Dampak Konflik

Written by
Konflik dapat timbul karena adanya perbedaan persepsi, pandangan, sikap atau perilaku dari dua pihak atau lebih. Konflik tidak selalu berarti jelek. Konflik atau perbedaan pendapat dalam mencari solusi terbaik justru sangat positif.

Kata konflik sering menimbulkan citra negatif, suatu pikiran tentang kemarahan dan konfrontasi. Memang perlu diakui bahwa banyak dampak negatif dari suatu konflik, tetapi konflik juga ada segi positifnya.

Konflik menimbulkan akibat-akibat atau resiko-resiko tertentu, disamping juga terkadang membawa dampak positifnya. G.W Allport sebagaimana dikutip Hanson, menyatakan bahwa semakin banyak sarjana sosial yang memaparkan bahwa konflik itu sendiri bukan kejahatan, tetapi lebih merupakan suatu gejala yang memiliki pengaruh-pengaruh konstruktif atau destruktif, tergantung pada manajemennya. 

Dampak negatif konflik
Kebanyakan masalah konflik menghasilkan emosi negatif yang sangat kuat. Akan tetapi, reaksi emosional hanya merupakan tanda permulaan dari serangkaian reaksi yang dapat berdampak menimbulkan stress, bersifat problematik karena memecahkan perhatian orang dari tugas yang dihadapi.

Dampak negatif konflik sesungguhnya disebabkan oleh kurang efektif dalam pengelolaannya, yaitu ada kecenderungan untuk membiarkan konflik tumbuh dan menghindari terjadinya konflik. Akibatnya muncul keadaan-keadaan sebagai berikut.

  1. Meningkatnya jumlah absensi karyawan dan seringnya karyawan keluar pada waktu jam-jam kerja berlangsung. Misalnya, tidur selam pimpinan tidak ada di tempat, pulang lebih awal atau datang terlambat dengan berbagai alasan yang tidak jelas.
  2. Banyak karyawan yang mengeluh karena sikap atau perilaku teman kerjanya yang dirasakan kurang adil dalam membagi tugas dan tanggung jawab. Seringnya terjadi perselisihan antarkaryawan yang memancing kemarahan, ketersinggungan yang akhirnya dapat memengaruhi pekerjaan, kondisi psikis dan keluarganya.
  3. Banyak karyawan yang sakit, sulit untuk berkonsentrasi dalam pekerjaannya, muncul perasaan kurang aman, merasa tertolak oleh teman ataupun atasan, merasa tidak dihargai hasil pekerjaannya, timbul stress yang berkepanjangan yang bisa berakibat sakit tekanan darah tinggi, ataupun yang lainnya.
  4. Seringnya karyawan melakukan mekanisme pertahanan diri apabila memperoleh teguran dari atasan. Misalnya, merusak mesin atau peralatan kerja, mengadakan provokasi terhadap rekan kerja, membuat intrik-intrik yang merugikan orang lain.
  5. Meningkatnya kecenderungan karyawan yang keluar-masuk. Kondisi semacam ini bisa menghambat kelancaran dan kestabilan organisasi secara menyeluruh karena produksi terhambat, kehilangan karyawan potensial, waktu tersisa hanya untuk kegiatan seleksi dan memberikan latihan serta dapat muncul pemborosan dalam cost benefit.
Di sekolahpun, konflik dapat berdampak positif dan negatif. Negatifnya antara lain:
  1. Menciptakan suasana tidak nyaman dan tidak kondusif sehingga menghambat komunikasi dan bahkan menimbulkan ketegangan.
  2. Menimbulkan perpecahan dalam sekolah yang dapat mengganggu perhatian guru dan tenaga kependidikan terhadap program sekolah.
Dampak positif konflikDalam suatu tim proyek sering terjadi perbedaan pendapat tentang suatu masalah. Konflik yang terjadi apabila dibawa dalam suatu diskusi yang terarah akan menjadi produktif, mendapatkan kesimpulan yang lebih baik karena merupakan buah pikiran dari banyak orang.

