Model Supervisi PAI

Written by
1.    Model Konvensional (Tradisional)
Model supervisi konvensional adalah model yang diterapkan pada wilayah yang tradisi dan kultur masyarakatnya otoriter dan feodal. Pada model ini cenderung melahirkan penguasa yang otokrat dan korektif. Seorang supervisor dipahami sebagai orang yang memiliki power untuk menentukan nasib guru. Karenanya, dalam perspektif behavior, seorang yang menerapkan model ini selalu menampakkan perilaku atau aksi supervisi dalam bentuk inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan.


Praktik supervisi konvensional bersifat kontradiktif dengan makna dan tujuan supervisi, yaitu membimbing kepala sekolah dan guru guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan profesional mereka dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pemimpin dan pendidik di sekolah.

Model supervisi konvensional pada praktiknya sering menyebabkan supervisor sungguh ironi, kenyataannya dalam pelaksanaannya model supervisi ini kurang cocok dan sering kali menunai perlawanan dari pihak-pihak yang disupervisi, mereka malas dan tidak mau disupervisi. Hal ini sesungguhnya tidak boleh terjadi, tetapi malah selalu terjadi, yaitu kesalahpahaman antara guru, kepala sekolah, dengan supervisor sehingga tercipta hubungan yang tidak harmonis di antara mereka.

Untuk itu, model ini dalam supervisi pendidikan di era reformasi pendidikan seperti sekarang ini seyogianya tidak dipakai lagi oleh supervisor. Karenanya, supervisor saat ini tugasnya akan semakin berat.

Ketersediaan konsep terkait dengan model-model supervisi dalam pendidikan yang telah teruji dan mampu memperbaiki keterpurukan lembaga pendidikan dan proses pembelajaran yang tidak menguntungkan merupakan alternatif pilihan yang harus dipahami dan diaplikasikan supervisor pendidikan di dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya, dan sudah mempertimbangkan kondisi nyata, objektivitas, dan aspirasi pihak-pihak yang akan disupervisi.

2.    Model Supervisi Artistik

Model supervisi artistik adalah ketika supervisor melakukan kegiatan supervisi dituntut berpengetahuan, berketerampilan, dan tidak kaku karena dalam kegiatan supervisi juga mengandung nilai seni.

Model supervisi ini mendasarkan diri pada bekerja untuk orang lain, bekerja dengan orang lain, dan bekerja melalui orang lain. Supervisor yang mengembangkan model artistik akan menampakkan dirinya dalam relasi dengan guru-guru yang dibimbingnya sehingga guru merasa dirinya diterima.

Supervisi dalam model ini ingin menjadikan kepala sekolah, guru, dan staf sekolah menjadi dirinya sendiri, diajak bekerjasama, saling tukar pendapat dan kontribusi ide, pemikiran, memutuskan dan menerapkan bagaimana seharusnya mengelola sekolah yang baik dan guru mengajar dengan baik untuk bersama-sama berusaha meningkatkan mutu pendidikan.

Pada praktiknya, model supervisi artistik memiliki ciri khusus yang harus diperhatikan oleh supervisor sebagai berikut:
  • Memerlukan perhatian khusus agar lebih banyak mendengarkan daripada banyak bicara.
  • Memerlukan tingkat perhatian yang cukup dan keahlian yang khusus untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh orang lain.
  • Mengutamakan sumbangan yang unik dari guru untuk mengembangkan pendidikan bagi generasi muda.
  • Menuntut untuk memberi perhatian yang lebih banyak terhadap proses pembelajaran di kelas dan diobservasi pada waktu tertentu.
  • Memerlukan laporan yang menunjukkan bahwa dialog antara supervisor dan yang disupervisi dilaksanakan atas dasar kepemimpinan dari kedua belah pihak.
  • Memerlukan kemampuan berbahasa tentang cara mengungkapkan apa yang dimilikinya terhadap orang lain.
  • Memerlukan kemampuan untuk menafsirkan makna dari peristiwa yang diungkapkan sehingga memperoleh pengalaman dan mengapresiasi dari apa yang dipelajarinya.
  • Menunjukkan fakta bahwa sensivitas dan pengalaman merupakan instrumen utama yang digunakan sehingga situasi pendidikan itu diterima dan bermakna bagi orang yang disupervisi.

3.    Model Supervisi Ilmiah
Model supervisi ilmiah adalah sebuah model dalam supervisi pendidikan dapat digunakan oleh supervisor untuk menjaring informasi atau data dan memilih kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara menyebarkan angket.

Pada pelaksanaannya, supervisor menyebarkan angket kepada para siswa dan kepada guru sejawat. Setelah angket itu diisi atau dijawab oleh siswa atau guru sejawat, ditarik lagi dan dikumpulkan lalu diolah, dan dianalisis sehingga hasilnya dijadikan sebagai bahan penilaian supervisor kepada kinerja kepala sekolah, guru, dan staf sekolah. Jika hasilnya cenderung tidak menguntungkan kepala sekolah dan guru atau kurang baik, supervisor segera mengambil langkah-langkah logis dan rasional untuk memberikan pencerahan kepada mereka agar mau memperbaiki kinerjanya.

Oleh karena itu, agar supervisor memperoleh gambaran yang objektif, perlu perencanaan, persiapan, taat prosedur, sistematis menggunakan instrumen pengumpulan data dan alat penilaian yang tepat berupa angket, dan mengusahakan informasi atau data yang diperoleh supervisor itu riil adanya.

Dengan demikian, menurut Suhertian model supervisi ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Dilaksanakan secara berecana dan kontinu.
  • Sistematis dan menggunakan prosedur dan metode tertentu.
  • Menggunakan instrumen pengumpulan data yang tepat.
  • Menggunakan alat penilaian berupa angket yang mudah dijawab.
  • Angket disebar kepada siswa atau guru sejawat.
  • Adanya data atau informasi yang objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil.

4.    Model Supervisi Klinis
Menurut Flanders, Model supervisi klinis adalah suatu proses pembimbing dalam pendidikan yang bertujuan membantu pengembangan profesional guru dalam pengenalan mengajar melalui observasi dan analisis data secara objektif serta teliti sebagai dasar untuk mengubah perilaku mengajar guru. Tekanan dalam model supervisi ini diterapkan bersifat khusus melalui tatap muka ketika guru mengajar.

Adapun ciri- ciri model supervisi klinis sebagai berikut:
  • Bantuan yang diberikan bukan bersifat instruktif atau memerintah.
  • Harapan dan dorongan supervisi timbul dari guru itu sendiri.
  • Guru memiliki satuan tingkah laku mengajar yang terintegrasi.
  • Suasana dalam pemberian supervisi penuh kehangatan, kedekatan, dan keterbukaan.
  • Instrumen yang digunakan untuk observasi disusun atas dasar kesepakatan antara guru dengan supervisor.

Sementara prinsip-prinsip model klinis antara lain sebagai berikut:
  • Pelaksanaan supervisi harus berdasarkan inisiatif dari guru terlebih dahulu.
  • Menciptakan hubungan manusiawi yang bersifat interaktif.
  • Menciptakan suasana bebas untuk mengemukakan apa yang dialaminya.
  • Objek kajiannya adalah kebutuhan profesional guru yang riil dan alami.
  • Perhatian dipusatkan pada unsur-unsur yang spesifik yang harus diangkat untuk diperbaiki.

Jadi, model supervisi klinis bertujuan untuk mengadakan perubahan terhadap perilaku, cara, dan mutu mengajar guru yang sistematis. Karenanya, model ini difokuskan pada peningkatan mengajar melalui siklus yang sistematis, yakni:

1)    Tahap Perencanaan
  • Menciptakan suasana yang harmonis dan terbuka.
  • Mengkaji dan mendiskusikan rencana pembelajaran meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain.
  • Menentukan fokus observasi.
  • Menentukan alat batu (instrumen) observasi.
  • Menentukan teknik pelaksanaan observasi.

2)    Tahap Pelaksanaan Observasi
Observasi ialah metode atau cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung.  Pada tahap ini supervisor menggunakan alat observasi check list.

  • Supervisor dan guru melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas sesuai dengan perencanaan yang telah disepakati.
  • Guru menjelaskan tentang maksud kedatangan dan kehadiran supervisor di kelas bersama mereka dengan komunikatif.
  • Guru mulai melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan pedoman mengajar yang telah disiapkan dan disepakati bersama supervisor.
  • Supervisor mengobservasi dan mencatat penampilan guru berdasarkan format observasi yang disusun sebelumnya.
  • Setelah selesai proses pembelajaran, guru dan supervisor keluar dari kelas dan menuju ruang guru atau ruang pembinaan untuk mendiskusikan hasil observasi terkait dengan proses pembelajaran.

3)    Tahap Akhir (Analisis)
  • Supervisor sharing dengan guru terutama terkait dengan perasaan guru ketika mengajar untuk menciptakan suasana yang bersahabat.
  • Supervisor memberikan penguatan terhadap kegiatan pembelajaran di kelas.
  • Supervisor dan guru membicarakan kelanjutan kontrak yang telah disepakati sebelumnya.
  • Supervisor menjelaskan dan menunjukkan hasil observasi yang telah diinterpretasi, memberikan kesempatan kepada guru untuk mempelajari dan menginterpretasi, selanjutnya berdiskusi.
  • Menanyakan kembali bagaimana perasaan guru setelah dievaluasi.
  • Supervisor dan guru membuat kesimpulan hasil observasi bersama-sama. 

Proses menganalisis hasil pengamatan dan memberikan umpan balik merupakan proses ketiga dalam proses supervisi klinis. Tujuan utama menganalisis hasil pengamatan dan memberikan umpan balik adalah menindaklanjuti apa saja yang dilihat oleh supervisor sebagai pengamat terhadap proses pembelajaran.

Hal ini ditekankan pada identifikasi serta analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan peserta didik yang direncanakan dengan perilaku aktual guru dan peserta didik, serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan.
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close