Pengertian Modal Manusia

Para ahli pada umumnya memberikan pandangan yang bervariasi tentang modal manusia. Jac Fitz-ens (2009) menyatakan bahwa istilah modal manusia diperkenalkan oleh Theodore Schultz, ekonom yang tertarik pada nasib negara terbelakang. Ia berargumen bahwa konsep ekonomi tradisional tidak berurusan dengan nasib keterbelakangan. Menurutnya, peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin tidak hanya bergantung pada tanah, peralatan, atau energi, tetapi juga bergantung pada pengetahuan. Ia menyebutkan aspek kualitatif dari ekonomi dengan istilah modal manusia. Schultz, yang memenangkan hadiah Nobel pada tahun 1979, menyatakan bahwa modal manusia berkaitan dengan pertimbangan atas semua kemampuan yang dimiliki manusia untuk menjadi lebih baik, yang dapat merupakan bawaan atau usaha. Hal ini dikarenakan setiap orang dilahirkan dengan satu set gen tertentu, yang menentukan kemampuan bawaannya. Salah satu yang diperlukan sebagai modal manusia adalah atribut dari peningkatan kualitas penduduk, yang berharga ditambah dengan tepat melalu investasi.



Olaniyan dan Okemakinde menyatakan bahwa secara umum, modal manusiamerupakan investasi perusahaan dalam meningkatkan produktivitas ekonomi perusahaan. Adapun teori model manusia merupakan kerangka teori yang paling bertanggung jawab yang mampu mengadopsi pendidikan dan kebijakan pembangunan. Teori modal manusia bertumpu pada asumsi bahwa pendidikan formal sangat penting, bahkan perlu, untuk meningkatkan kapasitas produksi. Singkatnya, teori modal manusia berpendapat bahwa populasi yang terdidik adalah populasi yang produktif. Teori modal manusia menekankan bahwa pendidikan mampu meningkatkan efisiensi dan produktifitas pekerja dengan cara meningkatkan kemampuan kognitif manusia, yang produktif secara ekonomi, dan merupakan produk kemampuan bawaan dan investasi pada manusia.

Stockley menyatakan bahwa istilah modal manusia mengacu pada pemahaman bahwa sumber daya manusia dalam bisnis dan organisasi merupakan aset esensial dan penting, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan dan pembangunan organisasi, sama seperti aset fisik, mesin, dan uang. Sikap kolektif, keterampilan dan kemampuan pegawai berkontribusi terhadap produktivitas dan kinerja organisasi. Oleh karena itu, setiap pengeluaran yang digunakan untuk pelatihan, dukungan, dan pengembangan kesehatan merupakan investasi yang ditanamkan bukan hanya beban.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel