Sejarah Perkembangan Umat Islam Di Indonesia

Perkembangan sejarah umat islam di Indonesia membentang panjang selama 13 abad. Umat islam di Indonesia dalam mewujudkan adanya kekuasaan politik di Indonesia berawal dengan kedamaian tanpa agresi, menempuh jalan ekonomi perdagangan. Dari sini ditumbuhkan lahirnya kerajaan pantai dengan Syahbandar sebagai kepala masyarakat islam. Kelanjutannya, pada saat kerajaan Hindu ataupun Budha tidak mampu lagi berbicara di tengah bangsa Indonesia, islam muncul melahirkan kekuasaan politik: kesultanan Demak, Aceh, Ambon. Diikuti selanjutnya dengan penyebaran di pedalaman dan di pantai: Mataram II, Banten, Makassar, Ternate, Tidore, dan lain-lainnya. Puncak perjuangan umat islam Indonesia pada abad ke-20 telah berhasil mengantarkan bangsa Indonesia memasuki Proklamasi Kemerdekaannya melahirkan Negara Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 sebagai Negara yang memiliki luas wilayah yang membentang dari Merauke hingga Sabang, disebelah utara berbatasan kepulauan Talaud hingga Pulau Roti. Wilayah ini bukanlah wilayah kecil, melainkan Merauke-Sabang sama dengan Baghdad-London, kepulauan Talaud hingga Pulau Roti sama dengan dari Berlin hingga Aljazair.


Sebaliknya perjuangan umat islam Timur Tengah yang bermula dari ibu kota Madinah, berkembang ke Timur hingga Turkistan, dan ke barat hingga Andalusia, Spanyol, pada abad ke-20 berubah melahirkan berbagai Negara Nasional yang kecil wilayahnya.

Umat islam Indonesia, kendatipun tidak hanya menghadapi penjajah, berhasil memberikan jawaban yang sama. Walaupun pula kondisi wilayah Indonesia tersekat oleh laut, gunung, dan daratan, lingkungan fisik yang demikian ini tidak menjadikan umat islam Indonesia pada perkembangan perjuangan politiknya menginginkan lahirnya banyak Negara tetapi tetap satu Indonesia.

Agama islam yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia menjadi modal yang mempercepat proses lahirnya kesatuan bangsa. Dan lagi agama islam tidak hanya mengajarkan membangun jamaah, tetapi juga mengajarkan anti penjajah. Selain itu, umat islam yang sejak lama memiliki bahasa komunikasi, bahasa melayu, menjadikan bahasa itu sebagai alat untuk melahirkan aspirasi perjuangannya. Ketiga factor ini merupakan factor utama yang memungkinkan terjadinya integritas Nasional di Indonesia.

Demikianlah pendapat George MC Turnan Kahin dalam Nationalisme and Revolution in Indonesia. Sikap yang dikembangkan dari ajaran islam ini membuat islam di terima oleh bangsa Indonesia sebagai lambang anti penjajah, dan juga sebagai identitas pribumi. Apalagi para pemuka islam atau ulamanya pada masa lalu memiliki kemampuan melahirkan sikap politiknya dengan bahasa symbol, menjadikan cita-cita islamnya di formulasikan dalam bahasa politik yang dapat di terima oleh segenap kebinekaan di Indonesia. Proses melahirkan falsafah pancasila, 18 Agustus 1945, tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan peranan Ki Bagus Hadikusomo dan Kasman Singadimedja di samping tokoh Nasional lainnya. Kedua tokoh islam tersebut dapat dikatakan mewakili umat islam, yang berhasil merumuskan secara simbolistik cita-cita islam dalam pembukaan dan Undang-Undang Dasar 1945. Peristiwa itu merupakan puncak keberahsilan perjuangan umat islam Indonesia di bidang politik di tengah bangsanya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel