Musyawarah adalah

Written by
Di antara ajaran Islam yang asasi dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah pelaksanaan syura atau musyawarah. Secara arti bahasa (etimologi) lafaz al-Syura dan al-Musyawarah serta al-Masyurah merupakan bentuk masdar fi’il (kata kerja) dari  kata syâwara–yusyâwiru yakni dengan akar kata syin, waw, dan ra’ dalam pola fa’ala. Struktur akar kata tersebut bermakna pokok “menampakkan dan menawarkan sesuatu” dan “mengambil sesuatu” dari kata terakhir ini berasal ungkapan syâwartu fulânan fi amrî: “aku mengambil pendapat si Fulan mengenai urusanku”.


Pada mulanya kata syawara  (شور ) bermakna “mengeluarkan madu dari sarang lebah”. Makna ini kemudian berkembang, sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain (termasuk pendapat). Orang yang bermusyawarah bagaikan orang yang meminum madu.

Dari makna dasarnya ini diketahui bahwa lingkaran musyawarah yang terdiri dari peserta dan pendapat yang akan disampaikan adalah lingkaran yang bernuansa kebaikan. Bila seseorang mengatakan: “Aku mengajaknya bermusyawarah dalam suatu urusan; maksudnya aku minta pendapatnya dan aku meminta agar ia sudi mengeluarkan sesuatu yang dimilikinya kemudian menampakkannya (sesuatu itu)”.

Namun dalam pendefinisian, syura (musyawarah) sebagai sesuatu yang wajib menetapi dan masyurah (memberi pendapat) serta istisyarah (meminta pendapat) yang fakultatif dipandang dari segi keharusan menetapi.

Dalam hidup bersama, mutlak perlu menegakkan musyawarah dalam menghadapi dan memecahkan masaslah-masalah bersama. Makin besar sesuatu kelompok maka semakin besar pula perlu ditegakkannya musyawarah. Ia merupakan sendi kehidupan masyarakat yang digunakan sebagai prinsip dan termasuk syariat. Artinya, musyawarah termasuk ketentuan Allah SWT yang harus ditegakkan di muka bumi. Dengan kata lain, meninggal musyawarah berarti meninggalkan salah satu segi syariat.

Mengenai cara bermusyawarah, lembaga permusyawaratan yang perlu dibentuk, cara pengambilan keputusan, cara pelaksanaan keputusan musyawarah, dan aspek-aspek tatalaksana lainnya diserahkan kepada kelompok manusia bersangkutan untuk mengaturnya. Jadi sebagai prinsip, musyawarah adalah syariat, pemahamannya termasuk bidang fikih, dan pengaturannya adalah dalam siyasah syar’iyyah.

Pentingnya syura (musyawarah) dalam kehidupan masyarakat, Abdullah Hamid Ismail al-Anshori dalam bukunya “Al-Syura wa Asaruha fi al-Demokratiyah” mengutip dan mengemukakan arti penting musyawarah yang dapat disaripatikan sebagai berikut. “Musyawarah dapat mewujudkan kesatuan bangsa, melatih kegiatan otak dalam berfikir, dan sebagai jalan menuju kepada kebenaran yang mengandung kebaikan dan keberkatan”.

Selanjutnya, musyawarah merupakan “keutamaan yang manusiawi”, ia merupakan jalan lurus untuk mengetahui dan mengungkapkan pendapat-pendapat dengan tujuan mencapai kebenaran yang sesungguhnya serta kejelasan dalam setiap permasalahan.

Esensi musyawarah menunjukkan realitas persamaan kedudukan dan derajat manusia, kebebasan berpendapat dan hak kritik serta pengakuan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Dengan musyawarah ditemukan cara untuk mempersatukan manusia, mempersatukan golongan-golongan dengan berbagai atribut di tengahtengah bergejolaknya problema-problema umum, dan dengan musyawarah pula dikembangkan tukar pikiran dan pendapat. Pelaksanaan musyawarah bagi kehidupan manusia lebih dari sekedar kepentingan politik suatu kelompok maupun negara, karena ia merupakan karakter mendasar bagi kelompok masyarakat secara keseluruhan.

Di lain sisi, esensi musyawarah sebagai sistem penyusunan hukum merupakan cara untuk mengetahui dan menghimpun kebenaran pendapat-pendapat melalui diskusi ilmiah. Cara seperti ini memberikan peluang besar bagi para peserta untuk berdialog dengan landasan argumentasi ilmiah. Musyawarah memegang peranan penting sebagai perisai rakyat, kerena ia merupakan wahana bagi rakyat dalam menyampaikan kehendak dan pemikirannya, dan musyawarah, dapat menghindarkan pemimpin dari sikap semena-mena dan menjauhkannya dari kecenderungan menjadi thagut (pelanggar batas) dan berlaku zalim.
SHOW or HIDE COMMENT
close