Madrasah Adalah

Written by
Madrasah merupakan singkatan dari kata “darasa” yang berarti belajar. Jadi, madrasah berarti tempat belajar bagi siswa atau mahasiswa (umat islam). Karenanya, istilah madrasah tidak hanya diartikan dalam arti sempit, tetapi juga bisa dimaknai rumah, istana, kuttab, perpustakaan, surau, masjid, dan lain-lain. Bahkan juga seorang ibu bisa dikatakan sebagai madrasah pemula.



Dalam sejarah pendidikan islam, makna dari madrasah tersebut memegang peran penting sebagai instutusi belajar umat islam selama pertumbuhan dan perkembangannya. Sebab, pemakaian istilah madrasah secara definitive baru muncul pada abad ke-11. Penjelasan istilah madarasah merupakan transformasi dari masjid ke madrasah. Ada beberapa teori yang berkembang seputar proses transformasi tersebut antara lain George Makdis (1981) menjelaskan bahwa madrasah merupakan transformasi institusi pendidikan islam dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung melalui tiga tahap: pertama, tahap masjid. Kedua, tahap masjid khan, dan ketiga tahap madrasah.

Ahmad Syalabi menjelaskan bahwa transformasi masjid ke madrasah terjadi secara langsung. Karena disebabkan oleh konsekuensi logis dari semakin ramainya kegiatan masjid yang tidak hanya dalam kegiatan ibadah (dalam arti sempit) namun juga pendidikan, politik, dan sebagainya.

Dilihat dari aspek historis, eksistensi madrasah baik pada abad klasik XXI (saat ini) tidak jauh berbeda. Dinamika madrasah yang tumbuh yang berakar dari kultur masyarakat setempat tidak akan luput dari dinamika dan peradaban  masyarakat (Change of Society). Tidak salah kalau banyak mensinyalir bahwa madrasah tumbuh dan berkembang dari bawah ke atas. Kenyataan ini, sering kali kita menemukan madrasah yang mati, namun tetap eksis dan sejalan dengan kehidupan masyarakat setempat, meskipun kehidupannya sangat stagnasi.

Menurut ahli sejarah berbeda pendapat tentang madrasah yang berdiri, walaupun ada beberapa pendapat yang cukup representative. Ali Al Jumbulati (1994) misalnya mengungkapkan sebelum abad ke-10 M dikatakan bahwa madrasah yang pertama berdiri adalah madrasah Al-Baihaqiyah di kota Nisabur. Disebut sebagai Al-Baihaqiyah, karena ia didirikan oleh Abu Hasan Al-Baihaqi.

Pendapat ini diperkuat oleh hasil penelitian Richard Bulliet (1972) yang merupakan bahwa dua abad sebelumnya berdiri madrasah Nizyamiah telah berdiri madrasah di Nisabur, yaitu madrasah Miyan Dahiya yang mengajarkan Fiqih Maliki. ‘Abd. Al-‘Al menjelaskan bahwa pada masa Sultan Mahmud al-Gusnawi telah berdiri madrasah Sa’diyah. Demikian juga Naji Ma’ruf berpendapat bahwa madrasah pertama telah didirikan 165 tahun sebelum Khurasan. Ia mengemukakan bukti di Tarikh al-Bukhari dijelaskan bahwa Ismail ibn Ahmad Asad yang dikunjungi oleh para pelajar mereka. Syalabi dalam madrasah perguruan tinggi yang pertama dibangun oleh Al-Juwaini dan Abu Qasyim al-Qusyairi adalah di Nisabur.

Hal ini berarti, masyarakat dan madrasah tidak bisa dipisah. Keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling memberikan konstribusi, disalin masyarakat atau penguasa harus memberikan dukungan baik berupa ide-ide dan pikiran agar madrasah tetap servis dan maju. Madrasah sebagai satu institusi pendidikan islam merupakan fondasi sekaligus prototype dari kelanjutan system pendidikan islam (madrasah) saat ini. Madrasah Nizam Al-Mulk, misalnya madrasah yang popular dikalangan ahli sejarah dan kalangan masyarakat islam. Diberikan oleh Nizam Al-Mulk, seorang perdana menteri Dinasti Salajikah pada masa pemerintahan Sultan Alp-Arshan dan Sultan Maliksyah pada tahun ke-5 H/11 M yang diresmikan tahun 459 H/1067 M.

Latar belakang berdirinya madrasah Nizamiyah, karena perseteruan antara kelompok sunni, dinasti Saljuk dengan kelompok Syi’ah, dinasti Fatimiyah di Mesir. Oleh Syalabi dalam maksum dikatakan berdirinya madrasah Nizamiyah merupakan pembatas, untuk membedakan dengan era pendidikan islam sebelumnya. Selanjutnya madrasah Nizamiyah merupakan lembaga pendidikan resmi yang menghasilkan pegawai dan karyawan-karyawan pemerintah.

Dalam perkembangan selanjutnya, madrasah Nizamiyah dalam mencermati sekaligus mengaplikasikan system pendidikan islam dewasa ini antara lain:
  1. Madrasah sebagai institusi pendidikan islam dijadikan sebagai sarana atau wadah dalam menghidupkan mazhab-mazhab, mazhab sunni dan paham Asy’ariyah.
  2. Madrasah sebagai institusi pendidikan islam dijadikan sebagai tempat untuk mengembangkan ilmu-ilmu islam antara lain: ilmu fikih, Al-Quran, dan tafsir, hadits, nahu, saraf,bahasa arab, dan kesusasteraan.
  3. Madrasah sebagai institusi pendidikan islam dijadikan sebagai perpanjangan tangan untuk mempertahankan kekuasaan dan pergumulan pemikiran kekuasaan.
  4. Bukti kesungguhan pemerintah terhadap institusi pendidikan islam, hal ini tercermin dalam kesediaannya menyisihkan waktunya untuk memantau secara langsung proses pendidikan dengan mengadakan kunjungan ke madrasah-madrasah Nizamiyah diberbagai kota serta ikut memberikan sumbangan pemikiran didepan para pelajar madrasah.
  5. Madrasah Nizamiyah sebagai institusi pendidikan islam mengajarkan Al-Quran, membaca, menghafal dan menulis (sebagai pusat kurikulum) sastra arab, sejarah Nabi SAW. dan berhitung serta menitikberatkan pada mazhab Syafi’I dan teologi Asy’ary. Melalui metode dialog dan mencatat serta diskusi.
  6. Status para pengajar ditentukan pengangkatannya oleh pemerintah.
  7. Tingginya perhatian pemerintah terhadap perlengkapan fisik dan non fisik beasiswa dan uang pensiun  bagi pengajar.
  8. Pendirian madrasah mendapat dukungan dari berbagai pihak pemerintah, ulama-ulama dan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa madrasah Nizamiyah merupakan kemauan dan keinginan bersama bukan sepihak.
Dengan demikian, eksistensi madrasah pada era awal memiliki sejarah yang panjang selama perjalanan peradaban islam, dan berkontribusi terhadap lahirnya tradisi intelektual islam. Ia merupakan transformasi institusi pendidikan islam sebelumnya., seperti kuttab, rumah, masjid, dan saloon. Meskipun tradisi keilmuwan secara langsung tidak lahir di institusi madrasah, dikarenakan madrasah langsung di-handle oleh pemerintah, namun melalui institusi ini telah menumbuhkan kecintaan dan gairah pada intelektual islam terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dibuktikan dari karya-karya mereka dari berbagai bidang ilmu baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan (sains).
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close