Strategi yang Ditempuh dalam Mewujudkan Perubahan di Pesantren

Written by

Pertama, menerapkan manajemen secara professional. Hal ini dapat ditempuh melalui langkah-langkah berikut ini:
  1. Menguasai ilmu dan praktik tentang pengelolaan pesantren.
  2. Menerapkan fungsi-fungsi manajemen mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan.
  3. Mampu menunjukkan skill yang dibutuhkan pesantren.
  4. Memiliki pendidikan, pelatihan, atau pengalaman yang memadai tentang pengelolaan.
  5. Memiliki kewajiban moral untuk memajukan pesantren.
  6. Memiliki komitmen yang tinggi terhadap kemajuan pesantren.
  7. Memiliki kejujuran dan disiplin tinggi.
  8. Mampu memberi teladan dalam perkataan dan perbuatan kepada bawahan.

Kedua, menerapkan kepemimpinan ynag kolektif. Strategi ini dapat diwujudkan melalui langkah-langkah berikut ini:
  1. Mendirikan yayasan.
  2. Mengadakan pembagian wewenang secara jelas.
  3. Memberikan tanggung jawab kepada masing-masing pegawai.
  4. Menjalankan roda organisasi bersama-sama sesuai dengan kewenangan masing-masing pihak secara proaktif.
  5. Menanggung risiko bersama-sama.

Ketiga, menerapkan demokratisasi kepemimpinan. Strategi ini dapat ditempuh melalui langkah-langkah berikut:
  1. Mengurangi dominasi kiai dalam penentuan kebijakan.
  2. Menekankan partisipasi masyarakat pesantren dalam menentukan pilihannya sendiri.
  3. Keputusan-keputusan yang diambil kiai mempertimbangkan usaha-usaha dari bawah.
  4. Memberikan kebebasan kepada bawaan untuk memilih pimpinan unit-unit kelembagaan secara terbuka dan mandiri.
Keempat, menerapkan manajemen struktur. Strategi ini dapat dilalui dengan langkah-langkah berikut:
  1. Menyusun struktur organisasi secara lengkap.
  2. Menyusun deskripsi pekerjaan.
  3. Menjelaskan hubungan kewenangan antarpegawai dan pimpinan, baik secara vertical maupun horizontal (bertanggung jawab kepada siapa, dan memiliki kewenangan memerintah siapa).
  4. Menanamkan omitmen terhadap tugas masing-masing pegawai.
  5. Menjaga kode etik kewenangan masing-masing pegawai.

Kelima, menanamkan sikap sosio-egalitarianisme. Strategi ini dapat ditempuh melalui langkah-langkah berikut:
  1. Menggusur sikap feodalisme yang berkedok agama.
  2. Memandang semua orang memiliki derajat dan martabat sosial yang sama sesuai amanat Al-Qur’an surah Al-Hujurat: 13.
  3. Menghapus diskriminasi di kalangan santri antara kelompok putra-putra kiai (para gus) dengan santri biasa.
  4. Menghapus sikap mengkultuskan para kiai.
  5. Menghapus penghormatan yang berlebihan kepada kiai.
  6. Menghapus sikap mengistimewakan seseorang atau kelompok tertentu.
  7. Membebaskan para santri dari perasaan sebagai “hamba” atau “mayit” di hadapan kiai sehingga mereka dapat tetap menjadi santri yang sopan tetapi penuh isisiatif.

Keenam, menghindarkan pemahaman yang menyucikan pemikiran agama (taqdis afkar ad-dini). Strategi ini dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut.
  1. Membiasakan telaah terhadap isi kandungan kitab.
  2. Membiasakan pendekatan perbandingan pemikiran para ulama (muqaranah al-afkar al-ulama) dalam proses pembelajaran.
  3. Membiasakan kritik konstruktif dalam proses pembelajaran
  4. Menanamkan kesadaran bahwa pemikiran para penulis kitab sangat dipengaruhi oleh stuasi dan kondisi yang terjadi pada saat penulisan kitab itu.
  5. Menanamkan bahwa betapapaun hebatnya seorang penulis kitab, dia pasti memiliki kelemahan-kelemahan.

Ketujuh, memperkuat penguasaan epistemologi dan strategi. Strategi tersebut dapat ditempuh melalaui langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Menyajikan pelajaran teori pengetahuan.
  2. Memotivasi santri senior untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
  3. Memperkuat ilmu-ilmu wawasan seperti sejrah, filsafat, mantiq, perbandingan madzhab (muqaranah al-madzhib), perbandingan agama (muqaranah al-adyan), ilmu-ilmu Al-qur'an (ulumul qur'an), ilmu-ilmu hadits (ulumul hadits).
  4. Memperkuat ilmu-ilmu pendekatan atau metode (manhaji), seperti ushul fiqh (epistemology hokum islam) dan al-qawa'id al-fiqhiyah (kaidah-kaidah ilmu fiqih).
  5. Mengajarkan metodologi penelitian.
  6. Mengajarkan metodologi penulisan karya ilmah.
  7. Mengajarkan metode berpikir ilmiah.
  8. Memberikan tugas-tugas penulisan karya ilmiah.
  9. Mendorong keberanian santri-santri senior untuk menulis buku-buku ilmiah.
  10. Mendorong keberanian para santri senior untuk menerjemahkan kitab-kitab berbahasa arab kedalam bahasa Indonesia.

Kedelapan, mengadakan pembaharuan secara berkesinambungan. Strategi ini dapat di aplikasikan melalui langkah-langkah berikut:
  1. Mengadakan pembaruan dan/atau penambahan institusi.
  2. Mengadakan pembaruan sistem pendidikan.
  3. Mengadakan pembaruan system kepemimpinan.
  4. Mengadakan pembaruan sitem pembelajaran.
  5. Mengadakan pembaruan kurikulum.
  6. Mengadakan pembaruan strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran.
  7. Memperkuat SDM para ustadzz, perpustakaan dan laboratorium.

Kesembilan, mengembangkan sentra-sentra perekonomian. Strategi ini dapat diaplikasikan melalui langkah-langkah berikut:
  1. Mendirikan took-toko yang menyediakan kebutuhan para santri.
  2. Mengelola konsumsi para santri (tata boga).
  3. Mendirikan koperasi.
  4. Mendiririkan pusat-pusat pelayanan publik yang berorientasi pada keuntungan finansial.
  5. Membuat jaringan kerja sama dengan pihak lain yang saling menguntungkan.
  6. Mendirikan usaha-usaha produktif lainnya.
SHOW or HIDE COMMENT
close