Teknik Pembinaan dan Penerapan Disiplin Kelas

Written by
Ada tiga teknik pembinaan disiplin kelas yaitu sebagai berikut :
1.    Teknik external control
Teknik external control  merupakan suatu teknik yang mana disiplin peserta didik haruslah dikendalikan dari luar peserta didik. Teknik ini mengendalikan diri dari luar berupa bimbingan dan penyuluhan.  Peserta didik didalam kelas senantiasa terus diawasi dan dikontrol agar tidak terbawa dalam kegiatan-kegiatan destruktif dan tidak produktif. Menurut teknik ini, peserta didik didalam kelas harus terus menerus di disiplinkan dan jika perlu ditakuti dengan hukuman dan hadiah. Hukuman diberikan kepada peserta didik yang tidak disiplin didalam kelas, sedangkan hadiah diberikan kepada peserta didik yang berdisiplin didalam kelas.

2.    Teknik internal control

Teknik internal control merupakan kebalikan dari teknik external control. Teknik external control mengusahakan agar peserta didik dapat mendisplinkan diri sendiri didalam kelas. Dalam teknik ini, peserta didik disadarkan akan pentingnya disiplin. Sesudah peserta didik sadar, ia akan mawas diri serta berusaha mendisiplinkan diri sendiri.

Kunci sukses dari penerapan teknik adalah ada pada keteladanan guru dalam berdisiplin, mulai dari disiplin waktu, disiplin mengajar, disiplin berkendara, disiplin beribadah, dan lainnya. Guru sebagai manajer kelas tidak akan dapat mendisiplin peserta didiknya di dalam kelas jika guru sendiri tidak berperilaku disiplin.


3.    Teknik cooperative control

Dalam teknik cooperative control ini antara guru sebagai manajer kelas dengan peserta didik harus saling bekerja sama dengan baik dalam menegakkan disiplin didalam kelas. Guru dan peserta didik lazimnya membuat semacam kontrak perjanjian yang berisi aturan-aturan kesidiplinan yang harus di taati bersama, sanksi-sanksi atas indisipliner (ketidakdisiplinan) juga dibuat serta ditaati bersama.
 Kontrak perjanjian ini sangatlah penting karena dengan cara demikian guru dan peserta didik dapat bekerja sama dengan baik. Kerja sama tersebut akan membuat peserta didik merasa dihargai.
Guru sebagai manajer kelas dapat mengabungkan ketiga teknik pembinaan diatas secara efektif dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :
a.    Guru mencontohkan perilaku yang tertib kepada peserta didiknya
Sebelum mendisiplinkan peserta didiknya, sebaiknya guru mendisiplinkan dirinya terlebih dahulu. Guru harus menunjukkan perilaku yang tertib, baik dikelas, dilingkungan sekolah, maupun dilingkungan masyarakat. Hal ini dapat menjadi model bagi peserta idik dalam melaksanakan perilaku disiplin.

b.    Guru memisahkan peserta didik dari perilakunya

Terkadang seorang peserta didik dengan sengaja berperilaku buruk hanya untuk membuat jengkel gurunya dan ingin mendapatkan perhatian dari guru. Ini disebabkan karena kurangnya kedewasaan, ketidaksabaran, frustasi, atau karena keinginannya tidak terpenuhi. Hal ini dapat di atasi dengan guru memfokuskan pada memecahkan masalah perilaku buruk tersebut dan membantu peserta didik membuat pilihan perilaku yang lebih baik dari pada hanya menghukumnya.

c.    Guru membuat peserta didik menerima tanggung jawabnya

Jika terdapat peserta didik yang berperilaku buruk dikelas dan mengganggu kegiatan pembelajaran, sebaiknya guru jangan langsung memarahi atau menghukum peserta didik tersebut. Guru dapat meminta si pembuat onar untuk menghentikan aksinya tanpa menghukum terlebih dahulu. Jika hal tersebut belum efektif, maka setelah pelajaran selesai guru mengajak si pembuat onar berbicara empat mata, mengisi lembaran yang menggambarkan perilaku tidak terpujinya, kemudian menandatangani semacam kontrak, yang mana dia setuju untuk tidak mengulangi perbuatannya dan bertanggung jawab terhadap kontrak tersebut.

d.    Guru sebaiknya dapat menemukan solusi atas perilaku peserta didik yang tidak diharapkan daripada memberikan konsekuensi.

Jika terdapat peserta didik yang tidak disiplin dikelas, sebaiknya guru menghindari untuk memberikan hukuman. Tindakan yang dapat dilakukan adalah mengajak si peserta didik sharing untuk mengetahui mengapa ia berbuat demikian dan meyakinkannya bahwa perbuatan itu adalah perbuatan buruk. Setelah itu, guru memberikan pilihan solusi kepada peserta didik untuk mengatasi perbuatan buruk tersebut.

e.    Guru memberikan umpan balik yang positif ketika perilaku bertambah baik.

