Pendekatan Sosioemosional


Menurut Rogers William Glasser Rogers bahwa pengajar perlu bersifat tulus terhadap siswanya, menerima dan menghargai siswa sebagai manusia, serta memahami siswa dari sudut siswa itu sendiri (Ephatic Understending), sedangkan Glasser lebih menekankan pada pentingnya pengajar membina rasa tanggung jawab dan harga diri siswa. Adapun Rudolf Dreikurs menekankan pentingnya proses suasana dalam kelas yang demokratis (Democratic classroom Processes).

Definisi pendekatan sosioemosional
Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Emosi akan memberi tanggapan (respons) bila ada rangsangan (stimulus) dari luar diri seseorang.  Baik rangsangan verbal maupun nonverbal, mempengaruhi kadar emosi seseorang. Rangsangan verbal itu misalnya ceramah, cerita, sindiran, pujian, ejekan, berita dialog, anjuran, perintah, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan nonverbal dalam bentuk perilaku berupa sikap dan perbuatan.

Dalam pendekatan sosioemosional ini manajemen kelas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan iklim sosioemosional yang positif di dalam kelas. Sosioemosional yang positif berarti antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik. Dalam pendekatan ini guru menjadi kunci dalam pembentukan hubungan pribadi dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat.

Pendekatan sosioemosional dapat diartikan sebagai cara pandang yang menganggap bahwa kelas yang kondusif dapat dicapai dengan menciptakan hubungan yang harmonis antara guru dengan peserta didik serta antara peserta didik. Jadi, dapat dikatakan bahwa kondisi kelas yang kondusif dapat dicapai jika hubungan anatara guru dengan peserta didik serta peserta didik dengan peserta didik terjalin dengan baik.

Peran guru dalam pendekatan sosioemosionalDengan berdasarkan psikologi klinis dan konseling, pendekatan pengelolaan kelas ini mengasumsikan bahwa:
  1. Proses belajar mengajar yang efektif mempersyaratkan iklim sosioemosional yang baik dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik, dan
  2. Guru menduduki posisi terpenting bagi terbentuknya iklim sosioemosional yang baik itu.
Ada juga yang mengemukakan bahwa terdapat dua asumsi pokok yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas sebagai berikut:
  1. Iklim sosial dan emosional yang baik adalah dalam arti terdapat hubungan antarpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa, merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif. Asumsi ini mengharuskan seorang wali/guru kelas disadari oleh hubungan manusiawi yang diawali sikap saling menghargai dan saling menghormati antarpersonal di kelas. Setiap personal diberi kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga timbul suasana sosial dan emosional yang menyenangkan pada setiap personel dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
  2. Iklim sosial yang emosional yang baik tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang disadari dengan hubungan manusiawi yang efektif. Dari asumsi ini berarti dalam pengelolaan kelas seorang wali/guru kelas harus berusaha mendorong guru-guru agar mampu dan bersedia mewujudkan hubungan manusiawi yang penuh saling pengertian, hormat menghormati dan saling menghargai. Guru harus didorong menjadi pelaksana dan berinisiatif dan kreatif serta selalu terbuka pada kritik. Disamping itu, berarti guru harus mampu dan bersedia mendengarkan pendapat, saran, gagasan, dan lain-lain dari siswa sehingga pengelolaan kelas berlangsung dinamis.
Banyak tip yang dapat dipelajari untuk membantu guru sebagai manajer kelas dalam menciptakan kondisi sosioemosional yang kondusif bagi efektivitas pengajaran. Namun demikian, beberapa hal yang dianggap penting dalam penggunaan pendekatan ini antara lain sebagai berikut.
  1. Sikap dan kebiasaan guru untuk tampil jujur, tulus dan terbuka, bersemangat, semangat serta energik.
  2. Kesadaran diri pada seorang guru dalam menerima dan mengerti siapa peserta didiknya dengan penuh rasa simpati.
  3. Keterampilan yang dimiliki oleh guru dalam berkomunikasi secara efektif, mengambil keputusan dengan cepat dan akurat, mengembangkan prosedur pemecahan masalah, mengembangkan rasa tanggung jawab sosial, dan mengembangkan kondisi belajar yang demokratis dan terbuka.
Melalui penerapan pendektan ini, kesatuan antar stakeholders kelas harus dibangun dengan rasa saling percaya dan saling membutuhkan. Guru memercayai peserta didik, peserta didik memercayai guru, dan peserta didik yang satu memercayai peserta didik yang lainnya. Agar dapat terjalin kepercayaan tersebut, seorang guru sebagai kunci dalam pelaksanaan pendekatan ini harus bisa menata hatinya, mejaga ucapan dan tindakannya, serta memberikan rasa aman agar peserta didiknya memberikan kepercayaan kepadanya.

Menurut penulis, pendekatan sosioemosional disini sangat membutuhkan perhatian guru dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Guru selaku tauladan di sekolah perlu memperbaiki diri dan dapat mengayomi siswa untuk bisa terbuka, serta membantu siswa untuk menyelesaikan persoalannya. Tidak hanya itu, perkembangan siswa diluar sekolah juga harus mendapatkan pengawasan dari guru, karena setiap tingkah laku siswa biasanya akan dibawa pada lingkungan sekolah. Untuk itu perlunya kerja sama yang baik antara guru, orangtua maupun siswa itu sendiri agar tujuan yang diharapkan mampu tercapai. Adanya saling menghormati dan saling menghargai antara guru dengan guru, siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa juga menjadi sorotan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

0 Response to "Pendekatan Sosioemosional"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel