Pengertian Pragmatisme

Written by
Irfani merupakan bahasa Arab yang terdiri dari huruf ع- ر-ف  memiliki dua makna asli, yaitu sesuatu yang berurutan yang sambung satu sama lain dan bermakna diam dan tenang. Namun secara harfiyah al-‘irfan adalah mengetahui sesuatu dengan berfikir dan mengkaji secara dalam. Dengan demikian al-‘irfan lebih khusus dari pada al-‘ilm.      

Secara termenologi, irfani adalah pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat oleh Tuhan kepada hambanya (al-kasyf) setelah melalui riyadlah.

Contoh konkrit dari pendekatan 'irfani lainnya adalah falsafah isyraqi yang memandang pengetahuan diskursif (al-hikmah al-batiniyah) harus dipadu secara kreatif, harmonis dengan pengetahuan intuitif (al-hikmah al-zawqiyah). Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan mencapai al-hikmah al-haqiqiyah. Pengalaman batin Rasulullah saw. dalam menerima wahyu al-Qur'an merupakan contoh konkrit dari pengetahuan irfani.


Dapat dikatakan, meski pengetahuan irfani bersifat subyektif, namun semua orang dapat merasakan kebenarannya. Artinya, setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan kadarnya sendiri-sendiri, maka validitas kebenarannya bersifat intersubyektif dan peran akal bersifat partisipatif.

Implikasi dari pengetahuan 'irfani dalam konteks pemikiran keislaman, adalah menghampiri agama-agama pada tataran substantif dan esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan penuh kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang kurang lebih sama.

Dalam kalangan sufi al-irfan berarti al-kasyf dan al-ilham. Dilihat dari segi maknanya dapat dilihat bahwasannya sistem pengetahuan irfani adalah sebuah sistem pengetahuan dimana sumber pengetahuannya adalah intuisi. Suatu pengetahuan diperoleh secara langsung tanpa perantara dan proses pembuktian. Pengetahuan tercipta dalam kalbu sedemikian rupa setelah qalbu memperoleh pembersihan melalui mujahadah dan latihan spiritual sehingga tirai yang menutupi kalbu terhadap kebenaran tersebut itu menjadi terbuka.

Aliran Irfani atau tasawuf sering tidak di kategorikan ke dalam aliran filsafat karena dalam aktifitasnya tasawuf bertumpu pada pengalaman mistik yang bersifat supra rasional, sedangkan filsafat sendiri dalam aktifitasnya bertumpu pada penalaran rasional.

Tetapi dalam perkembangan filsafat pasca Ibn Rusyd, tasawuf semakin tidak bisa di pisahkan dari filsafat. Ibn Khaldun menyatakan, baik ilmu kalam ataupun tasawuf pada masanya telah bercampur sedemikian rupa dengan masalah-masalah filsafat, sehingga cukup sulit untuk di bedakan. Dua cabang ilmu islam yang bersifat naqliyah tersebut telah bergeser ke wilayah ‘aqliyah.
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close