Makalah Merancang Ruang Kelas yang Ideal Untuk Pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah

Pengelolaan kelas yang baik merupakan bahan terpenting dari kegiatan pembelajaran seorang guru. Berdasarkan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang kompetensi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru untuk kompetensi penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik, di sebutkan bahwa guru harus melaksanakan pembelajaran yang mendidik di kelas, di laboratorium, dan lapangan. Pelaksanaan pembelajaran di kelas yang di maksudkan tersebut merupakan bagian dari pengelolaan kelas.

Pengelolaan kelas yang baik akan menciptakan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran pun akan dapat di capai tanpa menemukan kendala yang berarti. Hanya sayangnya pengelolaan kelas yang baik tidak selamanya dapat di pertahankan di karenakan kondisi ruang kelas yang tidak memberikan kenyamanan bagi siswa. Karena tanpa di sadari bahwa ruang kelas memberikan pengaruh bagi peserta didik yang luar biasa dalam ke efektifan penyampaian materi.

merancang ruang kelas ideal

Dengan pentingnya penataan ruang kelas bagi proses belajar mengajar, di butuhkan pengembangan variasi baik dari segi penataan tempat duduk maupun perlengkapan yang menunjang dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam pengembangan variasi penataan tentu saja tidak boleh sembarangan, harus di perhitungkan secara matang baik karekteristik siswa maupun kondisi kelas.
Dengan segala pengelolaan dan penataan kelas yang baik akan menimbulkan gairah belajar dan peserta didik tidak sukar untuk mencapai tujuan pembelajaran.

B.    Rumusan Masalah

1.    Apa pentingnya pengaturan ruang kelas dalam pembelajaran?
2.    Bagaimana cara menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar?
3.    Bagaimana cara mengatur ruang kelas?

C.    Tujuan Masalah

1.    Agar mengetahui pentingnya pengaturan ruang kelas dalam pembelajaran.
2.    Supaya mengetahui cara menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar.
3.    Agar mengetahu cara mengatur ruang kelas

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pentingnya Pengaturan atau Penataan Ruang Kelas dalam Proses Pembelajaran.

Penataan atau pengaturan ruang kelas sangatlah penting, karena dengan adanya penataan atau pengaturan ruang kelas, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Ada beberapa asumsi dasar dalam pengaturan ruang kelas yang dapat mendukung dalam proses pembelajaran,diantaranya yaitu:
1.    Pertama dan terpenting dari menejemen ruang kelas adalah tentang menciptakan lingkungan ruang kelas yang didalamnya semua siswa merasa aman dan nyaman,dan dapat memaksimalkan belajar akademis dan ketrampilan sosial yang penting. Ketika guru dan siswa menciptakan tipe-tipe setting ruang kelas, siswa cenderung membuat pilihan yang baik dan belajar mereka ditingkatkan.

2.    Pengaturan kelas pasti berhubungan dengan instruksi yang efektif. siswa akan cenderung bertindak secara bertanggung jawab  dan belajar mereka akan meningkat ketika mereka terlibat secara sukses dan aktif dalam perencanaan yang penuh arti yang relevan dengan pengetahuan dan keahlian.

3.    Pengaturan kelas harus meningkat rasa kepemilikan siswa,tanggung jawab dan perasaan keyakinan personal siswa yang berkaitan dengan belajar mereka.

4.    Pengaturan ruang kelas meliputi metode untuk membantu siswa mengembangkan keahlian prilaku baru yang dapat membantunya dalam bekerja sama dan berhasil bersama orang lain.

5.    Pengaturan ruang kelas yang efektif memerlukan guru yang menjaga nlai-nilai dan keyakinannya tentang pentingnya bekerjasama dengan siswa.

6.    Pengaturan kelas meliputi perencanaan yang bermanfaat dan memfokuskan pada pertumbuhan professional. Keduanya adalah aktifitas personal dan professional yang memerlukan penggabungan pengetahuan dan keahlian professional seseorang dengan perhatian terhadap keinginan dan kebutuhan siswa termasuk perkembangan mereka dan kebutuhan siswa,termasuk perkembangan mereka dan kebutuhan belajar dan nilai budaya mereka.

Jadi dapat saya simpulkan bahwa pengaturan kelas sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar, pengaturan kelas dilakukan agar dapatmenciptakan suasana yang kondusif dan membuat lingkungan amandan kenyamanan pada saat pembelajaran  terhadap peserta didik, dalam melaksanakan pengaturan kelas harus meliputi beberapa asumsi agar tecapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efesien. 

