Sejarah Perkembangan Akutansi

Akutansi pada awalnya dikenal dengan sistem tata buku berpasanyan ( duuble entry ), pertama kali di perkenalkan oleh pedagang venesia di italia tahun 1424, penulisnya adalah seorang rahib dari Orde Fransiskan, yang bernama luca pacioli, seorang ahlimatematika yang mengajar di berbagai universitas di perugia, Naples Pisa, dan Florence. Tata buku berpasangan mencatat kedua aspek transaksi sedemikian rupa yang membentuk suatu perkiraan yang berimbang . misalnya bila seseorang meminjam uang sebesar Rp. 1.000.000,- maupun sebagai kewajiban membayar kembali ( utang ) sebesar Rp. 1.000.000,-. Dari penca?atan ini terlihat lebih sestematis yang menghasilkan laporan keuangan yang menyeluruh dalam satuan uang berupa laba dalam periode tertentu, aktiva yang dimiliki perusahaan dan hak (equity) atas aktiva tersebut. Pada akhir abad ke-15, ditemukanya belahan dunia dunia dan jalur perdagangan  baru yang mengakibatkan pusat perdagangan berpindah ke spanyol, pertugis, dan kemudian belanda. Sejak perpindahan tersebut terjadi kemajuan yang pesat dalam bidang akuntansi, yaitu dibuatnya perhitungan laba rugi tahunan. Hal ini kemudian mendorong dikembangkannya penyusunan neraca untuk jangka waktu tertentu. Pada tahun 1973, perancis mengharuskan kepada setiap perusahaan di negaranya untuk membuat neraca perdagangan paling tidak sekali dalam dua tahun.



Revolusi industri di inggris, yang terjadi pada pertengahan abad ke-18 hingga sampai pertengahan abad ke 19, membawa banyak perubahan sosial-ekonomi. Salah satu yang menonjol adalah perubahan cara memproduksi barang dagangan dari kerajinan rumah  tangga (handicraft) ke sistem pabrik. Penggunaan mesin yang menghasilkan banyak produksi menimbulkan keharusan untuk menetapkan besarnya biaya produksi dari buatan mesin tersebut, dibandingkan dengan biaya produksi buatan tangan pengrajin yang relatif lebih sedikit jumblahnya. Sepesialisasi dalam akuntansi  biaya meningkat untuk memenuhi kebutuhan dalam analisis berbagai biaya dan teknik pencatatannya.

Di indonesia, profesi akuntan berkembang dengan pesat sejak dikeluarkannya undang-undang penanaman modal asing tahun 1967 dan undang-undang penanaman modal dalam negeri tahaun 1968. Peran pemerintah membentuk tim koordinasi pengembangan akuntansi serta reformasi perpajakan tahun 1984 telah mendorong kian pesatnya perkembangan porfesi ini. Akuntan sendiri pada mulanya dikenal pada tahun 1642. Penghapusan undang-undang tanam paksa yang dilakukan pemerintah  kolonial belanda tahun 1870, memicu  banyaknya kaum pengusaha belanda menanamkan modal di indonesia dan hal ini mendorong perkembangan akuntasi.

Sistem yang dianut oleh pengusaha belanda ini adalah seperti yang diajarkan oleh luca pacioli. Sistem ini disebut juga dengan tata buka yang sebenarnya tidaklah sama dengan akuntansi, di mana tata buka menyangkut kegiatan-kegiatan yang bersifat konstruktif dari proses pencatatan, peringkasan, pengolongan, dan aktivitas lain yang bertujuan menciptakan informasi akuntansi berdasarkan pada data. Sedangkan akuntansi menyangkut kegiatan-kegiatan yang bersifat konstruktif dan analitikal seperti kegiatan analisis dan interpretasi berdasarkan informasi akuntansi.Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pembukuan merupakan bagian dari akutansi. Tahun 1850, orang belanda menemukan metode baru dalam pembukuan yang efisien. Selama periode 1850-1900 terjadi semacam dualisme antara yang menggunakan metode lama dan yang menggunakan metode baru. Pada awal abad ke 20, metode pembukuan hilang dari sejarah akutansi belanda. Perkembangan ini juga di bawa ke indonesia.

Funngsi pemeriksaan ( auditing ) mulai dikenalkan di indonesia tahun 1907, yaitu sejak seorang anggota NIVA, van schangen, menyusun dan mengontrol pembukuan perusahaan. Pengiriman van schangen ini merupakan cikal bakal di bukanya jawatan akuntan negara ( government accounting dienst [ GAD ] ) yang resmi didirikan pada tahun 1915. Akuntan intern pertama kali adalah frese & hogeweg, yang mendirikan kantornya di indonesi tahun 1918. Pada tahun 1920 berdiri kantor akuntan H.Y voerens. Dalam tahun 1921 didirikan jawatan akuntan pajak ( belasting accountant dienst [ BAD ] ) akuntan inter pertama kali datang di indonesia. J. W. Labrijn yang sudah ada di indonesia dalam tahun 1896. Pada zaman penjajahan belanda tidak banyak orang indonesia yang terjun ke bidang akutansi, 90 % jabatan-jabatan tersebut di pegang oleh orang belanda, jika pun ada orang indonesia, merka hanya merupakan tenaga pelaksana. Orang indonesia pertama yang bekerja di bidang akutansi tercatat j.d. massie yang di angkat sebagai pemegang buku untuk jawatan akauntan pajak pada 21 september 1929. Oleh karna itu, ketika masa pendudukan jepang indonesia sangat sangat kekurangan tenaga di bandingkan akutansi. Atas prakarsa Mr. Slamet, didirikan kursus-kursus untuk untuk mengisi ke kosongan jabatan tadi dengan tenaga-tenaga indonesia . pada masa itu di kenal kursus A,B,C dan D para pengikut kursus – kursus inilah yang nantinya merupan cikal bakal tenaga-naga akuntan di indonesia. Mengenai sistem akutansinya tidak banyak terjadi perubahan selama zaman jepang ini.

Setelah kemerdekaan republik indonesia, 17 Agustus 1945, hanya ada seorang akuntan bebangsa indonesia, yaitu Prof. Dr. Abutari. Pemerintah RI mulai melakukan pembenahan dengan mengirim putra putrinya ke luar negeri untuk belajar akutansi. Di dalam negri sendiri, pendidikan akutansi muali dirintis dengan di bukanya jurusan akutansi di fakultas ekonomi universitas indonesia, tahun 1952 pembukaan ini kemudian di ikuti institut ilmu keuangan ( sekarang sekolah tinggi akutansi negara ), tahun 1960 dan fakultas – fakultas ekonomi di universitas padja-djaran ( 1961 ), universitas sumatra utara ( 1962 ), universitas airlangga ( 1962 ) dan uneversitas gadjah mada ( 1964 ). Dewasa ini, fakultas ekonomi universitas-universitasn negeri yang mempuanyai jurusan akuntansi terdapat  di universitas  andalas., universitas riau, universitas jambi, universitas syah kuala, universitas diponegoro, universitas sebelas maret, universitas  udayana ,  universitas sam ratu-langi, universitas lambung mangkurat, universitas jendral sudirman, dan universitas brawijaya. Pada tanggal 23 desember 1957, organisasi profesi yang kemudian diberi nama ikatan akutan indonesia (IAI) didirikan. Dalam tahun 1978, berdiri ikatan akutan  indonesia  kompartemen  akuntan publik yang kini berubah menjadi  institut akuntan publik indonesia. Tahun 1986, berdiri ikutan  akuntan indonesia kompartemen akuntan manajemen (kini berubah nama menjadi  institut akuntan manajemen indonesia) dan akuntan pendidikan. Dan pada tahun 2001 berdiri kompartemen  akuntan pemerintah.

Pada era globalisasi  ini, batas-batas negara bukan menjadi  suatu penghalang dalam aktifitas bisnis. Hal ini juga berdampak pada persaingan  profesi akuntan  yang semakin tajam. Kondisi ini menentut sikap profesional akuntan indonesia  agar menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Setelah krisis ekonomi indonesia  tahun 1997, peran profesi akuntan  diakui semakin signifikan mengingat profesi ini  memiliki yang diharapkan mampu mendorong bangkitnya kembali roda ekonomi indonesia. Rumor ketidakprofesionalnya akuntan  lokal juga semakin  santer ketika IMF maupun bank dunia menekan pemerintah untuk menggunakan akuntan asing dalam mengaudit bank-bank bermasalah di indonesia. Dengan adanya perubahan paradigma organisasi menuju  good corporate governance, berbagai upaya telah dilakukan organisasi profesi dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas akuntan, baik melalui penyempurnaan standar akuntansi keuangan dan standar profesi, maupun yang mengharuskan menempuh pendidikan profesi akuntansi (PPAK) untuk mendapatkan gelar akuntan sebagai pendidikan tambahan setelah menempuh pendidikan S-1 di perguruan tinggi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel