingga dalam pelaksanaanya tidak berbenturan dengan kegiatan yang lain, didanai dengan dana yang cukup, materi yang disampaikan dapat menunjang materi intrakurikuler dengan mengguanakan metode yang menyenangkan tapi tetap edukatif serta memanfaatkan tenaga pengajar yang ada dilingkungan sekolah yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam. Waktu penyelenggaraan bina Rohani Islam (rohis) Menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pada pagi hari saja maka waktu penyelenggaraan kegiatan bina Rohani Islam (rohis) dapat dilakukan dengan setiap hari setelah selesai kegiatan belajar mengajar dengan lama pertemuan sekitar (90 menit).
2.    Mengkondisiskan sekolah dengan kegiatan keagamaan (Islamisasi Sekolah), Islamisasi sekolah memang terasa sangat ekstrim. Tetapi hal ini dimaksudkan agar seluruh warga sekolah yang beragama Islam bisa menjalankan sebagian syariat Islam dilingkungan sekolah sehingga situasi kondusif bisa tercipta disekolah tersebut. Islamaisasi sekolah itu diantaranya bisa dilakukan melalui.
a.    Setiap hari sebelum belajar diusahakan setiap pelajaran membaca do’a dan al-quran antara 5-10 ayat.
b.    Setiap hari jumat (bagi yang memiliki masjid) mengadakan sholat jum’at berjamaah di masjid (musholah) yang ada di lingkungan sekolah.
c.    Setiap bulan dzulhijjah menyelenggarakan kegiatan qurban di sekolah dengan melibatkan para peserta didik sehingga mereka bisa mengetahui bagaimana mekanisme pelaksanaan ibadah qurban dan bagaimana mekanisme pembagian hewan qurban.
d.    Setiap bulan ramadhan diadakan pondok ramadhan dan melaksanakan kegiatan pembagian zakat fitrah dan zakat maal dengan melibatkan para peserta didik sehingga mereka tau mekanisme pembagian jakat fitrah melalui praktek.
e.    Ketika menyelenggarakan peringatan hari besar Islam tidak hanya diisi dengan ceramah tetapi juga bisa yang lain yang bisa menyentuh hati dan pikiran peserta didik seperti melakukan bakti sosial, pemutaran film-film Islam.
3.    Menggunakan metode insersi (sisipan), Metode insersi adalah cara menyajikan bahan pelajaran dengan cara inti sari ajaran islam atau jiwa agama /emosi religious diselipkan / disisipkan dalam mata pelajaran umum, metode insesrsi ini bisa dilakukan melalui seluruh mata pelajaran. Sebagai contoh ketika guru mata pelajaran ekonomi mengajarkan tentang barter dan jual beli maka bisa disipkan jiwa agama berupa informasi tentang perlunya ijab kabul dan perlunya pencatatan transaksi jual beli yang tidak dengan cara tunai.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, didampingi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

Dalam pelaksanaan program pedidikan agama diberbagai sekolah di Indonesia, belum berjalan seperti yang diharapkan, karena berbagai kendala dalam bidang kemampuan pelaksanaan metode, sarana fisik dan nonfisik, disamping suasana lingkungan pendidikan yang kurang menunjang suksesnya pendidikan mental-spiritual dan moral. Kendala tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: faktor eksternal, yaitu sikap orang tua dibeberapa lingkungan sekitar yang kurang menyadari tentang pentingnya pendidikan agama. Faktor internal, Guru kurang kompeten utnuk menjadi tenaga profesional pendidikan atau jabatan guru yang disandangnya hanya merupakan pekerjaan alternatif terakhir, tanpa menekuni tugas sebenarnya selaku guru yang berkualitas atau tanpa ada rasa dedikasi sesuai tuntutan pendidikan.

Penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah yang hanya dua jam pelajaran di kelas memang tidaklah akan cukup untuk menyampaikan informasi keagamaan yang begitu komplek. Kalaulah kita tidak pandai mensiasatinya maka informasi yang diterima peserta didik khawatir hanya akan menyentuh aspek kognitif saja sementara aspek efektif dan psikomotor tidak dapat tersentuh. Untuk mensiasati keterbatasan jam pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu: Menyelenggarakan bina rohani islam (rohis) dapat dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik yang beragama Islam, Mengkondisiskan sekolah dengan kegiatan keagamaan (Islamisasi Sekolah), Menggunakan metode insersi dalam menyajikan bahan pelajaran dengan cara inti sari ajaran islam atau jiwa agama /emosi religious diselipkan / disisipkan dalam mata pelajaran umum.

B.    Saran

Demikianlah isi makalah yang kami susun, dengan penuh kesadaran kami yang hanya dengan mausia biasa tak luput dari salah dan lupa, mohon maaf jika ada kekeliruan dari segi tulisan dan argumen di atas. Dan yang paling penting adalah kami berharap kepada bapak pengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam untuk memberi tinjauan pada makalah kami, dan selanjutnya kepada sahabat-sahabat pembaca yang budiman kami berharap kritikan dan saran sekalian pada makalah kami yang tentunya akan menambah atau meningkatkan wawasan berpikir kami.

DAFTAR RUJUKAN
Arifin, Muzayyin. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2012.
Djamaluddin. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia, 1999.
Majid, Abdul. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.
SHOW or HIDE COMMENT
close