Sebagai pengelola ruang kelas  atau guru dituntut mengelola kelas sebagai lingkungan belajar peserta didik/ siswa. Juga dikelola sebagai bagian dari bagian lingkungan sekolah yang harus diorganisasikan. Karena tugas guru yang utama adalah mencipatakan ruang kelas yang kondusif agar terjadi intraksi belajar yang baik dangan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk memiliki kemampuan yang inofatif dalam mengelola kelas.

Dengan adanya pengeloalaan ruang kelas yang baik maka diharapkan tercipta  kondisi kelompok yang professional melibatkan pengelolaan yang baik yang mengakibatkan siswa dapat berbuat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, serta tersedia kesempatan yang memungkinkan  untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan pada guru, sehingga siswa mampu melakukan aktivitas dengan sendirinya dan menguntrol diri  sendiri, tetapi pasti menuju taraf yang lebih dewasa.

Secara umum, yang menjadi tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman adalah penyediaan fasilitas berbagai macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap apresiasi siswa. Secara khusus yang menjadi tujuan pengelolaan kelas dalam pandangan Usman adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinklan siswa belajar dan bekerja, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Menurut Dirjen dikdasmin yang menjadi tujuan manajemen kelas adalah:
1.    Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebaagai lingkunga belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2.    Menghilangkan hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajran.
3.    Menyediakan dan mengatur fasilitas serta  prabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
4.    Membina dan membimbing siswa sesuai latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individualnya.

B.    Menciptakan Lingkungan yang Kondusif untuk Belajar

Kelas adalah lingkungan sosial bagi anak atau siswa, dimana di dalam kelas terjadi proses interaksi baik siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru. Di dalam kelas juga terjadi kontak secara fisik dimana siswa pun akan berhubungan dengan segala fasilitas yang ada di dalam kelas. Oleh karena itu kelas harus di desain sedemikian rupa sehingga kelas merupakan lingkungan yang menyenangkan bagi siswa dalam tugas dan peranannya di dalam kelas sebagai peserta didik dan tugas serta peranannya dalam perkembangan fisik maupun emosionalnya.

Oleh karena itu kelas harus memenuhi syarat-syarat yang menggambarkan sebagai kelas baik dan menyenangkan, diantaranya, kelas itu harus rapi, bersih, sehat dan tidak lembab, kelas harus memiliki atau memperoleh sedikit cahaya yang meneranginya, sirkulasi udara dari dalam dan luar kelas harus cukup, perabot dalam keadaan baik, cukup jumlahnya dan di tata dengan rapi, jumlah siswa tidak melebihi 40 orang.

Seorang guru dalam menjalankan proses pembelajaran harus memiliki  pengetahuan atau keterampilan, dalam menciptakan kondisi kelas yang kondusif artinya, kelas nyaman, aman, tentram, indah, menarik dan menimbulkan rasa betah untuk berlama–lama tinggal di dalam kelas.

Menurut ibu Vera dalam menciptakan lingkungan kelas yang kondusif antara lain:
1.    Menyesuaikan kondisi siswa, artinya siswa yang pintar tidak harus duduk dengan siswa yang pintar, ibu vera menyuruh siswa yang pintar untuk duduk dengan siswa yang tidak pintar dan setiap minggunya ada pengontrolan apakah ada perkembangan antara siswa yang tidak pintar ketika duduk dengan siswa yang pintar.
2.    Bangku tertata rapi, beliau menggunakan setting bangku yang sejajar, karena menurut beliau menggunakan setting bangku yang sejajar sangatlah mudah ketika memantau siswa.
3.    Menyiapkan materi pembelajaran, Karena dengan menyiapkan materi pembelajaran yang sesuai dengan porsi siswa cukup membantu  dalam mengkondisikan kelas.
4.    Jumlah siswa dalam kelas, ibu Vera menargetkan dalam satu kelas berjumlahkan kurang dari 40 siswa, di kelas VII E SMPN 1 Pamekasan  tempat beliau mengajar bahasa inggris hanya ada 32 siswa.

Meskipun demikian ibu Vera menyatakan; memang sulit dalam mengkondusifkan siswa dalam kelas, meskipun ruang kelas sudah baik, prabot-prabot sudah tertata rapi, dan siswanya tidak melebihi 40 siswa, semisal menurunnya semangat belajar siswa jika sudah memasuki jam ke 3 apalagi jam terakhir, siswanya berbicara sendiri di belakang, apa lagi sulitnya memancing siswa untuk bertanya,
Bila terjadi hal seperti itu beliau hanya bisa menegur saja karena setelah undang-undang tentang dilarangnya melakukan kekerasan terhadap siswa ada, beliau tidak berani mencubitpun karena apabila beliau mencubit salah satu dari siswa tersebut akan melapor pada orang tuanya sehingga orang tuanya melaporkan hal tersebut kepada pihak polisi, beda dengan dulu sebelum ada undang-undang seperti itu ibu Vera akan mencubit siswa yang di anggap bersalah, begitulah pemaparan beliau.

Penciptaan dan pemeliharaan kelas merupakan suatu tindakan pengelolaan kelas. Penciptaan dan pemelihraan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang di inginkan, mengulang atau meniadakan tingkah laku yang tidak di inginkan, dengan hubungan-hubungan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempermudah organisasi kelas yang efektif.

Pengelolaan kelas merupakan suatu tindakan yang menunjukkan kepada kegiatan-kegiata yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses pembelajaran. Dengan terciptanya kelas kondusif, maka kegiatan belajar yang optimal dapat terwujud.

Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, perlu di ciptakan suasana kelas yang kondusif untuk menunjang proses pembelajaran yang adem dimana peserta didik atau siswa merasa senang berada di dalam kelas selama pembelajaran berlangsung dan tidak merasa jenuh (Bustamin Ismaiel, 2010) mengatakan bahwa kelas yang nyaman adalah:
1.    Penataan ruang kelas, kelas menjadi terasa nyaman sebagai tempat untuk belajar dan bermain bagi siswa bila ruangan kelas tertata rapi. Penempatan setiap fasilitas dalam kelas mengikuti asas Estetis (Keindahan) dan asas Safety (Keamanan).
2.    Penataan perabot kelas, kelas yang nyaman dimana perabot kelas yang dimiliki tidak harus mahal akan tetapi perabot tersebut di tempatkan pada tempat yang tepat sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar dan dari sisi kebersihan terjaga dengan baik, serta tidak menimbulkan rasa tidak aman bagi siswa.

C.    Pengaturan Kelas

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran dan hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Made Pidarta dengan mengutip pendapat Lois V. Johnson dan Marry A. Bany, mengemukakan bahwa pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problema dan situasi kelas. Dalam hal ini guru bertugas menciptakan, memelihara dan mempertahankan sistem / organisasi kelas. Sehingga individu siswa dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya dan energinya pada tugas-tugas individual.

Menurut Hadari Nawawi, pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid. Suharsimi memahami pengelolaan kelas yang menyangkut pengelolaan siswa dan pengelolaan fisik ( ruangan, perabot, alat pengajar

Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual di dalam kelas. Fasilitas yang disediakan memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplai, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa ( Sudirman N, 1991, 311 ). Tujuan lainnya adalah mengantarkan anak didik dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak berilmu menjadi berilmu.Menurut Ahmad ( 1995 : 2 ), tujuan pengelolaan kelas adalah :
1.Mewujudkan situasi dan kondisi kelas.
2.Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar-mengajar.
3.Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar.
4.Membina dan membimbing sesuia dengan latar belakang sosial,ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individu.

Penyusunan ruang kelas haruslah memudahkan antara guru dan murid agar leluasa dalam bergerak. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu diperhatikan adala:
1.Ukuran bentuk kelas.
2.Bentuk serta ukuran bangku dan meja.
3.Jumlah siswa dalam kelas.
4.Jumlah siswa dalam setiap kelompok.
5Jumlah kelompok dalam kelas.
6.Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita)

Kenyamanan ruang kelas merupakan faktor pendukung kenyamanan dalam belajar. Ruang kelas merupakan salah satu tempat dilangsungkannya pembelajaran, tempat dimana terjadi interaksi antar individu, dan tempat dimana siswa mengalami perkembangan fisik, mental, intelektual, perasaan dan keterampilan lainnya. Kesan ruang kelas yang baik, tenang, aman, dan menyenangkan akan menimbulkan semangat belajar. Beberapa hal yang perlu di perhatikan guru dalam menata kelas antara lain:
1.    Keterampilan, kebersihan, kenyamanan, dan kelembapan
2.    Cahaya matahari dan sinar lampu yang cukup terang
3.    Sirkulasi udara yang lancar
4.    Jumlah perabot yang cukup dan terawat dengan baik
5.    Susunan meja dan kursi tertata rapi dan dapat di ubah sewaktu-waktu
6.    Tersedia alat peraga atau media yang cukup
7.    Susunan meja dan kursi memungkinkan siswa untuk dapat bergerak dengan tenang dan nyaman
8.    Masih adanya ruang terbuka untuk guru dan siswa menampilkan diri di depan kelas.

BAB III
HASIL  OBSERVASI

A.    Biodata Sekolah
Nama seoklah    :MA SABILULMUTTAQIEN
Alamat         :PADEMAWU
Kepsek         :ACH FATIHUL HUDA MH
Guru mapel    : HALIMATUS M.pd.I
Mapel         MATEMATIKA

B.    Hasil observasi
Mengatur ruang kelas merupakan salah satu hal yang harus dilakukan oleh seorang guru karena dengan mengatur ruang kelas yang baik dapat membuat suasana kelas menjadi nyamandan tertata rapi serta membuat peserta didik merasa tidak jenuh, selain itu proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif.

Dengan mengatur ruang kelas yang baik dapat pula merangsang peserta keaktifan didik untuk mengikuti proses belajar mengajar dengan baik.

Untuk menciptakan ruang kelas yang kondusif, seorang guru harus mengetahui situasi dan kondisi kelas dan peserta didik. Jika peserta didik belum siap untuk menerima pelajaran maka terlebih dahulu guru harus menyiapkan mental peserta didik, misalnya bercerita dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pelajaran yang akan disampaikan. Selain itu, sebelum proses belajar mengajar di mulai guru harus menata ruang kelas dengan rapi.

Agar kelas menjadi kondusif seorang guru dapat menggunakan alat peraga dalam proses belajar mengajar yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan sehingga pelajaran dapat lebih mudah untuk dipelajari oleh peserta didik. Saya sebagai pendidk dimana saya sebagai pengajar mapel matematika, alat peraga yang saya gunakan disesuaikan denngan materi yang saya ajar pada saat berlangsung contohnya seperti: bangunan gubus, persegi, dll.

Mengatur ruang kelas sangatlah penting dilakukan oleh seorang guru. Salah satunya dengan mengatur tempat duduk peserta didik , misal berbentuk lingkaran, berbentuk huruf U dan sebagainya. Dan saya sebagai pendidik sering menggunakan bentuk U dalam mengatur peserta didik, karena dengan bentuk sedemikian dapat dengan gampang mengeecek peserta didik ketika melakukan kegiatan yang sedang berlangsung.

Mengatur ruang kelas juga harus disesuaikan dengan metode pelajaran yang digunakan, misal berbentuk kelompok, berpasangan, dll. Dengan mengatur ruang kelas dengan baik dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan kondusif serta dapat mempererat interaksi antara peserta didik dengan peserta didik dan peserta didik dengan guru. 

Pengamatan saya setelah membaca materi sekaligus hasil observasi sanya pengaturan  ruang kelas sangatlah penting agar agar pembelajarn dapat dengan mudah di mengerti  oleh peserta didik, guru sangat dibutuhkan kedcerdasan dalam mengatasi pesrta didik dalam proses pembelajaran dengan cara menciptakan ruang kelas yang kondusif, kaerena dengan ruang kelas yang kondusif maka proses belajar mengajar akan lancar dan berjalan dengan baik.

Dalam mengatur ruang kelas seorang guru dituntut untuk memehami keadaan perserta didik dan kelas tersebut, karena setelah mengetahui keadaan tersebut maka seorang guru dapat menbentuk kelas tersebut sesuai dengan materi yang akan di sampaikan terhadap peserta didik, dan dapat membentuk kelas sesuai dengan kebutuhan, dan dapat pula menggunakan alat peraga yang sesuai dengan materi yang ditransfer pada saat itu juga. karena dengan demikian kegiatan belajar mengajar dapat brjalan denga afektif dan efisien, dan para peserta didk dapat dengan cepat dan gampang menerima materi yang diberikan oleh pendidik/ guru. Agar tercapai proses belajar mengajar dengan efektif dan efisien, maka seorang pendidik dituntut agar dapat menyingkronkan sikon yang ada dalam ruangan dengan materi yang akan di ajarkan.

Dalam blajar siswa memerlukan tempat duduk. Tempat duduk mempengaruhi siswa dalam belajar. Bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa, maka sisiwa akan dapat belajar dengan tenang.

Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan sekarang bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat diduduki oleh beberapa orang, ada pula yang hanya dapat diduduki seoarang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu ukurannya jangan terlalu besar agar mudah diubah ubah formasinya. Ada beberapa bentuk formasi tempat duduk yang dapat digunakan sesuai dengan ke butuhan. Apabila pengajaran itu akan ditempuh dengan cara berdiskusi, maka formasi tempat duduknya sebaiknya berbentuk melingkar. Jika pengajaran ditempuh dengan metode ceramah, maka tempat duduknya sebaiknya berderet memanjang kebelakang.

Beberapa contoh Setting tempat duduk siswa dan guru.
1.    Bentuk berjajar











Kelebihan : siswa mampu di jangkau oleh pandangan gur, kelas lebih tampak teratur dan rapi,dan guru dapat mengawasi dari depan.
Kekurangan : guru biasanya kurang memperhatikan siswa yang ada di belakang. Siswa yang tempat duduknya di belakang tidak dapat menerima pelajaran yang maksimal.

2.    Bentuk U







Kelebihan : guru dapat menjangkau seluruh peserta didik sehingga pembelajaran dapat maksimal.
Kekurangan : kondisi ini di gunakan untuk kelas yang jumlah siswanya tidak terlalu banyak.
3.    Bentuk O







Kelebihan : sistem ini dapat menyelesaikan permasalahan kelompok secara bersama dengan peserta didik yang jumlahnya banyak, dapat menjadikan mudah permasalahan yang di anggap berat dan sulit.
Kekurangan : pembelajaran kurang efektif dalam penerimaan dan pemberian tugas, karena siswa umumnya lebih suka bermain.






4.    Bentuk untuk diskusi kelompok kecil









Kelebihan : memungkinkan guru berinteraksi dengan setiap kelompok. Siswa juga dapat mendiskusikan masalah belajarnya dengan siswa satu kelompoknya dan dapat memaksimalkan kegiatan belajaranya dengan baik.

Kekurangan : kondisi kelas biasanya ramai dan materi yang disampaikan tidak dapat di sampaikan secara maksimal dalam kondisi kelas yang demikian.

Merurut saya materi dan hasil observasi di lapangan (MA SABILULMUTTAQIEN) tidak jauh beda, seperti yang dilakukan oleh ibu Halimatus M. Pd.I beliau salah satu guru matematika dan sekaligus wali kelas 1 di sekolah tersebut .

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

1.    pentingnya pengelolaan kelas adalah menyediakan, menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal di dalam kelas sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dengan baik. Selain itu juga guru dapat mengembangkan dan menggunakan alat bantu belajar yang di gunakan dalam proses belajar mengajar sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.
2.    Seorang guru dalam menjalankan proses pembelajaran harus memiliki  pengetahuan atau keterampilan, dalam menciptakan kondisi kelas yang kondusif artinya, kelas nyaman, aman, tentram, indah, menarik dan menimbulkan rasa betah untuk berlama–lama tinggal di dalam kelas.
3.    Kenyamanan ruang kelas merupakan faktor pendukung kenyamanan dalam belajar. Ruang kelas merupakan salah satu tempat dilangsungkannya pembelajaran, tempat dimana terjadi interaksi antar individu, dan tempat dimana siswa mengalami perkembangan fisik, mental, intelektual, perasaan dan keterampilan lainnya.

B.    Saran

Pemakalah menyadari bahwa didalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan salah satunya dalam segi penulisan makalah ini dan penulis juga menyadari bahwa kekurangan sumber bacaan untuk mnguatkan pemahaman kami tentang tema saat ini.
Pemakalah berharap kepada penulis lanjutan agar menyempurnakan dan merubah pola fikir yang mungkin melenceng dari tema pada saat ini. Akhirnya pemakalah mohon maaf apabila ada banyak kekurangan.

DAFTAR PUSTAKA

Vern Jones dan Louise Jones, Manajemen Kelas Komprehensif Jakarta: Fajar Interpratama              Offset, 2012
Jamil Suprihatiningrum, Strategi Pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014
Sulistyorini, manajemen pendidikan islam,yogyakarta:komplek polri gowo, 2009
Ahmad Warid Khan,membebaskan pendidikan islam,yogyakarta:istawa,2002
Muliani Aziz, Manajemen Kelas, Surabaya: CV Bintang, 2011
Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa Jakarta: PT Grafindo, 1996

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel