Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

Kinerja suatu organisasi sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang berada di dalamnya. Apabila sumber daya manusianya memiliki motivasi tinggi, kreatif dan mampu mengembangkan inovasi, kinerjanya akan menjadi semakin baik. oleh karena itu, diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.



Pada masa yang lalu, untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan atau disebut pula sebagai pembinaan sumber daya manusia. Cara tersebut secara bertahap mulai ditinggalkan karena dinilai terlalu bersifat top-down sehingga kurang mampu mengembangkan kreativitas dan inovasi sumber daya manusia.

1.    Pengertian Pemberdayaan


Memberdayakan orang berarti mendorong mereka menjadi lebih terlibat dalam keputusan dan aktivitas yang memengaruhi pekerjaan mereka. Dengan demikian, berarti memberi mereka kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka dapat memberikan gagasan baik dan mempunyai keterampilan mewujudkan gagasannya menjadi realitas.

Pemberdayaan merupakan perubahan yang terjadi pada falsafah manajemen yang dapat membantu menciptakan suatu lingkungan di mana setiap individu dapat menggunakan kemampuan dan energinya untuk meraih tujuan organisasi.

Sementara itu Robbins memberikan pengertian perberdayaan sebagai menempatkan pekerja bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan. Dengan demikian, manajer belajar untuk berhenti mengontrol, dan pekerja belajar bagaimana bertanggung jawab atas pekerjaannya dan membuat keputusan yang tepat. Pemberdayaan dapat mengubah gaya kepemimpinan, hubungan kekuasaan, cara pekerjaan dirancang dan cara organisasi di struturkan.

Menurut Greenberg dan Baron bahwasanya pemberdayaan adalah suatu proses di mana pekerja diberi peningkatan sejumlah otonomi dan keleluasaan dalam hubungannya dengan pekerja mereka.
Sementara itu, Newstrom dan Davis menyatakan bahwa pemberdayaan merupakan setiap proses yang memberikan otonomi yang lebih besar kepada pekerja melalui saling menukar informasi yang relavan dan ketentuan tentang pengawasan atas faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi kerja.

Sedangkan menurut tokoh Clutterbuck mengemukakan dalam teorinya “empowerment in terms of encourraging and allowing individuals to take personal responsibility for improving the way they do their jobs and contribute to the organization’s goal”. Atas pendapat tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan dimaksudkan sebagai suatu pemberian semangat dan mengizinkan individu untuk mengambil tanggungjawab dalam rangka memperbaiki cara yang mereka lakukan dalam pekerjaannya dan memberi kontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi.    

Jadi dapat ditarik kesimpulan dari beberapa pengertian dari berbagai tokoh yang ada diatas bahwasanya pemberdayaan disini adalah suatu proses untu menigkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan mampu bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakan dan yang telah diputuskan. Pada dasarnya pemberdayaan disini artinya memberikan kesempatan kepada sumber daya manusia yang ada dalam organisasi tersebut untuk terlibat langsung dalam suatu keputusan dan kegiatan yang ada. Pemberian kesempatan ini menandakan adanya pemberian peluang kepada mereka untuk mengaspirasikan ide-ide yang membangun untuk mencapai suatu tujuan dalam
organisasi. 

2.    Perlunya Pemberdayaan
Smith memandang ada dua hal yang menyebabkan perlunya pemberdayaan.
  • karena lingkungan eksternal telah berubah sehingga mengalihkan cara bekerja dengan orang di dalam organisasi bisnis. Organisasi bisnis di abad ke-21 bekerja dalam dunia yang penuh ketidak pastian, kompleks, dan perubahan yang tidak terduga. Terdapat empat faktor yang menyebabkannya, yaitu: 1) semakin intensifnya kompetensi. 2) inovasi teknologi yang sangat cepat. 3) pemintaan yang tetap atas kualitas yang lebih tinggi dan nilai yang lebih baik 4) tumbuhnya masalah ekologi.
  • karena orangnya sendiri berubah. Sejak lama manajer memandang orang sebagai sumber daya yang paling berharga. Akhirnya, keamanan dan sukses kedepan suatu organisasi lebih tergantung pada bakat dan kecerdasan orangnya dari pada faktor tanah, bangunan, pabrik, dan mesin. Pekerja benar-benar menjadi intellectual capital organisasi.

3.    Hambatan terhadap Pemberdayaan


Banyak organisasi gagal memperbaiki diri karena manajer yang mempunyai kekuasaan untuk melakukan perubahan tidak peduli atas masalah yang dihadapi. Sementara itu, orang yang berada digaris depan, yang memahami persoalannya, tidak mempunyai wewenang untuk melakukan sesuatu. Sering kali suatu oragnisasi membayar konsultan dengan mahal untuk memberitahu mereka bagaimana memperbaiki proses pekerjaan, padahal bawahannya dapat melakukan.

Untuk memberdayakan bawahannya, manajer harus mempunyai kemampuan dan komitmen orangnya. Sebaliknya, bawahan harus dapat mempercayai dan menghargai menajernya. Dan sebelum hal tersebut terjadi, manajer harus percaya bahwa pemberdayaan merupakan hal yang mungkin dan  bermanfaat.

4.    Membantu orang Menyesuaikan
Banyak orang membicarakan tentang pentingnya perubahan, dan bagaimana perubahan membuat orang menjadi yang lebih baik dan lebih puas. Dalam pernyataannya, perubahan baik yang berhasil maupun yang tidak berhasil membuat pekerjamengalami stres dan dalam banyak kejadian dilakukan pemindahan terhadap orang yang baik. Untuk itu, merea memerlukan bantuan untuk melewati perubahan tersebut.

Jadi dapat dikatakan bahwasanya Pemberdayaan adalah suatu proses untu menigkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan mampu bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakan dan yang telah diputuskan. Maka, apabila sumber daya manusia memiliki motivasi tinggi, kreatif dan mampu mengembangkan inovasi, kinerjanya akan menjadi semakin baik. Ada dua hal yang menyebabkan perlunya pemberdayaan. Pertama adalah karena lingkungan eksternal. Kedua adalah karena orangnya sendiri berubah. Meskipun begitu kadang untuk pemberdayaan sumber daya manusia terdapat hambatan diantaranya yaitu kebanyaklan dalam suatu organisasi gagal memperbaiki diri karena manajer yang mempunyai kekuasaan untuk melakukan perubahan tidak peduli atas masalah yang dihadapi. Artinya, pemimpin kurang menyadari pentingnya pemberdayaan sumber daya manusia yang ada dalam organisasi tersebut akibatnya pemimpin kurang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk bisa memberikan peluang untuk menginspirasikan gagasan-gagasan bawahannya demi tercapainya suatu tujuan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel