Harga Emas Kembali ke Atas USD 1.300 per Ounce


emas naikPalladium mencetak rekor tertinggi pada saat perdagangan Jumat di tengah harapan adanya stimulus ekonomi China. Sedangkan untuk harga emas sendiri berjangka AS naik USD 7,80 ke level USD 1.302,90 per ounce.

Dikutip dari CNBC, Bahwa Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan Beijing sangat terbuka untuk mengambil langkah-langkah kebijakan moneter tambahan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tahun ini.

"Pengumuman langkah-langkah stimulus khusus tersebut membantu sentimen dari China, yang merupakan konsumen pasar Palladium. Dengan seperti itu logam mulia tersebut naik ke tertinggi baru," kata Tai Wong, seorang analis di BMO.

Di pasar spot, harga palladium melonjak ke rekor tertinggi di USD 1.567,5 per ounce.

Sementara itu, harga emas berbalik arah menguat setelah penurunan lebih dari 1% di sisi sebelumnya. Harga emas naik 0,5% menjadi USD 1.302,89 per ounce dan kenaikan mingguan kedua secara berturut-turut.

Kenaikan harga emas ini karena kejatuhan nilai tukas dollar AS terhadap para pesaingnya, terbebani dengan data manufaktur yang lemah, menjelang pertemuan Bank Sentral pekan depan yang diharapkan untuk memberikan lebih banyak lagi cahaya pada prospek suku bunga.

"Untuk emas, apakah itu ditutuo di atas atau dibawah USD 1.300 akan membantu menentukan sentimen awal minggu depan sebelum bergerak ke Fed,"kata Wong.

Pada perdagangan sebelumnya, harga emas turun lebih dari 1% tergelincir di bawah USD 1.300 untuk kedua kalinya pada bulan ini. Harga emas turun karena dipicu kekhawatiran tidak akan adanya kesepakatan Brexit dan menguatnya Dollar AS terhadap Pouns Sterling menelang pemungutan suara untuk memperpanjang batas waktu keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Melansir dari Reuters, Jumat 15/3/2019), harga emas di pasar spot turun 1% menjadi USD 1.296,51 per ounce dari posisi sebelumnya USD 1.311,07, tertinggi sejak 1 Maret 2019. Sementara harga emas berjangka AS menetap 1,1% lebih rendah di posisi USD 1.295,1 per ounce.

"Kemungkinan Brexit tanpa kesepakatan telah meningkatkan kemungkinan meluasnya pembelian emas, dan mempengaruhi harga," kata Suki Cooper, analis logam mulia di Standard Chartered Bank.

Indeks Dollar AS menguat terhadap pound menjelang pemungutan suara parlemen, yang diharapkan menyerukan penundaan Brexit di kemudia hari.

Hal yang juga menghambat permintaan emas, terkait lonjakan ekuitas global pada saham Eropa sebagai resiko perceraian memudarnya kesepakatan perceraian Inggris-Uni Eropa.

"Harga emas dan perak mengalami pullback korektif setelah mencapai posisi tertinggi dua minggu pada hari Rabu,"jelas Jim Wyckoff. Analis Senior Kitco Metals dalam sebuah catatan.

Pembicaraan perdagangan Amerika Serikat-China ikut membuat para investor khawatir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan tentang kemajuan dalam pembicaraan, namun muncul laporan yang mengatakan para pemimpin kedua negara tersebut menunda pertemuan mereka berikutnnya hingga setidaknya pada bulan April.

Trump sebelumnya menekankan bahwa ia "tidak terburu-buru" untuk mendapatkan kesepakatan dengan China.

Sumber : Liputan6.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel