Protected by Copyscape DMCA.com Protection Status DMCA.com Protection Status Makalah Menganalisis Dan Alternatif Pemecahan Hambatan Dalam Pengelolaan Kelas - duniamanajemen.com Makalah Menganalisis Dan Alternatif Pemecahan Hambatan Dalam Pengelolaan Kelas - DUNIA MANAJEMEN

Makalah Menganalisis Dan Alternatif Pemecahan Hambatan Dalam Pengelolaan Kelas

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pengelolaan kelas merupakan salah satu faktor kesuksesan dalam proses pembelajaran. Hal ini selain tugas dari serang manajer untuk mengatur sistem yang ada di sekolah juga merupakan tugas dari seorang guru untuk mengatur secara tepat dan benar tentang bagaiamana kelas itu akan menjadi kondusif dan menyenangkan. Pentingnya pengelolaan kelas juga berpengaruh terhadap hasil dari pembelajaran itu sendiri.

Mengenai tentang pengeloaan kelas maka salah satu yang menjadi hal penting disini adalah mencari alternatif pemecahan hambatan dalam pengelolaan kelas, diantaranya mengenai pengenalan masalah anak, jenis masalah anak, serta pendekatan-pendekatan yang harus digunakan oleh seorang guru untuk menanggulangi masalah anak tersebut.

pemecahan hambatan dalam kelas

Dengan demikian, maka penulis akan menyajikan bagaiamana pentingnya pengelolaan kelas yang baik, yang didasarkan terhadap mencari alternatif pemecahan hamabatan dalam pengelolaan kelas.

B.    Rumusan Masalah

1.    Bagaimana pentingnya pengenalan masalah anak?
2.    Apa saja jenis-jenis masalah anak?
3.    Apa saja pendekatan yang digunakan untuk menanggulangi masalah anak?
 
C.    Tujuan

1.    Menejelaskan pentingnya pengenalan masalah anak.
2.    Menjelaskan jenis-jenis masalah anak..
3.    Menjelaskan pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk menanggulangi masalah anak


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pentingnya Pengenalan Masalah Anak

Berbagai bentuk perilaku anak akan ditemui oleh guru di sekolah, seperti anak agresif, tak bisa tenang dan suka bertengkar, pemalu dan lebih suka menyendiri, suka menangis, dan suka rnemukul. Perilaku-perilaku tersebut merupakan tanda bagi guru bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada diri anak, atau dengan kata lain mereka sedang menghadapi masalah. Guru perlu mengerti bahwa perilaku tersebut ada sebab atau latar belakangnya. Oleh karena itu guru perlu mengetahui penyebab dari masalah-masalah yang dihadapi anak tersebut.

Perilaku anak di kelas, di depan guru, teman-temannya atau di depan orang lain disebabkan oleh pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh anak, kondisi yang dihadapinya saat itu, dan dapat pula disebabkan oleh berbagai keinginannya. Hal ini telah berkembang dalam diri anak atau dapat pula merupakan hasil interaksi antara dirinya dengan semua aspek lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat umumnya. mengatakan bahwa tingkah laku anak di dalam kelas merupakan pencerminan dari keadaan keluarganya. Bagi keluarga yang kurang stabil dapat menimbulkan ketegangan pada diri anak dan membuat mereka kurang berhasil dengan baik untuk memenuhi tuntutan akademik dan tuntutan sosial di sekolah.

Di sekolah berbagai bentuk perilaku anak akan ditemui oleh guru, seperti anak agresif, tak bisa tenang dan suka bertengkar, pemalu dan lebih suka menyendiri, suka menangis, dan suka memukul. Perilaku-perilaku tersebut merupakan tanda bagi guru bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada diri anak, atau dengan kata lain mereka sedang menghadapi masalah.

Guru perlu mengerti bahwa perilaku tersebut tentu ada sebabnya atau latar belakang dari setiap perilaku tersebut. Oleh karena itu guru perlu mengetahui sebab-sebab yang sebenarnya dari masalah-masalah yang dihadapi anak tersebut.

Ada suatu anggapan bahwa masalah-masalah anak tidak dapat ditinggalkan di rumah. Bagaimanapun anak akan membawanya ke sekolah sehingga dapat mengganggu proses pembelajaran di kelas. Bahkan mungkin proses pembelajaran menjadi tidak terjadi sama sekali, apabila anak mengalami tekanan bathin karena keamanannya terancam, dan kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi, merasa terkucilkan, merasa tidak dihargai, dan merasa tidak disenangi. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan anak untuk belajar menjadi terhalangi sehingga usaha guru untuk melaksanakan proses pembelajaran menjadi sia-sia saja.

Pekerjaan guru tidak akan berhasil dengan baik apabila ia tidak atau kurang memahami anak. Apabila guru ingin sukses dalam melaksanakan pembelajaran, maka pengelolaan kelas yang dilakukan hendaknya mencakup usaha guru untuk memahami masalah-masalah anak dan dapat mengambil langkah penyelesaiannya dengan tepat dan benar.

Berbicara dengan pentingnya pengenalaan problem anak, yang sesuai dengan hasil observasi penulis di SDN KAPONG 1 Pamekasan, menyatakan bahwa pengenalan masalah anak sangatlah penting dilakukan, karena masalah yang dihadapi anak didik akan mengganggu keefektifan belajar anak, sehingga akan mengakibatkan proses pembelajaran di dalam kelas tidak kondusif dan tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Selaras dengan pernyataan guru guru yang lain, menyatakan bahwa pentingannya pengenalan masalah anak sangat perlu dilakukan, agar proses pembelajaran di dalam kelas akan menjadi kondusif dan sesuai dengan tujuan yang diidamkan.

B.    Jenis-Jenis Masalah Anak dalam Pengelolaan Kelas

Masalah pengelolaan kelas yang bersumber dari anak dapat dikelompokkan pula menjadi dua kategori, yaitu masalah individual dan masalah kelompok.

Untuk melakukan pengelolaan kelas yang efektif diperlukan kehati-hatian dalam mengidentifikasi suatu masalah, apakah masalah ini bersifat individual atau kelompok. Kekurang hati-hatian guru dalam memahami masalah dapat menyebabkan kekeliruan dalam menentukan jenis masalah yang muncul. Misalnya, bisa saja terjadi masalah kelompok dilihat sebagai masalah individual atau sebaliknya.

1.    Masalah individual
Masalah Individual adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah individu anak. Ada 4 (empat) katagori masalah individual dalam kelas.
a)    Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain
b)    Tingkah laku yang ingin menunjukan kekuatan
c)    Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain
d)    Peragaan ketidak mampuan.

Bentuk-bentuk perilaku tersebut dapat mengganggu kelancaran pembelajaran. Masalah individual dilihat sebagai wujud dari bentuk perilaku tersebut diantaranya:
    Anak sering menunjukan gerak tubuh/perilaku yang tampak kebodoh-bodohan/berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian kelas.
    Anak tertawa lebih keras dibandingkan teman-temannya
    Anak suka bercanda dan sering menggoda teman.
    Anak pura-pura sakit
    Anak pura-pura tidak menngerti sehingga selalu bertanya.
    Anak selalu menunjukkan yang lamban.
    Anak sering berdebat dan kehingan kontrrol.
    Anak cenderung menunjukan perilaku ingin mengalahkan orang lain.
    Anak marah-marah (tindakan aktif) dan agresif.
    Anak menarik diri dan tidak mau melaksanakan kewajibannya.
    Anak selalu lupa pada aturan penting dalam kelas.
    Anak melakukan tindakan fisik yang menyakiti orang lain.
    Anak tidak mau menerima tugas dan selalu mengatakan tidak bisa.
    Anak merasa pesimis atau putus asa.
    Anak memiliki rasa permusuhan atau menentang semua peraturan.
    Anak pasif atau potensi rendah, datang ke sekolah tidak teratur.

Berbicara dengan masalah individu, hasil wawancara dan pengamatan penulis, menyatakan bahwa ada beberapa masalah anak didik yang sering ditunjukkan di kelas yaitu:
    Anak sering menunjukan gerak tubuh/perilaku yang tampak kebodoh-bodohan/berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian kelas.

    Anak tertawa lebih keras dibandingkan teman-temannya.
Sesuai dengan pengamatan penulis di kelas , dimana pada saat itu guru memberikan contoh gerakan senam memutar tubuh, pada saat itu juga ada salah satu anak didik yang tertawa lebih keras ketimbang teman-temannya. Tetapi bapak guru membiarkan saja. Namun, anak itu mengulangi hal yang serupa kemudian bapak guru langsung membentaknya.  

    Anak suka bercanda dan sering menggoda teman.
Hasil pengamatan punulis masalah ini yang sering muncul di dalam kelas, pada waktu itu ada beberapa anak didik yang sering bercanda, diaman hal ini disebabkan oleh seorang anak didik yang melempar kertas ke teman di sebelahnya.

    Anak selalu lupa pada aturan penting dalam kelas.
Sehubungan dengan problem ini penulis menanyakan langsung kepada bapak guru ditempat, dan beliau menyatakan bahwa anak didiknnya belum mengerti sepenuhnya tentang aturan-aturan di dalam kelas. Hal ini perlu bimbingan rutin terhadap anak didik supaya mereka tidak selalu membuat pelanggaran, tuturnya.

    Anak tidak mau menerima tugas dan selalu mengatakan tidak bisa.
Berdasarkan wawancara penulis dengan bapak guru ditempat, beliau menyatakan bahwa anak didiknya tergolong anak didik yang rajin, tetapi ada beberapa anak didik yang potensinya dibawah rata-rata. Hal tersebut mengakibatkan anak didik tidak mau menerima tugas dan selalu mengatakan tidak bisa. Namun, bapak guru mengatakan untuk menghadapi anak didik yang seperti itu butuh penekanan terhadap anak didik, supaya nantinya tidak mengatakan hal yang serupa seperti sebelumnya dan supaya menjadikan anak tersebut bermalas-malasan.

Selanjutnya masalah individu di kelas, diamana penulis mewawancari ibu guru serta melakukan pengamatan di kelas tersebut. Ibu guru selaku guru mata pelajaran Pendidikan kewarga negaraan menuturkan ada beberapa masalah anak yang sering ditunjukkan di kelas, yaitu:
    Anak sering menunjukan gerak tubuh/perilaku yang tampak kebodoh-bodohan/berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian kelas.

Pengamatan penulis berkenaan dengan masalah ini ada seorang anak didik yang sering menunjukkan perilaku yang tampak kebodoh-bodohan, samapai-samapi anak ini membuat keramaian sendiri di dalam kelas. Pada saat itu, ibu guru dikagetkan dengan tingkah laku anak tersebut yang berbicara sendiri dengan nada yang cukup keras dan gerak-gerik tubuhnya selalu kekanan dan keiri, seakan-akan anak tersebut tidak betah di dalam kelas. Kemudian ibu guru menanyakan apa yang sedang ia lakukan kemudian langsung menyuruh untuk tidak berbicara lagi.

    Anak selalu lupa pada aturan penting dalam kelas.
Pengamatan penulis berkenaan dengan masalah ini, tidak jauh berbeda dengan jawaban bapak guru sebelumnya, bahwa anak didik memang tidak terlalu paham terhadap peraturan kelas yang sudah di tetapakan, dan hal ini memang membutuhkan bimbingan yang rutin oleh setiap guru di sekolah tersebut. Aturan penting di kelas sebagaimana terlampir.

    Anak sering tidur di dalam kelas pada saat pembelajaran berlangsung.
Pengamatan penulis dalam masalah ini memang ada beberapa anak didik yang sedang tidur ketiaka pembelajaran berlangsung. Namun hal tersebut dibiarkan saja oleh ibu guru. Kemudian penulis menanyakan hal tersebut kepada beliau, kenapa dibiarkan saja? beliau menuturkan bahawa anak tersebut memang sudah kebiasaan tidur di kelas, anak tersebut juga jarang untuk menulis pelajaran, tetapi anak didik tersebut cukup cerdas, ketika ia ditanya oleh ibu guru tentang pelajaran yang sedang diajarkan, anak tersebut langsung menjawabnya dengan benar dan tepat.

Dapat saya simpulkan bahwa cara guru antara guru yang lain berbeda beda untuk membuat anak didiknya mengikuti pertauran peraturan yang telah di tetetapkan.

2.    Masalah kelompok
Masalah kelompok adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah kelompok. Johnson dan Bany (dalam Hasibuan, 1994) mengemukakan enam kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
a.    Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkatan sosio-ekonomi. Kelas yang kurang kohesif ditandai dengan lemahnya hubungan interpersonal di dalam kelas. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkat sosial ekonomi. Sering terlihat adanya permusuhan sekelompok anak perempuan dengan sekelompok anak laki-laki. Lemahnya hubungan ini terlihat pula karena perbedaaan suku, kota asal, kampung atau tempat tinggal. Di dalam kelas sekelompok anak ini bisa menampakkan hubungan yang sangat jarak dan tidak akrab dan terkadang bisa menimbulkan pertentangan-pertantangan di dalam kelas. Pertentangan itu bahkan ditambah pula oleh faktor pemicu lain seperti berbedanya tingkat sosial ekonomi mereka. Setiap kelompok anak membangun suatu kekuatan atas dasar persamaan-persamaan yang dimiliki. Dalam hal ini masing-masing kelompok bisa saling menutup diri dalam pergaulannya, sehingga sulit jika guru menugaskan suatu tugas kerjasama. 

Bedasarkan wawancara penulis di kelas, bapak guru menuturkan tidak ada masalah dengan masalah kelompok ini. Namun beda halnya dengan kelas yang lain, dimana Ibu guru menuturkan, bahwa masalah perbedaan jenis kelamin yang sering timbul di dalam kelas. Misalnya anak didik yang jenis kelaminnya perempuan berkelompok sesama jenisnya dan mereka terkadang tidak akrab dan menimbulkan hubungan yang tidak erat terhapad teman yang berjenis kelamin laki-laki, dengan alasan anak didik yang berjenis kelamin laki-laki suka menggunya, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas. 


b.    Kelas mereaksi negatif terhadap salah satu seorang anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas dalam menyanyi karena suaranya sumbang. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang siswa dapat pula menimbulkan masalah dalam kelas, misalnya dengan mentertawakan, menghina secara bersama-sama, yang menyebabkan kelas menjadi ribut dan tidak kondusif untuk belajar. Biasanya anak yang diketawakan anak yang pemalu, cengeng, suaranya sumbang kalau bernyanyi dan berpenampilan kurang menarik.

Berdasrkan pengamatan penulis bahwasanya tidak ada masalah seperti ini di dalam kelas baik itu di kelas. Begitupun dengan apa yang dituturkan oleh bapak guru dan ibu guru.

c.    Membesarkan hati anggota kelompok kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas. Dukungan kepada badut kelas mengakibatkan pula makin berlarutnya masalah di dalam kelas. Anak yang membadut makin menunjukkan kebolehannya melucu dan berperilaku yang aneh-aneh. Hal ini menimbulkan sorak-sorai dan tertawaan anak yang berlebihan sehingga dapat mengalihkan perhatian anak untuk belajar.

Pengamatan penulis dalam masalah ini juga tidak terdapat di dalam kelas.

d.    Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan. Mudahnya teralihkan perhatian anak selain karena anak yang membadut juga karena hal-hal lain yang dengan cepat memancing perhatian anak, seperti melihat peralatan belajar dan mainan kawan yang baru, tindakan-tindakan iseng dari kawan, dan situasi lingkungan sekolah yang kurang mendukung kegiatan belajar. 

Sesuai dengan pengamatan penulis di kelas, ada beberapa anak didik yang saling senggol-menyenggol ketika pembelajaran praktik di dalam kelas yang dibentuk kelompok oleh bapak guru kemudian teman disebalahnya menejadi terpengaruh dengan aksi tersebut, dimana hal ini menyebabkan kerja kelompok tidak fokus.

Kemudian  dikelas dengan hasil pengamatan penulis tidak terjadi masalah seperti ini. Namun setelah penulis mewawancarai ibu guru beliau menuturkan, biasanya kalu kerja kelompok ada beberapa anak didik yang sering mempengaruhi temannya untuk bicara sendiri, biasanya hal ini disebabkan oleh anak didik yang memang notabeninya sering berbicara sendiri dan malas untuk mengerjakan tugas yang sudah diperintahkan oleh gurunya.

e.    Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil. Masalah anak secara kelompok juga terjadi karena semangat kerja rendah sebagat akibat perlakuan yang tidak adil dari guru, seperti ketidakadilan dalam menentukan jenis tugas yang dikerjakan, dan peralatan atau bahan yang ditentukan guru.

Dengan hasil wawancara dan pengamatan penulis baik di kelas ini dan di kelas itu, tidak ada masalah dalam hal ini.

Dapat disimpulkan mengenai masalah kelompok yang terjadi pada anak didik di kelas, tidak terlalu banayak hanya ada saatu masalah yang terjadi, yaitu tentang kekompakan kerja tim yang mengakibatkan kerja tim berantakan dan tidak fokus. Cara yang digunakan oleh bapak Irfan sesuai dengan pernyataan beliau, anak didik harus fokus dalam pembelajaran, cara ini menurut beliau butuh penekanan terhadap anak didik.

Sedangkan di kelas yang lain, masalah yang terjadi juga sedikit, hanya saja cara yang digunkan oleh ibu fatimah untuk menanggulangi masalah yang terjadi, lebih menekankan pada kebebasan pada anak didik.


 
C.    Beberapa Pendekatan Menanggulangi Masalah Anak

1.    Pendekatan Otoriter
Pendekatan otoriter atau pendekatan kekuasaan seperti yang diuraikan oleh Djamrah, sebagaimana dikutip oleh Muliani, guru menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut murid untuk menaatinya. Di dalam kelas ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya. 

Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1)      perintah dan larangan
2)      penekanan dan penguasaan
3)      penghukuman dan pengancaman
4)      Pendekatan perintah dan larangan

2.    Pendekatan Instruksional
Pendekatan instruksional adalah pendekatan yang didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.

3.    Pendekatan Eklektik
Pendekatan eklektik disebut juga pendekatan pluralistik. Syaiful Bahri Djamarah menyatakan sebagaimana yang dikutip Novan Ardy dan Wiyani bahwa pada pendekatan eklektik atau pluralistik ini, pengelolaan kelas dilakukan dengan menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki kemungkinan untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi kelas yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar berjalan efektif dan efisien.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan eklektik atau pluralistik adalah suatu pendekatan yang mana seorang guru dapat memilih atau memadukan berbagai pendekatan dalam manajemen kelas untuk menciptakan kelas yang kondusif.

Pendekatan ini mendasarkan cara pandang pada pemahaman akan adanya kekuatan dan kelemahan dari semua pendekatan yang ada. Pendekatan ini mungkin lebih efektif  karena cukup fleksibel, dimana guru memilih dan menggabungkan secara bebas berbagai macam pendekatan sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada.

4.    Pendekatan Iklim Sosio-emosional
Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik-guru dan atau peserta didik-peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.

Dalam buku Hadari Nawawi yang dikutip oleh Mulyadi Pendekatan Iklim Sosio-Emosional dalam pengelolaan kelas berakar pada pandangan psikologi klinis dan penyuluhan (konseling). Oleh sebab itu terdapat dua asumsi pokok mengenai pendekatan tersebut yaitu sebagai berikut:
a.    Iklim sosial dan emosional yang baik dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang harmonis antar guru dengan guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar yang efektif.
b.    Iklim sosial dan emosional yang baik tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang didasari dengan hubungan manusawi yang efektif.

Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding).

Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.

5.    Pendekatan Primisif
Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan pembelajar untuk melakukan sesuatu. Sehingga pembelajar bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan pembelajar. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri pembelajar.

Berkenaan dengan pendekatan-pendekatan menanggulangi masalah anak, maka hasil observasi penulis di SDN. Kapong 1, sebagai berikut:
1.    Pendekatan yang digunakan di kelas itu.

a.    Pendekatan otoriter
Sesuai dengan pengamatan penulis bahwa bapak guru menggunakan pendeketan otoriter. Pendekatan otoriter ini bertujuan untuk mengendalikan perilaku anak didik. Pendekatan ini digunakan dalam bentuk menciptakan dan menjalankan peraturan dan hukuman, tapi tidak memaksakan kepatuhan, tidak merendahkan anak didik, guru bertindak untuk kepentingan anak didik agar mampu melaksanakan disiplin yang tegas.

b.    Pendekatan Inrtuksional
Selain menggunakan pendekatan otoriter bapak Irfan juga menggunkan pendekatan Intruksional, hal ini ditandai dengan metode pembelajaran yang digunakan oleh beliau, diamana pembelajarannya tersebut tersusun secara sistematis, dimulai dari kegiatan awal, inti dan akhir. Misalnya, pada bagian awal bapak Irfan menegakkan kedisiplinan yang sangat ketat, hal ini ditandai dengan dimulainya pembelajaran, yang mana hal tersebut anak didik harus masuk ke dalam kelas tanpa ada yang terlambat, jika anak didik masih ada yang belum masuk maka pemebelajaran tidak dimulai, jika anak didik sudah masuk semua, bapak Irfan tidak lantas membuka pembelajran, tetapi membiarkan anak didik terlebih dahulu menenangkan dirinya sampai dalam keadaan rileks.

c.    Pendekatan Iklim Sosio-Emosional
Bapak guru juga menggunakan pendekatan ini dengan tujuan agar pembelajaran menyenangkan dan bermakna bagi anak didiknya, dan juga untuk menciptakan hubungan yang baik anatara beliau dengan muridnya.

Sesuai dengan apa yang disampaikan beliau bahwa guru harus mampu menciptakan hubungan yang baik dan menyenangkan karena anak didik yang dihadapinya masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang lebih.

d.    Pendekatan elektik
Hasil pengamatan penulis bapak guru sering menggunakan beberapa pendekatan di dalam kelas, kadang otoriter, kadang iklim sosio-emosional.

2.    Pendekatan yang digunakan di kelas Ibu.
a.    Pendekatan Intruksional
Berdasarkan pengamatan penulis bahwa ibu guru menggunakan pendekatan ini, pendekatan yang mendasarkan kepada pendirian bahwa pengajaran yang dirancang dan dilaksanakan dengan cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar masalah manajerial kelas. Pendekatan ini berpendapat bahwa manajerial yang efektif adalah hasil perencanaan pengajaran yang bermutu. Dengan demikian, peranan guru adalah merencanakan dengan teliti pelajaran yang baik, kegiatan belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap anak didik.

b.    Pendekatan Primisif
Dengan hasil pengamatan penulis ibu Fatimatus menggunakan pendekatan ini karena dalam proses pembelajaran muncul hal-hal yang kurang disadari oleh beliau. Serta Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

  Setelah penulis menejelaskan materi di atas maka dapat disimpulkan pentingnya pengenalan masalah anak, karena pekerjaan guru tidak akan berhasil dengan baik apabila ia tidak atau kurang memahami anak. Apabila guru ingin sukses dalam melaksanakan pembelajaran, maka pengelolaan kelas yang dilakukan hendaknya mencakup usaha guru untuk memahami masalah-masalah anak dan dapat mengambil langkah penyelesaiannya dengan tepat dan benar.
Sedengkan jenis-jenis masalah anak ada dua macam yaitu:
1.    Masalah individu
2.    Masalah kelompok
Adapun pendekatan-pendekatan yang dapat menengulangi masalah anak diantaranya:
1.    Pendekatan otoriter
2.    Pendekatan intruksional
3.    Pendekatan Iklim sosio-emosional
4.    Pendekatan elektik
5.    Pendekatan Primisif


DAFTAR PUSTAKA

Mulyadi, Classroom Management, Malang : UIN Malang Press, 2009
Hadiyanto, ManajemenAnak didik, Padang: UNP Press, 2000.
Hasil observasi di SDN. Kapong  I Pamekasan,  pada hari/tanggal: Selasa/3 Mei 2017 jam  08.00 dan 09.45 WIB.
Ardy, Novan dan Wiyani, Manajemen Kelas, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.
Arikunto, Suharsimi, Pengelolaan Kelas dan Siawa (Sebuah Pendekatan Evaluatif). Jakarta: CV. Rajawali , 1992.
Aziz, Muliani, Manajemen Kelas, Surabaya: Kartika Mulya, 2011.
Bolla, Jhon, “Keterampilan Mengelola Kelas”, Jakarta: PT. Raka Joni dan G.A.K. Wardani: Depdiknas, 1985

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel