Makalah Manajemen Organisasi Sekolah/Madrasah

Written by
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sekolah merupakan organisasi yang memiliki karakteristik yang khas dibandingkan dengan organisasi yang lainnya terutama dengan aktivitas utamanya yang menyelenggarakan pembelajaran, sekolah adalah organisasi pelayanan yang punya komitmen pada mengajar dan belajar. Adanya sekolah adalah untuk melakukan kegiatan pembelajaran, suatu yang sangat logis apabila sekolah dapat menjadi organisasi pembelajar, dan hal itu menjadi suatu keharusan dilihat dari konteks keberadaannya di mana sekolah merupakan lembaga yang kegiatan utamanya adalah melaksanakan kegiatan atau proses pembelajaran.

manajemen organisasi sekolah

Dengan demikian sekolah tampaknya perlu melakukan reformasi serta terus-menerus meningkatkan kapasitasnya dalam mencapai dan menciptakan pola-pola baru berpikir, dalam konteks ini kreativitas dan innovasi menjadi suatu yang mutlak diperlukan dalam menjadikan sekolah mampu menghadapi tantangan perubahan yang sangat cepat, terlebih lagi bila mengingat sekolah sebagai tempat mendidik generasi penerus yang akan berperan dalam kehidupan yang terus berubah, sehingga bila di sekolah itu sendiri sebagai organisasi tidak siap menghadapi persaingan, maka sekolah itu tidak mungkin membentuk peserta didik yang kompeten dan punya kapabilitas cukup dalam menghapi perubahan. Oleh karena itu sikap organisasi sekolah terhadap perubahan akan menentukan keberhasilan sekolah tersebut dalam mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

B.    Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian manajemen organisasi sekolah/madrasah?
2.    Apa faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan organisasi sekolah/madrasah?
3.    Bagaimana contoh susunan organisasi di sekolah?


C.    Tujuan Masalah

1.    Mendiskripsikan tentang pengertian organisasi sekolah/madrasah.
2.    Mendeskripsikan tentang faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan organisasi sekolah/madrasah.
3.    Mendeskripsikan bagaimana contoh susunan organisasi sekolah/madrasah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Manajemen Organisasi Sekolah/Madrasah
Istilah manajemen berasal dari bahasa latin, Prancis dan Italia yaitu; manus, mano, manage/menege, meneggio, meneggiare. Secara etimologi manajemen berasal dari kata management. Kata management berasal dari kata manage, yang berarti; melatih kuda dalam melangkahkan kakinya, bahwa dalam menajemen terkandung dua makna, yaitu; mind (berpikir) dan action (tindakan). Secara bahasa manajemen adalah proses penataan dengan melibatkan sumber-sumber potensial baik yang bersifat manusia maupun non-manusia guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Sedangkan organisasi berasal dari bahasa latin, organum, yang berarti alat, bagian, unsur, unit, anggota, atau badan. Secara definisi, organisasi adalah unit sosial yang sengaja dibangun atau distrukturkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks institusi persekolahan, organisasi dapat didefinisikan sebagai unit sosial yang berbasis pada ideologi akademik atau vokasional yang sengaja dibangun dan distrukturkan untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien.

Kini jelas bahwa pengertian Manajemen Organisasi Sekolah/Madrasah adalah proses penataan dengan melibatkan unit sosial yang terdiri atas kepala sekolah, guru, staf tata usaha, laboran, teknisi sumber belajar, pustakawan penjaga sekolah, siswa, dewan komite sekolah dan lainnya guna mencapai tujuan yang efektif dan efisien.

Dengan demikian, manajemen mencapai tujuan dari orang-orang lain yang diwadahi dalam organisasi. Oleh karena manajemen mencapai tujuan melalui organisasi. Artinya, tanpa organisasi berarti tidak ada kegiatan manajemen, dan juga sebaliknya tanpa manajemen maka tujuan organisasi juga tidak akan tercapai.

 Sekolah sebagai tempat mendidik generasi penerus yang akan berperan dalam kehidupan yang akan terus berubah, sehingga bila sekolahnya itu sendiri sebagai organisasi tidak siap untuk menghadapi persaingan, maka sekolah itu tidak akan mungkin dapat membentuk peserta didik yang kompeten dan punya kapabilitas cukup dalam menghadapi perubahan.  Oleh karena itu sikap organisasi sekolah terhadap perubahan akan menentukan keberhasilan sekolah tersebut dalam mengantisipasi kemungkian-kemungkinan yang akan terjadi, dan hal ini perlu sikap kreatif dan inovatif, dengan membangun organisasi sekolah pembelajar. Terwujudnya organisasi sekolah pembelajar akan dapat menciptakan dan mengembangkan kompetensi-kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat.

Sebagai lembaga pendidikan penghasil lulusan yang akan berkiprah di masyarakat yang terus berubah, sekolah perlu melakukan dua hal dalam konteks membangun organisasi pembelajar, yaitu;
1.    Menciptakan kodisi internal organisasi/iklim organisasi yang dapat mendorong seluruh anggota dari mulai staf administrasi, guru dan kepala sekolah untuk menjadi menusia pembelajar melalui kegiatan seperti;
a.    Menyediakan perpustakaan khusus guru dan staf sekolah untuk mendorong mereka membaca.
b.    Menyelenggarakan rapat sekolah yang di dalamnya tidak hanya berbicara urusan dinas, tapi membicarakan/mendiskusikan topik tertentu yang berkaitan dengan masalah pendidikan.
c.    Menyediakan waktu khusus untuk acara diskusi yang diselenggarakan sekolah/diskusi internal secara rutin dengan narasumber yang ahli dalam bidang pendidikan.
d.    Menyelenggarakan seminar dangan melibatkan guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya secara berkala yang dapat menghadirkan pakar dalam bidang pendidikan yang dapat meberikan informasi penting bagi perbaikan proses pendidikan.
e.    Untuk tenaga admistrasi, didorong untuk lebih mendalami hal-hal teknis berkaitan dengan pengelolaan sistem informasi.

2.    Menciptakan interaksi edukatif yang produktif antara kepala sekolah, guru, dan staf dengan seluruh stakeholder sekolah terutama dengan siswa melalui kegiatan berikut;
a.    Membangun situasi pembelajaran yang lebih mendorong siswa untuk belajar dengan menggunakan berbagai metode dan media pembelajaran yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
b.    Mendorong kegiatan siswa dalam bentuk diskusi di antara siswa sendiri berkaitan dengan masalah-maslah yang menjadi consern para remaja.
c.    Mendorong siswa membentuk kelompok belajar dengan penjadwalan dan pelaporan kegiatan yang diatur sekolah, dan dimonitoring dengan cermat oleh wali kelas atau guru bidang studinya sesuai dengan jadwal.
d.    Memberikan pemahaman tentang masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran, serta masalah yang berkaitan dengan belajar siswa kapada para orang tua siswa, melalui ceramah-ceramah umum.
e.    Memberdayakan kapabilitas komite sekolah agar lebih consern pada proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, melalui diskusi-diskusi yang digagas oleh sekolah atau oleh komite sekolah, sehingga tumbuh kepedulian bersama.

Upaya membangun organisasi sekolah pembelajar memerlukan kerja keras, sekolah tidak hanya melakukan pembelajaran organisasi yang memampukan penyesuaian diri dengan perubahan lingkungan tetapi juga dituntut melakukan pembelajaran yang dapat mendorong kreativitas dan inovasi sehingga mampu mendahului perubahan-perubahan yang terjadi, menggunakan istilah sange sekolah perlu melakukan pembelajaran adaptif sekaligus pembelajaran generatif. Semua ini memerlukan pencermatan kondisi lingkungan eksternal untuk kemudian dikristalisasi menjadi visi dengan memerhatikan kemampuan yang ada pada kondisi internal. Visi tersebut kemudian dijabarkan mejadi misi, tujuan dan srtategi sekolah, untuk kemudian diimplementasikan oleh organisasi.

Untuk melakukan implementasi strategi untuk mencapai tujuan pendidikan, lingkungan organisasi sekolah harus menciptakan kondisi yang mendorong terlaksananya pembelajaran individu dan kelompok untuk tiap unsur organisasi yang dalam hal ini staf administrasi, guru dan kepala sekolah, kemudian pelaksanaan oleh unsur-unsur organisasi tersebut kemudian ditransformasikan menjadi pembelajaran organisasi yang dapat mendukung pencapaian tujuan yang lebih efektif dan efisien.
Pembelajaran ini kemudian harus mampu mejadikan proses pembelajaran siswa menjadi lebih kondusif dengan partisipasi aktif siswa, dan untuk mendorong hal tersebut para siswa diharuskan pada tahap awal melaksanakan diskusi, baik di dalam kelas maupun dalam kegiatan ekstra kurikuler, disamping itu siswa didorong/diharuskan membuat kelompok belajar dengan pengawasan yang melibatkan orang tua sebagai stakeholder. Untuk supaya hal ini berjalan dengan baik komunikasi dan dukungan komite sekolah beserta stakeholder lainnya amat diperlukan, oleh karena itu sekolah perlu membangun jaringan kerja yang baik dengan seluruh stakeholder, agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik.

B.    Faktor-Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Penyusunan Organisasi Sekolah/Madrasah
Pedoman untuk menyusun organisasi sekolah yang baik sangat sulit untuk ditentukan, karena banyak sekali perbedaan sekolah yang satu dengan yang lainnya. Tetapi sangat mungkin jika sekolah yang sejenis mempunyai organisasi yang sama atau seragam dalam hal struktur atau susunannya.

Adapun faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan organisasi sekolah yaitu;
1.    Tingkat Sekolah
Berdasarkan tingkatannya sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dapat dibedakan atas;
a.    Sekolah Dasar (SD)
b.    Sekolah Menengah Pertama (SMP)
c.    Sekolah Menengah Atas (SMA)

Dapat kita bayangkan bahwa tugas-tugas kegiatan pendidikan baik yang bersifat kurikuler maupun ekstra kurikuler dalam rangka mencapai tujuan pendidikan masing-masing tingkat sekolah tersebut sangat berbada. Perbedaan tingkat berarti juga perbedaan usia sekolah. Dengan demikian keadaan fisik dan perkembangan jiwa anak jelas berbeda antara tingkat yang satu dengan tingkat sekolah berikutnya. Contohnya di Sekolah Dasar (SD) sekarang tidak ada seksi bimbingan konseling (Guidance and Conseling), sebab tugas ini merupakan tugas rangkapan dari guru, lain halnya dengan sekolah menengah, di sekolah menengah biasanya sudah tersedia satu orang tenaga konselor (pembimbing) dengan tugas pokoknya sebagai pembimbing. Karena itu, di sekolah menengah dalam struktur organisasinya didapati seksi GC (Guidance and Conseling).  Masih banyak bidang-bidang lain yang ditangani secara khusus pada sekolah menengah tetapi tidak demikian pada sekolah dasar, misalnya masalah Organisasi Intra Sekolah (OSIS), penggarapan majalah dinding, pengelolaan perpustakaan sekolah, dan bagian pengajaran yang manangani kelancaran dan pengembangan kurikulum/program pendidikan dan pengajaran.

Dan pada perguruan tinggi banyak bidang tugas yang ditangani secara khusus lebih banyak dari pada tugas-tugas dari sekolah menengah. Ciri khas perguruan tinggi di Indonesia yang mengemban tugas Tri Darma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat memungkinkan perguruan tinggi berkembnag secara otonom, sehingga semakin bervariasi susunan organisasinya.

2.    Jenis Sekolah
Berdasarkan jenisnya, dapat dibadakan adanya sekolah umum dan sekolah kejuruan. Sekolah umum adalah sekolah-sekolah yang program pendidikannya bersifat umum dan bertujuan utama untuk memberikan bekal pengetahuan dan kecakapan untuk melanjutkan studi ketingkat yang lebih tinngi lagi. Sedangkan sekolah kejuruan adalah sekolah yang program pendidikannya mengarah kepada penberian bekal kecakapan atau keterampilan khusus agar setelah menyelesaikan studinya, anak didik dapat langsung memasuki dunia kerja dalam masyarakat.

Dengan melihat perbedaan program pendidikan (kurikulum) dan tujuan yang hendak dicapai maka struktur organisasi sekolah yang berlainan jenis tersebut pasti berlainan juga. Perbedaan organisasi ini dapat digambarkan sebagai berikut:
a.    Pada sekolah kejuruan terdapat petugas (koordinator) praktikum, sedangkan pada sekolah umum tidak.
b.    Pada sekolah kejuruan terdapat petugas tenagakerja/penempatan alumni, sedangkan pada sekolah umum tidak.

3.    Besar Kecilnya Sekolah
Sekolah yang besar tentulah memiliki jumlah murid, jumlah kelas, jumlah tenaga guru dan karyawan serta fasilitas yang memadai. Sekolah yang kecil adalah sekolah yang cukup memenuhi syarat minimal dari ketentuan yang berlaku.

Tipe sekolah secara implesit menunjukkan besar kecilnya sekolah yang bersangkutan, dengan begitu akan mempengaruhi penyusunan struktur organisasi sekolah karena semakin besar jumlah murid tentu saja semakin beraneka ragam kegiatan yang dilakukan baik yang bersifat kurikuler maupun kegiatan-kegiatan penunjung pendidikan.

4.    Letak dan Lingkungan Sekolah
Berdasarkan letak dan lingkungannya, sekolah-sekolah di Indonesia menunjukkan perbedaan situasi, kondisi dan sifat-sifat lingkungannya. Letak sekolah dasar di pedesaan akan mempengaruhi kegiatan sekolah tersebut berbeda dengan sekolah dasar yang ada di kota. Demikian pula sekolah menengah pertama yang kini telah banyak didirikan di berbagai kecamatan, kegiatan dan programnya tentulah berbeda dengan sekolah menengah yang ada di kota atau pun di kota besar. Kegiatan yang dimaksudkan disini adalah kegiatan ekstra kurikuler maupun kurikuler seperti tugas-tugas pada laboratorium sekolah dan kegiatan pengabdian masyarakat. Ada kecenderungan yang nyata bahwa sekolah-sekolah di pedesaan lebih berintegrasi dengan masyarakat sekitarnya, dibandingkan sekolah-sekolah yang ada di kota.

Dari segi keadaan lingkungan atau masyarakar sekitar sekolah mungkin ada di dalam lingkungan petani, nelayan, buruh, atau masyarakat pegawai negeri. Tentunya perhatian kelompok masyasrakat yang berbeda ini terdapat dunia pendidikan khususnya pendidikan bagi anak-anaknya di sekolah menunjukkan berbagai variasi perbadaan. Oleh karena itu, dalam penyusunan struktur organisasi sekolah, hal tersebut harus di perhatikan.

Demikianlah paling sedikit ada empat faktor dalam penyusunan yang perlu di pertimbangkan dalam penentuan susunan organisasi sekolah. Dalam pengembangannya walaupun sudah ditentukan oleh kurikulum yang sama, sekolah-sekolah tetap mengalami corak yang berlainan satu sama lain dalam pengorganisasiannya, hal tersebut disebabkan atas faktor-faktor yang terdapat di atas.

C.    Contoh Susunan Organisasi di Sekolah

Berdasarkan besar kecilnya sekolah dan yayasan pengelolanya maupun tinggi rendahnya mutu sekolah, maka bagan organisasi sekolah dapat dibedakan sebagai berikut;
1.    Organisasi sekolah sangat kecil







       
Gambar 1. Organisasi sekolah sangat kecil

Bagan sekolah kecil apabila hanya terdiri dari dua atau tiga pengurus yayasan, kepala sekolah dan memiliki beberapa guru serta jumlah murid yang tidak begitu banyak.  Sehingga kepala sekolah bisa jadi merangkap pengurus yayasan, guru, TU bahkan sekaligus merangkap petugas kebersihan. Contohnya sekolah TK, TPA/TPQ, sekolah baru berdiri atau sekolah di daerah terpencil.

2.    Organisasi sekolah kecil
Organisasi sekolah kecil ini apabila dalam sekolah jumlah guru belum atau baru memenuhi jumlah kelas, sehingga guru selain menjadi wali kelas sekaligus sebagai guru kelas, bahkan kepala sekolah bisa jadi merangkap menjadi wali kelas ataupun menjadi guru bidang studi yang mengajar di kelas walaupun tidak seperti guru kelas.  Jumlah peserta didik juga sangat sedikit, kurang dari 20 siswa (di bawah standar minimal), sehingga untuk efisiensi kelas digabung; kelas I dan kelas II, kelas III dan kelas IV, serta kelas V dan kelas VI. Contoh organisasi sekolah kecil ini adalah pada SD/MI kecil maupun pada Sekolah Terbuka/Penyetaraan. Organisasi sekolah kecil dapat dilihat pada bagan berikut;

V








Gambar 2. Organisasi sekolah kecil


3.    Organisasi sekolah sedang








   






Gambar 3. Organisasi sekolah sedang

Bagan organisasi sekolah sedang banyak kita temukan di sekolah-sekolah negeri maupun swasta ditingkat kecamatan.













4.    Organisasi sekolah besar
Organisasi sekolah besar ada dua macam, pertama, organisasi sekolah besar yang memang peserta didik dan guru dalam jumlah besar, walaupun hanya dalam satu jenjang pendidikan. Untuk melayani warga sekolah yang besar tersebut, organisasi sekolah memiliki kepala sekolah beserta wakil-wakilnya sesuai dengan keperluan, di samping juga memiliki unit penunjang yang bertanggung jawab mengelola seluruh unit penunjang kegiatan sekolah.  Kedua, organisasi sekolah besar karena dalam satu lokasi yayasan pengelola pendidikan memiliki dua lebih satuan jenjang pendidikan, namun dari sisi keadministrasian masih menjadi satu kantor. Sehingga sekolah seperti kelihatan besar dan banyak unit-unit penunjang yang mendukungnya. Kedua bentuk organisasi sekolah besar ini sebagai berikut;











   
Gambar 4. Organisasi sekolah besar dalam satu jenjang pendidikan (banyak siswa)

















Gambar 5. Organisasi sekolah besar dalam satu yayasan (Memiliki banyak satuan pendidikan)

5.    Organisasi sekolah sangat besar
Di samping yayasan yang secara badan hukum memiliki kewenangan mengatur satuan pendidikan yang dikelolanya secara madiri seperti; Yayasan Pendidikan Katholik Santo Yoseph, Yayasan Pendidikan Nasional Erlangga, Yayasan Al-Azhar Jakarta, dan sebagainya, di Indonesia juga ada organisasi yang kegiatan sekolah/yayasan yang mengelola pendidikan bersifat koordinatif dan memiliki visi, visi dan metode sama, seperti LP Ma’arif NU, Muhammadiyah, PGRI, Taman Siswa, Lembaga Koordinasi TPA/TPQ dan sebagainya.  Organisasi sekolah sangat besar dapat dilihat pada bagan berikut;






















Gambar 6. Organisasi sekolah sangat besar













BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Pengertian Manajemen Organisasi Sekolah/Madrasah adalah proses penataan dengan melibatkan unit sosial yang terdiri atas kepala sekolah, guru, staf tata usaha, laboran, teknisi sumber belajar, pustakawan penjaga sekolah, siswa, dewan komite sekolah dan lainnya guna mencapai tujuan yang efektif dan efisien.
Empat faktor penyusunan yang perlu di pertimbangkan dalam penentuan susunan organisasi sekolah. Pertama, Tingkat Sekolah. Kedua, Jenis Sekolah. Ketiga, Besar Kecilnya Sekolah. Keempat, Letak dan Lingkungan Sekolah.
Terdapat lima contoh dari susunan organisasi sekolah; yang pertama, Organisasi sekolah sangat kecil. Kedua, Organisasi sekolah kecil. Ketiga, Organisasi sekolah sedang. Keempat, Organisasi sekolah besar dalam satu jenjang pendidikan dan Organisasi sekolah besar dalam satu yayasan. Kelima, Organisasi sekolah sangat besar.
B.    Saran
Kami menyadari bahwa di dalam penyusunan dan penulisan makalah ini banyak mengalami kekeliruan. Oleh karena itu, kami berharap kritik serta saran dari pembaca, pakar penulis serta yang paling utama dosen pengampu matakuliah Manajemen Sekolah/Madrasah yang mana kritik serta penyusun karya tulis yang lebih baik lagi.

DAFTAR RUJUKAN
Danim, Sudarwan. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta; PT Bumi Aksara, 2012.
Manab, Abdul. Manajemen Kurikulum Pembelajaran di Madrasah. Yogyakarta; Kalimedia, 2015.
Muhaimin, Manajemen Pendidikan: Aplikasi dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta; Kencana, 2011.
Mulyono, Manajemen Admistrasi dan Organisasi Pendidikan. Yogyakarta; Ar-Ruzz Media, 2008.
Wahjosumidjo, Manajemen dan Organisasi Sekolah Jakarta; PT Raja Grafindo, 2011.
SHOW or HIDE COMMENT
close