Makalah Konsep Pendidikan (Dalam Perspektif Muhammad Abduh)

Written by
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pendidikan Islam dalam teori dan praktik selalu mengalami perkembangan, hal ini disebabkan karena pendidikan islam secara teoretik memiliki dasar dan sumber rujukan yang tidak hanya berasal nalar, melaikan juga wahyu. Kombinasi nalar dengan wahyu ini adalah ideal, karena memadukan antara potensi akal manusia dan tuntunan firman Allah terkait dengan masalah pendidikan. Kombinasi ini terjadi ciri khas pendidikan Islam yang tidak dimiliki oleh konsep pendidikan pada umumnya yang hanya mengandalkan kekautan akal dan budaya manusia.

Harusnya dengan keterjalinan antara sumber akal dan wahyu tersebut dapat menghasilkan konsep dan pemikiran pendidikan Islam yang sempurna. Hal itu di buktikan secara historis melalui upaya pengembangan konsep dan pemikiran pendidikan Islam yang telah berjalan sejak dahulu dengan banyaknya karya tulis para ulama tentang pendidikan yang sebagian besar masih bisa di akses hingga saat ini. Hanya saja, teori-teori pendidikan mereka seakan tenggelam karena masuknya terma-terma baru yang muncul belakangan ini terutama yang berasal dari referensi barat, sedemikian rupa sehingga timbul kesan seola-olah perintis penemuan keilmuan itu seluruhnya dari barat. Pada saat yang sama, pemikiran pendidikan Islam klasik masih dipahami dalam konteks klasik, back to basic, dan tidak diaktualisasikan dalam konteks kekinian.

Memudarnya masa kejayaan umat Islam ini bersifat sistematik, komplek, dan disebabkan oleh multi-faktor, tidak fair kalau dialamatkan pada satu tokoh atau lembaga tertentu. Namun demikian, para analisis acap kali menisbatkan unsur politik sebagai faktor dominan bagi peredupnya sinar keemasan umat islam. Bukan saja karena para penguasa pada saat itu yang mulai terlibat dalam konflik internal, rebutan kekuasaan, melainkan juga karena munculnya kekuatan eksternal yang mulai masuk ke dunia islam dalam bentuk imperialisme dan penjajahan. Sementara pendapat lain menekankan bahwa kemunduran umat Islam terjadi karena adanya penutupan pintu ijtihad, kejumudan berpikir, budaya taqlid, dan sikap alergi terhadap falsafah. Isu sektarianisme juga ikut mewarnai kompleksitas masa-masa kemunduran ini, selain dari munculnya dikotomi ilmu dalam lembaga pendidikan Islam.

Apapun sebab dan faktornya, upaya untuk memajukan umat dan pendidikan islam harus terus di lakukan. Persoalannya bukan terletak pada siapa yang salah melaikan bagaimana kita bisa keluar dari kemelut kemunduran. Dalam konteks ini, kami bermaksud untuk mengawali proses keluar dari kemelut tersebut melalui panggilan khazanah intelektual tokoh muslim yang terkait dengan pendidikan, agar dapat di telaah ulang dan di jadiakan sebagai bahan diskusi untuk membangun kemajuan pendidikan islam di masa datang.

pendidikan perspektif muhammad abduh


Seluruh uraian di atas dikemukakan untuk menguatkan argumentasi bahwa upaya memajukan umat dan pendidikan Islam agar keluar dari ketertinggalan dan kemunduran, terus dilakukan oleh para ulama, cendikiawan dan tokoh muslim dari generasi ke generasi. Tampak dengan jelas bahwa apapun pendekatannya, apakah politik, falsafah, sejarah, maupun sosial dan ekonomi, tidak dapat mengesampingkan peran fungsioanal lembaga pendidikan. Seperti halnya ide besar pengembangan tradisi falsafah tidak dapat diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa termuat dalam kurikulum, islamisasi ilmu juga tidak akan berjalan tanpa adanya wadah yang bernama pendidikan.

B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus kajian dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut:
1.    Bagaimana Biografis Muhammad Abduh ?
2.    Bagaimana Pemikiran Tentang Pendidikan ?
3.    Bagaimana Teori Pendidikan Muhammad Abduh ?

C.    Tujuan Masalah

Penelitian ini bertujuan untuk:
1.    Mendeskripsikan Biografis Muhammad Abduh.
2.    Mendeskripsikan Pemikiran Tentang Pendidikan Muhammad Abduh.
3.    Mendeskripsikan Teori Pendidikan Muhammad Abduh. 

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sketsa biografis Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir di Mesir pada tahun 1819 M/ 1265 H. Ayahnya bernama Muhammad ‘Abduh ibn Hasan Khairullah berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir. Ibunya menurut satu riwayat berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya sampai ke suku bangsa Umar ibnu Khaththab. Abduh lahir di lingkungan keluarga petani yang hidup sederhana, di sebuah desa di Propinsi Garbiyyah Mesir Hilir. Masa pendidikannya dimulai dengan pelajaran dasar membaca dan menulis yang didapatnya dari orang tuanya. Kemudian sebagai pelajaran lanjutan ia belajar Qur’an pada seorang hafiz. Dalam masa waktu dua tahun ia telah menjadi seorang yang hafal Al-Qur’an. 

Pendidikan selanjutnya di tempuh di Thanta, pada tahun 1682 M, ia belajar agama di Mesir di masjid Syekh Ahmad di Thanta. Semangat belajarnya tumbuh atas dorongan paman ayahnya Syekh Darwis Khadar. Abduh akhirnya dapat menyelesaikan pendidikannya di Thanta. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di universitas Al-Azhar dan menamatkannya pada tahun 1877 M.  ketika di al Azhar ia memperoleh pengalaman sangat berkesan dari gurunya Syekh Hasan Al-Thawil dan Syekh Muhammad Al-Bashuni, masing-masing sebagai guru mantiq  dan balaghah. Selain itu, ia sempat berkenalan dan menjadi peserta didik Jamaludin Al-Afghani dalam bidang filsafat dan politik.

Lulus dari Al-Azhar, ia kemudian menjadi pengajar di lembaga itu. Kuliah-kuliahnya selalu dipadati mahasiswa. Ilmu-ilmu yang di ajarkannya menurut Ahmad Amin adalah logika, teologi dan filsafat. Dengan kemampuan intelektualnya, memungkinkan ia menulis di harian Al-Ahram sejak awal didirikan. Tulisannya mencangkup bidang-bidang ilmu pengetahuan, sastra arab, politik, agama dan sebagainya.

Kehausan Abduh akan ilmu pengetahuan mendorongnya untuk selalu memperluas cakrawala pengetahuannya. Pada usia 44 tahun, ia mempelajari bahasa Prancis untuk mempelajari pengetahuan yang berkembang di barat. Bahasa itu dapat di kuasi dengan baik. Ia melihat bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan barat, seseorang perlu mengetahui bahasa yang berpengaruh di Eropa. Bahkan ia mengatakan bahwa orang yang tidak mengetahui salah satu bahasa Eropa di zaman modern ini tidaklah bisa disebut ulama. Dari perjalanan pengalaman yang diperoleh, mendorong Abduh memilih bidang pendidikan sebagai media pengabdian ilmunya dan sekaligus menjadikan pendidikan sebagai tempat melontarkan ide-ide pembaharuannya.

Dinamika ide-ide pembaharuannya yang demikian yang dinamis sering kali bertentangan dengan kebijakan penguasa pada waktu itu. Untuk itu, dalam penghembusan ide-idenya, acapkali Abduh harus berhadapan dengan berbagai fitnah yang mengakibatkan ia dihukum. Di antara konsekuensi ini dapat dilihat dari kebijakan pemerintah yang menangkap dan membuangnya ke luar negeri karena diindikasikan penguasa pada waktu itu sebagai salah satu tokoh yang ikut dalam revolusi Urabi Pasya pada tahun 1882.

Pada tahun 1884, ia diminta oleh Al-Afghani untuk datang ke Paris dan bersama-sama menerbitkan majalah Al-Urwat Al-Wasqa. Pada tahun 1885, ia pergi ke Beirut dan mengajar di sana. Akhirnya, atas bantuan temannya, di antaranya seorang berkebangsaan Inggris pada tahun 1888 ia kemudian diizinkan pulang ke Kairo. Di sini ia kemudian diangkat sebagai hakim. Pada tahun 1894, ia menjadi anggota majlis Al-A’la al-Azhar dan telah banyak memberikan konstribusi bagi pembaharuan di Mesir (Al-Azhar) dan dunia islam pada umumnya. Kemudian pada tahun 1899, ia diangkat sebagai mufti Mesir dan jabatan ini diemban sampai ia meninggal pada tahun 1905 dalam usia kurang lebih 56 tahun.

B.    Pemikiran Tentang Pendidikan

Sebagai seorang teolog yang modernis, Abduh merasa yakin bahwa Sains dan Islam tidak mungkin bertentangan. Ia menyatakan bahwa agama dan pemikiran ilmiah bekerja pada level yang berbeda. Ia menyuguhkan ajaran dasar Islam dalam batasan yang bisa diterima oleh pikiran modern dan mengizinkan pembaharuan lebih lanjut di satu pihak dan mempelajari ilmu pengetahuan modern di pihak lain.

Meskipun Abduh tidak menyuguhkan ide-ide baru dalam kumpulan tradisional, namun posisinya memberikan kemajuan kepada para pembaharu pra-modern pada dua poin penting; pertama, penekanan umum atas peranan akal dalam Islam. Kedua, menyatakan kembali ide-ide dasar islam sehingga bisa membuka pintu bagi pengaruh ide-ide baru dan usaha pencarian ilmu pengetahuan modern pada umumnya. Ia menawarkan prospek-prospek perkembangan sambil tetap mengamankan kontinuitas dari masa lampau. Jadi, pembaruan mendasar yang diupayakan Muhammad Abduh adalah memahami dan menyuguhkan kebenaran Islam secara lebih rasional, karena akal (rasio) dapat dijadikan sebagai justifikasi agama, sehingga doktrin-doktrinnya dapat dilogikakan dan didemonstrasikan secara rasional pula.

Lebih lanjut, ia melakukan penafsiran kembali tentang Islam dan menjelaskan bagaimana Islam memberikan dasar-dasar moral bagi masyarakat modern. Ia pun menggugah kaum muslimin agar mau melakukan kritik dan menggali moral agama. Dalam analisisnya, ia menggunakan tema-tema yang sudah berkembang pada abad ke-18, tetapi meletakkan tema tersebut dalam konteks kontemporer. Masyarakat muslim dapat mengadopsi ide-ide barat tanpa mengenyampingkan prinsip-prinsip Islam sendiri. Hal ini dapat diidentifikasi sebagai Islam yang benar yakni Islam yang murni (bebas) dari pengaruh dan praktik menyimpang.

Oleh karena itu, isu paling penting yang menjadi perhatian sepanjang hayat dan kariernya pembaruan pendidikan. Muhammad Abduh melihat adanya dua tipe pendidikan yang timpang yakni; tipe pertama, adalah sekolah-sekolah agama dengan Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan tinggi. Sedangkan tipe kedua, adalah sekolah-sekolah modern, baik yang dibangun oleh pemerintah Mesir maupun yang didirikan oleh bangsa asing. Kedua tipe tersebut tidak ada hubungan antara satu dengan yang lain, masing-masing berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan pendidikan. Sekolah-sekolah agama berjalan di atas garis tradisional, baik dalam kurikulum maupun metode pengajaran yang diterapkan.

Selanjutnya, format kurikulum pendidikan yang ditawarkan Abduh dapat dilihat perinciannya sebagai berikut: 1) tingkat sekolah dasar meliputi membaca, menulis, berhitung sampai tingkat tertentu, pelajaran yang berkenaan agama dan sejarah. 2) tingkat menengah meliputi mantiq atau logika, dan dasar-dasar logika, aqidah, fikih, akhlaq dan sejarah Islam secara komprehenshif. 3) tingkat atas, pada tingkatan ini lebih universal, karena dipersiapkan Urafa’ al-Ummah yang mencangkup tafsir, hadist, bahasa arab, dengan segala lambangnya, akhlaq, ushul fikih, sejarah, retorika, dasar-dasar diskusi dan ilmu kalam.

Atas dasar pandangan yang semacam itu, ia berpendapat bahwa sekolah-sekolah pemerintah yang telah didirikan untuk mendidik tenaga-tenaga yang perlu bagi Mesir dalam lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, pendidikan dan sebagainya perlu dimasukkan pendidikan agama yang lebih kuat, termasuk di dalamnya sejarah Islam dan sejarah kebudayaan Islam. Sistem pendidikan madrasah harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat itu. Dalam hal ini ia memasukkan ilmu filsafat, logika dan ilmu pengetahuan modern, agat output-nya dapat menjadi ulama modern. Dengan demikian, jurang yang memisah golongan ulama dari golongan ahli ilmu modern akan dapat diperkecil.

Dalam konteks ini, Abduh berusaha mendirikan komite perbaikan Administrasi Al-Azhar pada tahun 1895, dan berhasil melakukan pembaharuan-pembaharuan administrasi yang bermanfaat, namun usahnyan untuk mengembangkan kurikulum di Al-Azhar menghadapi perlawanan dari para ulama bahkan ia dituduh akan menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran mu’tazilah oleh para ulama Al-Azhar, seperti Syekh Alaisy. Dalam rangka mengubah sistem pendidikan tersebut, abduh hanya mempunyai ide yang tidak bisa terealisasi hanya karena benturan dengan kelompok ulama konservatif yang belum memahami betul manfaat dari adanya pembaharuan. Oleh sebab itu, ia merintis pendirian lembaga pendidikan majlis pengajaran tinggi yang bisa mengajarkan kedua ilmu tersebut.

Abduh melihat segi-segi negatif dari kedua bentuk pendidikan tersebut. Ia memandang bahwa pemikiran yang pertama tidak dapat dipertahankan lagi. Usaha-usaha untuk mempertahankan pemikiran yang demikian hanya akan menyebabkan umat Islam tertinggal jauh terdesak oleh arus kehidupan dan pemikiran modern. Sedangkan pada pola pemikiran kedua ia melihat adanya bahaya yang mengancam sendi-sendi agama dan moral yang akan tergoyahkan oleh pemikiran modern yang mereka serap. Dari itulah Abduh melihat pentingnya mengadakan perbaikan di dua institusi tersebut, sehingga jurang yang terbuaka lebar  dapat tersempit.

Kondisi demikian pun dihadapinya dengan sabar, Abduh tidak merasa putus asa bahkan usaha penyebar luasakan ide-ide pembaharuan pendidikan terus disebarkan kepada para guru dan civitas akademika Al-Azhar. usaha tersebut telah membuahkan hasil, sedikit demi sedikit para pemimpin Al-Azhar tergerak dan terdorong untuk menata kembali metode-metode belajarnya serta mengajarkan sejarah, geografi dan beberapa cabang ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian, upaya pembaharuan yang di tujukan untuk Al-Azhar meliputi: (1) membentuk dewan pemimpinan Al-Azhar yang terdiri dari ulama besar dari empat madzab, (2) menertibkan administrasi Al-Azhar dengan menentukan honor yang layak bagi pengajar, membangun ruang khusus untuk rektor dan mengangkat pera pembantu rektor, dan (3) masa belajar diperpanjang dan masa libur diperpendek.

Dalam bidang metode pembelajaran ia membawa cara baru dalam dunia pendidikan saat itu. Ia mengkritik dengan tajam penerapan metode hafalan tanpa pengertian yang umunya dipraktikan di sekolah-sekolah saat itu, terutama sekolah agama. Ia tidak menjelaskan dalam tulisannya metode apa yang sebaiknya diterapkan, tetapi dari apa yang dipraktikannya ketika ia mengajar di Al-Azhar tampaknya bahwa ia menerapkan metode diskusi untuk memberikan pengertian yang mendalam pada peserta didiknya. Ia menekankan pentingnya pemberian pengertian dalam setiap pelajaran yang diberikan.  Ia memperingatkan para pendidik untuk tidak mengajar peserta didik dengan metode menghafal, karena metode demikian hanya akan merusak daya nalar, seperti yang dialami di sekolah farmasi di masjid Ahmadi di Thanta.

Pamikiran Abduh yang lain dalam suatu sistem pendidikan adalah pendidikan yang fungsional, yang meliputi pendidikan universal bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan. Semuanya harus punya dasar membaca, menulis, berhitung dan harus mendapatkan pendidikan agama. Mereka mendapat hak yang sama dari allah sesuai dengan firmannya dalam QS. Al-Baqarah; 228 dan QS. Al-Ahzab; 35. Menurutnya, ayat ini mensejajarkan lelaki dengan wanita dalam mendapatkan ampunan dari Allah atas perbuatan yang sama, baik yang bersifat keduniaan maupun agama.

Yang dapat kita warisi dari Muhammad Abduh yaitu pertama, dalam Pengembangan Kurikulum Sekolah Dasar. Menurut Muhammad Abduh bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya dilakukan sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, mata pelajaran agama agar dijadikan pelajaran wajib pada semua mata pelajaran. Pandangan ini mengacu pada anggapan bahwa ajaran agama (Islam) merupakan dasar pembentukan jiwa dan pribadi Muslim.  Kedua, Pengembangan kurikulum Sekolah Menengah dan Sekolah Kejuruan dilakukan dengan memasukkan mata pelajaran Manthiq dan falsafah yang sebelumnya tidak boleh diajarkan.  Selain itu,  dimasukkan pula pelajaran tentang sejarah dan peradaban Islam dengan tujuan agar umat Islam mengetahui berbagai kemajuan dan keunggulan yang pernah dicapai dunia Islam di masa silam, sebagai pemicu bagi lahirnya kebanggaan terhadap Islam serta semangat untuk membangun kembali kejayaan umat Islam.  Ketiga dalam pengembangan metode pengajaran. Menurut Muhammad Abduh bahwa metode pengajaran yang selama ini hanya mengandalkan hafalan perlu dilengkapi dengan metode yang rasional dan pemahaman (insight). Dengan demikian, di samping para siswa menghafal suatu bahan pengajaran, juga dapat memahaminya dengan kritis, objektif dan komprehensif. Berkenaan dengan ini, Muhammad Abduh mengusulkan agar menghidupkan kembali metode munadzarah (diskusi) dalam memahami pengetahuan.

C.    Teori Pendidikan Muhammad Abduh

Pandangan Muhammad Abduh mengenai ilmu akan menentukan pandangannya tentang manusia. Sedangkan konsep manusia akan menentukan arah modernisasi pendidikan yang diagendakannya.  Dalam modernisasi pendidikan yang didasarkan pada konsep ilmu dan manusia itulah akan ditemukan tujuan dan metode modernisasi pendidikan Muhammad Abduh.  Selanjutnya analisis komparatif akan lebih mengerucut pada orientasi konsientisasi dan modernisasi pendidikan yang sebelumnya dicari persamaan dan perbedaan serta kelemahan dan keunggulan masing-masing teori tersebut.

Langkah awal modernisasi Abduh adalah dibentuknya majelis Pendidikan Tinggi Mesir. Selain itu, Muhammad Abduh juga memandang perlunya integrasi pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Dengan cita-cita ini, Muhammad Abduh menganggap perlu diajarkannya ilmu pengetahuan modern di lembaga pendidikan Islam semisal Al-Azhar, di samping juga perlunya memperkuat ilmu-ilmu agama. Hal ini didasarkan pada pandangannya terhadap ilmu yang tidak dibedakannya antara ilmu keagamaan dan ilmu kealaman sebagaimana penafsiran surat Al-Alaq ayat 5 berikut ini:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. “(QS Al-Alaq:  1-5)”.
Abduh menafsirkan ayat di atas sebagai berikut: "Bahwa Dia (Allah) yang keluar darinya perintah untuk menjadikanmu seorang pembaca dan yang membacakan, dan menimbulkan dalam dirimu kepandaian itu,  bahkan kelak akan menyampaikan pada tingkatan setinggi-tingginya yang tak seorangpun selainmu akan mencapainya di bidang ini; dia pulalah yang telah mangajarkan kepada manusia segala ilmu pengetahuan yang dinikmatinya, sedangkan ia di hari-hari permulaan penciptaannya tak mengetahui apapun.

Penafsiran Abduh atas ayat kelima dari surat Al-Alaq di atas mengandung tiga hal yang perlu diungkap, terkait dengan modernisasi pendidikannya. Pertama, bahwa segala ilmu adalah ciptaan Allah.  Buktinya proses kejadian manusia dari setetes air hina, menjadi segumpal darah, kemudian menjadi seonggok daging dan akhirnya menjadi manusia, merupakan kekuasaan Allah.  Proses tersebut bukan saja ilmu agama yang mengupas secara tuntas, tetapi ilmu alam (khususnya ilmu kedokteran) mengakui dengan sepenuhnya karena proses tersebut dapat dibuktikan secara empiris-rasional oleh ilmu kealaman bahkan ilmu eksak. Kedua, ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah merupakan sang pendidik yang sejati.  Buktinya, ketika manusia lahir, ia tidak mengetahui apa pun dimuka bumi ini, tetapi setelah ia dewasa bahkan tua, pengetahuannya menjadi banyak sekali, bahkan ia mampu memahami kehidupan selanjutnya yakni kehidupan setelah mati. Hal ini menunjukkan selama itu ia berada dalam didikan Allah swt. Namun demikian, pengetahuan dari Tuhan yang diberikan kepada manusia tidak secara langsung melainkan melalui utusan-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini, Rasul Saw.  dapat dipahami sebagai pendidik yang kedua.  Tanpa adanya pendidik yang kedua ini (para Rasul) mustahil manusia mampu mengetahui kehidupan setelah mati. Abduh mengatakan: "Rasul-Rasul itu mengajarkan kepada manusia tentang berita-berita gaib menurut apa yang diizinkan Tuhan pada hamba-hamba-Nya untuk mengetahui". Ketiga, ilmu-ilmu kealaman mempunyai kedudukan yang sama dengan ilmu keagamaan.  Proses kejadian manusia sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Alaq di atas bukanlah penjelasan keagamaan murni, tetapi juga sesuai dengan ilmu kedokteran (yang merupakan bagian dari ilmu kealaman) yang dapat dipelajari secara objektif.  Contoh lain adalah sunatullah alam atau hukum alam (benda jatuh kebawah, air mengalir ke bagian yang lebih rendah, api bersifat panas). Kesemuanya itu dapat dipelajari dengan ilmu kealaman pula, dan itu dibenarkan oleh agama.  oleh karena itu, alam dan ayat Al-Qur'an pada dasarnya sama-sama wahyu Allah dan dengan demikian kedua ilmu tersebut menempati posisi yang sama.  Namun demikian, Abduh menjelaskan, bahwa para Rasul bukan bertugas untuk mengajarkan ilmu kealaman sebagaimana diajarkan para sarjana dan para ahli.  Abduh menjelaskan:
"Tetapi bukanlah termasuk fungsi kewajiban para Rasul Tuhan untuk melakukan apa-apa yang menjadi tugas para guru dan sarjana-sarjana ahli ekonomi (perindustrian).  Maka karenanya para Rasul itu datang ke dunia untuk mengajarkan sejarah, dan tidak pula menjelaskan segala persoalan yang menyangkut dengan alam, planit-planit, dan tidak menerangkan gerak-gerik binatang yang berbeda satu dengan yang lain".

Mencermati pernyataan Abduh di atas, dapat dipahami bahwa ilmu-ilmu kealaman juga bagian dari ilmu secara keseluruhan.  Tanpa ilmu kealaman seperti di atas, maka pincanglah pengetahuan manusia, dan dengan demikian manusia tidak lagi sebagai makhluk yang sempurna.  Oleh karena itu, ilmu kealaman juga wajib untuk dipelajari sebagaimana wajibnya ilmu agama.  Dengan prinsip yang demikian, maka manusia akan memiliki keseimbangan pengetahuan yakni pengetahuan agama dan umum.  Hanya saja, ilmu umum disampaikan oleh para sarjana dan ahli alam, sedangkan ilmu agama disampaikan oleh para Rasul. Masing-masing mempunyai proporsinya sendiri-sendiri. Bahkan pada bagian lain, Abduh menjelaskan dengan lantang:

"Pada kenyataannya saya harus mengatakan bahwa umat Islam tidak pernah menjadi musuh bagi ilmu pengetahuan, begitu pula sebaliknya, kecuali setelah mereka mulai melenceng dari ajaran agama. Mereka mulai berpaling dari ilmu pengetahuan. Setiap kali mereka menjauh dari ilmu agama, setiap kali itu pula mereka menjauh dari ilmu dunia dan menghindari pemanfaatan akal.  Setiap kali mereka memperdalam tentang ilmu agama, setiap kali itu pula mereka memperdalam ilmu alam".

Mencermati pernyataan lantang Abduh di atas, tampak dengan jelas bahwa ia memandang akan kesamaan atau kesederajatan antara ilmu agama dan ilmu kealaman.  Keduanya tidak lagi dipisahkan antara agama sebagai produk Tuhan dan ilmu sebagai produk akal. Dalam pandangan modernisai pendidikan Abduh, antara ilmu dan agama, keduanya mempunyai hubungan yang saling memperkokoh keberadaan masing-masing. Semakin dalam pengetahuan manusia tentang agama semakin dalam pula pengetahuannya mengenai ilmu alam.  Dengan alur ilmu dan agama yang demikian maka tidak sulit untuk menjadikan manusia yang berintelektual sekaligus bermoral.

Ilmu pengetahuan dalam pandangan Abduh tidak bertolak belakang secara menyeluruh dengan ilmu pengetahuan modern.  Pada garis besarnya, bahwa persamaan-persamaan di antara keduanya dapat diterima secara universal.  Misalnya, akal diakui oleh Islam sebagai salah satu media memperoleh pengetahuan.  Ihwan Al-Sahfa menegaskan, bahwa sesungguhnya seluruh ilmu pengetahuan diusahakan, sedangkan dasar usahanya itu adalah pengindraan.  Menurut pernyataan Shafa tersebut,  dapat dipahami bahwa pengetahuan dapat diupayakan melalui indra manusia.  Indra dalam artian luas,  terutama dalam hal ilmu pengetahuan maka akal lah yang berperan besar dalam penyusunan ilmu pengetahuan tersebut. Pada sisi yang lain, objek kajian yang ada pada akal bukanlah sesuatu tanpa simbol atau perlambang yang diperoleh melalui indra. Namun dalam keadaan kemampuan manusia sangat terbatas, di samping pancaindra sendiri juga dapat keliru dalam melakukan pengamatan, penelitian, penafsiran dan pengkajian. Bersamaan dengan ini maka data atau hasil pengamatan tersebut tidak akan mampu tampil sebagaimana mestinya karena unsur subjektivitas individu akan memengaruhi warna sebuah fakta yang diamati.

Demikian juga yang terjadi pada akal manusia. Islam mengakui keberadaan akal manusia sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan yang paling penting. Tetapi sebagaimana indra pada umumnya, akal justru mempuyai tingkat rawan kekeliruan yang lebih tinggi dibandingkan dengan indra yang lain,  sehingga supaya akal dapat bekerja maksimal perlu bantuan.  Karena keterbatasan atau kelemahan akal dan indra itulah maka Islam merancang ilmu pengetahuan yang disandarkan pada kekuatan spiritualitas atau religiusitas yang bersumber pada wahyu atau Allah.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Muhammad Abduh lahir di Mesir pada tahun 1682 M, ia belajar agama di Mesir di masjid Syekh Ahamd di Thanta. Semangat belajarnya tumbuh atas dorongan paman ayahnya Syekh Darwis Khadar. Ayahnya bernama Abduh Hasan Khairullah, berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir. Ibunya menurut satu riwayat berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya sampai ke suku bangsa Umar ibn Khaththab. Abduh akhirnya dapat menyelesaikan pendidikannya di Thanta. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di universitas Al-Azhar dan menamatkannya pada tahun 1877 M. ketika di Al Azhar ia memperoleh pengalaman sangat berkesan dari gurunya Syekh Hasan Al-Thawil dan Syekh Muhammad Al-Bashuni, masing-masing sebagai guru mantiq dan balaghah. Selain itu, ia sempat berkenalan dan menjadi pesrta didik Jamaludin Al-Afghani dalam bidang filsafat dan politik.
Kehausan Abduh akan ilmu pengetahuan mendorongnya untuk selalu memperluas cakrawala pengetahuannya. Pada usia 44 tahun, ia mempelajari bahasa Prancis untuk mempelajari pengetahuan yang berkembang di barat. Bahasa itu dapat di kuasi dengan baik. Ia melihat bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan barat, seseorang perlu mengetahui bahasa yang berpengaruh di Eropa.
Pandangan Muhammad Abduh mengenai ilmu akan menentukan pandangannya tentang manusia. Sedangkan konsep manusia akan menentukan arah modernisasi pendidikan yang diagendakannya.

Dalam modernisasi pendidikan yang didasarkan pada konsep ilmu dan manusia itulah akan ditemukan tujuan dan metode modernisasi pendidikan Muhammad Abduh.  Selanjutnya analisis komparatif akan lebih mengerucut pada orientasi konsientisasi dan modernisasi pendidikan yang sebelumnya dicari persamaan dan perbedaan serta kelemahan dan keunggulan masing-masing teori tersebut.

Sebagai seorang teolog yang modernis, Abduh merasa yakin bahwa Sains dan Islam tidak mungkin bertentangan. Ia menyatakan bahwa agama dan pemikiran ilmiah bekerja pada level yang berbeda. Ia menyuguhkan ajaran dasar Islam dalam batasan yang bisa diterima oleh pikiran modern, dan mengizinkan pembaharuan lebih lanjut di satu pihak dan mempelajari ilmu pengetahuan modern di pihak lain. Dalam bidang metode pembelajaran ia membawa cara baru dalam dunia pendidikan saat itu. Ia mengkritik dengan tajam penerapan metode hafalan tanpa pengertian yang umunya di praktikan di sekolah-sekolah saat itu, terutama sekolah agama. Ia tidak menjelaskan dalam tulisannya metode apa yang sebaiknya di terapkan, tetapi dari apa yang dipraktikannya ketika ia mengajar di Al-
Azhar tampaknya bahwa ia menerapkan metode diskusi untuk memberikan pengetian yang mendalam pada peserta didiknya.

B.    Saran

Saya menyadari bahwa di dalam penyusunan dan penulisan makalah ini banyak mengalami kekeliruan. Oleh karena itu, saya berharap kritik serta saran dari pembaca, pakar penulis serta yang paling utama dosen pengampu matakuliah Filsafat Pendidikan Islam yang mana kritik serta penyusun karya tulis yang lebih baik lagi.


DAFTAR RUJUKAN


Assegas, Abd Rachman. Aliran Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Persada, 2013.
Nata, Abuddin. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012.
Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2008.
Siswanto. Pendidikan Islam dalam perspektif filosofis. Pamekasan: STAIN Pamekasan Press, 2009.
Zainuddin, M. Pendidikan Islam dari Paradigma Klasik Hingga Kontemporer. Malang: UIN-Malang Press, 2009.
SHOW or HIDE COMMENT
close