Faktor Emosi dalam Proses Perubahan

Written by
Emosi lebih mungkin disebabkan oleh suatu kejadian tertentu, dan emosi lebih cepat berlalu. Sejumlah peneliti juga berspekulasi bahwa emosi lebih berorientasi pada tindakan dan hal ini dapat membuat mengambil beberapa tindakan cepat. Sebuah emosi dapat berubah menjadi suasana hati. Suasana hayi yang baik atau buruk dapat membuat emosi positif atau negatif yang lebih intens dibandingkan biasanya.

Meskipun emosi dianggap lebih dipengaruhi oleh kejadian-kejadian, ironisnya para peneliti telah melakukan lebih banyak penelitian pada sumber suasana hati pada sumber emosi. Faktor-faktor emosi dalam proses perubahan diantaranya adalah:

1.    Kepribadian

Kepribadian memberi kecenderungan kepada orang atau sekelompok organisasi untuk mengalami emosi tertentu. Dengan kata lain, emosi memiliki sebuah komponen ciri pada mereka. Sebagian besar orang mempunyai kecenderungan tetap untuk mengalami emosi tertentu lebih sering dibandingkan orang lain.


Faktor emosi

Orang-orang yang seperti memiliki intensitas afek yang tinggi. Jadi emosi-emosi berbeda dalam intensitas mereka, tetapi orang-orang juga berbeda dalam bagaimna mereka berkecenderungan untuk mengalami emosi secara intens. Tetapi jika orang tersebut menjadi marah atau gembira, dengan benar-benar mudah, maka ia mempunyai sifat kepribadian intensitas afek yang tinggi.

2.    Hari dalam seminggu dan waktu dalam sehari

Sebagian besar orang berada ditempat kerja pada hari senin hingga jumat. Dengan demikian, sebagian besar orang akan memanfaatkan akhir minggu untuk bersantai dan bersenang-senag. Orang-orang cenderung berada dalam suasana hati terburuk (afek negatif tertinggi dan afek positif terendah) di awal minggu dan berada dalam suasan hati terbaik (afek positif tertinggi dan afek negatif terendah) di akhir minggu. Arti bagi perilaku organisasional ialah untuk meminta bantuan seseorang, atau menyampaikan berita buruk, mungkin bukanlah ide yang bagus pada hari senin pagi. Interaksi di tempat kerja mungkin akan lebih positif dari menjelang tengah hari dan seterusnya, dan juga mendekati akhir minggu.

Memang tampaknya orang-orang mendeskripsikan diri mereka sebagai orang pagi akan lebih siaga pada awal pagi. Tetapi orang-orang pagi tersebut mengalami suasana hati yang sedikit lebih baik (lebih banyak afek positif) pada pagi hari dibandingkan mereka yang mendeskripsikan diri sebagai orang malam (dan sebaliknya)

3.    Cuaca

Banyak orang percaya bahwa suasan hati mereka berhubungan dengan cuaca. Tetapi bukti, menunjukkan bahwa cuaca memiliki sedikit pengaruh terhadap suasana hati. Seorang ahli menyimpulkan, “ berlawanan dengan pandangan kultur yang ada, data ini menunjukkan bahwa orang-orang tidak melaporkan suasana hati yang lebih baik pada hari yang cerah, atau sebaliknya. Melaporkan suasana hati yang lebih buruk pada hari gelap dan hujan. Korelasi ilusif menjelaskan mengapa orang cenderung berfikir bahwa cuaca yang menyenangkan meningkatkan suasana hati mereka. Korelasi ilusif terjadi ketika orang mengasosiasikan dua kejadian yang ada kenyataannya tidak memiliki sebuah korelasi.

Orang sering kali mengasosiasikan hal-hal sebagai kasual sementara kenyataannya tidaknlah terdapat sebuah hubungan. Tampaknya, hal tersebutlah yang terjadi dengan cuaca dan suasana hati.

