Tujuan Pengelolaan Lingkungan Belajar

Secara implisit (tersurat), pembahsan tentang tujuan pengelolaan lingkungan belajar di praskolah sebetulnya sudah tergambar pada uraian diatas. Tetapi agar lebih jelas dan nyata serta dapat dicapai secara lebih terencana dan disadari sesuai dengan sasaran atau yang ditargetkan,maka uraian tentang tujuan dari pengelolaan lingkungan belajar perlu disajikan secara lebih jelas dan eksplisit (tersurat).
Apakah sesungguhnya yang menjadi sasaran utama atau target pengelolaan lingkungan belajar di prasekolah itu? Pertayaan ini harus terjawab secara jelas, karena jawabannya akan menjadi rujukan adalam sgala aktivitas yang terkait dengan pengelolaan lingkungan belajar. Secara umu tujuan pengelolaan lingkungan belajar adalah untuk mewujudkan situasi yang kondusif untuk memfasilitasi perkembangan dan belajar anak secara maksimal sesuai dengan kebutuhan intelektual, fisik-motorik, dan sosio-emosi anak, serta untuk menghilangkan berbagai hambatan yang akan mengganggu perkembangan dan efektifitas belajar anak tersebut. Secara lebih khusus dan sistematis, terdapat dua tinjauan dari sudut performances atau tampilan muka dari lingkungan belajar, dan kedua dari aspek isi atau contentdari lingkungan belajar tersebut.



Dari aspek performences, pengelolaan lingkungan belajar diarahkan untuk dapat menampilkan lingkungan yang mampu mengundang atau merangsang anak untuk tertarik beraktivitas di dalam lingkungan belajar yang telah disediakan. Sedangkan aspek isi, terdapat dua hal mendasar yang harus dicapai dari pengelolaan lingkungan belajar bagi anak prasekolah, yaitu kemampuan lingkungan belajar tersebut dalam memfasilitasi multisensori anak serta kemampuan lingkungan belajar dalam member kesempatan pada anak untuk beraktivitas dan berkreasi secara efektif dan efisien.
  1. Tujuan penciptaan lingkungan yang merangsang anak (inviting classroom). Lingkungan belajar yang memiliki kualitas performance tinggi akan dengan mudah menarik anak untuk memasukinya (inviting classroom), jika sesaat setelah gurumenyiapkan lingkungan belajar atau memperkenalkan lingkungan belajar baru pada anak-anak, dan mereka berebut untuk memasukinya, maa hal tersebut merupakan indikasi bahwa guru berhasil dalam menyiapkan lingkungan belajar sesuai kebutuhan anak. Tetapi sebaliknya, jika anak-anak saat diperkenalkan dengan lingkungan belajar baru bersikap biasa-biasa saja  dan memberikan penolakan, itu pertanda bahwa dari sisi performance lingkungan yang kita persiapkan tidak berhasil atau tidak mampu memenuhi kebutuhan anak. Jadi kesimpulannya sederhut performance atau perwajahan adalah kecenderungan anak-anak dana, keberhasilan dalam pengelolaan lingkungan belajar dari sudalam memasuki ruang kelas atu lingkungan yang dirancang tersebut dengan bergairah.     
  2. Tujuan penciptaan lingkungan yang memfasiltasi multisensori anak. Telah disajikan pada pembahsan sebelumnya bahwa rangsangan perkembangan anak sangat dianjurkan bersifat multisensori.  Maksudnya adalah rangsangan-rangsangan belajar yang disentuhkan pada berbagai alat dari anak. Mengapa hal ini sangat penting dilakukan? Karena kemampuan berpikir dan meresepsi anak masih bersifat konkret dan kemampuan anak terhadap hal-hal yang bersifat abstrak masih terbatas. Dengan demikian, berbagai lingkungan belajar yang dihadirkan dihadapan dan untuk anak hendaklah dapat bersentuhan langsung dengan berbagai potensi indranya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan penciptaan lngkungan belajar yang dapat memfasilitasi multisensori anak adalah menyiapkan dan mengelola lingkungan belajar yang dapat merangsang berbagai indra anak secara baik. Semakin tinggi kemampuan lingkungan belajar yang dikemas memfasilitasi keragaman indra anak-anak, berarti semakin baik kualitas lingkungan belajar yang diciptakan tersebut.
  3. Tujuan Penciptaan Lingkungan yang Memberi Kesempatan Anak Beraktifitas. Aktivitas adalah kata kunci dari perbuatan belajar seseorang. Semakin tinggi seseorang melakukan  aktivitas belajar akan semakin baik bagi terjadinya perubahan prilaku,baik sebagai hasil langsung dari perbuatan atau pengalaman belajrnya (instructional effects), maupun berbagai imbas atau dampak tidak langsung dari berbagai aktivitas yang dijalaninya (nurtutant effects). Sebagai contoh, kemampuan mengingat anak atas sustu konsep dan proses kejadian tertentu akan semakin membaik, jika mereka diberikan kesempatan untuk mengenali dan melakukan berbagai rangkaian kegiatan cukup leluansa atau bahkan berulang-ulang dan tidak dibatasi secara kaku. Bahkan lebih jauh, dengan kesempatan yang memadai tersebut bukan hanya ia akan memiliki daya ingat yang lebih baik, tetapi juga akan menjadi pribadi yang kokoh pendirian dan tidak mudah menyerah dalam memnghadapi suatu permaslahan. Jadi, maksudnya bahwa penciptaan lingkungan belajar bertujuan menciptakan lingkungan yang mampu memberikan kesempatan beraktivitas pada anak itu, maksudnya adalah bahwa lingkungan belajar yang dibangun tersebut harus mampu memberikan kesempatan beraktivitas dan berkreasi pada anak secara leluansa.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel