Perubahan: Menumbuhkan Intelektualisme dan Keunggulan Akademik

Written by


Pengetahuan adalah elemen yang sangat penting. Dengan pengetahuanlah anak-anak mampu mengenal dunianya. Dengan demikian, akan tahu keberadaannya di dunia dan material-material dunia yang saling berhubungan/berkaitan (dialektis). Jika anak mengetahui hubungan-hubungan yang saling menunjukkan sebab akibat, ia akan dapat memahami bahwa suatu kejadian tidak semata-mata terjadi dengan sendirinya, tetapi disebabkan oleh suatu hal. Dengan berpikir semacam ini anak-anak akan berusaha mencari tahu kenapa sesuatu terjadi.

Pencarian yang terus menerus akan menghasilkan penemuan, mencari informasi akan membuat anak memiliki banyak pengetahuan. Maka, jangan heran jika ada anak yang sangat pandai di satu sisi, tetapi di sisi lain ada juga anak yang sangat bodoh. Semuanya tergantung pada proses belajar dan mencari informasi. Benar bahwa kecerdasan dipengaruhi oleh faktor genetis atau bawaan dari orang tua.

Akan tetapi juga ada faktor fisik lain berupa pertumbuhan fisik biomedis otak yang ditunjang oleh nutrisi yang berkualitas. Nah pertanyaannya sekarang, bagaimana cara menumbuhkan intelektualime ini?

Yang pertama, perawatan dan pendidikan sejak janin. Kita bisa menumbuhkan kecerdasan intelektual anak jika kita merawatnya dengan serius. Namun demikian, tingkat intelegensi anak ditentukan pula oleh faktor sifat yang diturunkan (genetis) maupun lingkungan.

Kedua, menghargai pertanyaan anak. Banyak para ahli kejiwaan anak yang sepakat bahwa anak-anak yang banyak bertanya cenderung menjadi lebih cerdas. Akan tetapi belum tentu anak yang banyak bertanya akan menjadi manusia yang cerdas. Tergantung bagaimana tanggapan orang tua dan siapapun yang mendengar pertanyaan anak. Bukankah pertanyaan-pertanyaan itu akan berhenti begitu ia ditumpulkan atau dalam bahasa kasarnya dihentikan dengan ungkapan orang lain seperti ini, “Ah tak usah banyak Tanya!” itu memang kata-kata kasar yang membuat orang tak bertanya lagi karena marah. Ia telah merasa jengkel karena dilarang bertanya.

Mungkin kebanyakan orang masih dikuasai oleh cara pandang abstrak atau mungkin juga hanya terus jadi korban perasaan hingga tak bisa berpikir waras lagi. Proyek penyadaran itu sangatlah penting. Ini adalah bagian dari proyek kemanusiaan saat kebodohan menjadi watak pokok dari masyarakat yang diwarnai penindasan, pengisapan, dan ketimpangan.

Kebodohan, kepasrahan, dan ketidaksadaran selalu membuat seseorang tak produktif, tak kreatif, yang menyebabkan produktivitas dan kreativitas rendah. Bagaimana sebuah Negara-bangsa akan bangkit bila tenaga produktifnya tak jalan, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak progresif? Karenanya, ini menjelaskan mengapa bangsa ini kian terbelakang, kekayaan alamnya akan dieksploitasi oleh bangsa asing karena kita belum mampu mengolah dengan alasan tak menguasai ilmu dan teknologinya.

Akademik mengacu pada kemampuan siswa dalam mencerna pelajaran sesuai dengan kurikulum belajar mengajar di sekolah. Akademik lebih memanfaatkan permainan otak para siswa dan menjadikan intelektualitas seorang murid sebagai indikator kesuksesan. Setiap siswa memiliki alasan dan tujuan mereka sendiri mengapa ia lebih menekuni bidang akademik. Dalam alasan mereka pasti sudah tersusun rencana dan target mereka di masa yang akan datang. Akademik lebih memanfaatkan pada permainan otak para siswa dan menuntut mereka supaya berfikir fokus terhadap materi yang bersifat “wajib” di pelajari mereka selama menduduki status pelajar dan dikendalikan oleh otak kiri.

Sedangkan non-akademik lebih mengacu pada keaktifan siswa untuk mengkonstribusikan minat, bakat atau talenta siswa dengan cara mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau kegiatan lain dan dikendalikan oleh otak kanan mereka. Walaupun akademik dan non-akademik memiliki perbedaan arti namun keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dan dapat mempengaruhi satu sama lain. Jika siswa tidak dapat menyeimbangi keduanya, dalam artian siswa tersebut memprioritaskan salah satu bidang yang disukainya. Banyak orang mengatakan bahwa tingkat kecerdasan siswa dapat di ukur dengan seberapa besar ia dapat berprestasi dibidang akademik, tetapi kenyataannya pada survey mengatakan “tingkat kecerdasan seseorang tidak hanya diukur kemampuan akademiknya saja namun juga harus diimbangi dengan kecerdasan non-akademik dan emosionalnya”.

Kecerdasan siswa bukanlah diukur dari seberapa ia dapat menguasai pelajaran dibidang akademik, tetapi berdasarkan seberapa besar ia dapat menguasai pelajaran dibidang yang ia senangi. Artinya, kemampuan akademik bukanlah satu-satunya cara siswa untuk menjadi cerdas, ada faktor lain yang mendukung bahwa siswa tersebut cerdas. Tetapi akademik merupakan faktor utama pendukung siswa tersebut untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi, karena kemampuan akademik menjadi sebuah estime seberapa besar siswa akan cepat mengerti dalam mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa-siswa di sekolah. Di samping mereka menekuni pelajaran dibidang akademik mereka juga berhak mengembangkan bakat dan talenta mereka dengan mengikuti kegitan ekstrakurikuler yang ada di sekolah.

Ekstrakurikuler merupakan fasilitas yang disediakan oleh sekolah sebagai program dimana siswa dapat mengkonstribusikan bakat atau kemapuan mereka di luar kurikulum belajar mengajar. Kegiatan ini awalnya ditujukan sebagai kegiatan tambahan untuk menyegarkan kembali pikiran siswa selama mengikuti pelajaran di sekolah, namun lama kelamaan tujuan ekstrakurikuler tersebut meluas sebagai tempat dimana siswa dapat mengasah bakat dan mengikuti berbagai lomba diluar sekolah yang akan mengukur kemampuan bakat siswa tersebut dengan dibandingkan siswa-siswi di sekolah lain. Kegiatan di luar sekolah tersebut dapat mempengaruhi aktifitas belajar-mengajar siswa di sekolah karena beberapa lomba tersebut dapat menyita waktu siswa untuk latihan supaya mendapat juara dan gelar tersendiri akan kemampuan mereka.

Untuk para siswa yang lebih memilih prioritas diantara salah satu bidang, sebaiknya tetap berfokus pada bidang akademik. Karena akademik akan mengukur seberapa besar keberhasilan siswa tersebut mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Hal ini bagi mereka yang salah memilih jurusan belajar akan sangat mempengaruhi masa depan masng-masing. Jadi, sepintar apapun kita dalam bidang non akademik, kita tidak akan bisa terlepas dari pentingnya akademik.

Perubahan dibutuhkan tindakan. Tindakan dibutuhkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan teknis. Bagaimana kita akan bisa mengubah apa yang terkandung di tanah dan air kita kalau kita tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis alias iptek (ilmu dan teknologi)? Karenanya, bangsa ini hanya bisa pasrah, diam, tidak bertindak, dan perubahan tidak mungkin terjadi.

Banyak kumpulan-kumpulan orang tetapi yang dihasilkan adalah bicara soal janji-janji surga. Maka alam dan kekayaan tetap tidak bergerak, alam akan berubah jika ada perlakuan manusia-manusia unggul, yang punya kesadaran akan kemajun, yang punya wawasan, ilmu pengetahuan.    

Dengan demikian dapat kami simpulkan bahwa intelektual bisa saja ditumbuhkan dalam diri seseorang, namun tanpa adanya kesadaran untuk berubah akan sangat sulit untuk dijalankan. Jika sudah ada kesadaran maka akan sangat mudah untuk menumbuhkan intelektualisme dalam diri seseorang. Karena kepasrahan, kebodohan bisa dihilangkan dengan adanya keinginan untuk berubah.

Manager lembaga pendidikan Islam baik di dalam kapasitasnya sebagai kepala madrasah, kepala sekolah, ketua sekolah tinggi, rektor perguruan tinggi, direktur ma’had, maupun kyai pesantren harus menyadari bahwa mereka adalah agen perubahan  sehingga memiliki multi peran. Yaitu peran sebagai katalis, solution givers, process helpers, dan juga resource linkers, baik secara bergantian maupun bersamaan dalam satu waktu. Karena itulah manager memiliki pengaruh paling besar terhadap perubahan yang dilancarkan, dibanding sekedar menjadi pendukung perubahan, apalagi jika menjadi objek perubahan. Perubahan perlu dikelola secara bertahap.

Adapun tahapan-tahapan pengelolaan perubahan meliputi:
1.    Penemuan kasus,
2.    Pengomunikasian temuan,
3.    Pengkajian atas temuan,
4.    Pencarian sumber pendukung,
5.    Pencobaan langkah perubahan yang akan ditempuh,
6.    Perluasan dukungan dari berbagai pihak,
7.    Pembaharuan perubahan.
SHOW or HIDE COMMENT
close