Apabila upaya penanganan dan pengelolaan konflik karyawan dilakukan secara efisien dan efektif, dampak positif yang akan muncul melalui perilaku yang ditampakkan oleh karyawan sebagai sumber daya manusia potensial dengan berbagai akibat sebagai berikut.
  1. Meningkatkan ketertiban dan kedisiplinan dalam menggunakan waktu kerja, seperti tidak pernah absen tanpa alas an yang jelas, masuk dan pulang kerja tepat pada waktunya, pada waktu jam kerja setiap karyawan menggunakan waktu secara efektif, hasil kerja meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya.
  2. Meningkatnya hubungan kerja sama yang produktif. Hal ini terlihat dari cara pembagian tugas dan tanggung jawab sesuai dengan analisis pekerjaan masing-masing.
  3. Meningkatnya motivasi kerja untuk melakukan kompetisi secara sehat antarpribadi ataupun antarkelompok dalam organisasi, seperti terlihat dalam upaya peningkatan prestasi kerja, tanggung jawab, dedikasi, loyalitas, kejujuran, inisiatif, dan kreativitas. 
  4. Semakin berkurangnya tekanan, intrik yang dapat membuat stress bahkan produktivitas kerja semakin meningkat. Hal ini karena karyawan memperoleh perasaan aman, kepercayaan diri, penghargaan dalam keberhasilan kerja atau bisa mengembangkan karier dan potensi dirinya secara optimal.
  5. Banyaknya karyawan yang dapat mengembangkan karier sesuai dengan potensinya melalui pelayanan pendidikan (education), pelatihan (training), dan konseling (counseling) dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Semua ini bisa menjadikan tujuan organisasi tercapai dan produktivitas kerja meningkat akirnya kesejahteraan karyawan terjamin.
Di sekolahpun, konflik dapat berdampak positif dan negatif. Positifnya antara lain:
  1. Memungkinkan ketidakpuasan yang tersembunyi muncul ke permukaan, sehingga sekolah sebagai suatu organisasi dapat melakukan penyesuaian.
  2. Mendinamiskan suatu organisasi sekolah, sehingga tidak berjalan rutin dan statis.
Konflik organisasional dapat menjadi sumber dari berbagai manfaat, diantaranya sebagai berikut.
  1. Konflik dapat memperbaiki kualitas keputusan organisasi.
  2. Konflik dapat membuat terbuka persoalan yang semula diabaikan.
  3. Konflik dapat memotivasi orang untuk saling menghargai posisi satu sama lain sepenuhnya.
  4. Konflik dapat mendorong orang untuk memepertimbangkan gagasan baru sehingga memfasilitasi perubahan.
Mengingat bahwa konflik tidak dapat dihindari, maka pendekatan yang baik untuk diterapkan kapala sekolah adalah mencoba memanfaatkan konflik sedemikian rupa, sehingga dapat dengan tepat dan efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi di sekolah harus mampu mengelola konflik dengan baik sehingga memberikan manfaat positif dan terhindar dari akibat yang negatif. Kepala sekolah seharusnya tidak mengelak terhadap adanya konflik, tetapi mengelolanya agar dapat mendorong sekolah menjadi dinamis dan konflik menghambat program sekolah.

Jadi menurut penulis, dapat ditekankan lagi bahwa kontribusi pemimpin sebagai pengambil kebijakan sangat diperlukan untuk bisa menyelesaikan persoalan yang ada dalam sebuah organisasi maupun dalam sebuah lembaga pendidikan, akan tetapi hal ini perlu dukungan serta peran aktif para personel sekolah. Akan tetapi dalam sebuah organisasi maupun lembaga memang tidak dapat dipungkiri bahwa di dalamnya pasti ada konflik yang menghambat jalannya sebuah organisasi, dalam hal ini konflik bukan untuk dihindari akan tetapi untuk di hadapi dan dicarai bersama solusi yang tepat dalam penanganannya dan sebuah konflik dapat membawa damapak yang positif apabila konflik itu didaya gunakan dengan baik.
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close