Pola Hubungan Kausal

Written by

Hubungan kausal mengikuti tiga pola sebagai berikut:
a.    Dari sebab ke akibat
b.    Dari akibat ke sebab
c.    Dari akibat ke akibat

Contoh-contoh mengenai pola tersebut agaknya akan mempermudah untuk dikenali. Tetapi hendaknya jangan ada dugaan bahwa cara pemikiran seperti ini adalah sederhana. Pikirkan sebentar, misalnya apakah yang menyebabkan perang atau perselisihan. Hal ini tidak mudah, tetapi paling sedikit dari refleksi tersebut satu hal yang dapat anda peroleh, yakni rasa rendah hati yang sehat. Sebab tidak jarang ‘sebab’ perang atau perselisihan adalah rasa harga diri yang salah, kecongkakkan, mudah tersinggung, dan sebagainya.

Pemikiran dari sebab ke akibat berangkat dari suatu sebab yang diketahui penyimpulan yang merupakan akibat. Misalnya, hujan lebat sekali; kemudian membuat pemikiran: karena lupa menutup pintu empangnya, maka empangnya pasti meluap dan ikan piaraannya pasti kabur. Sebab yang diketahui: hujan lebat sekali; akibatnya yang disimpulkan dengan pemikiran: empang yang meluap dan ikannya pada kabur.

Pemikiran dari akibat ke sebab adalah pemikiran yang berangkat dari suatu akibat yang diketahui ke sebab yang mungkin menghasilkan akibat tersebut. Seorang pasien pergi kepada seorang dokter karena secara mendadak suhu badannya meningkat. Gejala ini menunjukkan akibat. Sekarang tugas dokter memastikan apa yang menjadi sebabnya. Dokter sudah memeriksa, kemudian menentukan bahwa sebab meningkatnya suhu yang mendadak itu karena tonsil. Pemikiran bertolak dari suatu akibat yang diketahui ke suatu yang diperkirakan menjadi sebabnya.

Pemikiran dari akibat ke akibat berangkat langsung dari suatu akibat ke akibat lain tanpa menyebutkan hal yang menjadi sebab yang menghasilkan keduanya. Misalnya: sungainya meluap; kemudian kita berpikir: maka empang kita juga pasti meluap. Keduanya berasal dari suatu sebab yang tidak disebutkan, yakni: hujan yang lebat sekali.

Besar sekali manfaatnya mengenali masing-masing hubungan kausal ini karena sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Apapun pendapat mengenai “sebab” pada pembahasan ini dikhususkan pada sebab yang menjadikan (sufficien causa), yaitu ada dan tidaknya sebab ini akan menentukan ada dan tidaknya akibat. Indikasi yang mendasarkan kepada aksioma sebab bila dirumuskan berbunyi:

  1. Tidak ada sesuatu itu disebut sebab bagi suatu akibat bila ia tidak dijumpai pada saat akibat terjadi.
  2. Tidak ada sesuatu itu disebut sebab bagi suatu akibat bila ia dijumpai pada saat akibat tidak terjadi.

SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close