4.    Stres

Sters memengaruhi emosi. Seperti yang diperhatikan oleh penulis sebuah penelitian, “adanya peristiwa yang terus menerus terjadi yang menimbulkan stres tingkat rendah sekalipun berpotensi menyebabkan para pekerja mengalami tingkat ketegangan yang semakin lama seiring berjalannya waktu semakin meningkat.

Tingkat stres atau ketegangan yang menumpuk di tempat kerja dapat memperburuk suasan hati karyawan, sehingga menyebabkan mereka mengalami lebih banyak emosi negatif.

5.    Aktivitas sosial

Aktivitas sosial sangat berpengaruh karena interaksi-interaksi sosial bahkan memiliki manfaat kesehatan jangka panjang. Suatu penelitian mengenai umur panjang mengungkap bahwa berada berdampingan bersama orang lain (sebagai kebalikan dari isolasi sosial) merupakan prediksi terbaik mengenai seberapa lama seseorang akan hidup lebih penting dari pada gender, atau bahkan tingkat tekanan darah atau kolesterol.

6.    Tidur

Kualitas tidur memengaruhi suasana hati. Satu alasan mengapa tidur yang lebih sedikit, atau kualitas tidur yang buruk, menempatkan orang dalam suasana hati yang buruk karena hal tersebut memperburuk pengambilan keputusan dan membuatnya sulit mengontrol emosi.
Sebuah penelitian terbaru menyatakan bahwa kurang tidur pada malam sebelumnya juga memperburuk kepuasan kerja seseorang pada hari berikutnya, karena sebagian besar orang merasa lelah, cepat marah, dan kurang waspada.

7.    Olahraga

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa olahraga meningkatkan suasana hati positif. Tampaknya, terapi olah raga berpengaruh secara konsisten terhadap suasana hati, tetapi tidak terlalu kuat kuat. Jadi, olahraga dapat membantu berada dalam suasana hati yang lebih baik, tetapi jangan mengharapkan mukjizat.

8.    Usia

Suatu penelitian atas orang-orang yang berusia 18 hingga 94 tahun mengungkapkan bahwa emosi negatif tampaknya semakin sarang terjadi seiring bertambahnya usia seseorang. Bagi seseorang yang lebih tua, suasana hati positif yang tinggi bertahan lebih lama dan suasana hati yang buruk menghilang dengan lebih cepat. Penelitian tersebut mengimplikasikan bahwa pengalaman emosional cenderung membaik bersama bertambahnya usia, sehingga seiring bertambah tua, lebih sedikti mengalami emosi negatif.

9.    Gender

Bukti yang ada memang menegaskan adanya perbedaan antara pria dan wanita dalam reaksi emosional dan kemampuan untuk membaca emosi orang lain. Dalam perbandingan antargender, wanita menunjukkan ekspresi emosional lebih besar dibandingkan pria, mereka mengalami emosi secara lebih intens, dan mereka menunjukkan ekspresi emosi positif maupun negatif yang lebih sering, kecuali kemarahan. Tidak seperti pria, wanita juga menyatakan lebih nyaman dalam mengekspresikan emosi. Wanita juga mampu membaca petunjuk nonverbal da paralinguistik secara lebih baik dibandingkan pria.

Salah satu penjelasannya adalah pria dan wanita disosialisasikan dengan cara yang berbeda-beda. Pria diajarkan menjadi kuat dan berani. Menunjukkan emosi tidak konsisten dengan citra ini. Sebaliknya, wanita disosialisasikan untuk mengasuh. Mungkin inilah penyebab adanya persepsi bahwa wanita biasanya lebih ramah dan hangat dibandingkan pria.

Penjelasan kedua adalah wanita mungkin memiliki kemampuan pembawaan lebih untuk membaca orang lain dan memperlihatkan emosi mereka dibandingkan pria

Ketiga, wanita mungkin memiliki kebutuhan yang lebih besar terhadap penerimaan sosial dan juga sebuah kecondongan yang lebih tinggi untuk menunjukkan emosi-emosi positif seperti kebahagiaan.
SHOW or HIDE COMMENT
close