Peserta didik akan sensitif terhadap perlakuan guru terhadap mereka. Jika peserta didik telah memperbaiki kesalahannya maka sebaiknya guru memberikan umpan balik positif dengan memberikan motivasi atau memujinya agar tetap konsisten dalam melakukan perilaku tersebut.

f.    Guru menghapus bersih daftar kesalahan peserta didik dan mampu berpikir positif kepada peserta didiknya.
Guru harus meyakinkan terhadap peserta didik agar tidak melakukan kesalahan secara berulang-ulang. Cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan menghapus bersih kesalahan setelah ada upaya perbaikan dan berfikir positif terhadap peserta didiknya.

g.    Guru fokus memberikan penghargaan kepada peserta didik yang berperilaku baik

Guru dapat bekerja sama dengan peserta didik untuk dapat mendisiplinkan mereka dengan cara bersama-sama membuat tata tertib kelas. Setelah selesai dibuat, tata tertib kelas tersebut menjadi semacam undang-undang kelas yang harus dipatuhi oleh setip peserta didik.

h.    Guru bekerja sama dengan kepala sekolah dan wali peserta didik untuk mengatasi perilaku buruk peserta didik
Jika terdapat peserta didik yang sulit untuk diperbaiki perilakunya meskipun guru sudah berupaya semaksimal mungkin, guru dapat bekerja sama dengan kepala sekolah untuk mengatasi perilaku buruk peserta didik tersebut. Kemudian, jika kepala sekolah tidak dapat mengatasinya, maka langkah selanjutnya adalah bekerja sama dengan wali peserta didik untuk mengatasinya.

Berdasarkan hasil observasi di kelas X IPA 5 dan XI IPS 3, MAN Pamekasan, penulis menemukan bahwa teknik pembinaan disiplin peserta didik yang diterapkan oleh guru berbeda di masing-masing kelas. Hasil pengamatan penulis di kelas X IPA 5 ketika pelajaran Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan), Ibu Endang selaku guru mata pelajaran memberikan instruksi kepada peserta didiknya untuk mengumpulkan makalah dan mengerjakan tugas latihan di buku LKS dan buku paket. Semua siswa mengikuti instruksi tersebut dengan suasana kelas yang cukup kondusif. Setelah beberapa saat, terdapat dua siswa yang terlambat dan masuk kelas dengan begitu saja tanpa mengucapkan salam.
Kemudian guru memanggil kedua siswa tersebut dan menanyakan mengapa mereka terlambat. Dalam kegiatan sharing ini, guru tidak hanya menanyakan alasan mengapa siswa tersebut terlambat, tetapi ibu Endang juga menanyakan kepada siswa nya apakah perbuatan tersebut salah atau tidak. Setelah itu guru memberikan sanksi dengan menyuruh siswa yang terlambat tersebut untuk push up selama 10 kali dengan harapan agar mereka tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Dari pengamatan tersebut, penulis dapat menganalisis bahwa dalam teknik membina disiplin peserta didik, guru menggunakan teknik external control. Artinya guru berusaha mendisiplinkan peserta didiknya dengan memberikan hukuman terhadap siswa yang terlambat. Namun, dalam hal ini guru tidak langsung memberikan hukuman kepada peserta didik yang berperilaku tidak disiplin. Guru melakukan  tindakan dengan mengajak si peserta didik sharing atau menanyakan terlebih dahulu kesalahan yang dilakukan untuk mengetahui mengapa mereka (siswa yang terlambat) berbuat demikian dan meyakinkannya bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang salah. Setelah itu, guru memberikan pilihan solusi kepada peserta didik untuk mengatasi perbuatan buruk tersebut dengan cara memberikan hukuman push up.

Berbeda dengan kelas XI IPS 3 pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Guru menyampaikan materi kepada peserta didik dalam kondisi kelas yang tidak kondusif. Kelas IPS yang di dominasi oleh peserta didik putra cenderung menimbulkan kondisi kelas yang tidak kondusif. Sebagian peserta didik berlaku disiplin dengan mengikuti dan mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru, namun sebagian juga terdapat peserta didik yang tidak disiplin tidak mendengarkan penjelasan guru, tidur di dalam kelas, dan berbicara pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Ibu Farida, selaku guru mata pelajaran SKI membiarkan siswa yang berbuat gaduh atau tidak mendengarkan materi,  selama peserta didik tidak melanggar batas.

Dalam hal ini penulis dapat menganalisis bahwa tindakan guru membiarkan peserta didik yang tidak disiplin didalam kelas XI IPS 3 ini dilakukan karena guru memahami bahwa perkembangan psikologis peserta didik  pada usia tersebut masih labil. Sehingga guru menggunakan teknik internal control yang mana guru membiarkan peserta didiknya untuk mendisiplinkan diri sendiri di dalam kelas selama berada dalam batas yang tidak melanggar. Namun peran guru sebagai manajer kelas tidak hanya berhenti sampai disitu. Guru dapat memberikan contoh disiplin kepada peserta didiknya, yang mana dalam hal ini penulis mengamati bahwa ibu Farida sudah berlaku disiplin dalam mengajar. Seperti halnya tepat waktu dalam memulai dan mengakhiri jam pelajaran.

Berdasarkan observasi di kelas yang berbeda tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa teknik pembinaan disiplin peserta didik yang dilakukan oleh guru berbeda dalam menangani siswa yang berperilaku tidak disiplin. Teknik external control dan sharing sebelum memberikan hukuman digunakan oleh ibu Endang dalam menangani peserta didik di kelas X IPA 5. Sedangkan teknik internal control digunakan oleh ibu Farida dalam mendisiplinkan peserta didik di kelas XI IPS 3 karena kondisi perkembangan psikologis mereka yang dirasa masih labil dan cenderung sulit untuk dikendalikan.
SHOW or HIDE COMMENT

No comments:

Post a Comment

close