Kepemimpinan Transformatif Untuk Perubahan


Adapun kepemimpinan transformatif adalah kemampuan seorang pemimpin bekerja dengan atau melalui orang lain untuk mengubah secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target capaian yang telah ditetapkan. Sumber daya dimaksud dapat berupa SDM, fasilitas, dana, dan faktor-faktor eksternal keorganisasian. Di organisasi sekolah, SDM dimaksud dapat berupa pimpinan, staf, bawahan, tenaga ahli, guru, dosen, widyaiswara, peneliti, dan lain-lain.

Menurut beberapa tokoh seperti dalam buku Komariah yang mengutip dari Burn mengatakan kepemimpinan transformatif ini adalah suatu proses yang pada dasarnya para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkatan moralitas yang lebih tinggi. Para pemimpin adalah seseorang yang sadar akan prinsip perkembangan organisasi dan kinerja manusia sehingga ia berupaya mengembangkan seni kepemimpinannya secara utuh melalui pemotivasian terhadap staf dan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti misalnya keserakahan, kecemburuan, atau kebencian. Pemimpin yang mempunyai pandangan kedepan untuk memperbaiki dan mengembangkan, pemimpin yang bertindak sebagai katalisator, yakni pemimpin yang memberi peran mengubah sistem ke arah yang lebih baik.adapun pemimpin transformatif ini dinamakan pemimpin katalisator karena ia berperanmeningkatkan segala sumber manusia yang ada, berusaha memberikan reaksi yang menimbulkan semangat dan daya kerja cepat semaksimal mungkin, selalu tampil sebagai pelopor dan pembawa perubahan.

Adapun dalam buku itu juga yang mengutip dari pendapat Covey dan Peters, seorang pemimpin transformasional memiliki visi jelas, memiliki gambaran holistis tentang bagaimana organisasi di masa depan ketika semua tujuan dan sasarannya telah tercapai. Inilah yang menjadi landasan bahwa pemimpin ini adalah pemimpin yang yang mendasarkan dirinya pada cita-cita masa depan terlepas dari pernyataan apakah itu adalah visi yang hebat atau bagaimana.

Teori kepmimpinan ini adalah teori yang baru dalam ilmu manajemen, khususnya tentang kepemimpinan dalam suatu organisasi. Teori ini lahir karena akibat diperlukannya tranformasi secara cepat dalam suatu organisasi yang didukung pengaruh besar seseorang tokoh kharismathik. Kepemimpinan ini memiliki kemampuan melakukan perubahan aneka sumber daya organisasi dimutlakkan dalam kerangka kepemimpinan organisasi.

Didalam buku karangan Sudarman Danim yang berjudul kepemimpinan Pendidikan menyatakan adalah gaya kepemimpinan yang yang memperhatikan nilai-nilai kolektif umum seperti kebebasan, kesamaa, komunitas, keadilan dan persaudaraan. Kepemimpinan semacam ini mengundang perhatian guru dan staf pada maksud dasar organisasi sekolah dan pada relasi antara organisasi sekolah dan masyarakat. Kepemimpinan ini menjunjung kegiatan yang mengangkat guru dan staf melampaui perhatian pragmatis dan rutin mereka menuju komitmen pada tujuan-tujuan pencapaian pendidikan yang lebih tinggi. Tindakannya menyatukan guru dan staf, para pendukung tujuan kolektif, ynag memungkinkan mereka menggabungkan energi, yang mudah bubar untuk mengejar tujuan-tujuan individu atau kelompok kecil. Kepmimpinan kepala sekolah transformatif mengubah sikap, nilai, dan keyakinan-keyakinan operatif yang berpusat pada kita menuju keyakinan, sikap, dan nilai yang lebih tinggi.

Didalam buku kepemimpinan kepala sekolah karya mulyadi yang dikutip dari Bass dan Gary Yukl mengemukakan ada empat komponen kepemimpinan transformasional, yaitu:
  1. Kharisma, yaitu sebuah proses yang padanya seorang pemimpin mempengaruhi para pengikut dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat dan diindentifikasi dengan pemimpin tersebut.
  2. Stimulasi intelektual, yaitu sebuah proses yang padanya para  pemimpin meningkatkan kesadaran para pengikut untuk memandang dan mempengaruhi para pengikut untuk memandang masalah-masalah dari sebuah perspektif yang baru.
  3. Perhatian yang diindividualisasi, yaitu temasuk memberi dukungan, membesarkan hati, dan memberikan pengalaman-pengalaman tentang pengembangan kepada para pengikut.
  4. Inspirasi, yaitu didefinisikan tentang sejauhmana seorang pemimpin mengkomunikasikan sebuah visi yang menarik, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha-usaha bawahan, dan memodelkan perilaku-perilaku yang sesuai.  

Tingkat sejauh mana seorang pemimpin disebut pemimpin transformatif adalah terutama diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin transformatif terhadap bahawannya. Para pengikut kepemimpinan ini merasa adanya kepercayan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat terhadap pemimpin tersebut, serta mereka termotivasi untuk melakukan lebih dari pada awalnya yang diharapkan kepada mereka. Adapun motivasi kepemimpinan ini kepada bawahannya adalah dengan sebagai berikut: a) membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil suatu pekerjaan. b) mendorong mereka lebih mementingkan organisasi atau tim dari pada kepentingan sendiri, dan c) mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan mereka pada yang lebih tinggi.

Juga didalam buku mulyadi yang mengutip dari Luthan dan Suyanto mengkalasifikasikan seseorang pemimpin yang telah mengaplikasikan kepemimpinna transformatif dapat dilihat dari hal-hal berikut: a) mengindentifikasi diri sebagai agen perubahan. b) memiliki sifat pemberani. c) memepercayai orang lain. d) bertindak atas dasar sistem nilai, buka atas dasar kepentingan  individu. e) meningkatkan kepemimpinan secara terus menerus. f) memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi rumit, tidak jelas, dan tidak menentu, serta g) memiliki visi kedepan.

Kepemimpinan transformatif ini banyak diteliti oleh para ahli seperti Leeithwood, Dart, Jantzi  dan Steinbech mengemukakan bahwa hasil studi mereka menunjukkan gaya kepemimpinan ini mengontribusi pada inisiatif-inisiatif restrukrisasi, dan adapun yang dirasakan oleh guru , hal itu memberi sumbangsih bagi perbaikan perolehan belajar bagi siswa. Kepemimpinan transformatif memiliki fokus transformasi pada guru sebagai ujung tombak proses pembelajaran. Melihat kesejatan gaya kepemimpinan ini agaknya harus menjadi basis kepala sekolah dalam melakukan transformasi tugas keseharian. Dampak positif dari gaya kepemimpinna ini adalah guru memiliki rasa positif nterhadap pekerjaan dan siswa termotivasi untuk belajar. Kepemimpinan ini banyak mengkontribusi secara bermakna pada budaya sekolah yang dikehendaki. Budaya sekolah yang dimaksud disini adalah produk ranah berfikir, afeksi, dan aksi-aksi motorik yang teraplikasi pada kehidupan sekolah dan bermaslahat bagi perbaikan proses pembelajaran dan peningkatan mutu hasil belajar siswa.

Aplikasi gaya kepemimpinan seperti, segala potensi organisasi sekolah dapat ditransformasikan menjadi aktual dalam kerangka mencapai tujuan lembaga.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel