Pengelolaan Emosi dalam Proses Perubahan Organisasi

Written by
Setiap organisasi mengeluarkan usaha fisik dan mental ketika mereka menempatkan kapabilitas tubuh dan kognitif mereka, berturut-turut, kedalam pekerjaan mereka. Tetapi pekerjaan juga membutuhkan kerja emosional karena ekspresi wajah karyawan dari emosi-emosi yang diinginkan secara organisasional selama transaksi antarpersonal di tempat kerja. Tetapi memang benar, kerja emosional adalah relevan untuk hampir semua pekerjaan, tantangan sebenarnya adalah ketika para karyawan harus menunjukkan satu emosi sementara pada saat yang bersamaan mengalami emosi yang lain.

Semakin pentingnya kerja emosional sebagai sebuah komponen dari kinerja pekerjaan yang efektif menyebabkan pemahaman akan emosi memperoleh relevansi yang semakin besar dalam bidang PO.
Jika memisahkan emosi menjadi yang di rasakan atau yang di tampilkan. Maka emosi yang dirasakan adalah emosi sebenarnya dari seorang individu. Sebaliknya, emosi yang ditampilkan adalah emosi yang diharuskan organisasi untuk ditampilkan oleh pekerja dan dipandang sesuai dalam pekerjaan tertentu. Manajer yang efektif belajar untuk bersikap serius ketika memberikan evaluasi kinerja negatif seorang karyawan dan berusaha menyembunyikan kemarahan ketika dilewati untuk promosi.cara mengalami sebuah emosi tidak harus selalu sama dengan cara memperlihatkan emosi tersebut, tetapi terdapat sejumlah bukti bahwa manajemen menghendaki pria dan wanita menampilkan emosi yang berbeda, bahkan dalam pekerjaan yang sama.

Orang-orang yang mengenal emosi-emosi sendiri dan mampu dengan baik membaca emosi orang lain dapat menjadi lebih efektif dalam pekerjaan mereka. Hal tersebut pada intinya adalah tema yang melandasi riset EI akhir-akhir ini yaitu:

  1. Kesadaran diri (sadar atas apa yang dirasakan)
  2. Manajemen diri (kemampuan mengelola emosi dan dorongan-dorongan sendiri)
  3. Motivasi diri (kemampuan bertahan dalam menghadapi kemunduran dan kegagalan)
  4. Empati (kemampuan merasakan yang dirasakan orang lain)
  5. Keterampilan sosial (kemampuan menangani emosi-emosi orang lain).

Periset menyimpulkan bahwa para bintang tersebut lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain yaitu, EI dan dan bukan IQ yang mengkarakteristikkan kinerja tinggi. Dimensi EI itu banyak kaitannya dengan otak kanan, dimana sifat-sifatnya: afektif, empati, luwes, implisit, dan other-centric. Riset di seantero jagatpun dengan sahih menyimpulkan, kesuksesan itu memerlukan peranan EI sekitar 80%, sedangkan IQ sekitar 20%.

Pengelolaan emosi

Maka dari itu penting bagi para manajer melakukan intervensi pengembangan dengakan kata lain manajer sedang menerapkan kepemimpinan terhadap orang yang belum matang dalam suatu tgas tertentu, manajer perlu berusaha keras mengendalikan emosi dan bersikap sabar. Apabila melakukan intervensi dengan orang tinggi, maka hal itu sering menimbulkan rasa takut bagi orang-orang yang tidak dapat mengendalikan situasi sehingga orang-orang seperti itu makin kurang terdorong untuk mencoba perilaku baru. Mereka boleh jadi tenggelam secara psikologis, dan karenanya akan sukar ditarik keluar situasi yang tidak menguntungkan itu.

Dengan demikian, seorang pemimpin perlu hati-hati untuk tidak terlalu emosional apabila orang atau kelompok yang disiplinkan benar-benar tidak memiliki motivasi atau kemampuan untuk melaksanakan tugas pada saat pertama melakukannya.
SHOW or HIDE COMMENT
close