Teori Mengelola Perubahan

Written by

Leadership yang baik harus mempertimbangkan beberapa teori yang akan digunakan dalam kepemimpinannya terlebih dalam menciptakan perubahan. Akmaluddin Hasibuan mengutip penjelasan R. Kasali dalam bukunya Chang! Tak Perduli Anda Berapa Jauh Jalan Yang Anda Jalani, Putar Arah Sekarang Juga,  untuk mengatasi hambtan perubahan setidaknya ada beberapa teori yang dapat dirujuk sebagai model dalam mengelola perubahan strategis menmbangun organisasi, yaitu:

1.    Teori force-field dari Kurt dan Lewis

Sering juga disebut sebagai powerbased model karena konsep ini mengedepankan tekanan untuk melakukan perubahan organisasi, individu, atau kelompok. Teori ini berkesimpulan bahwa perubahan terjadi dengan memperkuta tekanan (driving force  dan melemahkan keengganan (resistence)  untuk berubah. Dari sini dirumuskan tiga langkah untuk mengelola perubahan, yaitu:

  • Unfreezing, yaitu proses penyadaran tentang perlunya perubahan,
  • Changing,  yaitu proses memperkuat driving force dan melemahkan resistence,
  • Refreezing, yaitu proses membawa kembali organisasi pada keseimbangan baru.

2.    Teori motivasiKonsep ini mengedepankan motivasi untuk melakukan perubahan organisasi, teori ini menyimpulkan perubahan akan terjadi jika:
  • Manfaatnya lebih besar dari biaya perubahan
  • Adanya ketidakpuasan akan kondisi saat ini
  • Hari esok yang dipersepsikan lebih baik
  • Ada cara praktis untuk keluar dari kondisi sekarang

Untuk itu, dalam melakukan perubahan, ditempuhlah langkah sebagai berikut:
  • Membangun optimisme,
  • Memberikan kepercayaan pada setiap individu untuk berperan dalam perubahan,
  • Meminimalkan ketidakpuasan, dan
  • Fokuss pada upaya menyelesaikan masalah
3.    Teori proses perubahan manajerial
Mengingat perubahan melibatkan banyak orang dalam organisasi, konsep ini mengedepankan tugas general manager  untuk memperoleh dukungan dan komitmen dari anggota organisasi dalam melakukan perubahan. Menurut teori ini untuk menghsilkan perubahan secara manajerial, dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Memobilisasi dukungan stakeholder¸dengan mengikutkan mereka dalam menganalisis masalah yang melemahkan aya saing perusahaan
  • Mengembangkan visi dan strategi dalam daya guna yang positif
  • Mengupayakan konsensus terhadap visi organisasi yang baru
  • Merevitalisasi visi dengan memperluas pada seluruh deoartemen dalam organisasi dan memlihara konsistensinya
  • Mengonsolidasi perubahan malelui kebijakan, strategi yang diformalisasikan, struktur, an sistem
  • Memnatau secara terus menerus kegiatan perubahan.

Disamping tepri di atas, terdapat pula teori intervesionis dalam melakukan perubahan organisasi melalui pengemangan organisasi, seperti teori interaksi teknologi an manusia, team building yang dianjurkan oleh Golembiewski, Billingsey, dan Yeager. Dan teori contingensi yang dianjurkan oleh Tannenbaum dan Schmidt, serta teori-teori mengatasi resistensi dalam perubahan yaitu komunikasi, partisipasi, faislitas, negosiasi, manilpulasi, dan paksaan.
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close