Kekerasan Guru Pada Anak Didik

Written by
Secara umum, kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang tidak menyenangkan atau merugikan orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Kekerasan tidak hanya berbentuk eksploitasi fisik semata, tetapi justru kekerasan psikislah yang perlu diwaspadai karena akan menimbulkan efek traumatis yang cukup lama bagi si korban.



Menurut KUHP, pasal 89,  melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil atau sekuat mungkin, secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang, dan sebagainya, sehingga orang yang terkena tindakan itu merasa sakit yang sangat.

Dalam kasus di atas, yang dilakukan oleh guru yang berinisial S tersebut sudah masuk dalam kategori melakukan tindakan kekerasan. Bahkan dalam pasal 80 UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dinyatakan sebagai berikut:

“Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).”

Walaupun dalam kasus tersebut siswa melakukan kesalahan karena tidak mengerjakan tugas sekolah, bukan berarti guru boleh melakukan kekerasan terhadap siswa. Karena seorang guru dituntut untuk memiliki kesabaran dalam mengajar dan membimbing siswanya. Kesabaran seorang guru akan membuat anak didik merasa nyaman dalam belajar. Tidak saja merasa nyaman, kesabaran seorang guru juga membuat anak didik mempunyai waktu yang cukup untuk lebih memahami pelajaran yang dihadapinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sabar mempunyai dua makna, yakni (1) tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), tabah; (2) tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu.

Tahan menghadapi cobaan maksudnya ialah seorang guru tidak boleh menunjukkan perilaku atau sikap tidak sabar, walaupun siswa dalam keadaan tidak memperhatikan pada saat pembelajaran berlangsung, ramai di kelas, atau bahkan tidak mengerjakan tugas. Seorang guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak didik merasa tidak bosan ketika mengikuti pelajaran, dan seorang guru juga harus memperhatikan perkembangan belajar anak didiknya, termasuk kesulitan-kesulitan dalam belajarnya.

Tidak tergesa-gesa, maksudnya adalah seorang guru harus bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa agar anak didik dapat mengikuti  proses belajar mengajar dengan baik. Sebab, daya tangkap setiap anak didik ketika mendengarkan penjelasan guru berbeda satu sama lainnya.

Tidak sedikit guru yang beranggapan dengan cara menerapkan physical punishment (hukuman fisik) mereka akan mampu memenuhi tujuannya melaksanakan pendidikan dan akan mengubah perilaku siswanya. Tentu anggapan ini salah. Bahkan bahayanya memicu kebiasaan siswa yang mengerjakan sesuatu bukan karena kesadaran, melainkan menghindari hukuman. Hal yang lebih membahayakan lagi adalah jika terjadi dendam, malu, terhina, atau akan menimbulkan emosi negative bagi anak didik.

Oleh karena itu, sebagai seorang guru yang bertugas mendidik siswa harus merubah anggapan dan pandangan mereka, bahwa kekerasan tidak akan mengubah perilaku siswa dan bahkan belum tentu membuat efek jera pada siswa. Namun sebaliknya, seorang guru harus memulainya dengan pendekatan dan mengenali atau mempelajari perkembangan siswanya agar tercapailah tujuan pendidikan.

Guru dituntut menjadi professional, guru professional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar.
Surya berpendapat bahwa profesionalisme guru mempunyai makna penting, yaitu: (1) profesionalisme memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum; (2) profesionalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan yang selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat rendah; (3) profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan kompetensinya.

Pendidikan Anti kekerasan adalah suatu proses, pendekatan yang digunakan secara komperhensip, pendidikan ini hendaknya dilakukan secara kondusif baik di lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat, semua partisan dan komunitas terlibat di dalamnya. Pelatihan pendidikan anti kekerasan perlu diadakan bagi kepala sekolah, guru-guru, murid-murid, orang tua murid, dan komunitas pemimpin yang merupakan esensial utama. Perlu perhatian terhadap latar belakang murid yang terlibat dalam proses kehidupan yang utuh. Perhatian pendidikan anti kekerasan harus berlangsung cukup lama, dan pembelajaran anti kekerasan harus diintegrasikan dalam kurikulum secara praksis di sekolah dan masyarakat.

Pendidikan Anti kekerasan diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi personal dan sosial sehingga menjadi warga negara yang baik (good care atau good citizen) dengan ciri-cirinya antara lain: berani mengambil sikap positif untuk menegakkan norma-norma sosial anti kekerasan, membuat aturan hukum yang kondusif untuk kebaikan dan nilai-nilai moral anti kekerasan demi masa depan bangsa yang mengedepankan nilai-nilai anti kekerasan, anti diskriminasi, inklusifisme, humanisme, pluralisme, kebebasan, persamaan, persaudaraan, kesatuan, kebangsaan, kebhinekaan, multikultural, nasionalisme, demokrasi dan demokratisasi yang bersumber pada nilai anti kekerasan sebagai paradigmanya.

Solusi Masalah
Beberapa solusi yang diberikan untuk mengatasi kekerasan pada siswa di sekolah diantaranyan adalah sebagai berikut:
a.    Menerapkan pendidikan tanpa kekerasan di sekolah
b.    Mendorong/mengembangkan humaniasi pendidikan;
  • Menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran,
  • Membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus,
  • Suasana belajar yang meriah,gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, menjadi suatu kekuatan yang integral.
c.    Hukuman yang di berikan berkolerasi dengan tindakan anak,
d.    Terus menerus membekali guru untuk menambah wawasan pengetahuan, kesempatan, pengalaman baru untuk mengembangkan kreativitas mereka.
e.    Konseling. Bukan siswa saja membutuhkan konseling, tapi juga guru. Sebab guru juga mengalami masa sulit yang membutuhkan dukungan, penguatan, atau bimbingan untuk menemukan jalan keluar yang terbaik.
f.    Segera memberikan pertolongan bagi siapa pun juga yang mengalami tindakan kekerasan di sekolah,dan menindak lanjuti serta mencari solusi alternatif yang terbaik.
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close