Filosof Terkenal Sebagai Tokoh Filsafat Pragmatisme

Written by

1.    William James(1842-1910 M)
James lahir di New York City pada tahun 1842 M, dan merupakan putra dari Henry James, Sr, seorang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, dan pemikir kreatif. Ayahnya merupakan kepala rumah tangga yang menekankan kemajuan intelektual. Pendidikan formalnya mula-mula tidak teratur lalu ia mendapat tutor berkebangsaan Inggris, Prancis, Swiss, Jerman dan Amerika. Akhirnya, ia memasuki Harvard Medical School pada tahun 1864 dan memperoleh M.D-nya pada tahun 1669. Akan tetapi, ia kurang tertarik pada praktik pengobatan; ia lebih menyenangi fungsi alat-alat tubuh. Oleh karena itu, ia kemudian mengajarkan anatomi dan fisiologi di Harvard. Tahun 1875 perhatiannya lebih tertarik pada psikologi dan fungsi pikiran manusia. Pada waktu itu, ia menggabungkan diri dengan Peirce, Chauncy Wright, Oliver Holmes, Jr., dan lain-lain dalam metaphysical club untuk berdiskusi dalam masalah-masalah filsafat dengan topik-topik metode ilmiah dan evolusi. Disinilah, ia mula-mula mendapat pengaruh Peirce dalam metode pragmatisme.

Pandangan filsafatnya, diantaranya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri yang lepas dari akal yang mengenal. Sebab, pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena didalam praktik, apa yang kita anggap benar dapat di koreksi oleh pengalaman berikutnya.

Nilai konsep atau pertimbangan kita, bergantung pada akibatnya, pada kerjanya. Artinya bergantung pada keberhasilan perbuatan yang di persiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar bila bermanfaat bagi pelakunya, memperkaya hidup dan kemungkinan-kemungkinannya.
Menurut James, dunia tidak dapat di terangkan dengan berpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan. Tentang kepercayaan agama, di katakan bagi orang perorangan, kepercayaan adanya suatu realitas cosmis lebih tinggi itu merupakan nilai subjektif yang relative, sepanjang kepercayaan itu memberikan kepadanya suatu hiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damai, keamanan dan sebagainya. Segala macam pengalaman keagamaan mempunyai nilai yang sama, jika akibatnya sama-sama memberikan kepuasan kepada kebutuhan keagamaan.

James membawakan pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktikkannya dalam pendidikan.

2.    John Dewey(1859 M)

Sebagai pengikut pragmatisme, John Dwey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu, filsafat harus berpijak pada pengalaman dan pengolahnya secara kritis.

Menurutnya, tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Oleh karena itu, berpikir merupakan alat (instrumen) untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat di tinjau dari berhasil tidaknya memengaruhi kenyataan. Satu-satunya di percaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui arti yang sebenarnya adalah metode induktif. Metode ini tidak hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan social dan moral. Secara umum, pragmatisme berarti hanya idea yang dapat di praktikkan yang benar dan berguna. Idea-idea yang hanya ada di dalam idea (seperti idea dalam Plato, pengertian umum pada Socrates, definisi pada Aristoteles), juga kebimbangan terhadap realitas objek indra (pada Descartes), semua itu nonsense bagi pragmatisme. Yang ada ialah apa yang real ada.
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close