Karakter Ontologis Aliran Irfani

Written by
Ketika kita mengkaji aliran ini, selintas kita dapat menemukan pandangan yang sepertinya berlainan, tetapi dengan pengamatan yang teliti, akan ditemukan kesamaan fundamental dalam ajaran para sufi itu.




Dalam konteks ini akan di pilih pandangan ontologis dari Ibn ‘Arabi (w. 1240) deengan beberapa pertimbangan. Pertama, meskipun para sufi memiliki pandangan yang berbeda, tetapi sebagaimana telah dan akan kita lihat adanya struktur dan substansi ajaran mereka yang sama, sehingga siapa pun tokoh yang di tampilkan dapat di anggap sebagai wakil para sufi itu. Kedua, meskipun Ibn ‘Arabi tidak memiliki tarikat seperti Abdul Qadir Jailani dan Jala-al-Din Rumi tetapi ajaran wahdat al-wujud-nya sedemikian berpengaruh, baik terhadap sufi yang muncul kemudian atau pun kepada para filosof terkemuka pasca Ibn Rusyd, seperti Mulla Shadra.

Ibn ‘Arabi di kenal dengan ajaran wahdat al-wujud, yang menyatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu saja. Hanya ada satu wujud sejati, yaitu Allah (al-Haqq), sedangkan alam tidak lebih dari sekedar manifestasi (teofani/tajalliyat) dari wujud sejati tersebut yang pada dirinya tidak memiliki wujud sejati seperti Tuhan.

Hubungan wujud sejati dengan alam biasanya di gambarkan melalui “wajah” dengan “gambar” wajah itu yang muncul dari sejumlah cermin. Dalam hubungan ini, Ibn ‘Arabi berkata, “wajah itu satu, tetapi cermin seribu satu”, sehingga wajah yang sejati itu terpantul dalam ribuan cermin. Dan karena posisi cermin dan juga kualitasnya berbeda antara satu dengan lainnya, maka pantulan wajah yang sama dan satu itu tampak berbeda-beda. Itulah sebabnya menurut Ibn ‘Arabi meskipun Tuhan itu Esa, tetapi pantulannya yakni alam semesta beragam dan berjenis-jenis.

Meski demikian, keragaman alam raya tidak perlu mengelabui mata kita akan eksistensi realitas tunggal yang menjadi dasar bagi keberadaan wujud yang beragam tersebut. Mereka beragam, bukan karena dasar mereka banyak, tetapi karena mereka telah bertindak sebagai “cermin” yang beragam, namun yang memantulkan adalah tetap “wajah yang satu dan sama”.

Pelukisan hubungan Tuhan dan alam sebagai “wajah dan cermin” juga memiliki pelajaran yang sangat berharga. Misalnya, pertama, dari konsep yang demikian, kita bisa belajar tentang kehadiran Tuhan. Tuhan selalu hadir di alam semesta ini, dan eksistensi-Nya dapat diketahui dari keberadaan alam semesta itu sendiri, artinya, selama alam semesta sebagai pantulan dari wajah-Nya ada, maka selama itu pula kehadiran Tuhan di alam semesta dapat di pastikan. Tetapi karena sedemikian jelasnya, sehingga kita tidak dapat melihat-Nya, sebagaimana kelelawar tidak bisa melihat matahari, bukan karena gelap, justru karena terlalu terang. Kalau mata kita terus menerus melihat matahari, yang akan tampak adalah warna hitam, yang menutupi pandangan kita dari melihat wajah asli matahari, bukan mataharinya tidak ada.

Kedua, adalah tentang kesejatian keberadaan Tuhan di bandingkan dengan keberadaan alam dan segala isinya. Sehubungan dengan ini, Ibn ‘Arabi memberikan kategori yang jelas sebagaimana dinyatakan oleh Prof. Mulyadhi:

“Benar, bahwa wajah kita yang asli tidak dapat di lihat kecuali melalui cermin. Dan betul juga, bahwa kita dapat melihat wajah gambar kita di cermin dengan begitu gambar dan jelas, tetapi kita juga tahu, bahwa satu-satunya wajah yang real adalah wajah yang ada pada diri kita, bukan yang terpantul dalam cermin, meskipun ia tampak jelas kepada mata kita. Tetapi kenyataan bahwa wajah kita yang terlihat adalah yang ada di cermin tidak boleh mengelabui kita dan kemudian meyakinkan kita, bahwa wajah yang di cerminlah yang sejati, karena ia dapat di lihat oleh mata kita. Tetap saja, dengan kenyataan di atas, kita yakin bahwa wajah sejati itu adalah yang ada pada diri kita dan bukan yang di pantulakn cermin, meskipun bentuk tampilannya persis sekalipun kita tidak dapat melihatnya.”

Demikianlah, walaupun kita tidak pernah melihat Tuhan dengan mata kepala kita, namun Ibn ‘Arabi yakin bahwa sekalipun Tuhan seperti wajah asli kita yang tidak dapat kita lihat, tetapi Dia-lah satu-satunya realitas yang hak, dalam arti ada secara sejati. Sebaliknya, meskipun benda-benda alam semesta bisa terlihat jelas dengan mata, tetapi seperti halnya gambar wajah kita di cermin kita tahu bahwa wajah di cermin itu tidak ada dalam arti yang sesungguhnya dan keberadaannya tergantung secara mutlak pada keberadaan “wajah” Tuhan yang sejati.
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close